
Seusai menenangkan Trevor, Xaveryn kembali lagi ke kediaman Grand Duke Oskari. Di sisi lain, Claes juga membantu menstabilkan kondisi di mansion Grand Duke Oskari yang cukup kacau. Sebagai bentuk penghormatan terakhir terhadap Ibunda Trevor, pihak istana memberikan bantuan yang banyak sampai Grand Duke Oskari bisa bangkit kembali.
Siapa saja di kekaisaran ini tahu betapa dalamnya cinta Grand Duke Oskari terhadap istrinya. Keromantisan mereka pada saat masih berstatus sepasang kekasih tidak dapat dipungkiri lagi. Padahal dahulunya dia bukan orang yang dingin tapi semenjak kehilangan putranya, dia berubah menjadi pria yang dingin dan nyaris tidak pernah tersenyum.
"Yang Mulia, kereta kudanya sudah siap. Sekarang saatnya kita pulang lagi ke istana," ujar Felician.
"Baiklah, ayo kita kembali sekarang."
Xaveryn berangkat kembali ke istana, dia harus memikirkan langkah selanjutnya untuk menjatuhkan Duke Solfrid. Sesampainya di istana, Xaveryn langsung dihadapkan dengan sebuah undangan pesta minum teh dari salah seorang gadis bangsawan yakni putri dari Marquess Francys.
"Apa yang akan Anda lakukan dengan undangan pesta minum teh ini, Yang Mulia? Apakah Anda akan membakarnya seperti biasa?" tanya Eris.
"Apa yang aku lakukan? Tentu saja kali ini aku akan menghadirinya."
Sungguh, ini merupakan pertama kalinya Xaveryn menyetujui undangan pesta minum teh yang diadakan oleh para gadis bangsawan. Entah apa yang akan sedang terjadi kepada Xaveryn, yang jelas ini sebuah keajaiban melihat Xaveryn tiba-tiba ingin bergaul dengan orang lain.
"Anda akan menghadiri undangan pesta minum teh? Astaga, Yang Mulia, rupanya Anda telah sadar bahwa Anda sebenarnya harus punya teman yang banyak."
Annita terlihat terharu sekali, padahal bukan itu alasan utamanya pergi ke pesta kali ini.
'Aku tidak bermaksud pergi mencari teman, tapi sesekali aku harus menunjukkan diri di hadapan gadis-gadis bangsawan yang berada di bawah pengaruh Eliza. Aku yakin Eliza pasti menceritakan cerita bohong kepada mereka untuk menjatuhkan reputasiku,' batin Xaveryn.
Begitulah alasan Xaveryn menyetujui undangan pesta minum teh kali ini. Ditambah lagi putri Marquess Francys sangat dekat dengan Eliza. Maka dari itu, Xaveryn akan memulai dari hal paling bawah yaitu membuat Eliza hancur. Walau tidak bisa begitu bergegas membuat reputasi Eliza jatuh, tapi Xaveryn akan melakukannya perlahan.
***
Sementara itu, di kediaman Duke Egenbert, tampaknya Duchess Egenbert sedang kesulitan. Putri satu-satunya yang bernama Chyntia, dia merupakan penggemar berat Xaveryn. Kala itu Chyntia tengah berguling-guling di atas tempat tidurnya, dia merengek kepada sang Ibu.
"Chyntia, kali ini kau harus menghadiri undangan pesta minum teh dari putrinya Marquess Francys. Mau sampai kapan kau akan bersikap kekanak-kanakan seperti ini?" omel Duchess Egenbert.
"Tidak, Ibu! Aku tidak akan menghadiri pesta minum teh lagi! Mereka hanya menjelekkan Tuan Putri terus menerus. Aku tidak tahan mendengarnya, aku tidak menyukai mereka!" jawab Chyntia lantang.
Duchess Egenbert menghela napas panjang, dia ingat satu tahun lalu terakhir kali Chyntia menghadiri jamuan pesta minum teh dari seorang gadis bangsawan dan dia pulang dalam keadaan penampilan yang kusut. Dia menghancurkan pesta minum tehnya karena Chyntia mengamuk seusai mendengar para gadis itu menjelekkan Xaveryn.
"Chyntia, jangan pedulikan apa pun yang mereka katakan soal Tuan Putri. Lagi pula kau harus menghadiri pesta minum teh demi meningkatkan reputasimu di dunia sosial. Ayolah, kali ini tidak akan ada lagi orang yang menjelekkan Tuan Putri."
