
Para suku bintang biru dibawa ke istana oleh Delvis atas perintah Jonathan. Mereka diberi pelayanan terbaik tanpa membeda-bedakan dari mana mereka berasal. Para kesatria juga disibukkan dengan penyelidikan dalang dari pelelangan tersebut. Setelah masalah Countess Suhail, kini Graziella kembali gaduh. Tidak disangka acara pelelangan itu merupakan tempat memperjualbelikan manusia. Terlebih lagi manusia yang mereka perjualbelikan berasal dari suku bintang biru yang bersembunyi sangat lama dari dunia luar.
"Siapa sebenarnya orang yang mengirim surat ini? Dia sudah membantu kita memberantas pelelangan pasar gelap."
Jonathan dan Delvis dibingungkan oleh kedatangan secarik kertas yang dibawa melalui seekor burung pengantar pesan. Kertas tersebut memberi perintah kepada kesatria istana untuk segera menuju gedung pelelangan. Di sana tertulis juga kalau di pelelangan kali ini orang-orang itu memperjualbelikan manusia yang berasal dari suku bintang biru. Surat inilah yang membantu pihak istana untuk segera bergerak membereskan pelelangan tersebut.
Surat itu sengaja dikirim Xaveryn agar pihak istana bisa menyelidikinya lebih dalam. Apabila pihak istana bergerak membasmi pelelangan pasar gelap ini, maka pandangan masyarakat terhadap istana juga semakin bagus. Hal itulah yang menjadi alasan bagi Xaveryn untuk membawa pihak istana ikut campur ke dalam persoalan tersebut.
"Saya juga penasaran, Yang Mulia, kemungkinan yang mengirimkan bukti kejahatan Countess Suhail juga orang yang sama. Tetapi, mengapa orang itu tidak menampakkan dirinya di hadapan kita dan malah lebih memilih bergerak di belakang layar? Saya sangat ingin mengetahuinya," ujar Delvis.
"Kemungkinan orang ini menolak untuk dikenal banyak orang, jadi dia membantu kita dari belakang seperti ini. Sekarang kau coba selidiki diam-diam, siapa tahu dia berasal dari Graziella," kata Jonathan sembari memberi perintah.
"Baik, Yang Mulia, akan saya usahakan mencari tahu siapa sebenarnya orang yang membantu kita."
Di tengah kesibukan Jonathan, Xaveryn datang ingin menemui Jonathan bersama Alvaro. Jonathan terpaksa menjeda sejenak pekerjaannya dan meladeni kedatangan Xaveryn.
"Ada apa, putriku? Apakah ada sesuatu yang kamu butuhkan?" tanya Jonathan memangku Xaveryn.
"Ayah, izinkan aku bertemu orang yang berasal dari suku bintang biru. Aku ingin mereka bekerja di bawahku," pinta Xaveryn langsung pada intinya.
Delvis dan Jonathan tercengang mendengar permintaan Xaveryn. Gadis kecil itu dengan penuh percaya diri meminta para suku bintang biru untuk bekerja di bawah perintahnya.
"Apa? Kau mau mereka bekerja di bawah perintahmu? Kenapa kau ingin mereka bekerja untukmu?" tanya Jonathan.
__ADS_1
"Tidak ada alasan khusus, hanya saja keturunan suku bintang biru itu aku dengar para prianya mempunyai ketahanan fisik yang kuat dan banyak melahirkan kesatria berbakat. Jadi, Ayah, jika mereka dilatih mereka bisa menjadi pasukan kesatriaku. Tentunya mereka juga akan menjadi pelindungku, aku butuh orang yang bisa diandalkan ketika Ayah atau pun Kakak tidak berada di istana."
Penjelasan yang diberikan Xaveryn cukup mudah dipahami, menjadikan para suku bintang biru sebagai bawahan Xaveryn merupakan suatu ide yang menarik. Jonathan dan Delvis saling bertukar pandang, mereka pikir tidak ada salahnya membiarkan Xaveryn melakukannya.
"Baiklah, kau boleh membiarkan mereka bekerja di bawahmu tapi setelah pelatihan yang ketat. Lalu bagaimana dengan wanitanya? Apa yang akan kau lakukan kepada mereka?"
"Wanita dari suku bintang biru akan menjadi pelayan utama istana kediamanku. Tetapi, mungkin ada beberapa di antara mereka yang bisa menjadi kesatria juga," jawab Xaveryn.
