
Setelah Jonathan memberi penjelasan yang cukup panjang dan mudah dipahami, ketiga Pangeran akhirnya berusaha untuk memahami situasi sang Adik. Ekspresi Xaveryn menggambarkan betapa letihnya ia bergelut dengan dunia yang selalu menyerangnya. Padahal dia hanya menginginkan kebahagiaan. Namun, tak ada yang berjalan sesuai keinginannya, rasa sakit akibat tekanan memosi masa lampau terus menggerogoti hatinya.
“Mengapa kau tidak menggunakan sihirmu untuk menangkal serangan mereka? Jika itu sihir, maka aku yakin sihirnya tidak lebih besar dari milikmu,” tanya Reiner.
“Aku tidak tahu kenapa, tapi setelah aku terjatuh, sihirku terblokir sementara dan aku kewalahan menghadapi mereka. Sampai akhirnya aku terjatuh ke sungai dan terbawa oleh arus, setelah itu aku tidak ingat lagi apa yang terjadi sebab aku tidak sadarkan diri ketika aku tersapu arus.”
“Kira-kira siapa otak dari rencana pembunuhan ini?”
Ya, itu merupakan dari semua orang. Siapa dalangnya? Tidak ada yang tahu selain Xaveryn. Gadis kecil itu menyimpan rahasia besar sendirian, ia tak mau melibatkan orang lain ke dalam masalah yang selalu mengikutinya setiap detik.
“Duke Solfrid … dalangnya adalah Duke Solfrid. Dia adalah dalang dari segala kekacauan yang terjadi di istana, dia juga menjadi dalang atas kematian Grand Duchess Oskari. Pria itu harus mati bagaimana pun caranya,” ujar Xaveryn tidak memberi tahu mereka bahwa dalang di belakang Duke Solfrid sebenarnya ialah Helbert, sang Kaisar Saverio.
Mereka terdiam sebab tercengang mendengar dalang pembunuhan Grand Duchess Oskari. Gadis itu mulai mengungkapkan satu persatu penjahat yang berkeliaran di Kekaisaran Graziella. Terlalu banyak hal yang menjadi beban, kini dia harus membagi beban itu kepada keluarganya.
“Duke Solfrid dalang dari pembunuhan Grand Duchess Oskari?”
Xaveryn lantas mengangguk. “Benar, aku dan Roxilius mendengarnya langsung dari mulut Duke Solfrid bahwa dialah yang telah membunuh Grand Duchess Oskari. Dia dibantu oleh beberapa orang penyihir, itulah alasan mengapa para kesatria tidak bisa menemukan jejak keberadaan pembunuh di kediaman Grand Duke Oskari. Kemudian ada satu hal lagi yang perlu aku beri tahu.”
Suasana sekitar berubah tegang, atmosfer mulai terasa berat, mereka menyimak baik-baik apa yang akan dibicarakan Xaveryn.
“Sebenarnya, saudara kembar Trevor diculik oleh Duke Solfrid, sekarang dia sedang ditahan oleh Duke Solfrid di kediamannya.”
Deg!
__ADS_1
Ini adalah sesuatu yang lebih menggemparkan, bagaimana tidak? Seisi kekaisaran juga tahu betapa kerasnya usaha Jonathan untuk menemukan saudara kembar Trevor dan sekarang putrinya sendiri yang memberi tahu dalang dari penculikan tersebut.
Jonathan segera memperbaiki ekspresinya, terlalu banyak hal yang membuatnya syok, terutama seusai mendengar saudara kembar Trevor yang masih hidup sampai sekarang. Apalagi sesungguhnya keberadaannya sang kembaran Trevor tidak jauh dari istana kekaisaran. Hanya saja, Duke Solfrid pandai menyembunyikannya dari kecurigaan orang lain.
“Masalah ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi, jika kita membiarkannya maka Duke Solfrid akan mendatangkan kekacauan yang lebih besar dan membahayakan nyawa banyak orang,” ucap Jonathan.
“Untuk sementara waktu sebaiknya kita awasi terlebih dahulu pergerakan Duke Solfrid lalu menemukan bukti yang kuat untuk menangkapnya,” imbuh Claes diangguki yang lain.
Mereka sepakat untuk melakukan penyelidikan lebih dalam terhadap Duke Solfrid, Xaveryn hanya mengikuti alurnya saja dan menyerahkan sisanya kepada sang Ayah. Tugas Xaveryn kini hanya menghalau masalah yang dikirim Helbert secara langsung.