Duchess Egenbert masih berupaya membujuk Chyntia agar mau menuruti keinginannya.
"Bohong! Terakhir kali Ibu juga berkata seperti itu tapi kenyataannya mereka masih menjelekkan Tuan Putri. Aku tidak suka mendengar orang lain menghina Tuan Putri yang begitu cantik jelita dan baik hati. Mereka tidak tahu seberapa lembut hati Tuan Putri."
Suara Chyntia melunak, ia teringat lagi kejadian tiga tahun lalu di mana Xaveryn menolongnya ketika terjatuh dari pohon apel di kebun istana. Xaveryn senantiasa mengulurkan tangan sambil tersenyum cerah padanya. Chyntia juga tahu bahwa Xaveryn sangat dicintai oleh penghuni istana.
"Ada apa lagi ini? Apakah putriku masih bersikeras tidak ingin ikut ke pesta minum teh?" celetuk Duke Egenbert datang bersama Jancent — putranya.
"Sayang, lihatlah putrimu. Sekarang coba kau bujuk dia untuk pergi ke pesta teh. Dia bisa kehilangan reputasinya kalau masih menolak undangan pesta minum teh dari gadis bangsawan. Aku khawatir tidak akan ada pria yang mau menikahinya nanti," tutur Duchess Egenbert.
"Ya sudah, biarkan saja dia tidak ikut. Tidak akan ada pria yang bisa menolak pesona putriku. Kau juga tidak perlu terlalu memikirkannya," ucap Duke Egenbert.
Sontak Chyntia sumringah mendengar pembelaan dari sang Ayah. Dia tahu kalau Ayahnya pasti akan berpihak padanya.
"Sayang!" teriak Duchess Egenbert. "Kau tidak boleh memanjakannya. Gadis ini harus pergi ke pesta minum teh bagaimana pun caranya. Dia sudah begitu banyak menyebabkan masalah. Kali ini ia harus menerima undangan pesta minum teh," marah Duchess Egenbert.
Duke Egenbert seketika menciut melihat kemarahan istrinya. Dia tidak bisa melakukan apa pun di saat Duchess Egenbert diterpa kemurkaan.
"T-Tapi, kita juga tidak bisa memaksa keinginan Chyntia," kata Duke Egenbert gelagapan.
__ADS_1
"Kalau tidak dipaksakan, anak itu tidak akan berubah! Lihat saja sekarang tingkahnya semakin aneh dan selalu mengatakan kalau dia ingin menikahi Tuan Putri. Apakah putri kita tidak suka pria? Aku khawatir."
"Eh? Itu hanyalah gurauan anak kecil saja, kau tidak perlu memasukkannya ke dalam hati. Benar kan, Chyntia? Kau hanya bercanda saat mengatakan ingin menikahi Tuan Putri?"
Duke Egenbert berharap ini hanyalah candaan semata. Dia tidak mau menambah kemarahan istrinya lagi.
"Tidak, aku tidak bercanda. Aku memang ingin menikahi Tuan Putri. Ayah tidak boleh melarangku karena pada dasarnya aku sangat menyukai sesuatu yang cantik seperti Tuan Putri," jawab Chyntia.
Bagai disambar petir di siang hari, Duke Egenbert syok bukan main mendengar keinginan Chyntia yang hendak menikahi Xaveryn. Sedangkan Kakaknya, Jancent hanya tertawa kecil menyaksikan betapa lucunya pemandangan kala itu.
"Apa?! Kau tidak boleh menikahi Tuan Putri! Dua orang wanita tidak bisa menikah!" teriak Duke Egenbert.
"Kalau begitu aku akan menjadi pria untuk bisa menikahi Tuan Putri!"
"Tidak boleh, Chyntia! Kau tidak bisa menjadi pria!"
"Itu salah Ayah dan Ibu karena tidak melahirkanku sebagai pria! Kenapa malah Kakak yang dilahirkan menjadi pria? Kenapa aku dilahirkan sebagai seorang perempuan?!"
"Kami tidak bisa mengatur jenis kelaminmu, jadi aku mohon jangan protes lagi soal gendermu, Chyntia!"
Terjadilah keributan di kamar Chyntia, para pelayan berperan sebagai penonton. Hal seperti demikian sudah biasa terjadi di kediaman ini. Kemudian di saat bersamaan, seorang kesatria datang dan berbisik melaporkan sesuatu kepada Jancent. Kesatria itu langsung pergi seusai menyampaikan laporannya.
