
Semenjak hari itu, Xaveryn tidak lagi mendengar kabar soal Eliza. Para bangsawan juga berhenti mengganggunya dan Jonathan. Namun, hanya saja citra Xaveryn berubah dalam sekejap. Para bangsawan itu tidak mungkin meninggalkan istana tanpa membuat gosip soal Xaveryn.
Hingga hari ini, seluruh orang menganggap Xaveryn bukanlah Tuan Putri yang ramah melainkan Tuan Putri berkarakter dingin seperti Ayah dan ketiga saudaranya. Akan tetapi, rumor itu hanya mempunyai pengaruh di kalangan rakyat saja, sedangkan di istana citra Xaveryn sangatlah bagus. Para pekerja istana bahkan membuatkan patung khusus Xaveryn di dekat jalan menuju gerbang utama. Jonathan sekaligus saudara Xaveryn teramat bahagia ketika mereka melihat patung Xaveryn terpampang nyata di dekat gerbang utama.
Xaveryn sehari-harinya mengurus bisnisnya yang sedang berkembang bersama Duke Egenbert. Dia fokus meningkatkan nilai guna dirinya di hadapan banyak orang. Bahkan di antara mereka sebagian besar tidak percaya bahwa seluruh ide bisnis Duke Egenbert berasal dari Xaveryn. Bagaimana pun ide Xaveryn dinilai bukanlah ide biasa, melainkan sebuah dobrakan baru untuk Kekaisaran Graziella. Semua orang turut senang melihat ide Xaveryn yang maha luar biasa.
"Yang Mulia, saya baru saja mendapatkan kabar kalau Nona Eliza diadopsi oleh Duke Solfrid."
Sontak kepala Xaveryn terangkat begitu Lian memberikan laporan soal pengadopsian Eliza. Dia jelas tahu siapa Duke Solfrid dan dirinya tidak ada pernah melupakan sedikit pun tentang apa yang pernah dilakukan Duke Solfrid. Ingin rasanya dia tertawa, dia menganggap ini sedikit lucu mengingat Eliza diadopsi bangsawan tak terduga.
"Apa alasan Duke Solfrid mau mengadopsi Eliza? Biasanya Duke Solfrid tidak pernah ikut campur masalah yang seperti ini," tanya Xaveryn.
"Sepertinya itu karena beliau merasa kasihan dengan Nona Eliza dan juga bukan rahasia lagi kalau sebenarnya Duke Solfrid merupakan teman dekat mendiang Ayah Nona Eliza," jelas Lian.
"Apa mungkin nanti mereka merencanakan sesuatu untuk merugikan Tuan Putri?" duga Eris.
Seluruh mata serentak menghadap Eris, Annita langsung mencubit tangan Eris supaya dia bungkam. Sebenarnya mereka semua punya pemikiran yang sama dengan Eris. Entah mengapa mereka juga tidak menyukai Eliza, mungkin itu dorongan alami seusai mendapat berita soal rumor tidak mengenakkan tentang Xaveryn.
"Eris, kau punya pemikiran yang unik, tapi itu memang mungkin terjadi. Firasatku mengatakan bahwa mereka punya rencana terselubung di balik ini semua," tutur Xaveryn, dia tidak menyangkal apa yang ditudingkan Eris.
Tidak bisa dipungkiri lagi sebab mereka memang mempunyai niat yang tidak baik terhadap Xaveryn. Bahkan pada kehidupan pertamanya, Duke Solfrid menjadi bangsawan pendukung Eliza. Mereka melakukan pemberontakan dengan dipimpin Duke Solfrid. Dia mengumpulkan para bangsawan dan mengajak bangsawan lain untuk bergabung dengan mereka.
'Mereka bertemu lebih cepat di kehidupan kali ini, tapi aku tidak akan membiarkan mereka lolos dengan mudah. Bersiaplah! Karena ini adalah pembalasan dariku,' batin Xaveryn menyeringai.
__ADS_1
Xaveryn melanjutkan kembali pekerjaannya, kali ini dia juga dibantu oleh Viano dan Serena. Mereka terkadang suka terheran melihat anak seusia Xaveryn yang mahir dalam urusan bisnis. Terlihat aneh bagi mereka, tapi Jonathan sekali pun tidak pernah bertanya mengenai keanehan tersebut. Mereka menilai Xaveryn terlalu pintar, kemampuan otaknya mampu menyaingi orang dewasa. Bahkan Duke Egenbert terkadang merasa kalah dari Xaveryn.
"Bagaimana jadwal berikutnya?" tanya Xaveryn kepada Viano.
