
Countess Suhail menjangkau tongkat rotannya, dia tak kuasa menahan kemarahannya kepada Xaveryn. Akan tetapi, ketika dirinya hendak melayangkan pukulan pada kaki Xaveryn, sekelompok kesatria mendadak menerobos ruang kelas. Spontan wanita itu melempar tongkat rotannya jauh-jauh dan mencoba memperbaiki ekspresinya.
“Apa yang baru saja ingin Anda lakukan kepada Tuan Putri?”
Countess Suhail terperangah sesaat dia melihat Jonathan masuk ke dalam ruangan, sorot mata tajam hingga suara dingin mencekam. Seolah-olah kematian sedang memutar di sekitar diri Countess Suhail. Namun, wanita tersebut masih mencoba menutupi segala kebusukannya, dia yang berdiri di samping Xaveryn dengan sengaja mencubit tangan Xaveryn sebagai kode supaya Xaveryn tidak mengadu kepada sang Ayah.
“Saya hanya mencoba memberi tahu Tuan Putri, tapi beliau membangkang, jadi saya bermaksud memberi beliau hukuman kecil supaya Tuan Putri bisa memperbaiki sikapnya,” jawab Countess Suhail kembali berbohong.
“Memangnya apa yang dilakukan Tuan Putri sampai Anda harus memberinya hukuman? Saya rasa dia tidak membuat kesalahan besar.”
Kali ini Jonathan nyaris mencapai batas kesabaran, dia langsung menembak Countess Suhail dengan menekan wanita itu agar lebih jujur lagi. Bahkan Jonathan melihat bahwa baru saja Countess Suhail mencubit tangan putrinya supaya Xaveryn menurut dan menutupi apa yang baru saja dilakukan Countess Suhail.
“Tadi Tuan Putri membantah ketika saya menyuruhnya memperbaiki sikap salam, tapi beliau membentak saya dan menghina saya. Jadi, saya menasehati beliau kembali dan Tuan Putri tidak mau mendengarkan saya.” Countess Suhail berbicara dengan muka memelas dan air mata palsu yang mulai menggenang di pelupuk mata.
“Countess, mau sampai kapan kau berbohong? Apa kau pikir aku tidak melihat dari awal apa yang kau lakukan kepada putriku? Kau menghinanya dan membawa-bawa Ivanka, sekarang kau mencoba mengkambing hitamkan putriku? Apa mungkin kau menyangka aku tidak tahu apa yang telah kau perbuat kepada Xaveryn? Menyiraminya dengan air panas dan memukulinya lalu menciptakan rumor buruk di kalangan bangsawan. Mau sampai kapan kau melakukannya?”
Deg!
Darah Countess Suhail berdesir hebat, degup jantungnya tak seiras, oksigen di sekitarnya seakan menghilang dalam sekejap. Dia mencoba mengelak tapi tidak ada kekuatan untuknya menghindar. Deruan napas Countess Suhail memburu cepat, seluruh mata mengarahkan tatapan maut terhadap dirinya.
__ADS_1
“Yang Mulia, bukan seperti itu—”
“Xaveryn adalah anak bungsuku sekaligus satu-satunya Tuan Putri Kekaisaran Graziella, dia anak kesayanganku sekaligus Adik kesayangan dari ketiga Pangeran. Semua orang di istana ini berusaha menjaga hati dan menjaga sikapnya di hadapan Xaveryn. Gadis kecil yang kau ajari itu sangat dihormati di istana ini. Banyak orang yang menyayanginya dan banyak orang yang membelanya, bahkan ketika rumor tentang kau yang mencelakai putriku, telah tersebar luas di istana ini. Jangan coba-coba mengelak lagi dari kenyataan,” murka Jonathan tak tertahankan.
Countess Suhail menjatuhkan dirinya ke atas ubin, segalanya terasa mimpi baginya, baru saja dia berpikir akan menjadi seorang Permaisuri tapi ujung-ujungnya malah menjadi tahanan istana. Seluruh usaha yang dia lakukan selama bertahun-tahun berbuah sia-sia, akhir yang buruk sedang menanti Countess Suhail.
“Tidak hanya itu saja, kau telah membunuh suami dan anakmu demi menjadi seorang Permaisuri. Kau wanita paling gila yang aku temui selama ini, mencoba bermimpi menjadi Permaisuri dan menggantikan posisi Ivanka, hal itu tidak akan pernah terjadi. Sampai kapan pun itu selama aku masih menjabat sebagai Kaisar, kursi Permaisuri selamanya akan kosong. Tidak ada celah bagi orang lain duduk disinggasan Permaisuri,” lanjut Jonathan menekan nada bicaranya.
