
Bahana pecahan gelas kaca memecah keriuhan ruang aula. Sontak semua mata terpusat pada satu titik di mana mereka menyaksikan dengan jelas bahwa gelas tersebut pecah dan berderai di atas lantai karena dilempar oleh Xaveryn. Gadis kecil itu tengah menggebu-gebu marah di hadapan seorang anak laki-laki. Mukanya memerah akibat menahan kemurkaan, sedangkan anak laki-laki yang tengah berdiri tegap di depannya kini hanya bisa tertunduk saja.
Alvaro dan Riley tidak pernah melihat Xaveryn semarah itu sebelumnya. Mereka jadi penasaran alasan di balik kemurkaan Xaveryn. Mereka berdua mencoba mendekati sang Adik untuk bertanya.
"Coba katakan sekali lagi, apa yang kau katakan soal Kakakku, Riley? Kau mengatakan Kakakku bukan keturunan anggota kekairsaran yang asli hanya karena Kak Riley tidak punya mata berwarna hazel sepertiku. Memang apa salahnya tidak memiliki mata berwarna hazel? Apakah Kakakku akan berdosa jika warna matanya tidak hazel?!"
Itulah alasan Xaveryn marah, dia tanpa sengaja mendengar seseorang membicarakan soal Riley. Mereka merendahkan Riley yang tidak punya mata hazel dan tidak memiliki keterampilan pedang seperti Pangeran yang lain. Tanpa mereka sadari, Xaveryn ada di sana mendengarkan apa yang mereka katakan secara keseluruhan.
Riley dan Alvaro tercengang ketika mendengar inti permasalahannya langsung dari mulut Xaveryn. Para tamu pun satu persatu mulai mengerumuni Xaveryn. Mereka juga penasaran alasan yang membuat Xaveryn sampai mengamuk di perjamuan ini.
"Tolong maafkan saya, Yang Mulia, saya tidak bermaksud berkata seperti itu."
Tubuh anak laki-laki itu meluruh ke permukaan lantai, dia sangat menyesali atas apa yang telah dia perbuat. Meski begitu, Xaveryn tidak memaafkannya dengan mudah, hatinya masih berat untuk mengampuni orang yang telah menghina sang Kakak.
"Dari keluarga bangsawan mana kau? Katakan padaku!" bentak Xaveryn kian meninggikan nada suaranya.
Kemudian kala itu juga, Alvaro dan Riley menghampiri Xaveryn lalu berupaya meredamkan kemurkaan Xaveryn.
"Xaveryn, tidak perlu marah begitu, aku tidak apa-apa. Tidak hanya satu atau dua kali, aku sering mendengarnya berulang kali. Aku tidak ingin Adikku terlibat dalam hal ini," tutur Riley sangat tabah.
Xaveryn mendengus sebal, Riley sedikit lebih lembut dibanding kedua Pangeran. Oleh sebab itu, Xaveryn terkadang menggantikan Riley untuk memarahi orang yang berani menghinanya.
"Kak, sebagai keturunan Kaisar, sebagai keturunan Kekaisaran Graziella, dan sebagai seorang Pangeran, kita tidak boleh membiarkan satu pun hama berkeliaran sambil menghina kita. Mereka harus dimusnahkan jika ketahuan menghina anggota keluarga kekaisaran. Ini adalah penghinaan besar, aku takkan pernah mengampuninya."
__ADS_1
Percuma saja Riley mencegah kemurkaan Xaveryn, gadis itu sama sekali tidak mendengarkan atau mempedulikan perkataan Riley. Kedua saudaranya tidak berkutik menghadapi Xaveryn, Adik mereka lebih pintar berbicara dibanding mereka.
Xaveryn memfokuskan kembali pandangannya ke arah anak laki-laki yang tengah berlutut di hadapannya. Xaveryn menyorot tajam dan menatap lebih lekat anak laki-laki itu. Dia merasa pernah bertemu dengannya di kehidupan pertama. Xaveryn mencoba menggali gudang ingatannya, akhirnya dia menemukan identitas si anak tersebut.
"Dari keluarga bangsawan mana kau?" Xaveryn bertanya untuk memastikan dugaannya.
"Saya Viano Zevi, dari keluarga bangsawan Viscount Zevi, Yang Mulia."
Kedua bola mata Xaveryn membulat sempurna, tidak mungkin dia melupakan nama itu. Perlahan Xaveryn menyunggingkan senyum yang menyimpan maksud tertentu di belakangnya.
