
Raut muka Claes terlihat tertekan, seolah dirinya enggan menjadi seorang Putra Mahkota dan Xaveryn menyadari hal tersebut. Namun, Claes tidak punya pilihan lain selain menuruti apa pun yang dikatakan Jonathan. Selain sebagai anak pertama, Claes juga mempunyai peran besar sebagai pemimpin masa depan Kekaisaran Graziella. Dengan berat hati Claes menerima sesuatu yang bukan menjadi jalan mimpinya sendiri.
“Kakak, cepat pulang! Aku janji akan lebih sering mengunjungi Kakak ke akademi bersama Ayah. Jadi, Kakak jangan patah semangat! Tunjukkan pada semua orang bahwa Kakak pantas mendapat kebanggaan sebagai Pangeran Pertama Graziella.”
Xaveryn cepat-cepat mencairkan suasana, dia tidak mau Claes berlarut di dalam sebuah rasa yang memberatkan hatinya. Kemudian Xaveryn meminta Annita untuk menyerahkan sebilah pedang kepada Claes.
“Ini hadiah dariku untuk Kakak, semoga Kakak menyukainya.”
Claes menerima pedang bersarung merah dari Xaveryn, seketika rasa sedih Claes lenyap begitu saja. Jonathan, Alvaro, dan Riley memperlihatkan ekspresi iri pada Claes karena hanya dia yang diberi hadiah oleh Xaveryn.
“Kamu memberi hadiah kepada Kak Claes, apakah tidak ada untukku?” tanya Riley dengan muka memelas.
“Lalu untuk aku juga, ayolah Adik jangan pilih kasih.” Alvaro merengek meminta supaya Xaveryn juga memberinya hadiah.
“Bagaimana dengan Ayah? Kau hanya memberi hadiah untuk Kakakmu, apa kau tidak menyayangi Ayah?”
Xaveryn mengerutkan kening, dia mengubah ekspresinya dengan cepat, sungguh ini adalah keputusan yang salah memberi hadiah kepada Claes secara terang-terangan. Xaveryn berputar pandangan, dia menatap Jonathan, Alvaro, dan Riley.
“Tenang saja, aku sudah menyiapkan hadiah untuk Ayah dan juga Kakak, tapi aku akan memberikannya nanti.” Untung saja Xaveryn telah mempersiapkan banyak hadiah untuk mereka.
Mereka akhirnya tenang selepas Xaveryn berkata demikian, Claes juga tampaknya senang dengan hadiah yang diberikan Xaveryn. Dia langsung mengeluarkan pedangnya, Claes merasakan ada yang berbeda dari pedang yang diberikan Xaveryn. Sebuah energi asing tiba-tiba mengalir ke inti tubuh Claes, dia pun kebingungan sesaat energi sihir menyatu dengan tubuhnya.
‘Pedang jenis apa ini? Aku belum pernah melihat pedang seperti ini? Garis merah di setiap sisi pedang yang tajam seakan-akan diisi oleh energi yang tidak pernah aku rasakan. Tetapi, ini bukan energi yang berbahaya, aku rasa aku bisa bertambah kuat jika menggunakan pedang ini,’ batin Claes.
Pada saat yang bersamaan, Xaveryn melangkah mendekati Caerick, gadis itu sangat peka terhadap perasaan semua orang. Kala itu Caerick terlihat sedang tenggelam di alam pikiran yang sulit diartikan, tapi segala bentuk ekspresi yang berat tersebut luntur secara halus ketika Xaveryn berada tepat di depan mata.
“Caerick, aku punya sesuatu untukmu,” ucap Xaveryn melayangkan senyum riang.
__ADS_1
“Benarkah? Apa yang ingin Anda berikan kepada saya? Apakah itu sebuah ciuman?”
Seketika Caerick merasakan dirinya sedang dihujani ratusan jarum tajam, Jonathan serta ketiga saudara Xaveryn mengarahkan tatapan menusuk pada Caerick. Akan tetapi, pemuda itu menanggapinya dengan santai sebab dia sudah terbiasa mendapat tatapan menusuk.
“Berikan tanganmu,” perintah Xaveryn. Caerick pun langsung mengulurkan tangannya, Xaveryn memasangkan sebuah gelang berwarna hitam disertai hiasan mutiara putih. “Gelang ini akan memberikanmu perlindungan. Aku tidak tahu apa yang sedang dirimu pikirkan, tapi percayalah di dunia ini selalu ada tempat untukmu. Aku harap Caerick selalu bahagia dan semoga di masa depan nanti akan ada segudang harapan membawamu menuju jalan yang kau inginkan,” tutur Xaveryn.
Caerick terpaku sejenak mendengar ucapan Xaveryn, kehangatan perlahan memenuhi hatinya yang rapuh. Rasa hangat yang belum pernah dia rasakan kini dia dapatkan dari gadis kecil yang masih berusia enam tahun.
“Terima kasih, Yang Mulia, saya akan menjaga pemberian Anda dengan baik,” balas Caerick seraya tersenyum sendu.
