
Mendadak suasana istana kembali riuh, Jonathan terpaksa menjeda pekerjaannya sebentar demi menyelamatkan nyawa anak-anaknya sekaligus memastikan keamanan mereka.
Jonathan memacu langkah menuju kamar tempat kedua putranya dirawat. Dia menemukan Xaveryn tengah menangkis seluruh serangan yang mengarah padanya. Jonathan cemas melihat kondisi Xaveryn, bagaimana pun juga Xaveryn masihlah seorang anak kecil.
"Menjauhlah dari sama, Xaveryn!" teriak Jonathan.
Xaveryn memutar sedikit bola matanya, ia melirik ke arah Jonathan yang kian mendekat.
"Tidak bisa, Ayah. Apabila aku berhenti, maka anak panah ini akan melesat membakar istana. Aku hanya mencoba melindungi semua orang yang ada di istana saja," jelas Xaveryn.
Bersamaan kala itu, sebuah anak panah terakhir tanpa adanya bola api yang merekat, melesat lebih cepat ke arah Xaveryn. Akan tetapi, ada kala itu sepucuk surat yang menempel di ujung anak panah. Jonathan menangkap anak panah tersebut lalu mengambil suratnya.
"Kematian akan selalu menggentayangi hidup kalian."
Hanya itu saja yang tertulis di sana, pikiran Xaveryn langsung tertuju pada Duke Solfrid. Bagaimana pun juga Duke Solfrid pada kehidupan pertama Xaveryn memiliki peran besar dalam terjadi pemberontakan di istana.
"Sialan! Beraninya orang ini mencari gara-gara denganku," gerutu Jonathan. "Delvis, selidiki siapa yang berada di balik tulisan ini," lanjutnya memerintahkan Delvis melakukan penyelidikan.
"Baik, Yang Mulia."
Xaveryn terlihat amat marah sekali, kali ini mereka sudah lewat batas. Mereka menyerang secara terang-terangan tanpa adanya rasa takut. Xaveryn berusaha mengatur ritme detak jantungnya. Dadanya yang memanas perlahan kembali dingin. Menyeimbangkan rasa marah dan sabar merupakan dua hal yang paling sukar dilakukan.
"Putriku, kerja bagus karena sudah melindungi Kakakmu," puji Jonathan berupaya memecahkan rasa marah Xaveryn.
Jonathan merasakan betapa marahnya sang putri terhadap masalah yang mendera istana belakangan ini. Dia merasa bersalah karena tidak bisa berbuat banyak untuk melindungi anak-anaknya. Sekarang yang bisa dia lakukan ialah memberi perlindungan secara maksimal semampu dirinya.
"Tetapi, dalang dari kejadian ini masih berkeliaran di luar sana. Bagaimana kalau mereka nanti menargetkan Kakak lagi? Aku merasa sedikit takut, Ayah," tutur Xaveryn tertunduk lesu.
__ADS_1
Jonathan mengelus puncak kepala Xaveryn, berharap kekhawatiran Xaveryn memudar.
"Jangan membebani semua masalahnya pada dirimu. Masih ada Ayah di sini, kau paham?"
Xaveryn mengangkat kepalanya lagi, ia lantas mengangguk perlahan. "Iya, Ayah, aku paham."
Selepas itu, Jonathan memberi titah kepada seluruh kesatria tanpa terkecuali untuk berpencar mencari seseorang yang dianggap mencurigakan. Mereka juga disuruh memeriksa setiap sudut ruang istana. Kejadian tadi sungguh mendatangkan kehebohan hebat di dalam istana.
"Xaveryn, apa kau baik-baik saja?" tanya ketiga Kakaknya datang menghampirinya. Mereka tiada henti mengkhawatirkan sang Adik yang nekat sekali membahayakan nyawanya demi melindungi mereka.
"Aku baik-baik saja, Kak. Hanya saja mungkin masalah ini tidak akan berhenti begitu saja. Kita harus meningkatkan kewaspasaan bersiap untuk serangan lanjutan," ujar Xaveryn menyembunyikan rasa lelahnya di depan ketiga Kakaknya.
"Iya, yang dikatakan Xaveryn itu ada benarnya juga. Kita harus meningkatkan kewaspadaan, kita tidak tahu juga serangan itu nanti akan datang dari arah mana. Untuk saat ini kita harus memperketat keamanan sekitar," ucap Claes diangguki langsung oleh Alvaro dan Riley.
