Tuan Putri Yang Tersembunyi

Tuan Putri Yang Tersembunyi
Resep Obat


__ADS_3

Memang sulit untuk dipercayai bagi Reiner, namun dia tahu bahwa tidak ada gunanya bagi Xaveryn berbohong tentang masalah ini kepada dirinya. Xaveryn tertegun sesaat sang Paman berbicara demikian, Reiner berupaya menguatkan hati Xaveryn. Seolah segalanya terasa mimpi, Xaveryn berhasil membawa Reiner masuk ke alam rahasianya. Xaveryn meneguhkan hati, dia sekarang punya satu orang yang akan menguatkan dirinya.


"Baiklah, aku akan melakukan seperti apa yang Paman katakan. Tetapi, Paman harus berjanji jangan mengatakan masalah ini kepada Ayah maupun saudaraku. Aku hanya berbicara kepada Paman saja sebab saat ini hatiku belum siap menceritakan masa laluku kepada orang lain."


Xaveryn bangkit dari posisi duduknya, dia menggenggam kedua tangan Reiner.


"Paman, mari kita sembuhkan Kak Riley, aku tahu formula obat yang tepat untuk penyakit Kakak," lanjutnya berucap.


Reiner tertegun, tak disangka Xaveryn bisa mengingat begitu detail mengenai masalah penyakit ini.


"Apa formula obatnya? Bisakah kau menjelaskan padaku?"


Xaveryn mengangguk, dia menjangkau sebuah pulpen dan selembar kertas. Xaveryn menuliskan seluruh resep obat dari penyakit bunga api yang diderita Riley.


"Ini semua adalah resepnya." Xaveryn menyerahkan selembar kertas berisi resep kepada Reiner. "Lotus es diracik bersama air telaga peri, yang mana kedua resep itu nanti juga dicampur ke dalam rebusan air daun dan akar pohon cemara putih."


Reiner tercengang ketika menerima resep dari Xaveryn, pasalnya bahan-bahan itu sulit didapatkan karena semuanya tumbuh di pegunungan yang dihuni ratusan monster serigala.


"Ini sangat sulit, aku tidak bisa pergi ke tempat yang berbahaya seperti itu," ujar Reiner.


"Tenang saja, Paman tinggal meminta tolong kepada Ayah, biar Ayah saja yang mencari bahan obatnya. Nanti aku akan meminta tolong kepada Ayah," tutur Xaveryn.


Reiner menghela napas panjang, dia hanya perlu meminta tolong kepada Jonathan. Apabila Xaveryn yang berbicara, maka Jonathan akan melakukan apa saja.


"Oke, mari kita bicara dengan Kaisar nanti."


Reiner menyimpan dengan baik resep obat untuk Riley. Hari ini cukup membuat Reiner lelah seusai menerima banyak beban berat dari Xaveryn.


"Lalu sementara waktu untuk meredakan rasa sakit Kakak, bisakah Paman membuat obat pereda rasa sakit dengan dosis lebih tinggi? Hal itu akan membantu Kakak bertahan sampai semua bahan obat terkumpul," pinta Xaveryn.


"Baiklah, itu sangat mudah, aku akan segera membuatkannya."


Xaveryn memutuskan tetap tinggal di kamar Riley, dia menemani Kakaknya yang belum sadarkan diri. Xaveryn duduk sambil membaca buku sihir yang sebelumnya dia bawa dari ruang bawah tersembunyi. Reiner juga telah meminumkan obat pereda rasa sakit kepada Riley, jadi kini hanya perlu menunggu sampai Riley siuman.

__ADS_1


Jonathan, Claes, dan Alvaro belum jua kembali dari penaklukkan wilayah. Namun, beberapa jam menunggu, mereka pun kembali membawa hasil buruan. Xaveryn melihat dari dalam jendela istana, dia tidak diperbolehkan keluar sebab cuaca sedang dingin.


"Xaveryn!" seru Alvaro dan Claes berlari mendekatinya.


"Kakak!"


Alvaro hendak memeluk dan menggendong Xaveryn tapi Claes menghentikannya terlebih dahulu karena tubuh Alvaro dipenuhi bau darah nan menyengat.


"Jangan pegang Adik kita, nanti dia terkena bakteri yang kita bawa. Mari bersih-bersih dahulu sebelum memegang Xaveryn."


Claes menarik paksa Alvaro dari hadapan Xaveryn, dengan ekspresi penuh ketidakrelaan akhirnya Alvaro menjauhkan diri dari Xaveryn.


"Adikku, tunggu Kakak selesai mandi, nanti Kakak akan ke sini lagi," teriak Alvaro di tengah lorong istana.


