Tuan Putri Yang Tersembunyi

Tuan Putri Yang Tersembunyi
Menangislah, Xaveryn!


__ADS_3

Kemudian Reiner masih mencari cara untuk menyadarkan Xaveryn. Dia pun mencoba mendekatkan wajahnya ke samping telinga Xaveryn lalu membisikkan beberapa kata padanya.


"Tidak apa-apa, Xaveryn, tidak ada yang perlu kau takutkan lagi. Di sini Paman akan melindungimu, ada Ayah dan saudaramu serta masih banyak orang lain yang ingin melindungimu. Takkan ada orang yang mengganggumu, duniamu sekarang akan jauh berbeda dari kehidupanmu sebelumnya," tutur Reiner.


Sesungguhnya, hati Reiner begitu sakit menyaksikan keponakannya terluka sendirian hingga syok yang mendera hatinya kini. Sekarang bahkan Xaveryn masih belum memberi tanggapan dan juga masih belum sadar sepenuhnya. Reiner mencoba sekali lagi berbisik di samping telinga Xaveryn.


"Xaveryn, menangislah, tak ada orang yang akan memarahi dan menyakitimu di sini. Istana ini adalah rumahmu, ada banyak orang yang menyayangimu. Tidak seperti kehidupan pertama hingga kehidupan ke enam belasmu, di waktu ini seluruh orang menyayangimu. Paman juga menyayangimu, Xaveryn, jadi sadarlah sekarang. Lepaskan bebanmu sejenak dan menangislah, ada banyak bahu sebagai tempatmu bersandar."


Tidak lama berselang seusai Reiner berbisik seperti itu, Xaveryn mulai mengedipkan matanya. Pandangannya yang kosong mulai bercahaya kembali. Gadis kecil tersebut tanpa sadar menitikkan air matanya. Reiner lekas menarik Jonathan ke hadapan Xaveryn sebab yang dibutuhkan Xaveryn saat ini hanyalah pelukan sang Ayah.


"Huwaaaaa, Ayah, itu sangat menakutkan. Orang itu menakutkan, dia menyakitiku, tanganku sakit dan dia tidak mau melepaskanku. Ayah, aku takut, aku tidak mau tidur sendirian lagi."


Tangisan Xaveryn pecah di pelukan Jonathan, dia menangis terisak-isak melepaskan rasa takut yang tertahan di dada. Jonathan tidak berbicara atau menanggapi perkataan Xaveryn sampai putrinya sedikit tenang. Untuk saat ini Xavaryn masih histeris, dia sungguh takut membayangkan wajah Helbert yang terngiang di kepalanya.


"Iya, Nak, Ayah di sini, sekarang Ayah akan melindungimu. Jangan khawatir, Ayah akan menemanimu tidur. Kau tidak akan dibiarkan tidur sendirian lagi."


Melihat Xaveryn yang menangis membuat semua orang lega sebab jika gadis kecil itu terus menampakkan kekosongan pandangannya, maka mungkin saja Xaveryn akan kehilangan kewarasan sepenuhnya.


Jonathan mendekap Xaveryn begitu erat, dia merasakan ketakutan hebat menimpa putrinya. Dia menyesal karena tidak bisa melakukan apa pun selain mencoba menenangkan ketakutan sang putri.


'Maafkan Ayah, Xaveryn, maafkan Ayah tidak mampu melindungimu.'


Tidak lama kemudian, Xaveryn akhirnya tertidur di pelukan Jonathan setelah diberi cairan suntikan penenang oleh Reiner. Kini tidak terdengar lagi suara isakan tangis anak kecil, hanya ada suara helaan napas berat dari semua orang yang berada di ruang yang sama.

__ADS_1


"Kira-kira siapa yang menyusup sampai membuat Xaveryn ketakutan seperti ini?" tanya Alvaro.


"Mungkin itu memang orang yang sangat menakutkan atau orang yang mengenakan topeng hantu untuk menakuti Xaveryn," terka Riley.


Mereka berdua nampak sedih menyaksikan Adik perempuan satu-satunya yang mereka jaga sepenuh hati malah histeris akibat penyusup. Lalu Reiner meresepkan beberapa obat untuk Xaveryn, tidak lupa Reiner menambahkan obat tidur agar Xaveryn bisa tidur lebih nyenyak.


"Kak, sebaiknya kau jangan meninggalkan Xaveryn tidur sendirian di kamar ini. Aku khawatir jika nanti penyusup itu datang mencelakai Xaveryn lagi. Mental Xaveryn sangat rentan, dia rapuh akibat mentalnya yang belum sepenuhnya pulih," ujar Reiner.


