
Xaveryn tidak tahu maksud dari perkataan Chaerick. Akan tetapi, tersirat dari sinar matanya bahwa pria yang berada di hadapannya kini tengah berjuang di ambang kesengsaraan. Xaveryn tidak berani ikut campur lebih jauh sebab ia khawatir akan menyinggung Chaerick. Terlebih lagi dia dan Chaerick hanya sebatas kenalan biasa. Mereka berdua terhubung karena Claes, hanya sebatas itu dan tidak lebih.
'Senyumannya palsu, tertawanya palsu, apa yang dia pertunjukkan kepada dunia hanyalah sebuah kepalsuan. Haruskah aku mulai mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya terhadap Chaerick? Aku tidak boleh membiarkannya mati seperti di kehidupan pertama,' batin Xaveryn.
Mereka berdua melanjutkan obrolan ringan yang berisi gurauan mengenai sejumlah persoalan yang terjadi. Seperti biasa, di tengah obrolan dan kata-kata gombal yang dilontarkan Chaerick, tiba-tiba saja Claes datang. Dia menarik Chaerick untuk menjauh dari Xaveryn.
"Tidak bisakah kau berhenti menggoda Adikku? Dia masih anak berumur dua belas tahun, sedangkan kau sudah memasuki usia dewasa," omel Claes.
"Kalau begitu aku akan menunggu Tuan Putri sampai memasuki usia yang bisa diajak untuk menikah," balas Chaerick.
Claes mengurut dadanya sendiri sembari berucap sabar pada dirinya. Menghadapi Chaerick teramat sulit bagi dia karena Chaerick orang yang sulit untuk dilarang menjauhi sesuatu atau seseorang yang telah ia sukai.
"Adikku tidak akan pernah menikah denganmu! Lebih baik aku katakan kepada Kaisar untuk mencarikanmu seorang gadis untuk dijadikan sebagai tunanganmu supaya kau tidak menggoda Adikku lagi."
Pupil mata Chaerick melebar seketika. "Tidak! Aku tidak mau! Lagi pula memangnya ada yang mau dengan anak haram seperti diriku? Lebih baik aku menikah dengan Tuan Putri saja karena beliau tidak pernah mempermasalahkan dari mana aku berasal," tutur Chaerick.
"Tidak akan aku restui! Lebih baik kau menikah dengan monyet saja."
"Jangan begitu, Claes. Aku percaya aku akan menjadi Adik iparmu. Tolong ramahlah padaku, oke?"
"Tidak! Jangan harap itu akan terjadi."
Mereka berdua memperdebatkan sesuatu yang tidak penting. Xaveryn hanya menonton perdebatan mereka seraya menikmati jus jeruk kesukaannya.
'Apa yang membuat mereka ribut? Aku rasa tidak ada yang penting. Aku bahkan tidak berniat untuk menikah, jadi percuma saja mereka memperdebatkan soal pernikahanku.'
***
__ADS_1
Beberapa jam berlalu, saat ini di kediaman Grand Duke Oskari, Trevor terlihat masih bersedih mengenai penolakan Xaveryn. Dia tidak fokus dengan pekerjaan yang menumpuk di meja kerja pribadinya. Sesekali terdengar embusan napas gusar yang menyiratkan ketidaknyamanan di dalam hatinya.
Wajah dan suara Xaveryn kerap kali terngiang-ngiang di kepalanya. Gadis yang ia kagumi itu tidak pernah sekali pun meresponnya dengan baik.
"Kira-kira kenapa Tuan Putri seperti itu padaku? Apa aku pernah berbuat salah kepada beliau?" gumam Trevor bertanya-tanya.
Trevor berpikir keras, ia memikirkan lagi segala bentuk tindakan yang dirasa mengganggu Xaveryn. Namun, tidak ada hal istimewa yang dia rasa lakukan kepada Xaveryn.
"Kepalaku pusing, aku tidak tahu di mana letak kesalahanku."
Pada saat bersamaan, seorang pelayan datang memasuki ruangan. Dia membawa sebuah surat dari istana untuk Trevor.
"Tuan Muda, ada surat dari istana untuk Anda," ujar si pelayan.
"Siapa pengirimnya?" tanya Trevor tidak bersemangat.
Sontak Trevor menegakkan kepalanya, mendengar surat dari Xaveryn membuatnya kembali bersemangat. Sang pelayan pun langsung menyerahkan suratnya kepada Trevor. Dengan begitu berhati-hati, Trevor membuka amplop suratnya. Ini merupakan pertama kalinya Xaveryn mengirim surat langsung kepada Trevor.
