
Mimik muka Trevor berubah sumringah, dia langsung mengangguk dan mengiyakan permintaan Xaveryn. Bagaimana pun pada kehidupan kali ini Xaveryn tidak memiliki perasaan khusus kepada Trevor. Perasaannya terhadap Trevor telah terkikis oleh waktu.
Enam belas kali menjalani alur hidup yang sama memakan waktu itu yang lama. Sepanjang itulah Xaveryn bisa melupakan perasaannya terhadap Trevor. Meski begitu, ia tidak pernah melupakan momen keberasamaannya dengan Trevor.
"Iya, Yang Mulia," jawab Trevor.
Kemudian mereka melakukan obrolan ringan, di sana Trevor nampak lebih santai dari biasanya. Kesatria pribadi Trevor sampai kebingungan menyaksikan ekspresi yang tidak biasa terpancar dari wajah Trevor. Selama ini Trevor selalu murung, hanya saat sedang bersama Xaveryn lah dia bisa mengubah ekspresinya sesuka hati.
Obrolan mereka hanya bertahan selama tiga puluh menit saja karena Trevor harus segera pulang ke kediamannya sebab sang Ayah ingin dia melakukan pekerjaan lain. Dengan begini hati Xaveryn sedikit lebih lega, tapi sayangnya ia tidak bisa mencegah kemunculan kembaran Trevor sebelum dirinya tahu di mana keberadaan sang kembarannya tersebut.
"Felician, sedari tadi kau berdiri di sampingku, apa kau tidak lelah? Ayo duduk di hadapanku sambil bersantai sejenak," ujar Xaveryn.
"Baiklah, Yang Mulia."
Akhir-akhir ini Felician lebih sering mengawal Xaveryn karena Lian sedang melakukan pekerjaan lain bersama Dain. Kelompok kesatria Dain kekurangan orang untuk melakukan penaklukan. Maka dari itu, Dain meminta izin untuk membawa Lian pergi bersamanya selama beberapa hari.
"Kau semakin terlihat tampan," sanjung Xaveryn tiba-tiba.
"Uhukk." Mendengar pujian dari Xaveryn, Felician sontak tersedak teh. Gadis itu memujinya tanpa berpikir terlebih dahulu. "A-Apa yang Anda katakan, Y-Yang Mulia? S-Saya tidak tampan."
Felician gugup, dia berbicara sampai gelagapan, seluruh mukanya memerah sempurna. Dia tidak bisa menerima pujian dari lawan jenisnya terutama Xaveryn.
"Ehh? Apakah ada yang salah? Kau memang tampan. Tidak salah banyak wanita yang mengagumi ketampananmu."
"Lalu apakah Anda mengagumi ketampanan saya juga?"
"Ya, aku mengaguminya. Kau sangat tampan dan bisa diandalkan. Jadi, aku sangat aman bila berada di sampingmu."
Felician langsung memalingkan wajahnya dari Xaveryn. Jantungnya pun berdegup sangat kencang, kala itu dalam sekejap citra Felician sebagai pria dingin mencair seketika.
__ADS_1
"J-Jangan menggoda saya, Yang Mulia," ucap Felician.
"Aku tidak menggodamu, tapi itu adalah kenyataannya," jawab Xaveryn tersenyum manis menatap Felician.
Gadis itu tidak menyadari bahwasanya dia berhasil mengacak-acak hati orang lain melalui perkataannya saja. Tanpa ia sadari, ada banyak pria yang menaruh hati padanya. Akan tetapi, dia terlalu fokus terhadap rencana balas dendamnya dan melupakan sejenak yang namanya percintaan. Dia akan memikirkannya nanti ketika dia berhasil menyelesaikan dendam tersebut.
'Tuan Putri, apakah beliau tidak tahu apa yang sedang beliau lakukan sekarang? Sama saja dia sedang mencoba membunuhku dengan kata-katanya itu,' batin Felician.
***
Trevor kembali pulang dalam suasana hati yang ceria. Sejenak seluruh beban di pundaknya berkurang seketika mengingat hubungannya dengan Xaveryn mulai membaik perlahan. Tetapi, sesampainya ia di kediamannya, ia menemukan sang Ayah sedang duduk di ruang keluarga.
"Apa kau sudah menyelesaikan semua tugasmu?" tanya Grand Duke Oskari kepada sang putra.
Suaranya begitu dingin hingga menusuk sanubari, dia juga tidak menatap Trevor sedikit pun dan hanya sibuk membaca surat kabar terbaru.