"Anda hari ini ada janji temu dengan Duke Egenbert untuk membahas masalah pembangunan rel kereta api," jawab Viano.
"Baiklah, kita akan bertemu Duke Egenbert nanti."
Xaveryn terkesan dengan cara kerja Viano, meski dia belum tumbuh menjadi lelaki dewasa, tapi dia mampu menyaingi dirinya menjadi seorang asisten Xaveryn. Viano sebelumnya banyak belajar dari Delvis, bagaimana pun juga Viano masih punya banyak hal untuk dia pelajari.
Hari demi hari Xaveryn semakin sibuk, walau dia adalah seorang anak kecil berumur enam tahun, tapi kinerjanya sungguh membuat semua orang berdecak kagum. Hingga akhirnya timbullah gelar baru untuk Xaveryn yakni si gila jenius. Xaveryn juga dinilai lebih jenius dari ketiga saudaranya. Kabar ini pun menyebar begitu cepat ke kekaisaran dan kerajaan lain.
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, Xaveryn sekarang sudah genap berusia tujuh tahun. Hari ini adalah hari kepulangan Claes dari akademi sehingga penghuni istana sibuk sedari tadi pagi mempersiapkan penyambutan kepulangan Claes. Xaveryn tampak tidak sabar bertemu sang Kakak, rasa rindunya menggebu-gebu di dalam dada.
"Jangan khawatir, Annita! Aku tidak akan terjatuh," sahut Xaveryn.
Gadis kecil itu berlarian menuruni anak tangga dan menapaki lorong istana. Derap langkah kakinya bergema di istana utama. Para pelayan dan kesatria menyapa ramah Xaveryn, mereka terlihat senang melihat Xaveryn bisa ceria serta tertawa lepas.
"Tapi, Yang Mulia—"
"Sudah, Annita, biarkan saja Tuan Putri melakukan apa pun yang beliau mau. Kau tidak perlu khawatir soal beliau," ucap Dain, sang Ayah.
"Bagaimana pun Tuan Putri masih kecil, aku tidak mau beliau terluka karena kecerobohan beliau sendiri."
__ADS_1
Annita menghela napas panjang, dia seringkali kewalahan menghadapi Xaveryn sebab gadis itu terlalu aktif sehingga Annita tidak sanggup untuk sekedar menghentikan Xaveryn. Ditambah lagi Jonathan tidak memberi teguran, ia hanya tertawa senang melihat Xaveryn bahagia.
"Kau tidak perlu merasa seperti itu, Tuan Putri jauh lebih kuat dari yang kau tahu. Di tubuh beliau mengalir darah Kaisar Graziella. Kita juga tidak bisa berbuat banyak."
Dain memberikan sepatah kalimat untuk menurunkan kekhawatiran Annita. Putrinya terlampau menyayangi Xaveryn sehingga dia mudah merasa cemas atau khawatir terhadap Xaveryn.
"Baiklah, aku mengerti."
Xaveryn menunggu dengan sabar di depan gerbang utama. Dia tahu kalau keberadaan Claes tidak jauh lagi dari istana. Dari arah lain, Alvaro dan Riley juga datang menghampiri Xaveryn. Mereka berdua juga berencana untuk menyambut kepulangan Claes.
"Kau terlihat bahagia hari ini," ujar Riley mengagetkan Xaveryn.
"Apa kau sebegitu rindunya kepada Kak Claes sampai kau mengabaikan Kakakmu ini?" Alvaro merasa sedikit cemburu karena Xaveryn tiada henti mengatakan bahwa dirinya sangat merindukan Claes.
"Aku bertemu Kakak setiap hari di istana, aku juga tidak pernah mengabaikan Kakak. Rasa sayangku sama rata untuk Kakak ketiganya." Xaveryn terpaksa berkata demikian agar ketiga Kakaknya bisa akur di pertemuan pertama setelah satu tahun ini.
"Benarkah? Kalau begitu syukurlah." Alvaro menghela napas lega. Kelakuan Alvaro membuat Xaveryn mengelus dada.
Sepersekian detik berselang, sebuah kereta kuda berlambang istana kekaisaran berhenti di depan gerbang utama. Xaveryn menunggu dengan penuh harap hingga akhirnya dia sungguh keluar.
"KAKA—" Suara Xaveryn terhenti ketika mendapati kaki kanan sang Kakak dibalut perban. Ekspresinya berubah masam, dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat kala itu.
'Apa yang terjadi pada kaki Kakak? Apakah ada sesuatu yang aku lewatkan? Mungkinkah ada seseorang yang sengaja melukai Kakak?'
__ADS_1