Xaveryn terkekeh kecil melihat tingkah Alvaro yang tidak mencerminkan sedikit pun wibawa dari seorang Pangeran.


"Kenapa kau di sini, Xaveryn? Apakah kau menunggu Ayah?" Suara berat Jonathan mengalihkan fokus Xaveryn.


"Ayah!" Xaveryn berlari kecil menghampiri Jonathan. "Aku menunggu Ayah pulang, aku khawatir karena Ayah tidak kunjung menampakkan diri."


"Astaga, putriku menggemaskan sekali, kemarilah biar Ayah peluk," kata Jonathan.


"Tidak boleh, Yang Mulia," cegat Delvis — asisten pribadi Jonathan. "Pakaian Anda berlumuran darah, bagaimana kalau Tuan Putri sakit setelah memeluk Anda? Tolong kasihanilah tubuh kecil Tuan Putri, beliau tidak mempunyai daya yang kuat seperti Pangeran Claes dan Pangeran Alvaro."


Jonathan langsung tersadar, untung saja Delvis segera menghalanginya memeluk Xaveryn. Lekas saja Jonathan berdiri jauh dari Xaveryn, dia khawatir gadis kecilnya sakit karena ulahnya.


"Oke, Xaveryn, Ayah mandi dulu dan tunggu di kamarmu. Jangan ke mana-mana sampai Ayah datang."


Tanpa menunggu lama, Jonathan berlari meninggalkan Xaveryn, Delvis juga turut undur diri dari hadapan Xaveryn.


Kemudian pada saat Jonathan baru saja selesai mandi di kamarnya, tiba-tiba saja Reiner datang berkunjung. Reiner bermaksud mengatakan segera perihal penyakit yang diderita Riley.


"Ada apa, Reiner? Apa kau mau berbicara mengenai kondisi Riley?" tanya Jonathan.

__ADS_1


"Benar, Kak, aku kemari ingin berbicara mengenai kondisi Riley sekaligus aku ingin mengatakan bahwa aku telah menemukan jenis penyakit yang bersarang di tubuh Riley."


Sontak Jonathan berbalik badan, sepasang manik hazelnya membulat sempurna.


"Apa kau bilang? Lalu apa nama penyakitnya?"


"Penyakit ini dinamakan penyakit bunga api, ini sejenis penyakit yang menggerogoti daya hidup si penderitanya. Tetapi, ada kabar bahagia, aku juga berhasil menemukan penawar dari penyakit ini."


Reiner menyodorkan lembar kertas berisi resep obat untuk Riley.


"Ini adalah resep obatnya, tapi bahan obat ini hanya tumbuh di pegunungan sebelah barat kekaisaran. Sebagaimana yang diketahui, di pegunungan itu dihuni ratusan monster serigala. Jadi, Kak, bisakah Kakak utus seseorang untuk mengambil bahan obatnya dari pegunungan? Ini demi keselamatan nyawa Riley."


Sepercik harapan menghampiri Jonathan, tak pernah dia sangka kalau penyakit putranya dapat disembuhkan. Jonathan merasa bersyukur sekali, akhirnya Riley mendekati waktu di mana dia bisa hidup normal layaknya anak-anak pada umumnya.


"Benarkah ini bisa menyelamatkan nyawa Riley?" tanya Jonathan.


"Iya, benar, aku bisa menjaminnya."


Jonathan lantas mengangguk cepat. "Baiklah, serahkan padaku, biar aku yang turun langsung mengumpulkan bahan obat ini."


Reiner akhirnya berhasil berbicara dan meminta tolong kepada Jonathan tanpa bantuan dari Xaveryn. Sekarang Reiner hanya perlu menunggu hingga Jonathan berhasil membawakan bahan obat tersebut.


Pada keesokan paginya, Riley siuman, dia terbangun setelah berhasil meredam rasa sakit di dadanya.


"Bagaimana perasaanmu? Apa masih ada bagian tubuhmu yang sakit?" tanya Claes penuh perhatian.


"Tidak, Kak, aku sudah jauh lebih baik."


Ekspresi muka Riley tertekuk lesu, dia tidak punya semangat hidup setelah berhasil terbangun.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Jangan bebani tubuhmu dengan berbagai pikiran buruk," tegur Alvaro.


"Aku hanya merasa malu kepada Xaveryn, aku adalah Kakaknya tapi aku tidak punya kekuatan melindunginya. Sebentar lagi aku akan mati karena penyakit ini—"

__ADS_1


"Siapa bilang kau akan mati? Kau bisa hidup sampai umur seratus tahun, Riley."


__ADS_2