
Xaveryn terdiam dalam sepersekian detik, ia butuh waktu untuk memberi penjelasan kepada Reiner perihal bagaimana wabah itu bisa berhenti menyebar. Ada banyak bayangan menakutkan menelannya perlahan. Akan tetapi, Xaveryn tetap harus memaksa dirinya untuk maju ke depan lalu menjadi tameng agar wabah tersebut tidak lagi terjadi.
"Wabah itu tidak berhenti menyebar begitu saja dan itu pun berhenti karena lingkungan mulai terbiasa dengan keberadaan dungeon," jawab Xaveryn dengan suara teramat pelan.
"Maksudmu bagaimana? Lingkungan yang mulai terbiasa dengan keberadaan dungeon? Apakah waktu itu tidak ada satu pun orang yang bisa menyelamatkan korban yang terjangkit wabah?"
Xaveryn menghela napas panjang, Reiner tampak bingung atas penjelasan Xaveryn. Kali ini gadis itu harus memberi penjelasan yang lebih mudah dipahami lagi.
"Seluruh korban yang terjangkit wabah dikumpulkan di satu tempat lalu mereka dibakar hidup-hidup. Itulah satu-satunya solusi yang bisa dilakukan supaya korban yang terjangkit wabah tidak bertambah banyak," jelas Xaveryn secara tegas.
Alangkah terkejutnya Reiner mendengar hal tersebut, ia tertegun dan tak mampu berkata-kata lagi.
"Apa? Mereka dibakar?"
Xaveryn menganggukkan kepalanya, dia paham kenapa Reiner begitu kagetnya mendengar fakta tersebut. Xaveryn sendiri menyaksikan kala itu ada ratusan rakyat Graziella yang dibakar hidup-hidup demi menghentikan rantai penyebaran wabah itu. Masih membekas di ingatannya suara raungan para korban yang menjerit sakit dan panas di dalam kobaran api nan melahap diri mereka.
Rasanya sungguh menyakitkan bila ia harus mengingat kembali masa itu. Xaveryn sebagai Tuan Putri satu-satunya tak bisa membantu apa pun. Dia berdiam diri di balik tembok menara sembari memantau situasi yang terjadi.
"Tidak ada solusi yang ditemukan, bahkan tenaga medis juga banyak yang menjadi korbannya. Seluruh kekaisaran dan kerajaan diterpa badai yang sangat kuat hingga memporak-porandakan tatanan masyarakat serta mengganggu ekonomi rakyat.
Ketika Ayah meninggal, Kekaisaran Graziella terombang ambing tanpa pemimpin. Di tengah suasana duka, Kak Claes harus menyingkirkan perasaan sedihnya dan mengambil alih kepemimpinan Graziella. Namun, itu semua tidak berjalan mulus sebab para bangsawan terlibat perseteruan yang cukup panjang," papar Xaveryn menceritakan situasi kala itu.
Reiner benar-benar merinding mendengar penjelasan Xaveryn. Tidak terbayangkan bagaimana sulitnya keponakannya melalui semuanya sendirian. Para keponakan yang dia pandang sebagai anak kecil pada akhirnya tumbuh dewasa dan mengambil alih kepemimpinan Jonathan.
"Jika memang begitu kenyataannya, maka kita harus menemukan obat dari penyakit tersebut mulai dari sekarang. Tetapi, akan sangat sulit bila kita meneliti penyakitnya tanpa ada sampel."
"Paman benar, akan sulit bila tidak ada sampel dari penyakit itu sendiri. Sedangkan aku hanya ingat gejalanya saja. Sungguh, penyakit itu sangat mengerikan dan bisa menyebar lewat udara serta kontak fisik."
__ADS_1
Wabah penyakit tersebut mempunyai gejala seperti ruam di permukaan kulit, kesulitan menelan makanan, rasa panas yang menjalar ke sekujur badan, penglihatan buram, dan degup jantung tak beraturan. Apabila dibiarkan terlalu lama, penyakit itu membuat kulit melepuh dan bernanah.
Tidak terbayangkan betapa sakitnya para korban menahan penyakit yang tidak diketahui itu. Maka dari itu, Xaveryn bertekad takkan membiarkan penyakit itu menguasai hidup manusia hingga menghancurkan wilayah kekaisaran dan kerajaan.
"Tapi, bukan berarti kita tidak bisa menemukan obatnya. Sekarang lebih baik kita sama-sama mencari tahu penyakit tersebut."
"Iya, Paman. Aku juga akan membantu mencari tahu perihal penyakit itu," pungkas Xaveryn.
Selepas itu, Xaveryn pamit kembali ke istana, sedangkan Reiner melanjutkan pekerjaannya. Ada berbagai hal yang mengundang tanda tanya besar di kepala mereka berdua.
