Tuan Putri Yang Tersembunyi

Tuan Putri Yang Tersembunyi
Ancaman Xaveryn


__ADS_3

Kekaisaran Saverio merupakan kekaisaran yang baru saja membuka diri seusai kenaikan Kaisar saat ini yaitu Helbert Saverio. Kekaisaran yang dulunya cukup terbelakang, kini kekaisaran itu dikenal sebagai tempat yang mempunyai kekuatan tempur yang kuat. Kekuatan tempur mereka bahkan nyaris menyaingi Kekaisaran Graziella.


Helbert ialah orang yang menciptakan penderitaan di hidup Xaveryn. Dia seringkali mengganggu Xaveryn, entah itu menggunakan berbagai hadiah atau pun surat lamaran. Hanya saja semua pemberiannya selalu ditolak oleh pihak Kekaisaran Graziella. Bahkan Xaveryn sendiri yang langsung menolak dirinya.


Padahal saat ini Helbert mempunyai puluhan selir wanita, tapi tak ada satu pun dari mereka yang diberi kewenangan menjabat sebagai Permaisuri. Helbert secara khusus menghadiahkan singgasana Permaisuri untuk Xaveryn. Tetapi, apa daya, Xaveryn tidak memberinya celah sedikit pun untuk masuk ke kehidupannya.


Lalu pagi hari ini, Kekaisaran Saverio diterpa kegaduhan. Di pagi-pagi buta, terdengar pekikan dari seorang pelayan wanita yang bersumber dari halaman utama istana. Suara pekikannya akhirnya mendatangkan rasa penasaran dari sejumlah orang.


"Ada apa? Apa yang membuatmu berteriak pagi-pagi begini?" tanya seorang kesatria.


"I-Itu ... ada mayat." Pelayan itu menunjuk ke depan, di sana tergeletak mayat seorang pria yang sebelumnya ditangkap oleh Roxilius.


Pria itu tidak mengenakan pakaian, punggungnya dipenuhi luka sayatan. Sekilas tampak sebuah tulisan di punggungnya. Buru-buru sang kesatria mengecek mayat tersebut. Alangkah syoknya dia menemukan satu kalimat yang terkesan menantang Helbert.


"Siapa yang sudah mengirim ini? Aku harus segera melaporkannya kepada Kaisar."


Kesatria itu berlari masuk ke dalam istana, ia menuju ke arah kamar tempat Helbert kini berada. Sedangkan Helbert kala itu baru terbangun dari tidur lelapnya. Di samping tubuh Helbert terdapat seorang wanita tanpa busana. Ya, dia adalah salah satu selir Helbert yang menemaninya tidur semalam.


"Ada apa ini? Laporan apa yang kau bawa untukku?" tanya Helbert terlihat tidak senang.


Sekujur badan si kesatria gemetar takut, dia khawatir kepalanya akan melayang ketika memberi laporan kepada Helbert.


"Mohon maaf karena telah mengganggu waktu tidur Anda, Yang Mulia. Di sini saya ingin melaporkan bahwa saya menemukan seorang mayat manusia di halaman utama istana. Akan tetapi, di belakang punggung mayat itu tergurat tulisan yang berisi satu kalimat bersifat mengancam dan menantang," jelasnya dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Hah? Apa yang kau katakan?" Helbert melebarkan kedua matanya. Tidak percaya ada seseorang yang berani mengusik ketenangan paginya.


"M-Maaf, Yang Mulia. S-Saya—"


Tanpa sepatah kata pun, Helbert langsung menebas kepala kesatria yang sedang melapor padanya. Dia menebas kepalanya tanpa menggunakan pedang dan hanya menggunakan sihir saja. Sihirnya tampak berbeda dari sihir milik Xaveryn. Sihir ini lebih terasa mengancam serta aura sihirnya terkesan tajam seperti mata pisau.


Melihat Helbert membunuh bawahannya tanpa alasan yang jelas merupakan suatu pemandangan biasa di istana Kekaisaran Saverio.


"Mengganggu pagiku saja. Bereskan mayat manusia rendahan itu. Aku akan pergi keluar sekarang," titah Helbert pada kesatria yang berada di depan pintu masuk.


Helbert melangkah menuju halaman utama istana. Di sana telah ramai kesatria mengerumuni mayat tersebut. Ketika Helbert sampai, seketika mereka membukakan jalan untuk sang Kaisar.


