Tuan Putri Yang Tersembunyi

Tuan Putri Yang Tersembunyi
Xaveryn Berhasil Ditemukan


__ADS_3

"Yang Mulia, Anda harus istirahat. Sudah tiga hari berlalu dan Anda belum beristirahat sedikit pun."


Delvis terlihat cemas dengan kondisi tubuh Jonathan. Sudah tiga hari sejak Xaveryn menghilang, Jonathan serta yang lain telah menelusuri dasar jurang. Akan tetapi, tidak ada jejak keberadaan Xaveryn. Jejaknya mungkin saja terhapus oleh air hujan.


Bahkan cuaca juga tak kunjung membaik, sebagian kesatria tidak sanggup lagi melanjutkan perjalanan mereka. Kini hanya tersisa beberapa orang saja yang belum menyerah.


"Tidak bisa, aku harus cepat menemukan Xaveryn. Aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Putriku satu-satunya sedang berada di dalam kesulitan, jika aku berhenti sampai di sini saja, apa yang akan aku katakan pada Ivanka nanti? Aku gagal melindungi putrinya."


Di saat seperti ini, Jonathan selalu dibayangi wajah sang istri, Ivanka. Dia merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Xaveryn. Padahal dia berjanji akan melindungi putri mereka, tapi apa daya kejadian buruk tiba-tiba saja menimpa.


"Tetapi, Yang Mulia, jika Anda meneruskan perjalanan di tengah hujan badai seperti ini, bisa-bisa Anda sakit sebelum sempat menemukan Tuan Putri. Sebaiknya Anda istirahat tiga puluh menit, nanti kita lanjutkan lagi perjalanannya," tutur Delvis.


Setelah Delvis membujuk Jonathan berkali-kali, akhirnya Jonathan menurut. Dia menghentikan pencariannya sebentar, ia mengisi perutnya yang kosong selama tiga hari sekaligus menghangatkan badannya.


'Ivanka, aku mohon ... tolong lindungi putri kita, tolong jaga badannya agar tetap hangat. Aku mohon ...,' batin Jonathan.


Sementara itu, yang lain masih melakukan pencarian. Ketiga saudara Xaveryn beserta Reiner menelusuri setiap celah di dasar jurang. Di sini hanya ada hutan belantara, lalu juga ada sungai yang saat ini arus airnya sangat besar. Mereka berpencar ke segala arah tapi masih tidak ditemukan keberadaan Xaveryn.


Di sisi lain, kelompok pencarian Jancent, Chaerick, Trevor, dan Felician juga tetap melanjutkan pencarian mereka. Di bawah hujan badai, mereka menerjang langkah sembari mengayunkan pedang menghabisi nyawa binatang buas yang menghadang jalan.


"Tuan Muda, kita sudah berjalan sejauh ini, tapi tidak kunjung kita temukan keberadaan Tuan Putri. Ke mana lagi kita harus mencarinya?"


Salah seorang kesatria bawahan Jancent tampak lelah. Luasnya dasar jurang menyebabkan mereka kewalahan menelusurinya. Terlebih lagi dasar jurang ini dipenuhi oleh semak belukar yang menutupi jalan sehingga tidak sedikit orang yang tersesat di tempat ini.


"Kalian istirahat saja di sini sebentar, aku akan pergi ke tepi sungai untuk memeriksa," kata Jancent meneruskan perjalannya sendirian.

__ADS_1


Jancent mengamati sekitar dengan super teliti sembari berharap menemukan jejak keberadaan Xaveryn.


'Aku yakin Tuan Putri masih hidup, jika beliau terjatuh dari atas maka mungkin saja beliau terbawa arus sungai. Tetapi, ini sudah hampir tiba di ujung sungai, aku harap Tuan Putri ada di sekitar sini.'


Tiba-tiba saja beberapa ekor kunang-kunang muncul di hadapan Jancent. Pria itu nampak kaget melihat adanya kunang-kunang di cuaca buruk seperti ini. Apalagi kemunculan kunang-kunang itu amat misterius.


"Kunang-kunang? Kenapa bisa muncul kunang-kunang di sini?"


Kemudian kunang-kunang yang jumlahnya ratusan itu membentuk sesuatu di udara. Mereka membentuk sebuah tanda panah yang mengarah pada gua di seberang sungai yang tertutupi oleh tanaman rambat.


"Cepat selamatkan Tuan Putri, kondisi beliau semakin melemah."


