
Xaveryn tertegun, ia terkejut bukan main mendengar fakta perihal Trevor. Dia tidak tahu sama sekali kalau ternyata Trevor punya kembaran. Gadis itu mulai memutar otak memikirkan kejanggalan demi kejanggalan yang mengusik alam pikirannya.
Melihat respon sang Adik, Alvaro ikut bingung. Dia hanya bisa membantu Xaveryn dengan membagikan info yang dia punya tentang Trevor.
"Benar, dia punya kembaran. Tetapi, fakta ini hanya diketahui oleh pihak istana saja. Dan sekarang aku memberi tahumu tentang ini. Bagaimana pun juga hidup Trevor tampak amat kesepian, ia tidak punya siapa pun yang bisa dia andalkan. Meski aku berbicara seperti ini, bukan berarti aku merestuimu mempunyai hubungan dengannya!"
Ekspresi Alvaro bercampur aduk, dia merasa prihatin terhadap Alvaro tapi dia juga tidak mau Xaveryn punya hubungan dengannya. Sang Adik hanya bisa tersenyum kaku, ia bahkan tidak berpikir untuk menikah pada kehidupan kali ini. Apalagi Ayah dan ketiga saudara laki-lakinya tidak akan merestui hubungannya dengan pria lain.
"Tidak, Kak. Tenang saja, aku tidak punya hubungan yang spesial dengannya. Tetapi, Kak, apakah sampai sekarang tidak ditemukan jejak keberadaan kembarannya Tuan Muda Trevor?"
"Tidak ditemukan di mana pun jejak keberadaannya. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar, ada kemungkinan kembarannya masih hidup. Namun, entah hidup di mana, tidak ada yang mengetahuinya."
Selepas mendapatkan fakta tersebut, ribuan pertanyaan silih berganti berdatangan ke kepalanya. Xaveryn duduk terdiam di tepi balkon, sesekali ia menghela napas panjang. Dia pun termenung sambil menopang dagu dengan mata yang mengarah kosong pada langit senja. Untuk beberapa saat, Xaveryn terbawa ombak pikirannya yang tidak ada habisnya.
"Trevor punya kembaran? Hal ini sangat menggangguku. Tunggu! Ada sesuatu yang baru aku sadari."
Xaveryn tersadar dari lamunannya, memorinya terus berjalan menggali lebih dalam kehidupan pertamanya di kekaisaran ini. Xaveryn mengingat-ingat kembali bagaimana pertemuannya dengan Trevor lalu bagaimana caranya berhubungan dengan Trevor. Memang ada sebuah kerancuan yang cukup serius di sini.
"Sejak kapan sikap Trevor berubah padaku? Aku yakin itu tiga bulan sebelum pernikahan dimulai."
Xaveryn mengambil buku catatan yang berisi serangkaian kejadian penting pada kehidupan pertamanya. Di sana ia menuliskan berbagai peristiwa dan masalah yang menimpanya serta menimpa orang sekitarnya.
"Sekarang bagaimana jika Trevor yang melakukan pengkhianatan itu adalah Trevor yang berbeda dengan Trevor yang masih berstatus sebagai tunanganku? Jika memang begitu, itu artinya aku ditipu. Lalu ke manakah Trevor pergi? Mustahil dia menghilang begitu saja."
Kedua bola mata Xaveryn tiba-tiba membulat sempurna.
"Mungkinkah dia dibunuh? Tidak salah lagi, ini merupakan kemungkinan yang paling tepat. Jika terbukti seperti itu, artinya aku telah berburuk sangka dan membuat hati Trevor terluka."
__ADS_1
Mendadak Xaveryn merasa bersalah terhadap Trevor. Buru-buru dia mengambil kertas dan tinta untuk menuliskan surat lalu mengatur pertemuan mereka kembali. Ada hal yang perlu diluruskan di sini sebelum semuanya terlambat.
"Master, apa yang membuat Anda berpikir begitu keras?" tanya Roxilius yang muncul tiba-tiba di hadapannya.
"Tidak ada, hanya saja aku memikirkan mengenai pembunuh yang silih berganti berdatangan ke istana kediamanku," dalih Xaveryn berbohong kepada Roxilius.
Penglihatan Xaveryn menangkap bercak darah di permukaan pakaian Roxilius. Di wajahnya juga terdapat percikan darah segar manusia. Tanpa diberi penjelasan pun, Xaveryn sudah tahu apa yang sebelumnya dilakukan Roxilius.