'Viano Zevi, siapa yang tidak kenal dengan dia? Dahulunya dia berhasil menjadi asisten pribadi Kak Claes seusai seluruh keluarganya mati karena kemunculan dungeon. Dia bekerja sangat cepat dan cekatan, selain itu dia juga pandai berbicara. Viano nyaris terlihat seperti Delvis, jika aku memanfaatkannya maka dia akan berguna untukku. Ditambah lagi Viano sampai akhir hayatnya masih memegang teguh kesetiaannya terhadap Kak Claes,' gumam Xaveryn dalam hati.
Xaveryn menepuk pelan pundak Viano, dia berniat menjadikan Viano sebagai orangnya.
Viano mengangguk cepat, dia tidak mau sampai dihukum oleh Xaveryn.
"Kalau begitu, aku akan memberimu kesempatan menebus kesalahanmu. Lagi pula Kakakku terlihat tidak marah, jadi aku bermaksud untuk mengampunimu dengan satu syarat. Bisakah kau memenuhi syarat yang aku berikan?"
Tubuh Viano mendadak menegang, pasalnya dia masih belum tahu syarat sejenis apa yang akan dilayangkan Xaveryn padanya.
"Syarat apa yang harus saya laksanakan?" tanya Viano.
"Aku tahu kau anak yang cerdas, keluargamu terkenal oleh kecerdasannya. Oleh karena itu, Viano, mulai hari ini kau akan bekerja sebagai asisten pribadiku. Bagaimana? Apa kau bisa menyanggupinya?"
__ADS_1
Seketika telinga yang mendengar ikut terperangah melihat Xaveryn memberi persyaratan yang sangat serius. Bekerja sebagai asisten pribadi dari para keturunan anggota keluarga kekaisadan itu merupakan sebuah kehormatan yang sulit didapatkan. Terlebih lagi keluarga Viano tengah berada di ambang kehancuran, bekerja sebagai asisten pribadi Xaveryn akan menyelamatkan nama keluarganya.
"Apa Anda bercanda? Bagaimana bisa Anda menawari bangsawan yang hampir jatuh seperti saya menjadi asisten pribadi Anda?"
Viano masih sulit mempercayainya, tapi melihat dari ekspresi Xaveryn itu bukanlah sebuah candaan.
"Tidak, aku tidak bercanda, jika kau sanggup memenuhinya maka kau datanglah ke istanaku besok. Atau kalau kau menolaknya, maka aku akan memberimu hukuman yang lebih berat. Menghina keluarga kekaisaran adalah pelanggaran yang sangat fatal, kau bisa saja dihukum mati," ujar Xaveryn menyelipkan ancaman serius pada Viano.
Xaveryn menggandeng Alvaro dan Riley menjauh dari sana, tidak peduli lagi apa pun tanggapan atau reaksi Viano, yang jelas dia telah memberi pilihan terbaik untuk Viano dan keluarganya.
'Tuan Putri memberiku peluang untuk menyelamatkan keluargaku? Aku rasa aku salah karena telah menghina Pangeran Riley. Aku harus meminta maaf nanti kepada beliau,' batin Viano menatap punggung Xaveryn dengan mata berkaca-kaca.
Alvaro dan Riley masih tercengang dengan apa yang baru saja dilakukan Xaveryn. Mereka menilai Xaveryn mudah dalam mengubah keputusan. Padahal tanpa mereka sadari, Xaveryn baru saja merekrut orang cerdas ke sisinya.
"Kenapa kau menjadikannya sebagai asistenmu? Lalu memangnya kau punya pekerjaan apa sampai kau butuh asisten pribadi?" tanya Alvaro diangguki Riley.
"Apakah aku belum cerita kepada Kakak? Aku sedang melakukan beberapa bisnis dengan Duke Egenbert. Aku butuh asisten yang bisa mengatur jadwalku," jawab Xaveryn.
"Bisnis? Sebenarnya bisnis apa?" tanya Alvaro lagi semakin penasaran dengan bisnis yang dilakukan sang Adik.
Xaveryn menjeda langkahnya, dia merekahkan senyum di muka polosnya.
"Bisnis yang mungkin saja akan mengguncang Graziella. Kakak tunggu saja, nanti aku akan menunjukkan hasilnya kepada Kakak," kata Xaveryn sumringah.
__ADS_1
Mereka kemudian menikmati perjamuannya sampai berakhir. Semua orang terlihat puas, begitu pula dengan Jonathan, baru kali ini para bangsawan menyaksikan Jonathan bahagia saat mengadakan perjamuan. Akan tetapi, sesuatu yang tidak terduga terjadi setelah perjamuan berakhir.