Tanpa berlama-lama, Helbert melihat langsung mayat pria yang dimaksudkan si kesatria tadi. Helbert tercengung, tidak disangka ada seseorang yang mengirimkannya kalimat ancaman melalui mayat pembunuh yang telah ia kirim ke Graziella untuk melukai Xaveryn.


"Jika ingin mencelakai dan menangkapku, bawalah monster tingkat tinggi yang bisa melawanku."


"Hahaha." Helbert tekekeh kencang. "Sungguh gadis yang menarik. Sudah aku duga, ada hal lain selain sihir yang sangat spesial dari gadis itu. Bila aku berhasil membawanya kemari, maka dapat dipastikan kalau aku akan menjadi Kaisar yang paling berkuasa di dunia ini."


Helbert tidak merasa terancam oleh gertakan Xaveryn. Dia menganggap itu merupakan sebuah hal yang amat lucu. Dia pun menyuruh bawahannya untuk menyingkirkan mayat pembunuh tersebut. Lalu dia pun bergegas masuk kembali ke istananya.


"Kalau begitu, mari kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan nantinya. Aku yakin kau takkan bisa lari ke mana-mana lagi jika aku berhasil menangkapmu," gumam Helbert.


***

__ADS_1


Setelah berhasil mengirim pembunuh tersebut ke istana Kekaisaran Saverio, Xaveryn kembali bekerja seperti biasa tanpa memikirkan hal lain yang mengganggu ketenangan pikirannya. Akhir-akhir ini setidaknya dia bisa mengendalikan perasaan sekaligus mimpi buruk yang terus mendatanginya setiap malam.


"Hari yang tenang, semoga saja tidak ada gangguan hari ini supaya aku dapat menikmati waktu luangku," ucap Xaveryn sambil meneguk secangkir teh yang disajikan para pelayan.


Pandangan Xaveryn menuju ke arah taman istana, padahal sebenarnya saat ini dia bisa menikmati masa bermain seperti anak pada umumnya. Akan tetapi, karena tuntutan dari masalah-masalah di masa depan sehingga dia harus bekerja ekstra lebih keras dibanding gadis bangsawan lain.


"Halo, Tuan Putri! Kita bertemu lagi!" seru Chaerick muncul dari pintu masuk.


Suara Chaerick amat lantang hingga mampu memecah kesenyapan di istana kediaman Xaveryn. Seketika ekspresi Xaveryn berubah masam, padahal dia baru saja bisa menikmati waktu kosong, sekarang dia malah harus berhadapan dengan Chaerick yang berisik.


"Chaerick, apa yang kau lakukan di sini? Apa kau tidak takut dipukuli oleh Kakakku?" tanya Xaveryn.


"Tidak, saya sudah terbiasa menerima pukulan dari Claes. Tubuh saya sudah kebal, Anda tidak perlu mengkhawatirkan hal itu."


"Aku tidak pernah mengkhawatirkanmu."


Chaerick dengan senyum yang mengembang di bibirnya menghampiri Xaveryn. Dia mencium aroma kue kesukaannya dari meja Xaveryn. Tanpa diberi tahu pun, Xaveryn sudah tahu bahwa sebenarnya Chaerick hanya mau mengambil kue tersebut.


Xaveryn menatap aneh Chaerick, meski sudah kenal cukup lama, dia masih belum mengenal sepenuhnya diri Chaerick. Pria yang seumuran Kakak pertamanya dan mempunyai selisih umur yang cukup jauh darinya, serta pria yang tidak pernah lupa tersenyum dan tertawa.


Semenjak lulus dari akademi, Chaerick bekerja sebagai kesatria yang berada di bawah kepemimpinan Claes. Walaupun terkadang Chaerick suka mencari masalah, tapi Claes tidak pernah mencoba untuk menyuruhnya menjauh. Pada akhirnya, mereka malah menjadi teman baik yang memiliki sifat berbanding terbalik.


"Aku selalu penasaran, kenapa kau sering melukai tanganmu sendiri?" tanya Xaveryn tiba-tiba, dia melihat bekas luka sayatan benda tajam di tangan Chaerick.

__ADS_1


Sepintas penglihatan Xaveryn menangkap perubahan ekspresi Chaerick. Dia yakin itu adalah ekspresi yang dipenuhi kesedihan mendalam.


"Terkadang ada hal yang tidak semuanya harus diketahui orang lain. Tenang saja, Yang Mulia, bekas luka ini adalah bentuk dari perjuangan saya bertahan hidup selama ini."


__ADS_2