Tuan Putri Yang Tersembunyi

Tuan Putri Yang Tersembunyi
Eris Diculik


__ADS_3

Xaveryn termenung cukup lama, memikirkan apa yang terjadi kepada Kakek dan Neneknya membuat ia bertanya-tanya. Di mana kah mereka sekarang? Apa yang sedang mereka lakukan? Mengapa mereka tidak pernah kembali lagi ke Graziella? Seluruh pertanyaan tersebut membuat Xaveryn berpikir keras sembari menduga-duga kemungkinan yang bisa saja terjadi.


"Mereka tidak pernah kembali lagi? Apa mungkin ada sesuatu yang terjadi di belahan dunia sana?" tanya Claes juga turut bingung.


"Mungkin begitu, tapi tidak ada yang tahu bagaimana pastinya. Oleh sebab itulah, aku sedikit khawatir membiarkanmu menjelajahi dunia ini sendirian. Akan tetapi, aku juga tidak bisa melarangmu untuk menghentikan langkah mengejar mimpimu."


Claes menatap Xaveryn, senyum sumringah terukir manis di bibir keduanya. Mereka mendapatkan sepercik harapan baru untuk diri Claes serta untuk mimpi Claes. Mata mereka berbinar-binar menunjukkan betapa antusiasnya mereka berdua.


"Jadi, maksud Ayah ...."


"Benar, aku mengizinkanmu menjelajahi dunia ini dan kau boleh meninggalkan tanggung jawab sebagai pewaris kepada Xaveryn. Namun, dengan satu syarat, kalau kau bisa melakukan syarat ini maka kau boleh pergi."


Claes dan Xaveryn terlihat bingung sekaligus penasaran terhadap syarat yang akan diajukan Jonathan.


"Apa syaratnya?" tanya Claes.


"Syaratnya adalah kau boleh pergi menjelajahi dunia ini saat Xaveryn sudah resmi menjadi Putri Mahkota. Kita harus menjaga Adikmu selama beberapa waktu sebab pihak musuh mungkin akan menargetkan Xaveryn," jelas Jonathan.


Claes merasa sedikit lebih lega, syaratnya ternyata lebih mudah dari yang ia kira.


"Baiklah, Ayah. Aku memang berencana pergi setelah Xaveryn dewasa dan dinobatkan sebagai Putri Mahkota. Tolong Ayah bahas ini bersama para bangsawan, mereka pasti tidak mudah untuk menerimanya."


Claes menyanggupi persyaratan dari Jonathan, tidak ada lagi yang perlu ia khawatirkan sekarang. Setidaknya Claes telah jujur serta Jonathan telah memberi izin. Kini tinggal menunggu bagaimana tanggapan para bangsawan terhadap keputusan mendadak tersebut. Claes berharap tidak akan timbul perdebatan serius antar bangsawan dalam membahas mundurnya dirinya sebagai calon pewaris.


"Itu bagus kalau kau sudah punya pemikiran seperti demikian. Sekarang kalian boleh pergi, Ayah masih harus melakukan beberapa pekerjaan bersama Delvis."


"Baik, Ayah."


Mereka berdua pun keluar dari ruang kerja Jonathan, mereka langsung menuju istana kediaman masing-masing. Claes juga masih harus beristirahat untuk mendapatkan kesembuhan yang maksimal.


Berselang beberapa menit setelah Xaveryn tiba di istana kediamannya, dia memutuskan untuk beranjak pergi mengunjungi Reiner ke kliniknya. Xaveryn belum sempat berbincang dengan Reiner seusai kejadian tidak terduga di istana. Kebetulan sekali saat Xaveryn mengunjungi Reiner, pria itu sedang menikmati waktu luangnya.

__ADS_1


"Paman, aku datang!" seru Xaveryn.


Reiner spontan menoleh ke arah datangnya Xaveryn. Kedatangan Xaveryn disambut hangat oleh Reiner.


"Apa yang membawa keponakanku kemari?" tanya Reiner sembari merekahkan senyum ramah.


Xaveryn mendudukkan diri di atas sofa, dia datang kemari bukan tanpa ada tujuan yang jelas.


"Paman, obat tidurku habis, aku kemari untuk meminta obat tidur lagi."


Ya, itulah tujuan Xaveryn menemui Reiner, ia meminta obat tidur. Semenjak Xaveryn kembali ke masa lalu, dia mengalami kesulitan tidur yang cukup parah. Terkadang Xaveryn tidak bisa tidur sama sekali karena dihantui oleh mimpi buruk. Oleh sebab itu, Xaveryn bergantung dengan obat tidur, jika ia tidak meminum obat tidur maka Xaveryn akan diburu mimpi buruk lagi.


