Tragedi Kawin Campur

Tragedi Kawin Campur
Bab 26. Jangan Terlantarkan Istrimu.


__ADS_3

"Maafkan kami, Mama," ucap salah seorang dari tiga pemuda berkulit hitam itu, pada seorang wanita paruh baya yang juga berkulit hitam, dengan rambut keriting pendek yang sebagian telah memutih.


"Pergi sana!" perintah wanita itu.


"Ya, Mama. Kami pergi." Ketiga pemuda itu mengangkat kedua tangan masing-masing dan berlalu.


Si wanita mendekati Jana sambil mengulas senyum. "Hello," sapanya.


Jana mengangguk sambil membalas senyum wanita itu, yang kini sudah duduk di sampingnya. "Namaku Dorothy. Panggil saja Mama Doodoo. Kamu bisa bahasa Inggris, bukan?"


"Sedikit," jawab Jana.


"Siapa namamu?" tanya wanita yang meminta dipanggil dengan nama Mama Doodoo itu.


"Namaku Jana." Rasanya aneh bagi Jana untuk selalu berbicara dengan orang menggunakan bahasa asing. Bahkan dengan Joshua saja ia seringnya berbicara dengan bahasa Indonesia, karena Joshua sudah mulai mahir.


"Jana. Hmm, namamu terdengar bagus. Kau berasal dari mana? Baru berapa lama tinggal di sini? Kau tinggal sendiri?"


Perlu waktu beberapa menit untuk Jana memahami pertanyaan Mama Doodoo. "Aku dari Indonesia. Baru dua hari tinggal di sini dengan suamiku."


"Suamimu orang Amerika?"


"Ya, Mama."


Mama Doodoo mengangguk-angguk. Keduanya lalu terlibat obrolan hangat. Wanita itu ternyata tinggal di lantai yang sama dengan Jana. Ia menawarkan pada gadis itu, jika sedang kesepian ditinggal oleh suaminya, Jana bisa datang berkunjung kapan saja.


Jana merasa senang sekali berkenalan dengan tetangga yang baik hati, meskipun umurnya jauh lebih tua darinya. Setidaknya, Jana merasa sedikit terhibur.


Hingga jam sembilan malam Jana dan tetangganya itu mengobrol, Joshua belum juga pulang. Akhirnya, Mama Doodoo menawarkan pada Jana untuk menunggu di apartemennya saja.


"Ini, tuliskan pesan di sini, dan gantungkan saja di pintu, biar suamimu tahu kau sedang ada di mana." Mama Doodoo memberikan kertas mirip kartu ucapan pada Jana beserta pensilnya.


Jana menuruti ide wanita itu. Setelahnya, ia mengikuti Mama Doodoo masuk ke apartemennya.


Di dalam apartemen wanita itu, Jana merasa sedang berada di Afrika. Saking banyaknya pernak-pernik etnik khas Afrika yang wanita itu pasang di mana-mana.

__ADS_1


"Kau lapar, Jana?" tanya Mama Doodoo.


"Iya," kekeh Jana malu-malu. Ia memang sudah mulai lapar sejak tadi. Pasalnya, hari ini ia hanya makan mie goreng yang dibawa Joshua siang tadi, sebelum suaminya itu pergi lagi.


"Aku punya banyak makanan. Kau tenang saja." Wanita itu membuka tirai yang menutupi pintu menuju dapur.


Jana menunggu dengan sabar meskipun perutnya sudah memberontak ingin menyongsong makanan. Beberapa saat kemudian, Mama Doodoo keluar dari balik tirai seraya membaw sepiring besar garlic bread, dan telur orak-arik yang dicampur dengan kacang polong dan berbagai bumbu dedaunan kering.


"Aku harap kamu suka, Jana." Mama Doodoo meletakkan piring di atas meja dan mempersilahkan Jana untuk menikmatinya.


"Mama tidak makan?" tanya Jana, layaknya orang Indonesia yang suka berbasa-basi.


"Ya. Kita makan bersama satu piring saja," kekeh wanita itu. "Biasanya anak-anak di gedung ini datang untuk sekedar menumpang makan siang atau malam. Jadi, aku selalu masak banyak."


Jana mengangguk-angguk. Mama Doodoo memang orang baik. Mungkin, wanita ini semacam penampung orang-orang yang kurang mampu.


