
Sifat hangat Xaveryn menghanyutkan mereka seketika, mereka bisa dengan nyaman berbincang dengan Xaveryn tanpa harus mengkhawatirkan masalah lain. Xaveryn tidak melihat mereka dengan tatapan menghina, gadis kecil itu memperlakukan semua orang secara setara.
Mereka mengobrolkan beberapa hal kecil sebelum Xaveryn mengatakan maksud dan tujuannya mengumpulkan mereka semua. Terlihat raut senang sekaligus lega sebab mereka ditempatkan di tempat yang tepat.
"Aku kemari ingin bertanya kepada kalian, apa kalian mau bekerja di bawah perintahku? Jangan khawatir, kalian akan disediakan tempat tidur, makan, dan kalian juga akan digaji. Aku cuma ingin kalian bisa bekerja denganku."
Mereka pun saling bertatap pandang, mereka sedang bertelepati untuk menanyakan pendapat masing-masing. Sejujurnya sekarang mereka tidak memiliki tempat untuk kembali sehingga peluang bekerja di istana merupakan kesempatan yang tepat untuk mereka.
"Yang Mulia, apakah tidak masalah bagi kami bekerja di bawah Anda? Lalu pekerjaan seperti apa yang akan kami lakukan?" tanya salah satu dari mereka yang menjadi perwakilan.
"Yang laki-laki akan bekerja sebagai kesatria lalu bagi wanita akan bekerja sebagai pelayanku. Tentu saja pekerjaan ini bisa berubah suatu saat bila kalian menemukan pekerjaan yang lebih tepat. Namun, untuk sekarang aku hanya bisa menyediakan dua macam pekerjaan ini. Bagaimana? Apa kalian setuju?" terang Xaveryn.
Mereka mengangguk dan serentak menjawab, "Kami menyetujuinya, Yang Mulia."
Xaveryn cukup puas, mereka antusias menerima tawaran dari Xaveryn. Berdasarkan cerita sebelumnya, suku bintang biru hanya tersisa mereka saja. Sebagian dari mereka sudah mati terbunuh akibat penyerangan tiba-tiba. Namun, berada di istana kini membuat mereka bisa menyingkirkan sejenak hal yang membuat mereka sedih mengingat masa lalu.
Setelahnya, Xaveryn pergi menemui Felician, pria kecil yang seumuran dengan Alvaro itu tidak menampakkan dirinya. Felician memilih menyendiri di dalam kamar, dia duduk di pojok ruangan kamar sendirian. Bahkan ketika Xaveryn masuk ke dalam kamar, Felician tidak menunjukkan reaksi apa pun. Xaveryn mencoba mendekati Felician, hanya ada ekspresi murung yang tergurat dari wajahnya.
"Hai, namamu Felician, bukan?" Xaveryn membuka suara mendekati Felician dan mengajaknya mengobrol.
Felician mendongakkan kepalanya, entah kenapa kala itu Felician merasakan sesuatu yang hangat menembus dadanya sesaat dirinya melihat senyum manis Xaveryn yang terus mengembang. Tetapi, Felician masih tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Xaveryn.
__ADS_1
"Felician, apa yang membuatmu terlihat murung? Apa kau tidak suka berada di istana?" tanya Xaveryn sekali lagi.
Felician menggeleng, setidaknya kali ini dia ada respon meskipun hanya menggeleng saja. Xaveryn menyodorkan sebuah permen rasa blueberry untuk Felician.
"Ambillah dan makan ini. Pengasuhku bilang kalau kita sedang sedih lalu memakan permen maka rasa sedih kita akan berkurang," tutur Xaveryn.
Dengan gelagapan, Felician menerima permen pemberian Xaveryn. Felician kembali tertunduk, dia tidak menunjukkan perubahan ekspresi.
"Kau belum kenal aku, 'kan? Aku Xaveryn Graziella, Tuan Putri satu-satunya Kekaisaran Graziella."
Mendengar nama Xaveryn, kedua mata Felician melotot tak percaya. Dia pernah mendengar rumor soal Xaveryn beberapa kali dan hari ini dia bertemu dengan Xaveryn secara langsung. Felician merasa tidak enak hati karena bersikap tidak sopan. Dia pun bangkit lalu membungkuk di hadapan Xaveryn tanpa mengatakan apa pun.