Ekspresi sendu Trevor berubah menjadi riang, surat tersebut berisi permintaan Xaveryn untuk bertemu dengan dirinya di esok hari.
"Tuan Putri meminta untuk bertemu? Kira-kira ada apa? Mengapa Tuan Putri berubah pikiran? Ah, itu tidak penting, sekarang yang penting aku bisa bertemu dengan Tuan Putri."
Trevor buru-buru menyelesaikan seluruh pekerjaannya. Dia tidak mau pekerjaannya malah menjadi penghambat baginya bertemu Xaveryn. Alasan mengapa ia begitu gembira mendapati kabar pertemuannya dengan Xaveryn ialah karena selama ini dia begitu kesepian dan sulit mempercayai orang lain. Namun, Xaveryn berbeda dari orang-orang yang ditemuinya. Gadis berwajah polos itu memiliki daya tarik yang sulit untuk dijelaskan.
Sementara Trevor bersama rasa bahagianya, Xaveryn kini tengah mengalami pergolakan batin di istana utama. Tepat beberapa jam seusai pertemuannya dengan Chaerick, sejumlah bangsawan datang menghadap Jonathan. Mereka membawa beberapa saran untuk diberikan kepada Jonathan.
"Yang Mulia, kami ingin membicarakan soal pertunangan ketiga Pangeran dan Tuan Putri. Satu orang pun dari mereka belum ada yang bertunangan. Bukankah hal ini patut dipertanyakan? Padahal di aturannya, para Pangeran dan Tuan Putri harus mempunyai tunangan pada saat usia ke sepuluh tahun."
__ADS_1
"Benar, Yang Mulia. Para Pangeran dan Tuan Putri sampai sekarang justru dibiarkan berbuat semaunya. Sebaiknya Anda segera atur pertunangan untuk para Pangeran dan Tuan Putri, Yang Mulia."
Jonathan menggertakkan giginya, selama ini dia tidak pernah mempermasalahkan pertunangan kepada anak-anaknya. Tetapi, para bangsawan malah mendesak Jonathan menentukan pertunangan putra dan putrinya yang masih tergolong muda.
"Pertunangan? Kalian tidak bisa seenaknya saja menentukan jalan hidup anak-anakku. Apabila mereka belum ingin bertunangan, maka aku tidak akan memaksanya," jawab Jonathan ketus.
"Tetapi, Yang Mulia, berdasarkan peraturan istana, seharusnya Pangeran dan Tuan Putri—"
"Aku tidak peduli," potong Jonathan diselimuti kemarahan yang nyaris tidak terbendungkan lagi. "Aku tahu akal busuk kalian, sebenarnya kalian hanya ingin membawa putra dan putri kalian untuk dipasangkan dengan anak-anakku. Keserakahan di diri kalian memang tidak bisa dibohongi."
"Yang Mulia! Anda tidak bisa menuduh kami sembarangan!" teriak salah seorang bangsawan.
"Siapa yang menyuruhmu meninggikan suara padaku?!" Jonathan akhirnya meledak juga, dia kesal sekali dengan orang-orang yang mencoba menggunakan putra dan putrinya sebagai tempat meraih keuntungan.
Jonathan bangkit dari tempatnya duduk sembari membawa emosi yang menggebu-gebu di hati. Dia ingin sekali menghempaskan dan menghantam tubuh mereka. Namun, sekarang dia masih menahan sebentar sampai para bangsawan itu memperlihatkan topengnya yang sesungguhnya.
"Coba sekarang Anda pikirkan lagi, dengan pertunangan ini justru akan mendatangkan keuntungan di dua belah pihak. Maksud saya, pada Pangeran dan Tuan Putri dapat menghasilkan keturunan terbaik demi menjaga stabilitas kekaisaran. Jadi—"
"Oh, apa kalian bermaksud menggunakanku dan Kakak-kakakku sebagai alat untuk menstabilkan negeri ini? Betapa rendahnya pikiran kalian."
Xaveryn tiba-tiba datang menyela pembicaraan mereka di ruangan Jonathan. Para bangsawan memusatkan pandangannya pada kedatangan Xaveryn.
"Kalian sampai membuat Ayahku emosi. Sungguh, kalian ini busuk sekali. Seharusnya tadi Ayah layangkan saja pedang kepada mereka," lanjut Xaveryn berucap.
"Yang Mulia Putri—"
"CUKUP!" teriak Xaveryn murka. "Siapa yang mengizinkan kalian membuka mulut sebelum aku selesai berbicara? Jangan membuat amarahku menjadi bumerang bagi kalian."
__ADS_1