“Xaveryn, lebih baik kau istirahat dan pulihkan dirimu. Kami akan keluar sekarang, jangan khawatir karena kami akan melindungimu kali ini,” ujar Riley.
Xaveryn mengangguk sambil menjawab, “Baiklah, Kak, aku akan istirahat.”
“Yang Mulia, saya mohon maaf, ini semua karena saya tidak bisa melindungi Anda.”
Chyntia menangis sesenggukan memohon maaf kepada Xaveryn, kala itu ia ditemani oleh Duke dan Duchess Egenbert. Tidak terbayangkan betapa hancurnya perasaan Chyntia, dia bahkan tidak berhenti menangis karena mengkhawatirkan Xaveryn.
“Kenapa kau menangis, Chyntia? Aku baik-baik saja sekarang. Tidak ada lagi yang perlu kau tangisi. Seharusnya aku yang meminta maaf karena aku membuatmu kesulitan menelan rasa bersalah itu sendirian,” tutur Xaveryn.
“Tapi, Yang Mulia, seharusnya waktu itu saya ikut membantu Anda melawan orang-orang jahat itu. Saya tidak bisa berhenti memikirkan betapa mengerikannya saat saya melihat Anda terjatuh tepat di depan mata kepala saya sendiri.”
“Yang penting sekarang aku sudah kembali, yang berlalu biarlah berlalu. Kau tidak perlu merasa bertanggung jawab akan hal tersebut. Kau mengerti?”
__ADS_1
Chyntia mengangguk sambil menyeka air matanya, Duke dan Duchess Egenbert tertawa samar sesaat menyaksikan putri mereka yang begitu menurut pada Xaveryn. Padahal mereka tahu pasti bahwa Chyntia adalah anak yang pembangkang sehingga mereka seringkali kesulitan saat mengurus Chyntia.
“Bolehkah saya memeluk Anda, Yang Mulia?” tanya Chyntia.
Xaveryn langsung membentangkan kedua tangannya. “Kemarilah,” ucapnya.
Chyntia menghambur ke pelukan Xaveryn, dia terlena seketika menciumi aroma manis dari tubuh Xaveryn. Tidak berlangsung lama, karena ada beberapa hal yang perlu diurus, Chyntia bersama kedua orang tuanya pamit pulang lebih awal. Meski ada rasa tidak rela di hati Chyntia, tapi dia terpaksa harus pergi.
“Permisi, Yang Mulia, Marquess Francys bersama putrinya ingin datang menemui Anda,” ujar Lian.
“Suruh mereka masuk,” sahut Xaveryn.
Lilia yang sebelumnya mengundang ia ke pesta minum teh datang bersama Marquess Francys, sang Ayah. Masih belum diketahui maksud utama kenapa Lilia ada di sini, tapi dilihat dari raut mukanya, Lilia sepertinya datang karena adanya niat baik.
“Salam kepada Yang Mulia Putri Xaveryn,” sapa Marquess Francys mengucapkan salam.
“Sudahi salam Anda, Marquess. Saya senang melihat Anda datang,” balas Xaveryn.
Marquess Francys terkesan melihat sosok Xaveryn dari dekat, gadis itu diliputi aura kebijaksanaan dan ketegasan. Dengan begini, Marquess Francys mengerti alasan mengapa banyak gadis atau pun bangsawan menaruh rasa tidak suka terhadap Xaveryn.
“Saya juga senang melihat Anda sekarang sudah membaik. Sebenarnya, alasan saya datang ke sini tidak hanya untuk menjenguk Anda, tapi saya juga datang untuk meminta maaf kepada Anda, Yang Mulia. Akibat ulah putri saya, pesta minum teh sebelumnya tidak berjalan dengan baik, tapi saya sudah menasehati putri saya.”
Kemudian Marquess Francys memberi kode Lilia untuk segera keluar dan berhenti bersembunyi di belakang punggungnya. Lilia lekas keluar sebelum Ayahnya mengamuk, ia berdiri di depan Xaveryn dengan muka tertekuk penuh rasa bersalah.
__ADS_1
“Yang Mulia, tolong maafkan diri saya yang mempunyai niat buruk waktu itu. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Lilia setengah mati menahan tangis.