Tuan Putri Yang Tersembunyi

Tuan Putri Yang Tersembunyi
Alam Bawah Sadar


__ADS_3

 Dengan segenap kekuatannya yang masih tersisa, Roxilius menggunakan sihirnya untuk menyembuhkan Xaveryn. Cahaya putih menghangatkan memancar begitu terang dari tangan Roxilius. Seisi ruangan membelalak kaget atas apa yang tengah mereka saksikan kala itu, bagi mereka ini merupakan sesuatu yang asing. Sihir yang telah lama menghilang dari dunia kini muncul di depan mata mereka.


“Ayah, apa itu?” tanya Riley kepada Jonathan.


“Itu adalah sihir,” jawab Jonathan.


“Sihir?” Lagi-lagi semua orang tercengang mendengar jawaban Jonathan. Mereka tak bisa berkata-kata, sebuah fenomena langka dari penampakan sihir pertama kali dalam hidup mereka.


“Siapa sebenarnya Roxilius? Mengapa dia punya sihir? Padahal sihir sudah hilang sejak Graziella didirikan.”


Hal tersebut memicu rasa penasaran mereka terhadap identitas Roxilius sebenarnya, ribuan tanda tanya menyelimuti isi pikiran mereka. Mau tidak mau Jonathan harus menjelaskan kepada mereka mengenai identitas Roxilius yang selama ini disembunyikan dari semua orang.


“Roxilius adalah roh suci penjaga Graziella, dia tertidur sangat lama dan terbangun kembali karena Xaveryn. Dia menganggap Xaveryn sebagai Tuannya sehingga apa pun yang terjadi kepada Xaveryn, Roxilius turut merasakannya.”


Ketiga saudara Xaveryn pernah mendengar cerita soal roh suci tersebut, tapi tidak disangka, rupanya roh suci itu ialah Roxilius sendiri. Sementara itu, Roxilius tengah berjuang sendirian memberi pertolongan kepada Xaveryn. Raut mukanya amat khawatir, kecemasannya nyaris menenggelamkan akal sehatnya.


‘Master, saya akan menyelamatkan Anda, bagaimana pun kondisinya dan seberapa kecil pun kemungkinan Anda untuk hidup, saya tidak peduli. Selagi saya masih ada di sini, selagi saya masih bernapas, saya akan merelakan diri saya demi keselamatan Anda. Sama seperti pada enam belas kehidupan sebelumnya, sekarang saya tidak akan terlambat lagi menyelamatkan Anda. Jadi, saya mohon, buka mata Anda, Master. Saya masih membutuhkan Anda, saya tidak bisa hidup jika tidak ada Anda di sisi saya. Saya mohon, Master … saya mohon … alasan keberadaan saya saat ini adalah Anda ….”


Bersamaan dengan sihir pemulihan yang perlahan menutup seluruh luka di tubuh Xaveryn, jiwa gadis itu terperangkap di alam bawah sadar. Dia terbangun di tempat bernuansa putih dan dipenuhi asap kehitaman yang menghalangi pandangannya. Xaveryl melirik kiri dan kanan seraya berharap dia menemukan jalan keluar dari tempat tersebut.


“Ada di mana aku? Di sini sangat sesak, aku harus pergi dari tempat ini.”


Di sela kebingungannya, Xaveryn menyusuri tempat yang tak berujung. Namun, setelah berjalan selama lebih dari dua jam, Xaveryn tidak menemukan jalan keluar. Gadis itu kian tertelan rasa bingung, tidak tahu lagi dirinya ke mana harus melangkah.


Kemudian tatkala Xaveryn melanjutkan langkahnya, sepasang tangan menangkap pergelangan tangannya. Sontak Xaveryn menoleh ke belakang, lalu alangkah terperangahnya ia sesaat mendapati gadis yang sama persis seperti dirinya. Xaveryl seakan tengah bercermin, gadis itu sungguh dirinya sendiri.

__ADS_1


“Siapa kau?” Xaveryn menempatkan kewaspadaannya terhadap gadis tersebut, meski dia merasakan tak ada aura membahayakan yang datang dari gadis itu.


“Aku adalah dirimu,” jawabnya sembari tersenyum.


“Kau adalah aku? Bagaimana bisa? Mungkinkah kau iblis yang sedang menjelma?” tanya Xaveryn.


“Tidak, aku adalah kau dan kau adalah aku. Kita satu, tapi bedanya aku berada di alam bawah sadarmu.”