Suara halus tiba-tiba saja terdengar, suara yang menyuruh Jancent untuk cepat menyelamatkan Xaveryn. Raut muka Jancent mengguratkan kebingungan sebab di sana hanya ada dia seorang.


"Suara apa itu barusan? Lalu kenapa kunang-kunang ini seolah sedang menyuruhku untuk pergi ke gua seberang sungai? Mungkinkah Tuan Putri ada di gua itu? Tetapi, bagaimana caranya aku bisa pergi ke seberang sungai kala arus deras seperti ini?" gumam Jancent berpikir keras.


"Sejak kapan ada jembatan di sini? Ah, sudahlah. Nanti saja aku pikirkan, sekarang aku harus mengecek gua itu."


Jancent berlarian menyeberangi jembatan, langkahnya tergesa-gesa menuju gua yang tidak jauh berada dari tempatnya berdiri. Jancent membabat habis seluruh tanaman yang menghambat pandangan dan jalannya. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menyusuri jalan menuju gua.


Setelah sampai, Jancent segera masuk ke dalam untuk memeriksa. Namun, yang dia temukan hanyalah tanaman rambat yang menghalangi jalan. Dia mencoba menebas tanaman rambat tersebut tapi entah mengapa pedangnya tidak mempan.


"Sial! Bagaimana caraku masuk kalau tanaman ini menghambatku?"


Secara mengejutkan, tanaman rambat tersebut membuka jalan menuju ke dalam gua. Lagi-lagi Jancent terkesiap menyaksikan pemandangan tersebut.

__ADS_1


"Aneh sekali, tapi aku tidak punya waktu untuk memikirkannya."


Lekas Jancent berlari masuk, sesaat dia terpaku ketika menginjakkan kaki di sana. Rupanya gua tersebut sangat hangat meski di luar didera hujan badai. Kemudian penglihatan Jancent terpusat pada sebuah batu besar. Dia melihat adanya cahaya di sana. Tanpa berlama-lama, Jancent mencoba memeriksa ke atas batu tersebut.


"Yang Mulia Putri!"


Jancent syok bukan main sesaat mendapati Xaveryn terbujur kaku di atas batu itu. Wajahnya pucat pasi, darahnya yang mengalir di sekujur badan telah mengering. Pakaian yang dikenakannya compang-camping akibat benturan benda tajam saat tubuhnya menghantam permukaan tanah.


"Yang Mulia, sadarlah! Yang Mulia!"


Jancent mencoba memanggil Xaveryn, tapi nihil, tidak ada respon dari gadis itu. Lalu Jancent coba memeriksa denyut nadi dan detak jantungnya.


"Sangat lemah. Tuan Putri masih bernapas tapi kondisinya sangat lemah. Aku harus membawa beliau keluar dari sini sekarang juga."


Jancent membalut tubuh Xaveryn menggunakan pakaiannya lalu ia menggendong tubuh ringan Xaveryn. Jancent memacukan langkah ke luar gua, isi pikirannya dipenuhi kekhawatiran terhadap Xaveryn.


***


Di lokasi lain, Jonathan melanjutkan kembali pencariannya. Tiada henti ia berdoa di hati agar sang putri ditemukan di dalam keadaan selamat. Rasa lelah tidak ia rasakan, hanya ada rasa cemas bercampur gelisah yang terus menerus menggerogoti hatinya.


"Coba cari di sebelah sana! Berpencar dan jangan ada yang terlewatkan," seru Delvis memberi perintah, ia membantu Jonathan semampu dirinya.


Tidak lama berselang, dari arah berlawanan terdengar suara kaki kuda yang melaju dengan sangat cepat. Langkah mereka terhenti sebentar untuk melihat siapa gerangan yang datang.


"Yang Mulia, saya menemukan Tuan Putri," teriak Jancent di bawah hujan nan begitu deras. Dia memangku Xaveryn di atas punggung kuda miliknya.

__ADS_1


Mata sendu Jonathan perlahan bersinar, begitu kuda Jancent berhenti di hadapannya, ia langsung merebut Xaveryn dari pelukan Jancent.


"Xaveryn, putriku ...." Kedua mata Jonathan berkaca-kaca melihat wajah putrinya. Dia merasakan tubuh Xaveryn kian mendingin. "Tubuhnya sangat dingin, irama napasnya juga lemah. Panggil Reiner sekarang juga! Perintahkan dia untuk kemari memeriksa kondisi Xaveryn!"


__ADS_2