Tuan Putri Yang Tersembunyi

Tuan Putri Yang Tersembunyi
Keriuhan Suasana Istana


__ADS_3

Menyaksikan Xaveryn yang tampak sangat histeris begitu bertemu dengannya, mengundang tanda tanya besar di kepala Helbert. Xaveryn bertingkah seperti seseorang yang pernah bertemu dengannya di masa lalu. Pria berambut biru muda itu pun berjongkok di hadapan Xaveryn, dia meraih ujung rambut si gadis kecil lalu menciumnya. Tangannya kembali bergerak mencium punggung tangan Xaveryn.


"Jangan sentuh aku!" sentak Xaveryn.


Helbert menegakkan kepala, sudut bibirnya terangkat. Entah mengapa timbul kepuasan di hatinya ketika dia melihat Xaveryn ketakutan akan kehadiran dirinya.


"Ada apa, Tuan Putri? Mengapa ekspresimu tampak begitu ketakutan? Apakah ada yang salah dari kehadiranku? Harusnya kau bertanya mengenai siapa diriku. Atau jangan-jangan kau sudah tahu siapa aku sebenarnya?"


Setiap kata yang terucap dipenuhi penekanan, sorot dari mata berwarna merah gelap tersebut seakan menghisap keluar seluruh jiwa Xaveryn. Gadis kecil itu masih berupaya menahan diri, dia masih mencoba untuk tetap tenang di tengah trauma yang bergejolak di dalam dada.


"Aku tidak tahu! Dan aku tidak peduli siapa kau. Tolong pergi dari sini sesegera mungkin, aku tidak mau bertemu denganmu. Pergi dari sini! Pergi!" teriak Xaveryn.


Suara Xaveryn terdengar tertahan sebab napasnya tercekat di dada. Kedua bola matanya memanas, ingin rasanya dia menghilang detik itu juga dari hadapan Helbert. Namun, sayangnya badan Xaveryn seperti sedang dikunci oleh sesuatu yang sulit dia lepaskan.


"Benarkah kau tidak tahu aku? Ya, apa boleh buat, aku tidak perlu memperkenalkan diriku padamu sekarang karena nanti kita juga akan bertemu. Aku kemari hanya ingin melihat calon istriku di masa depan. Ternyata kau masih sangat kecil, sayang sekali jika aku membawamu sekarang," ucap Helbert sembari merekahkan senyum miring.


Helbert mencoba untuk menyentuh wajahnya, tapi Xaveryn dengan cepat menepis tangan Helbert.


"Jangan sentuh aku! Aku tidak mau disentuh pria sepertimu." Xaveryn meninggikan nada suaranya, seberapa besar rasa takut yang menguasainya, Xaveryn tetap tegar di tengah posisinya saat ini.


"Sepertinya kau sangat sombong." Senyum Helbert berganti secara halus, kini dia menatap dingin Xaveryn. "Apa aku perlu mengajarkanmu cara mengurangi kesombonganmu itu?!"


Helbert mencekal pergelangan tangan Xaveryn dengan kasar. Xaveryn meringis sakit di bagian pergelangan tangannya. Ini bukan rasa sakit yang pertama kali dia dapatkan, tapi tetap saja dia masih merasakan kesakitan yang tak bisa dia atasi sendirian.


"Lepaskan aku! Jauhkan tanganmu dariku!" Xaveryn berteriak dan meronta sekuat tenaga, tapi Helbert tidak mau melepaskan dirinya.


"Lihat ini, kau masih sangat kecil, jadi aku tidak bisa membawamu ke atas ranjang. Tolong tumbuhlah dengan baik, nanti akan aku jadikan kau sebagai Permaisuri," bisik Helbert.

__ADS_1


Netra hazel Xaveryn membulat sempurna, isi kepalanya seakan meledak begitu mendengar kata Permaisuri terlontar dari mulut Helbert.


"Aku tidak mau menjadi Permaisuri! Pergi kau! Pergi! Jangan pernah muncul di kehidupanku. Aku membencimu! Aku benci kau! Aku tidak mau ... Aku tidak mau bersanding denganmu. PERGI!"


Teriakan Xaveryn kali ini menggapai pendengaran seluruh orang di istana kediamannya. Bersamaan suara teriakan itu, Helbert langsung beranjak pergi dan menghilang dari pandangan Xaveryn.


"Astaga, Yang Mulia!" Annita, Eris, dan Serena menghampiri Xaveryn yang sedang terduduk lemas di atas lantai dengan ekspresi ketakutan serta kondisi pintu balkon yang terbuka lebar.