Gadis itu tak berbohong, dia memang diri Xaveryn yang lain dan menetap di alam bawah sadarnya. Tatapan waspada Xaveryn melunak, dia memutuskan untuk mempercayai gadis itu dan berniat menanyakan jalan keluar dari sana.


“Baiklah, aku percaya. Sekarang bisakah kau memberitahukan padaku ada di mana jalan keluar?”


“Kau belum boleh keluar, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu,” ucapnya.


Xaveryn mengerutkan kening, suasana sekitar menjadi lebih serius.


Gadis itu menarik tangan Xaveryn menuju sebuah pintu besar berwarna perak, pintu yang mewah diserta ukiran unik di permukaan daun pintu.


“Apakah kau tahu? Sesungguhnya di saat kematian kita pada kehidupan pertama hingga kehidupan ke enam belas, ada seseorang yang tengah berjuang menyelamatkan kita dari kematian tapi sayangnya dia selalu gagal. Orang itu selalu datang terlambat, dia juga selalu menemukan kita terkapar tak bernyawa. Penyesalannya sangat dalam, dia membawa rasa sesalnya sampai hari ini.”


Xaveryn membeku, waktu seolah berhenti berputar sejenak sesaat dirinya nan lain menjelaskan sesuatu yang menyebabkannya tak mampu merangkai kata.


“Apa maksudmu? Siapa orang itu?”


Diri Xaveryn yang lain lagi-lagi tersenyum. “Kau akan segera mengetahuinya setelah kau membuka pintu ini.”

__ADS_1


“Jadi, jawabannya ada di balik pintu ini? Baiklah, aku akan membukanya.”


Xaveryn mendorong pelan pintu tersebut, dia langsung dihadapkan pada ingatan di kehidupan pertamanya. Sekeliling mereka dipenuhi pemandangan sekitar kastil tempat Xaveryn dahulu ditawan oleh Helbert. Suara gagak yang begitu familiar serta langit malam nan terlihat sangat akrab. Xaveryn tidak pernah melupakan sedetik pun ingatan itu, ia selalu membawa ingatan itu ke mana-mana.


“Ini adalah ingatan kehidupan pertama kita, kau akan menemukan jawaban di sini.”


Mereka berdua berjalan menyusuri tempat yang penuh dengan kekacauan. Hal itu dikarenakan Xaveryn yang mencoba kabur dari kastil, dia membuat seluruh kesatria menjadi kerepotan.


‘Bukankah ini adalah hari kematianku? Kalau begitu tepat di dekat pohon apel itu tubuhku sekarang ada di sana.’


Xaveryn menatap ke arah pohon apel yang sedang berbuah lebat, pohon itu tumbuh ketika dia baru tiba di kastil ini.


“Tidak! Master, buka mata Anda! Maafkan saya karena datang terlambat, tolong buka mata Anda, Master.”


Xaveryn mendengar jeritan tangisan dari seseorang yang terdengar tidak asing. Lekas Xaveryn menghampiri suara tersebut untuk memastikannya langsung.


“Roxilius! Kenapa dia ada di sini?”


Xaveryn menemukan Roxilius tengah mendekap tubuhnya yang mati akibat hunusan pedang di jantungnya. Roxilius memperlihatkan ekspresi yang diliputi rasa sedih, frustrasi, serta stres akibat apa yang menimpa diri Xaveryn. Air matanya tak kunjung berhenti bergulir, dia terus memanggil Xaveryn berkali-kali sambil berharap gadis itu akan membuka matanya kembali.


“Roxilius adalah orang yang aku maksud, dia selalu datang di saat kita tergeletak tak bernyawa.”


Xaveryn tak percaya terhadap pemandangan yang ada di depannya kini, dia tidak tahu dan tidak sadar selama ini Roxilius selalu ada untuk dirinya.


“Saya telah menghancurkan orang-orang yang telah mengkhianati Anda, Graziella sudah saya bersihkan dari orang yang menyakiti Anda. Saya datang menjemput Anda kembali, saya sudah ada di sini. Buka mata Anda, Master, ayo kita pulang … kita akan pulang ke Graziella. Master, saya mohon, jangan tinggalkan saya sendirian …,” lirih Roxilius berurai air mata.

__ADS_1


Penampakan yang amat mengiris hati, tanpa sadar air mata Xaveryn berlinangan dan mengucur turun membasahi pipi.


‘Roxilius, kenapa kau berbuat sejauh ini untukku? Maafkan aku telah melibatkanmu sejauh ini.’


__ADS_2