"Jangan bertengkar lagi, Chyntia. Aku punya kabar baik untukmu," sela Jancent sesaat suasana menjadi hening.
"Kabar baik apa?"
"Tuan Putri kali ini menghadiri undangan pesta minum teh dari Nona Francys. Aku rasa kau bisa ikut menghadiri pesta kali ini."
Mendengar hal tersebut membuat Chyntia begitu gembira.
"Ya, aku baru saja mendapatkan laporan dari kesatria. Jadi, berhentilah bertengkar, kau harus menghadiri pesta minum teh bersama Tuan Putri. Kau paham?"
Chyntia mengangguk sumringah. "Aku paham! Aku akan pergi ke pesta minum teh bersama Tuan Putri. Aku akan menghajar mereka yang berani mengganggu Tuan Putri," kata Chyntia.
Duke Egenbert membuang napas kasar, aneh sekali dia melihat putrinya begitu menyukai Xaveryn.
'Aku harap dia berubah pikiran tentang menikahi Tuan Putri. Justru aku lebih berharap Jancent yang menikahi Tuan Putri,' batin Duke Egenbert.
***
Satu minggu berselang, tibalah hari di mana perjamuan pesta minum teh itu dilakukan. Chyntia bersikeras untuk datang bersama Xaveryn ke pesta tersebut. Meski pada awalnya, Duke Egenbert melarang keras Chyntia untuk pergi bersama Xaveryn, tapi karena putrinya begitu keras kepala, jadi mau tidak mau dia harus menuruti keinginannya.
Xaveryn datang mengenakan gaun terbaik yang dibuat oleh perancang busana istana. Sebenarnya Jonathan juga terlihat senang putrinya berinisiatif untuk menghadiri pesta minum teh. Dia pernah berpikir kalau putrinya sebenanya anti sosial, tapi kali ini anggapannya terbantahkan.
"Apa perlu aku mengantarmu ke perjamuan itu?" tanya Riley terlihat cemas membiarkan Xaveryn pergi.
"Tidak perlu, Kak, aku pergi bersama Chyntia. Tidak ada yang perlu Kakak khawatirkan," ucap Xaveryn.
"Jika mereka berani menghinamu, kau harus mengadukan padaku. Biar aku yang memberi mereka pelajaran." Alvaro juga ikut-ikutan khawatir sebab dia tahu pasti soal rumor yang beredar tentang Adik kecilnya.
"Ya, kalau perlu aku hancurkan keluarga mereka. Di kekaisaran ini tidak ada yang boleh menjelekkan Adik perempuanku satu-satunya," timpal Claes.
Xaveryn menghela napas panjang, ia tidak mengerti apa yang ada di kepala ketiga saudaranya.
"Iya, Kakak, tenang saja. Aku sendiri yang akan menghabisi mereka nanti."
__ADS_1
Tidak lama setelahnya, kereta kuda pun datang, sebelum berangkat ke kediaman Marquess Francys, Xaveryn singgah ke kediaman Duke Egenbert untuk menjemput Chyntia.
"Wah, Tuan Putri! Anda sangat cantik!" seru Chyntia dengan mata berbinar ketika melihat penampilan Xaveryn.
"Terima kasih, Chyntia. Kau juga sangat cantik dengan gaun indahmu," sanjung Xaveryn balik.
Hati Chyntia seakan ditembak oleh anak panah, dia berdebar sekali mendapatkan pujian dari Xaveryn.
"Yang Mulia, tolong jaga putri kami dan maafkan kalau dia bersikap tidak sopan kepada Anda. Saya harap Anda mau memakluminya."
Duchess Egenbert benar-benar mengkhawatirkan sikap putrinya terhadap Xaveryn. Dia berulang kali menceramahi Chyntia untuk menjaga sikap di hadapan Xaveryn. Chyntia hanya terus mengiyakan, ia tak yakin putrinya akan mematuhi perkataannya.
"Iya, Duchess, Anda jangan cemas. Saya pribadi juga suka berteman dengan Chyntia."
"Baiklah, tolong katakan kepada saya kalau putri saya membuat Anda tidak nyaman."
Xaveryn lantas mengangguk. "Iya, kalau begitu kami pergi dulu."
Xaveryn dan Chyntia masuk berbarengan ke dalam kereta kuda. Duchess Egenbert tiada hentinya memanjatkan doa agar putrinya tidak pulang membawa masalah seperti sebelumnya.