"Aku tidak punya anak. Jadi, aku memang senang mengundang anak-anak di area sini untuk makan di apartemenku ini." Mama Doodoo seakan mampu membaca pikiran Jana.


"Mama baik sekali," puji Jana.


Mama Doodoo terbahak. "Orang baik di Manhattan itu sudah jarang. Biar aku jadi salah satunya. Aku hanya melakukan apa yang hati nuraniku katakan."


Mama Doodoo memperhatikan gerak gerik Jana melahap roti. Sungguh menyerupai anak-anak terlantar yang ada di sekitar daerah ini-Harlem. Membuatnya mengulas senyum iba.


"Apa pekerjaan suamimu, Jana?" tanya Mama Doodoo.


"Aku tidak tahu," jawab Jana seraya mengunyah roti.


Wanita paruh baya itu mengerutkan kening. "Apa dia tidak bilang padamu apa pekerjaannya?"


Jana menggeleng. Ia memang tidak pernah menanyakan apapun pada Joshua, karena takut suaminya itu marah.


"Dan kau tidak bertanya?"


Kembali Jana menggeleng. "Tidak pernah."

__ADS_1


Mama Doodoo menghela napasnya pelan. "Dan dia tidak memikirkanmu sendirian di rumah tanpa makanan, tanpa uang?"


Jana meringis. "Tadi siang dia pulang sebentar untuk memberiku makan siang. Tapi, aku cepat lapar lagi," terangnya dengan grammar seadanya.


"Kasihan kau, Nak," ucap Mama Doodoo prihatin. Ia sering menemui pasangan kawin campur seperti Jana dan suaminya. Para istri yang rata-rata berasal dari Asia, ditelantarkan oleh suaminya. Repotnya, mereka belum begitu mahir berbahasa Inggris, belum punya banyak kenalan, atau bahkan aktifitas tetap.


Akhirnya mereka hanya terlunta-lunta di negara ini.


"Jana, kapan pun kau mau datang kenari, datang saja. Aku akan selalu senang menerimamu."


"Terimakasih, Mama. Mama baik sekali," ucap Jana terharu.


Jana tidak perlu menanyakan apa pekerjaan Mama Doodoo, kenapa wanita itu-meskipun tidak kaya, namun bisa membantu orang lain yang notabene asing. Yang penting, ia merasa sangat beruntung bertemu dengan wanita berkulit hitam dengan wajah yang teduh itu.


Apa jadinya jika ia tidak bertemu dengan Mama Doodoo. Ia pasti akan menjadi bulan-bulanan tiga lelaki berkulit hitam yang tadi mengganggunya, dan juga mengalami kelaparan sampai Joshua pulang.


Sebuah ketukan membuat kedua wanita itu menoleh ke arah pintu. Mama Doodoo beranjak dari duduknya dan melangkah menuju pintu. Diintipnya si pengetuk pintu dari lubang lensa kecil di tengah pintu.


"Mungkin itu suamimu," kata Mama Doodoo saat melihat seorang pemuda tampan berambut pirang sedang berdiri di depan pintu.


Jana mendengar obrolan singkat Mama Doodoo dan lelaki yang tidak lain adalah Joshua. Hati Jana begitu senang mendengar suara Joshua. Ia rindu dengan suaminya itu. Meskipun hanya berpisah beberapa jam saja.


"Lain kali jangan terlantarkan istrimu. Kasihan dia," kekeh Mama Doodoo seraya membuka pintu lebar-lebar. "Jana, benar ini suamimu?"


Jana meringis. "Iya, Mama," sahutnya malu-malu.


"Ayo, pulang," pinta Joshua seraya memandang ke arah Jana yang baru saja menghabiskan satu potongan terakhir rotinya.


Setelah mengucapkan terimakasih pada Mama Doodoo, Jana mengikuti Joshua menuju apartemen mereka yang masih berada dalam satu lantai.


Wajah Joshua tampak tidak senang. Jana tidak tahu, Johsua sedang kesal karena urusannya di luar sana, atau karena Jana mampir ke apartemen Mama Doodoo.


"Kenapa kamu bisa ada di apartemen tetangga?" tanya Joshua begitu mereka berada masuk ke dalam apartemen mereka.


"Aku ketemu Mama Doodoo di luar. Dia bantu aku ngusir pemuda yang mau gangguin aku."

__ADS_1


Mata Joshua membulat. "Kamu pergi keluar, sendirian?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2