"Sudah, Yang Mulia, saya telah menyelesaikan seluruh tugas yang Anda berikan sebelumnya."
"Baiklah, kalau begitu lakukan pekerjaanmu selanjutnya. Sebentar lagi kau akan diangkat menjadi Grand Duke secara resmi. Jadi, kau harus melakukan pekerjaanmu sebaik mungkin."
"Baik, Yang Mulia. Kalau begitu, saya permisi dulu."
Trevor menghela napas panjang, pekerjaannya tak kunjung selesai, selalu saja bertambah setiap detiknya. Sekarang Ayahnya semakin sibuk mengurusi Ibunya yang sakit. Meski begitu, Trevor tidak pernah marah atau benci kepada Ayahnya sedikit pun.
"Tuan Muda, sebaiknya Anda beristirahat sekarang karena Anda tidak berhenti menggerakkan pulpen selama lebih dari lima jam."
Trevor menjeda sejenak aktivitasnya, ia menoleh ke arah jendela dan memang benar sekarang langit sudah gelap. Waktunya sekarang dia beristirahat sebelum kembali beraktivitas besok hari.
"Ya, aku berhenti sekarang. Aku akan pergi menemui Ibu sebentar."
__ADS_1
Trevor melewati lorong mansion dan pergi ke kamar sang Ibu. Di sana dia melihat dengan mata kepalanya sendiri seberapa lemahnya kondisi tubuh Grand Duchess Oskari. Sang Ibu hanya berbaring di atas ranjang tanpa bisa melakukan apa pun.
"Trevor, apa pekerjaanmu sudah selesai?" Grand Duchess Oskari pun terbangun ketika mendengar langkah kaki putranya masuk ke dalam kamar.
"Sudah, Ibu. Saya sudah menyelesaikan pekerjaan saya. Ibu tidak perlu khawatir, sekarang Ibu tidurlah kembali."
"Maafkan Ibu, Trevor ...," lirih Grand Duchess teramat pelan.
"Ibu tidak perlu meminta maaf kepada saya karena tidak ada yang perlu dimaafkan."
Trevor duduk di samping ranjang Ibunya, ia menggenggam tangan sang Ibu. Terasa jelas tulang tangan Ibunya yang hanya dibalut kulit, tidak ada daging yang tersisa.
"Meski begitu, Ibu tetap merasa bersalah padamu. Ibu gagal menjadi orang tua yang baik untukmu. Kau pasti lelah karena berjuang sendirian selama ini. Tetapi, Ibu harap kau tetap bisa melakukan apa yang kau inginkan. Memiliki teman dan memiliki seorang istri. Lalu jangan lupakan kebahagianmu, ya. Jangan terlalu sibuk bekerja, tubuhmu juga butuh istirahat," tutur Ibunya dengan suara bergetar dan pandangan redup tak bercahaya.
"Saya akan mengingatnya, Ibu tenang saja dan jangan khawatir. Pikirkan saja kesehatan Ibu, saya hanya berharap Ibu bisa sehat seperti sedia kala," ucap Trevor seraya tersenyum menutupi kepedihan hatinya.
"Baguslah kalau begitu. Ibu hanya khawatir hidup Ibu tidak akan bertahan lebih lama lagi."
Grand Duchess Oskari pun memejamkan matanya, ia terlelap membawa segala bentuk kecemasan di dalam hati. Namun, siapa sangka kalau sebenarnya itu adalah percakapan terakhir antara Trevor dengan sang Ibu.
Tepat pada hari berikutnya di pagi hari ketika sinar mentari mulai terbit menyinari bumi, berita tidak mengenakkan pun menerpa kediaman Grand Duke Oskari. Berita tersebut menyatakan bahwa Grand Duchess Oskari telah meninggal karena dibunuh oleh seseorang.
Kabar ini menyebar begitu cepat ke penjuru Kekaisaran Graziella. Kediaman Grand Duke Oskari benar-benar diterpa badai besar. Pada akhirnya, kematian Grand Duchess Oskari ditangkap oleh pendengaran Xaveryn.
"Hei, ada apa ini? Mengapa terdengar ramai sekali?" tanya Xaveryn yang kala itu tengah duduk santai di kamarnya.
"Saya juga—"
"Yang Mulia, saya ingin melapor," ucap seorang kesatria yang datang dari luar.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau laporkan?"
"Grand Duchess Oskari meninggal dibunuh oleh seseorang, Yang Mulia."