"Setelah ini Anda akan pergi ke mana lagi, Yang Mulia? Apakah kita langsung pulang ke istana atau singgah ke tempat lain terlebih dahulu?" tanya Felician.
"Kita langsung kembali ke istana, besok kita pergi keluar lagi mengunjungi Duke Egenbert," jawab Xaveryn.
Setibanya Xaveryn di istana, kepulangannya justru disambut oleh kedatangan Trevor. Padahal sebelumnya Xaveryn jelas menolak surat dari Trevor dan bahkan tidak pernah membalas suratnya dengan baik. Namun, Trevor tidak menyerah begitu saja, ia tetap datang ke istana bertemu dengan Xaveryn.
Sebelum itu, Xaveryn meminta Felician untuk meninggalkan mereka berdua saja. Kini di ruang tamu istana hanya ada mereka berdua yang saling duduk berhadapan untuk mengobrol serius.
"Yang Mulia, bolehkah saya tahu apa alasan Anda terlihat begitu membenci saya? Apakah saya pernah berbuat salah kepada Anda?"
Ekspresi Trevor memelas sedih, ia menyukai Xaveryn sejak pandangan pertama. Terkadang Trevor bermimpi untuk bisa lebih dekat lagi dengan Xaveryn. Hanya saja, dia peka terhadap sikap Xaveryn yang cenderung menghindarinya dan juta tampak membenci dirinya tanpa alasan yang ia ketahui.
"Anda tidak pernah berbuat salah kepada saya, tapi saya tidak nyaman bila harus berurusan dengan Anda. Tolong harap dimengerti, saya tidak mau terlibat hubungan khusus yang berkaitan dengan Anda," tegas Xaveryn.
Mendengar perkataan Xaveryn, raut muka Trevor langsung tertunduk lesu. Kesedihannya terlihat tidak dibuat-buat dan tulus dari hati. Sejenak Xaveryn merasa tidak enak hati pada Trevor. Namun, mengingat pengkhianatan yang terjadi pada kehidupan lalu membuatnya sulit untuk mempercayai Trevor. Mungkin Trevor yang sekarang masih polos dan tidak tahu apa-apa, tapi begitu ia beranjak dewasa, maka tak menutup kemungkinan Trevor akan kembali melakukan hal yang sama seperti di masa lalu.
"Baiklah, saya mengerti. Maafkan saya karena telah membuat Anda tidak nyaman, Yang Mulia."
__ADS_1
Sesudah itu, Trevor pamit undur diri sembari membawa rasa sedih yang menyelimuti hati. Entah kenapa Xaveryn merasakan ada yang mengganjal di hatinya. Tetapi, ia tidak tahu perasaan apa itu sebenarnya.
"Ada apa dengan ekspresimu itu? Apa ada sesuatu yang membuat Adikku tidak senang?"
Di pertengahan lorong, Xaveryn bertemu dengan Alvaro. Tampaknya ia baru saja kembali dari penaklukan wilayah. Muka Xaveryn yang tertekuk langsung berubah sumringah.
"Kakak sudah pulang? Kenapa sendirian saja?" tanya Xaveryn.
"Ayah dan Kak Claes sedang mengurus sesuatu, jadi aku disuruh pulang lebih dulu."
"Ah, begitukah?"
Melihat respon sang Adik yang terlalu singkat, Alvaro yakin kalau ada hal yang mengganggu hatinya. Alvaro seketika teringat dengan kereta kuda Trevor yang ia lihat di depan gerbang istana.
"Apa kau baru saja bertemu dengan Trevor? Baru kali ini aku melihatnya berinisiatif bertemu dengan seseorang," tutur Alvaro.
"Huh? Kakak kenal dengan Tuan Muda Oskari?"
"Tentu saja aku kenal, dia itu kutu buku dan hampir tidak pernah bergaul dengan orang lain. Menurutku wajar saja dia seperti itu karena ia memegang tanggung jawab besar sebagai pewaris. Selain itu, hubungannya dengan Grand Duke juga kurang baik, dia diabaikan karena Grand Duke sibuk mengurus Grand Duchess yang sedang sakit."
Ya, Xaveryn tahu betul mengenai hal tersebut, bahkan Ibu Trevor sampai akhir tetap tidak bisa diselamatkan.
"Kira-kira apa penyakit yang diderita Grand Duchess? Kakak tahu penyakitnya?"
"Tidak, penyakitnya tidak ada satu pun dokter yang bisa menyembuhkannya. Grand Duchess menderita sakit seperti itu semenjak kehilangan putranya yang merupakan kembarannya Trevor."
Langkah Xaveryn terhenti, dia baru saja mendengar sesuatu yang tidak pernah ia ketahui selama ini.
__ADS_1
"Apa yang baru saja Kakak katakan? Trevor punya kembaran?"