"Kau membunuh para pembunuh lagi? Apakah kali ini kau tidak berhasil menangkap salah satu dari mereka hidup-hidup?" tanya Xaveryn.
Mimik muka Roxilius terus saja tersenyum bila berada di hadapannya. Tetapi, berbeda lagi jika dia berhadapan dengan orang selain Xaveryn.
"Tenang saja, Master. Kali ini saya menangkap salah satu dari mereka hidup-hidup. Dia sudah saya taruh di dalam penjara sihir. Jadi, dia tidak akan berani macam-macam di sana. Apakah Anda mau bertemu dengan pembunuh itu?"
Xaveryn tersenyum puas atas pencapaian Roxilius kali ini. Pria itu berhasil menahan diri untuk tidak menghabisi para pembunuh itu. Sekarang Xaveryn punya kesempatan untuk menggertak balik dalang pengirim para pembunuh itu padanya.
Roxilius langsung membawa Xaveryn ke penjara sihir yang terletak jauh di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh manusia biasa. Entah mengapa penjara sihir tersebut dipenuhi oleh suara teriakan dan jeritan sakit dari para jiwa yang terperangkap di dalamnya. Suasana di sana benar-benar mencekam. Untung saja Xaveryn tidak begitu merasa terganggu akan hal itu.
Di sebuah penjara nan gelap gulita, Xaveryn menemui seorang pria dengan tangan dan kaki terikat rantai. Dia babak belur seusai dihajar habis-habisan oleh Roxilius.
"Bangunkan dia, Rox," titah Xaveryn.
"Baik, Master."
Roxilius menjentikkan jemarinya, satu ember air muncul di udara dan mengguyur sekujur badan si pembunuh itu. Sepersekian detik kemudian, pembunuh itu sadar, ia tergagap disertai mulut yang mencari-cari udara. Napasnya sesak sesaat air sedingin es membasahi tubuhnya.
"Ada di mana aku?" tanyanya mengedarkan tatapan ke sudut jeruji besi.
__ADS_1
"Kau ada di neraka," jawab Xaveryn.
Pembunuh itu pun tersentak mendapati target pembunuhannya tepat berada di depan matanya. Dia tidak bisa berkata-kata, kali ini dia terjebak di dalam kandang singa. Sebentar lagi nyawanya akan segera melayang di tangan seorang gadis kecil.
"Kau nampaknya sangat terkejut. Apa yang membuatmu begitu? Apakah karena target pembunuhanmu kini berdiri tanpa goresan luka di hadapanmu?"
Senyuman Xaveryn terlihat menyeramkan, aura membunuh nan kuat memancar jelas dari tatapan matanya. Sesaat rasa takut menghampiri pembunuh itu, ia kehilangan akal mengatasi permasalahan kala itu.
"Bebaskan aku! Tidak ada gunanya kau menyekapku karena aku tidak akan membuka mulut sekali pun aku mati," ucapnya bersikukuh.
"Siapa bilang aku akan mengorek informasi darimu? Justru aku datang kemari secara khusus untuk membunuhmu sekaligus menggertak pemimpinmu."
Pupil mata si pembunuh melebar, Xaveryn bertingkah layaknya seseorang yang mengetahui segalanya. Hal tersebut membuat si pembunuh tertelan ke dalam lautan kematian.
"Jadi, kau sudah tahu siapa pemimpin kami?"
Xaveryn lantas menyeringai. "Ya, aku tahu siapa pemimpinmu hingga kaki tangannya di kekaisaran ini."
"Memangnya kenapa kalau kau mengetahuinya? Mungkinkah kau beranggapan segalanya akan berbeda bila kau tahu pemimpin kami? Takkan ada yang berubah! Pemimpin kami jauh lebih kuat dari yang kau—"
Belum selesai pembunuh itu menyudahi perkataannya, Roxilius yang geram langsung membunuhnya. Roxilius membuat si pembunuh mati tanpa menyelesaikan kalimat kebanggaannya terhadap sang pemimpinnya.
"Berisik!" ujar Roxilius. "Tidak ada gunanya Anda berbicara dengan sampah ini, Master," lanjutnya berucap.
Xaveryn tercengung, padahal dia berniat mendengarkan si pembunuh itu berbicara sampai akhir. Namun, Roxilius sudah terlalu muak, jadi ia mau tidak mau harus membunuh si pembunuh itu sesegera mungkin.
"Baiklah, mari kita menyelesaikannya sekarang. Aku akan mengirim mayat pembunuh ini kepada pria itu supaya dia paham bahwa dirinya salah memilihku sebagai lawan."
__ADS_1