Mendengar kabar soal penyerangan yang kembali menargetkan istana, para bangsawan berkumpul untuk membahas masalah ini. Mereka mengkhawatirkan anak-anak Jonathan yang menjadi pondasi utama kekaisaran ini setelah Jonathan. Keberadaan keempat putra dan putri Jonathan kini sangat terancam. Apabila ini terus berlanjut, maka kemungkinan terburuk bisa saja terjadi.
Jumlah kesatria pribadi pun diperbanyak demi memperkecil kemungkinan si pembunuh untuk mengarahkan serangan mereka kepada keempat anak Jonathan. Akan tetapi, setelah seluruh rentetan kejadian ini, dikhawatirkan mereka akan mengubah haluan target mereka kepada Xaveryn.
"Master, apa perintah Anda berikutnya? Para pembunuh itu tidak akan berdiam diri begitu saja," tanya Roxilius.
"Sekarang tolong bantu penyelidikan yang sedang dilakukan para kesatria. Langsung laporkan padaku jikalau kau menemukan sesuatu yang mencurigakan," titah Xaveryn.
"Baik, Master. Akan segera saya laksanakan."
Roxilius menghilang dalam sekejap dari hadapan Xaveryn. Selepas itu, Xaveryn bergerak keluar dari kamarnya dan pergi menemui Claes ke kamarnya. Claes tampak sedang termenung memikirkan nasib kekaisaran yang nanti akan dia pimpin di masa depan.
"Kak, apa yang sedang Kakak lakukan?"
__ADS_1
Suara Xaveryn menjadi alasan kenapa pikiran Claes langsung buyar kala itu. Duduk di tepi balkon ditemani angin yang berembus menggelitik hidungnya. Tiada hari yang lebih tenang dari hari itu.
"Kenapa kau kemari, Xaveryn? Apakah ada sesuatu yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Claes.
"Iya, tapi sebelum itu aku mau bertanya, kenapa suasana hati Kakak kelihatannya sangat kacau? Mungkinkah ada sesuatu yang mengganggu pikiran Kakak?"
.
Claes terkejut bukan main, sang Adik ternyata lebih peka dari yang dia bayangkan. Gadis sekecil itu bisa menilai dari raut muka seseorang.
"Apakah terlalu terlihat jelas di wajahku? Ada beberapa hal yang membebani diriny. Tetapi, aku tidak punya waktu berlarut di dalam beban tersebut."
Xaveryn mendudukkan diri di hadapan Claes, sang Kakak tampak sendu sekali. Hal tersebut justru menjadi beban pikiran tersendiri bagi Xaveryn.
"Kak, apakah Kakak benar-benar ingin menjadi Kaisar?" tanya Xaveryn langsung pada intinya.
Claes tersentak mendapati pertanyaan seperti demikian dari sang Adik.
"Tentu saja, aku ingin menjadi Kaisar," jawab Claes dengan berat hati.
"Benarkah? Tetapi, aku melihat Kakak seperti sedang berbohong kepada diri sendiri. Lebih baik Kakak jujur saja padaku bagaimana perasaan Kakak sendiri."
Xaveryn tidak ingin Claes hidup penuh penyesalan seperti di kehidupan pertama. Pada kesempatan kali ini, Xaveryn berencana memberi Claes celah untuk keluar dari beban berat yang dia tanggung sendirian.
"Tampaknya Adikku sangat peka dengan perasaan orang lain," ucap Claes sembari tersenyum kecut.
"Aku hanya berharap untuk kebahagiaan Kakak, tidak perlu memaksakan sesuatu yang tidak Kakak inginkan. Hidup itu hanya satu kali, tidak ada salahnya Kakak mencoba meraih apa yang Kakak inginkan. Tidak masalah Kakak tidak menjadi Kaisar, tidak masalah Kakak tidak berkecimpung di dalam urusan istana, bagaimana pun Kakak tetaplah Kakakku."
__ADS_1
Claes tertegun mendengar perkataan Xaveryn sampai ia kehilangan kata-kata untuk menjawab. Xaveryn pun mengangkat dagunya, ia menatap penuh percaya diri ke arah Claes.
"Jadi, Kak, jika Kakak benar-benar tidak mau menjadi pewaris takhta, maka aku akan menggantikan Kakak. Biar aku yang menjadi Kaisar dan Kakak bisa meraih impian Kakak. Tolong serahkan padaku beban yang selama ini Kakak tanggung sendirian."