Jonathan mengangguk, dia melirik ke arah Alvaro yang hanya diam saat Xaveryn mengobrol dengannya.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Jonathan kepada Alvaro.
"Ayah, aku pikir Adikku sedikit luar biasa, bagaimana bisa dia berpikir seperti orang dewasa? Apakah Adikku dewasa lebih cepat dari umurnya? Ini tidak boleh dibiarkan!" seru Alvaro.
Xaveryn memandang aneh Alvaro, dia tidak paham bagaimana jalan pikir Kakak keduanya itu.
"Apa? Itu tidak boleh, Adikku! Kalau kau cepat dewasa maka kau akan meminta untuk menikah lebih awal."
Jonathan syok mendengarnya, pikiran mereka berdua tengah dibayangi oleh gambaran Xaveryn kecil yang meminta untuk menikah. Pada akhirnya, Jonathan bereaksi sama seperti Alvaro.
"Tidak boleh, kau tidak boleh menikah! Kau harus hidup bersama Ayah lebih lama. Mengerti? Jangan tinggalkan Ayah dan Kakakmu! Kalau ada yang mengajakmu menikah, maka tolak saja. Jika tidak, maka biarkan Ayah yang menolaknya," ujar Jonathan diangguki Alvaro.
Xaveryn tidak yakin dengan apa yang dimaksud menolak oleh Jonathan. Xaveryn langsung bisa membayangkan ketika seseorang datang melamarnya secara langsung maka hal yang dilakukan Jonathan ialah mengancam orang itu dengan pedangnya. Sungguh mengerikan, Xaveryn segera menyingkirkan bayangan tersebut.
__ADS_1
"Tenang saja, Ayah, aku hanya mau menikah dengan Ayah. Aku tidak mau menikahi pria lain," tutur Xaveryn dengan muka memelas dan penuh keimutan.
Sebuah panah keimutan menancap jantung Jonathan, dia diserang berkali-kali lipat oleh keimutan Xaveryn. Jonathan pun memeluk Xaveryn begitu erat, dia senang mendengar putrinya berkata demikian.
"Lalu bagaimana denganku?" celetuk Alvaro.
"Baiklah, aku nanti akan menikah dengan Ayah dan Kakak," ujar Xaveryn terpaksa.
Alvaro kegirangan dan ikut memeluknya juga, Xaveryn merasa seakan dirinya sedang mengasuh anak kecil. Kelakuan Ayah dan Kakaknya sama saja, tapi di sisi lain Xaveryn juga merasa senang.
Setelah itu pun, Jonathan mengizinkan Xaveryn untuk melakukan apa pun yang dia mau terhadap para suku bintang biru. Tetapi, dengan syarat Alvaro harus selalu berada di sampingnya. Alhasil, sekarang Xaveryn pergi menuju tempat para suku bintang biru berada bersama Alvaro.
"Keluarlah! Tuan Putri ingin bertemu dengan kalian," perintah seorang kesatria menyuruh seluruh suku bintang biru untuk keluar.
Mereka menundukkan kepala, terselip rasa ragu dan takut menemui Xaveryn. Namun, setelah mereka melihat Xaveryn secara langsung, pikiran buruk yang terlintas mendadak lenyap. Xaveryn dibarengi wajah imutnya terus tersenyum manis hingga menyebabkan orang lain ikut terpana sesaat menatap dirinya.
"Kami haturkan salam kepada Yang Mulia Putri dan Yang Mulia Pangeran."
Mereka membungkuk memberi salam dengan sangat sopan. Xaveryn cukup takjub melihat sikap salam mereka yang sangat sempurna. Xaveryn pun turun dari gendongan Alvaro, dia berdiri di hadapan mereka semua.
"Bagaimana kondisi tubuh kalian? Apa di antara kalian ada yang sakit?"
Cukup mengejutkan bagi mereka, Xaveryn menanyakan kondisi mereka terlebih dahulu sebelum berbicara serius. Ditambah lagi mereka tidak menyangka kalau sikap Xaveryn berbeda dengan keluarga kekaisaran yang mereka ketahui selama ini.
__ADS_1
"Kami baik-baik saja, Yang Mulia, tadi dokter istana juga sudah memeriksa kondisi tubuh kami," jawab seorang pria.
"Syukurlah, lalu apakah kalian menikmati makanan yang dihidangkan istana? Apa kalian ada keluhan terhadap pelayanan istana? Kalian bisa mengandalkanku jika ada yang membuat kalian tidak nyaman."