"Kau tidak perlu melakukannya, aku kemari hanya untuk menyapamu saja. Aku tahu apa yang telah kau lalui, aku takkan menekanmu untuk berbicara. Ketika kau sudah siap, aku mau diriku menjadi yang pertama kau ajak berbicara," ujar Xaveryn.
Kemudian kala itu di istana, Duke Egenbert telah menanti Xaveryn di ruang tamu. Rupanya Duke Egenbert datang bersama Duchess Egenbert. Mereka berdua langsung berdiri dan memberi salam tatkala Xaveryn masuk ke ruang tamu.
"Salam kepada Yang Mulia Putri Xaveryn," ucap mereka serentak.
"Halo, Duke dan Duchess Egenbert, bagaimana kabar Anda berdua?" tanya Xaveryn duduk berseberangan dengan mereka berdua.
Duke Egenbert nampak terkesima oleh sikap elegan Xaveryn. Gadis berusia enam tahun itu menguasai tata krama istana dalam kurun waktu yang tergolong singkat. Berbeda dengan putrinya yang sulit diatur, Xaveryn jauh lebih pandai dalam mengatur suasana.
__ADS_1
"Kabar baik, Yang Mulia, terima kasih telah menyambut kedatangan kami," ujar Duchess Egenbert.
Para pelayan pun berdatangan menyuguhkan minum serta kudapan kesukaan Xaveryn. Kali ini Xaveryn masuk ke ruang tamu hanya sendirian, Alvaro dipanggil oleh Jonathan beberapa saat lalu untuk melakukan sesuatu.
"Duke, apakah Anda kemari untuk membahas bisnis?"
Ekspresi dingin Duke Egenbert mencair sesaat. "Benar, Yang Mulia, sebenarnya saya tidak percaya dengan apa yang dikatakan istri saya mengenai ide Anda. Namun, melihat Anda hari ini saya yakin kalau ide itu merupakan cetusan dari Anda. Bisakah Anda menjelaskan lebih rinci lagi kepada saya mengenai ide pembuatan kereta, kapal selam, dan semua yang Anda bicarakan kepada istri saya?"
Duke Egenbert antusias sekali membahas hal tersebut, dia telah menunggu sampai datangnya hari ini. Sebagai seseorang penggila bisnis, Duke Egenbert akan berusaha menggali seluruh ide yang akan dibicarakan Xaveryn.
"Baiklah, tolong dengarkan baik-baik karena ini akan menjadi peluang bisnis yang mendunia."
Xaveryn menjelaskan lagi dari awal, dimulai dari pemanfaatan bulu binatang buas hasil buruan, pengolahan buah-buahan, sayuran, serta tanaman herbal hingga teknik pengawetan suhu rendah, pembuatan kereta api, pemanfaatan baru bara, dan pembuatan kapal selam. Xaveryn menjelaskan secara rinci mengenai manfaat sampai keuntungan besar yang diperoleh dari sini.
Duke Egenbert berdecak kagum, dia takjub terhadap ide yang diberikan Xaveryn menjawab segala pertanyaannya selama ini. Sekarang dia kian bersemangat untuk memulai bisnis tersebut.
"Saya paham, tapi Yang Mulia, apakah Anda bisa menggambar blueprint kereta api dan kapal selam? Kalau tidak ada blueprint, maka ini tidak akan bisa dijalankan sebab ide ini berasal dari Anda."
Xaveryn menepuk kepalanya, dia melupakan hal paling penting dari pembuatan kereta api dan kapal selam. Xaveryn berpikir sejenak, mungkin ada sesuatu yang bisa dia lakukan.
"Bisakah Anda menunggu sampai minggu depan, Duke? Saya akan membuat blueprintnya. Membuat kereta api dan kapal selam bukanlah sesuatu yang mudah, jadi akan butuh waktu bagi saya mempersiapkan blueprintnya," kata Xaveryn menyakinkan Duke Egenbert untuk mempercayakan padanya.
__ADS_1
"Baiklah, Yang Mulia, kita akan berbicara lagi soal bisnis ini nanti minggu depan. Saya menunggu hasil blueprintnya, semoga bisnis kita bisa berjalan dengan lancar," pungkas Duke Egenbert mengakhiri pembicaraan mereka mengenai kereta api dan kapal selam.