"Ya, aku yang akan menemaninya nanti."


Jonathan membaringkan tubuh Xaveryn ke atas tempat tidur. Perasaannya tidak nyaman sekali setelah adanya permasalahan seperti ini. Sesudah itu, Jonathan meminta Riley dan Alvaro menemani Xaveryn sebentar. Dia juga memerintahkan Annita, Eris, dan Serena untuk meningkatkan penjagaan mereka. Dia ingin pergi ke luar memastikan hasil dari penyelidikan para kesatria.


"Bagaimana? Apa kalian menemukan sesuatu?" tanya Jonathan.


"Apa? Bisakah kalian membawaku ke tempat kalian menemukan jejaknya?"


"Baik, Yang Mulia."


Mereka akhirnya pergi membawa Jonathan ke bawah balkon kamar Xaveryn. Di sana dia menemukan hal yang sama seperti apa yang ditemukan para kesatria. Jejak tersebut berhenti di bawah balkon seolah penyusup itu menghilang tanpa meninggalkan jejak.


"Kenapa tidak ada jejak lain yang tersisa? Ini aneh sekali," gumam Jonathan.


"Apa mungkin penyusup itu bukan manusia melainkan setan?"

__ADS_1


Sontak Jonathan mengarahkan sorotan matanya kepada kesatria yang berbicara barusan. Kesatria itu refleks membungkam mulut, dia tidak mau sampai menyulut emosi Jonathan.


"Setan kah? Aku rasa itu adalah jawaban yang paling mendekati sekarang," ujar Jonathan.


Penyelidikan malam itu tidak membuahi hasil, Jonathan tidak menemukan jejak si penyusup. Kemudian Jonathan memerintahkan penambahan jumlah kesatria untuk melindungi Xaveryn dari serangan penyusup. Malam itu Jonathan semakin memperketat keamanan istana sakura demi menjaga Xaveryn dari penyusup. Bahkan Riley dan Alvaro juga ikut pindah sementara ke istana sakura agar mereka juga bisa menjaga Xaveryn.


Pada keesokan paginya, Xaveryn bangun di tengah kerumunan pelayan. Dia tidak hanya melihat Annita, Serena, dan Eris, tapi ada beberapa pelayan yang terlihat asing baginya. Lalu ketika dia mengedarkan pandangan ke arah lain, di ambang pintu terdapat lebih dari empat orang kesatria yang berjaga. Bahkan di bawah balkon kamar juga ada kesatria yang berjaga di sana.


"Ada apa ini? Kenapa istana sakura rasanya lebih ramai dari biasanya?" bingung Xaveryn begumam sendirian.


"Yang Mulia, Anda sudah bangun? Bagaimana kalau sekarang Anda mencuci muka terlebih dahulu?"


Serena menghampiri Xaveryn membawa satu baskom kecil air untuk cuci muka.


"Serena, kenapa kau mengerjakan tugas pelayan? Bukankah kemarin aku memintamu untuk menjadi asistenku saja? Lalu mengapa tiba-tiba kau melakukan tugas lain?" tanya Xaveryn.


"Sementara waktu saya akan melakukan pekerjaan sebagai pelayan pribadi Anda juga. Ini adalah perintah dari Kaisar, jadi saya tidak bisa menolaknya," jelas Serena.


Xaveryn mulai paham situasi tersebut, hal ini dikarenakan Helbert yang menyusup ke istana sehingga Jonathan semakin memperketat penjagaan.


'Ternyata pria itu bergerak lebih cepat dari dugaanku, dia telah mengincarku sejak lama. Padahal jarak umurku dan dia terpaut empat belas tahun. Aku sangat membencinya, takkan aku biarkan dia menghancurkan hidupku sekali lagi,' batin Xaveryn bertekad kuat.


Sesudah itu, Xaveryn dibantu untuk mandi dan membersihkan badan. Hari ini Xaveryn mengenakan gaun berwarna lembut serta gaun dengan motif paling sederhana. Para pelayan terus keluar masuk dari kamarnya membantu Xaveryn untuk melakukan apa pun jenis kegiatannya. Ingin rasanya Xaveryn keluar dari sana sebab dia jadi tidak leluasa mengerjakan aktivitas lain. Bahkan sedari tadi ada banyak mata yang mengawasinya di mana-mana sehingga sedikit timbul perasaan tidak nyaman.

__ADS_1


__ADS_2