"Apa kau masih mengalami mimpi buruk akhir-akhir ini?" tanya Reiner seraya mengambilkan obat tidur untuk Xaveryn.


"Masih, Paman, aku masih sering mimpi buruk. Aku selalu memimpikan kehidupan masa laluku, tapi aku masih bisa mengatasinya."


"Kapan-kapan mari kita coba terapi, tapi nanti kita atur waktu dulu karena sepertinya istana sedang sibuk."


"Oh iya, Paman, mungkin beberapa hari ke depan kekaisaran akan gaduh. Lebih tepatnya para bangsawan akan beradu argumen dengan Ayah," tutur Xaveryn.


"Apa yang akan terjadi memangnya?"


"Aku akan menjadi pewaris dan Kak Claes akan pergi dari menjelajahi dunia. Kakak menyerahkan takhtanya padaku," jawab Xaveryn.


Reiner kaget bukan main, ia bingung harus menanggapinya bagaimana. Apa yang diketahui orang selama ini ialah pewaris utama Kekaisaran Graziella adalah Claes. Tidak ada prediksi lain yang mengatakan Claes mungkin saja mengundurkan diri dari pewaris takhta.


"Apa kau bercanda?"


Xaveryn lantas menggeleng dengan cepat. "Tidak, aku tidak bercanda. Aku baru saja selesai bertemu dengan Ayah dan Ayah menyetujuinya.".


Reiner menepuk kepalanya, ia tidak paham bagaimana jalan pikir sang Kakak. Namun, sejenak dia berpikir mungkin menjadi Kaisar bagi Xaveryn bisa melindunginya dari Kaisar Saverio.

__ADS_1


"Mari kita bahas lagi lain kali, sekarang Paman mau lanjut kerja dulu," ucap Reiner ketika tiba-tiba seorang pelayan masuk mengatakan bahwa jam istirahat mereka telah selesai.


Xaveryn pun kembali ke istana dan berencana untuk mengistirahatkan badannya. Lalu ketika Xaveryn hampir sampai di dalam kamar, ia menemukan Felician tengah berdiri di depan pintu masuk.


"Felician!" panggil Xaveryn.


Felician sontak menengok ke arah Xaveryn, raut mukanya masih saja datar dan tidak berubah sama sekali.


"Salam kepada Yang Mulia Putri Xaveryn," sapa Felician melontarkan salam.


"Ada apa? Kenapa kau berada di depan pintu kamarku?" tanya Xaveryn.


"Saya datang karena perintah Kaisar, Yang Mulia. Mulai hari ini saya ditugaskan untuk menjadi salah satu kesatria pribadi Anda."


Ekspresi Xaveryn seketika berubah sumringah, inilah yang dia tunggu-tunggu. Felician merupakan seorang ahli pedang yang berbakat. Jadi, sebuah keberuntungan bagi Xaveryb menarik Felician ke sisinya.


"Benarkah? Kalau begitu mohon bantuannya mulai hari ini, Felician."


Setelahnya, Xaveryn membawa Felician masuk kamar, ia mengenalkan Felician kepada orang-orang yang berada di sisinya beberapa waktu belakangan ini. Mereka menyambut Felician dengan hangat dan lembut, tanpa memandang rendah sekali pun. Akan tetapi, kala itu Xaveryn tidak melihat adanya keberadaan Eris. Biasanya anak itu selalu berada di kamar menyambut Xaveryn.


"Di mana Eris? Kenapa aku tidak melihatnya sedari tadi?" tanya Xaveryn.


"Saya tidak tahu, Yang Mulia, tadi Eris berpamitan kepasa saya untuk pergi ke luar. Tetapi, dia masih belum pulang juga," jawab Annita.


"Tumben sekali Eris lama berada di luar."


Pada waktu yang bersamaan, seorang kesatria mendatangi istana kediaman Xaveryn dalam keadaan terang-engah karena berlari dari arah berlawanan. Xaveryn mempersilakan kesatria tersebut untuk masuk sebab tampaknya dia membawa berita yang amat serius.


"Ada apa? Apa yang membawamu kemari?" tanya Xaveryn.


"Mohon maaf atas kelancangan dan ketidaksopanan saya, Yang Mulia. Tetapi, ada sesuatu yang perlu saya laporkan. Seseorang tadi melihat Eris, pelayan pribadi Anda, dibawa oleh seseorang masuk ke dalam sebuah kereta. Eris diduga diculik orang tidak dikenal, dia sempat meronta meminta tolong tapi tidak ada yang bisa menolongnya, Yang Mulia," jelas sang kesatria.

__ADS_1


__ADS_2