Di belakang mereka bertiga ada para kesatria yang ikut masuk ke dalam kamar mengecek kondisi Xaveryn.


"Apa yang terjadi? Kenapa Anda bisa duduk di atas lantai begini?" tanya Serena cemas.


"Lihat ini!" Eris menunjukkan bekas cengkraman tangan Helbert yang memerah di pergelangan tangan Xaveryn.


"Tidak salah lagi, ini pasti ulah penyusup," gumam Annita.


"Laporkan kepada Kaisar sekarang juga! Katakan kalau ada penyusup di istana Tuan Putri."


Seorang kesatria lekas berlari ke luar menuju istana kediaman Jonathan. Sedangkan Annita menggendong Xaveryn ke atas tempat tidur. Gadis kecil itu masih membisu dan terpaku karena syok berat.


"Kak, sepertinya Tuan Putri masih syok, beliau tidak berkedip dan pandangan matanya kosong," ujar Eris.


"Yang Mulia, bisakah Anda mendengar suara saya? Yang Mulia! Sadarlah!" Annita mengguncang kedua pundak Xaveryn, tapi gadis itu masih tidak meresponnya.


Tidak lama berselang, Jonathan bersama kedua Pangeran menghampiri Xaveryn ke kamarnya. Mereka masih mengenakan piyama tidur, begitu mendengar kabar soal penyusup mereka langsung terbangun dan menyusul ke kamar Xaveryn.


"Xaveryn!" Mereka panik bukan main ditambah lagi kala itu Xaveryn tidak menunjukkan ekspresi sadar sepenuhnya.

__ADS_1


Jonathan langsung membawa Xaveryn ke pelukannya, dia merasakan tubuh putrinya kaku akibat syok.


"Ada apa dengan putriku? Mengapa dia tidak bersuara?"


"Ayah, aku akan pergi memanggil Paman Reiner, sepertinya kondisi Xaveryn saat ini tidak bisa kita tangani sendiri." Riley secara inisiatif berlari ke luar kamar menuju kediaman Reiner.


"Pergelangan tangan Xaveryn! Ayah, lihat pergelangan tangan Xaveryn!" seru Alvaro.


Jonathan langsung mengecek pergelangan tangan Xaveryn. Alangkah kagetnya dirinya mendapati jejak tangan pria dewasa melingkar di pergelangan tangan putrinya. Raut kemarahan tercetak jelas di wajah Jonathan. Terpaan badai besar dari emosinya menghantam segala rasa tenang di dirinya.


"Siapa yang sudah melakukan ini kepada putriku? Kalian kumpulkan seluruh kesatria dan perintahkan mereka untuk menyelidiki penyusup yang telah menyakiti putriku!" titah Jonathan disertai emosi menggebu-gebu. Dia bertekad takkan membiarkan penyusup yang menyakiti Xaveryn lolos begitu mudahnya. Apa pun akan dia lakukan untuk menangkap penyusup tersebut.


Derap kaki kesatria berhentakkan di atas lantai, seketika suasana istana mendadak riuh. Mereka tidak menyangka akan ada kejadian yang seperti ini menjelang acara perjamuan perkenalan Xaveryn.


"Ayah, aku sudah membawa Paman." Riley dan Reiner datang berbarengan, Reiner baru saja terlelap dan terpaksa terjaga seusai mendengar soal Xaveryn.


"Cepat sembuhkan putri, Reiner! Aku tidak peduli apa pun caranya putriku harus selamat!" Jonathan mendesak Reiner menyembuhkan Xaveryn, dia mencemaskan Xaveryn yang terlihat seperti seorang mayat hidup.


"Baiklah, biar aku periksa dulu sebentar."


Reiner mengecek denyut nadi Xaveryn lalu beralih mengecek detak jantungnya. Reiner menghela napas panjang, dia berfirasat bahwa penyusup barusan adalah orang yang berasal dari kehidupan Xaveryn sebelumnya.


"Bagaimana? Apa yang terjadi pada Xaveryn? Dia baik-baik saja kan?"


Semua orang yang berada di ruangan tersebut menunggu hasil pemeriksaan Reiner dalam keadaan hati yang kacau.


"Akibat syok yang diterima Xaveryn, dia nyaris tak mengenali emosinya sendiri sehingga dia menjadi seperti sekarang. Pandangannya kosong dan badannya kaku, dia menerima pukulan hebat dari penyusup itu," terang Reiner diiringi mimik muka diselimuti kecemasan terhadap kondisi mental Xaveryn yang telah hancur sejak awal akibat penderitaan di kehidupan lampau.

__ADS_1


__ADS_2