“Yang Mulia, ampuni saya.” Countess Suhail bersujud di bawah kaki Jonathan. “Saya mengaku salah, tapi saya mohon jangan bawa saya ke penjara. Saya tidak mau hidup di penjara, saya sadar saya melakukan hal yang bodoh. Ampuni saya …,” lirih Countess Suhail memohon pengampunan Jonathan.
Bukannya memberi pengampunan, Jonathan malah menendang Countess Suhail agar menjauh darinya. Dia merasa jijik ketika tangan wanita itu berupaya menyentuh dirinya, walau dia meminta ampun tapi sebenarnya ambisi menjadi seorang Permaisuri itu masih belum sirna.
“Jangan sentuh aku menggunakan tanganmu yang menjijikkan itu, aku lebih rela disentuh bangkai binatang buas daripada disentuh wanita gila sepertimu.”
PLAK!
Bahana tamparan Xaveryn bergema ke setiap sudut ruangan kelas, semua orang tercengang ketika menyaksikan kemarahan Xaveryn. Gadis kecil itu menambahkan efek sihir sehingga luka yang diperoleh Countess Suhail dari tamparannya cukup besar menganga di sudut bibirnya.
“Wanita murahan! Beraninya kau berkata seperti itu kepada Ayahku! Meski di dunia ini nanti tersisa satu wanita yaitu dirimu, Ayahku takkan pernah tertarik padamu! Menjadi Permaisuri apanya? Kursi itu milik Ibuku dan kau lebih cocok berada di rumah bordir dibanding berada di istana,” cerca Xaveryn.
__ADS_1
Xaveryn menghardik Countess Suhail habis-habisan, tidak dia beri celah sedikit pun untuk Countess Suhail melawan balik. Entah kenapa sosok Xaveryn malah terlihat menakutkan dibanding Kaisar di mata Countess Suhail. Sekarang seperti jiwanya direnggut paksa keluar dari tubuhnya, dia merasa akan segera mati selepas ini. Akan tetapi, Countess Suhail menolak untuk mati, dia pun menerjang ke arah Xaveryn dan mencekik leher kecil Xaveryn.
“Ini semua gara-gara kau! Jika kau tidak pernah ada, maka rencanaku akan berhasil! Kau anak pembawa sial dan kau anak yang membunuh Ibunya sendiri. Seharusnya kau mal—”
“Dasar jal*ng! Keterlaluan sekali kau menyakiti putriku!” Jonathan dalam keadaan marah tanpa sadar mengayunkan pedangnya dan menebas kedua tangan Countess Suhail.
“AARRGHHH, TANGANKU!” Wanita itu langsung menjerit kencang dan tergeletak menangis sakit sambil berguling-guling di atas lantai.
Jonathan lekas menarik Xaveryn untuk menjauh dari Countess Suhail, dia menutup mata Xaveryn supaya tidak melihat simbahan darah dari tangan Countess Suhail.
“Bawa dia ke penjara bawah tanah dan jangan berikan dia makan atau minum sampai aku memutuskan jadwal hukuman mati untuknya,” titah Jonathan.
“Baik, Yang Mulia.”
Para kesatria mengangkut Countess Suhail ke penjara utama istana, sedikit lagi wanita itu akan menemukan akhir hidupnya. Xaveryn merasa lega untuk hal itu, tapi masih ada beberapa yang mengganjal di kepalanya.
‘Dari mana Ayah bisa tahu mengenai dalang kematian Count Suhail dan anaknya? Aku tidak pernah menyinggung perihal tersebut. Padahal aku baru saja berpikir untuk membongkar semuanya nanti, tapi Ayah sudah tahu lebih dulu dariku. Aneh sekali,’ pikir Xaveryn.
Kemudian Xaveryn memutuskan untuk bertanya langsung kepada Jonathan, dia tidak sanggup menahan rasa penasaran yang membara di dada.
__ADS_1
“Dari mana Ayah tahu kalau Countess Suhail membunuh suami dan anaknya? Apakah ada seseornag yang memberi tahu Ayah? Aku pikir kematian Count Suhail murni kecelakaan,” tanya Xaveryn sambil digendong berjalan ke luar ruangan.
“Ada seseorang yang memberi tahu Ayah lewat sebuah dokumen yang dikirimi orang misterius. Ayah tidak tahu siapa orang itu, tapi kemarin dia membeberkan seluruh buktik hingga saksi mata kematian Count Suhail yang disebabkan oleh Countess Suhail,” jelas Jonathan.