Sesampainya di kediaman Marquess Francys, mereka berdua langsung dipandu menuju taman. Di sana telah ramai gadis bangsawan berkumpul di satu meja panjang. Tetapi, ada satu gadis yang membuat Xaveryn jengkel. Siapa lagi kalau bukan Eliza, gadis yang bersikap seolah menjadi wanita paling disegani.
"Kami haturkan salam kepada Yang Mulia Putri Xaveryn."
Para gadis berdiri dari tempat duduknya dan langsung memberi salam kepada Xaveryn. Mereka masih belum menampakkan sisi diri mereka yang sebenarnya. Mereka menyambut Xaveryn menggunakan topeng terbaik demi menutupi kebusukan mereka di belakang.
Chyntia mengerutkan kening dan menatap kesal ke arah satu persatu dari orang-orang yang berada di sana. Chyntia tidak menyukai mereka karena mereka hanyalah berpura-pura baik kepada Xaveryn. Dia tidak menyukai Xaveryn bergaul dengan orang-orang dengan topeng paling tebal.
"Selamat datang, Yang Mulia, saya tidak menyangka Anda akan menghadiri undangan pesta minum teh yang saya kirim kepada Anda," ujar Lilia — putri Marquess Francys, dialah yang mengadakan perjamuan pesta minum teh kali ini.
"Terima kasih telah mengundang saya, Nona Francys. Saya hanya berpikir kalau saya perlu menghadiri sesekali undangan yang dikirim kepada saya."
Xaveryn menjawabnya dengan penuh wibawa dan elegan. Tidak bisa disangkal kalau mereka memang kagum melihat kecantikan serta sikap Xaveryn yang menggambarkan keanggunan seorang wanita. Bahkan suaranya pun terdengar lembut dan seksi, mereka menilai bahwa Xaveryn memiliki pesona melebihi Eliza.
Kemudian Xaveryn dipersilakan duduk, ia dan Chyntia langsung duduk di kursi yang masih kosong. Satu persatu pelayan berdatangan menghidangkan berbagai jenis cemilan serta beberapa cangkir teh.
"Yang Mulia, ini adalah yang pertama kalinya bagi Anda mengikuti pesta minum teh. Saya yakin Anda pasti belum pernah mencoba teh daimary," kata Lilia dengan nada meremehkan.
"Tentu saja, Anda kan selama ini selalu berada di istana. Tidak mungkin Anda mencoba teh nikmat dari negeri seberang ini."
Mereka sibuk menyudutkan Xaveryn hanya menggunakan teh yang bahkan sudah berulang kali Xaveryn minum di kehidupan sebelumnya. Chyntia mulai kesal, dia hampir saja kehilangan kendali tapi untungnya Xaveryn dengan cepat mencegah kemarahan Chyntia.
"Teh daimary? Apakah ini benar teh daimary?" tanya Xaveryn bernada bicara tenang.
"Apa maksud Anda, Yang Mulia? Sudah jelas ini teh daimary. Ayah saya secara khusus membelikan teh ini untuk saya nikmati. Harganya juga bukan main mahalnya," jawab Lilia.
Xaveryn menyunggingkan senyum, entah dia harus tertawa atau prihatin dengan kebodohan Lilia.
"Teh daimary adalah teh yang diracik langsung melalui tangan sang ahli teh. Sepengetahuan saya, teh daimary itu apabila diseduh akan mengeluarkan aroma manis dan warnanya merah muda kecokelatan. Tetapi, lihatlah teh ini, tidak ada warna merah muda dan tidak ada aroma manis. Apa mungkin Anda tertipu?"
Sesaat suasana pun berubah bising, Lilia mengamati teh tersebut. Memang benar bahwa tehnya tidak mengeluarkan warna merah muda dan aroma manis. Rasanya pun sama seperti teh pada umumnya dan tidak ada yang spesial.
"Tidak mungkin saya tertipu. Lagi pula Anda tidak pernah pergi ke pesta minum teh, jadi mustahil Anda bisa tahu dengan baik jenis-jenis teh. Saya tahu, Anda pasti ingin menjatuhkan saya."
Lilia tidak mau mengakuinya, walau sebenarnya apa yang dikatakan Xaveryn itu ada benarnya juga.
__ADS_1
"Untuk apa saya menjatuhkan manusia bodoh yang memang sudah jatuh sendiri? Bagi saya itu tidak berguna sama sekali."