Setelah itu, mereka pun berangkat menuju akademi menggunakan kereta kuda, Claes tiada henti melambaikan tangan ke arah Xaveryn sampai keretanya menghilang dari pandangan gadis kecil itu.
Xaveryn sekarang kembali ke istana, tapi sebelum kembali ke kediamannya, Xaveryn pergi ke ruang kerja sang Ayah bersama Alvaro dan juga Riley. Sesuai janjinya, Xaveryn hendak memberikan hadiah kepada mereka bertiga.
“Ini hadiah untuk Ayah dan Kakak, semoga kalian suka hadiah dariku.” Xaveryn membagikan kepada mereka hadiahnya satu persatu.
“Bukankah ini pedang yang dipajang di perpustakaan?”
“Iya, aku lihat Ayah menyukainya, jadi aku berikan saja pada Ayah, ternyata di sana ada banyak sekali pedang dan juga peralatan medis,” kata Xaveryn.
Jonathan dan Alvaro mencoba mengayunkan pedang mereka, secara mengejutkan muncul angin kencang hingga mengguncang lantai istana utama hingga menyebabkan ruang kerja pribadi Jonathan menjadi berantakan. Mereka terkejut melihat efek pedang tersebut, dengan begini Xaveryn sadar bahwa pedang yang dia ambil dari perpustakaan sihir rupanya mengandung sejumlah sihir yang cukup kuat.
‘Berarti pedang yang ada di perpustakaan sihir merupakan pedang yang telah diisi sihir atau haruskah aku menyebutkan pedang sihir? Ya, itu adalah pedang sihir dan aku yakin tidak hanya pedang saja, tapi seluruh benda yang berada di perpustakaan dikaruniai dengan sihir,’ batin Xaveryn.
“Woah, pedang apa ini? Aku belum pernah melihat pedang sekuat ini sebelumnya.” Alvaro bersemangat sekali selepas mencoba menggunakan pedangnya.
‘Inilah rasanya menggunakan sihir, daya hancur pedang yang dibalut sihir ternyata sangat kuat. Memang tidak salah aku menginginkan pedang ini sejak awal,’ gumam Jonathan dalam hati.
__ADS_1
BRAK!
Delvis tiba-tiba saja datang mendobrak pintu masuk hingga rusak, napasnya tersengal-sengal karena berlari sesudah merasakan getaran dahsyat yang bersumber dari ruang kerja Jonathan.
“Yang Mulia, apa yang terjadi di sini?!” tanya Delvis.
“Tidak terjadi apa pun, aku hanya menguji coba senjata baruku. Jadi, kalau kau tidak mau aku tebas, keluar dari ruanganku sekarang juga!” gertak Jonathan sambil menodongkan pedangnya pada Delvis.
Jonathan terdengar sangat dingin menanggapi orang lain, bahkan raut mukanya yang selalu bersinar di hadapan Xaveryn sepertinya tidak berlaku jika dia bertemu orang selain Xaveryn. Delvis membatu di tempat, dia merinding setengah mati ketika dirinya melihat Jonathan mulai mengancam atau menggertaknya.
“Ayah, tidak boleh seperti itu, Delvis bertanya hanya karena dia khawatir pada Ayah. Lain kali Ayah tidak boleh memperlakukan Delvis seenaknya saja,” tegur Xaveryn.
Delvis tersentuh mendengar pembelaan dari Xaveryn, baru kali ini ada yang membelanya karena biasanya ketiga saudara Xaveryn tidak pernah membela Delvis tatkala terkena masalah saat dia bersama Jonathan.
‘Tuan Putri sangat baik, beliau seorang malaikat,’ batin Delvis menyanjung Xaveryn.
Jonathan langsung menurunkan pedangnya, dia tidak sanggup melawan Xaveryn. Jonathan adalah tipe Ayah yang menurut apa pun perkataan sang putri, Delvis menyadari hal tersebut. Tanpa Jonathan sadari, saat ini Xaveryn telah menjadi satu-satunya kelemahan yang sangat fatal bagi Jonathan.
“Yang Mulia, bisakah Anda menjelaskan kekacauan ini? Kenapa ruangan Anda menjadi berantakan begini? Sebelumnya saja meninggalkannya dalam kondisi rapi, tapi lihatlah sekarang! Bahkan kaca jendela pun retak gara-gara Anda,” oceh Delvis.
“Kau tidak perlu tahu, sekarang kau suruh saja pelayan membereskan ruangan ini kembali. Jangan banyak tanya lagi dan laksanakan saja sesuai perintahku,” ketus Jonathan.
Delvis menghembuskan napas kasar, dengan berat hati Delvis memutar badan lalu pergi meninggalkan ruang kerja Delvis. Bisa dilihat jelas bahwa Delvis sangat dongkol terhadap sikap Jonathan, tapi dia berupaya menahan diri supaya kepalanya tidak melayang akibat tebasan pedang Jonathan.
“Mohon maaf, Yang Mulia, saya kemari ingin menjemput Tuan Putri karena Countess Suhail sudah menunggu di dalam kelas,” ujar seorang pelayan.
“Baiklah, aku akan segera pergi ke kelas.”
__ADS_1