Tuan Putri Yang Tersembunyi

Tuan Putri Yang Tersembunyi
Ulah Duke Solfrid


__ADS_3

Raut muka Xaveryn berubah masam, emosi menggelora di dada. Semua orang merasakan keanehan Xaveryn ketika gadis kecil itu terpaku memandangi kaki Claes. Langsung saja saat itu Claes mendekati Xaveryn, dia tidak mau sang Adik mengkhawatirkan dirinya.


"Xaveryn, Kakakmu sudah pulang. Apa kau tidak akan memelukku?"


Claes tersenyum begitu lebarnya, penting baginya menjaga emosi Xaveryn karena mengingat bagaimana kondisi mental Xaveryn yang dinilai masih belum terlalu stabil.


Xaveryn tersentak dari kegeraman yang menguasai hati. Gadis itu pun menghambur ke pelukan Claes. Mereka saling berpelukan melepaskan kerinduan yang telah lama terpendam.


"Aku sangat rindu dengan Kakak," ucap Xaveryn, dia memang merindukan Claes yang selama hampir satu tahun tidak pernah bertemu dengannya. Mereka berdua hanya saling bertukar kabar melalui surat saja.


Xaveryn memutuskan untuk tidak bertanya soal luka di kaki yang didapatkan Claes. Mereka pun bersama-sama masuk ke istana. Di dalam Jonathan telah menanti Claes, dia sedari tadi sibuk bekerja dan baru bisa menyambut kepulangan putranya sekarang.


"Bagaimana perasaanmu setelah lulus dari akademi?" tanya Jonathan.


"Aku cukup merasa puas dan bangga karena berhasil lulus tepat waktu," tutur Claes.


"Karena kau sudah lulus dari akademi, itu artinya kau akan segera dinobatkan sebagai Putra Mahkota. Bagaimana pun juga hanya kaulah yang pantas mengemban posisi ini. Kau paham itu, Claes?"


Claes tidak langsung menjawabnya, terselip keraguan mendalam di hatinya. Claes merasa tidak senang atas berita penobatan yang dituturkan Jonathan. Meski kelihatannya Claes tampak tidak keberatan, tapi Xaveryn bisa mengetahui bahwa Claes tidak suka menjadi seorang pewaris.


"Baiklah, aku paham, Ayah. Tolong percaya saja padaku, aku akan menjadi pemimpin yang baik untuk Graziella."


Claes tersenyum kecut, ada impian lain yang terpendam di hati. Impian yang sudah sejak lama dia tahan sebab takkan ada orang yang setuju bila dirinya mundur dari posisi pewaris. Walaupun dia tidak menyukainya, Claes tetap memaksakan diri ia untuk menjalani semuanya sesuai kehendak sang Ayah.


Pembicaraan mereka berlanjut, Xaveryn masih tidak nyaman dengan apa yang terjadi terhadap Claes. Tidak ada satu pun yang menyinggung soal luka yang didapatkan Claes seolah mereka dengan sengaja menyembunyikan dari Xaveryn.


Gadis itu memahaminya dengan sangat baik, mereka memang sengaja tidak membahasnya di hadapan Xaveryn. Akan tetapi, Xaveryn juga memilih mengikuti alur serta arah pembicaraan yang mereka suguhkan di depannya.

__ADS_1


'Mereka bertingkah seakan tidak ada apa pun yang terjadi. Menyembunyikan kebenaran di balik ekspresi ceria, ya? Aku sangat memahaminya dengan baik,' batin Xaveryn.


Kemudian berselang beberapa menit, Xaveryn merasa semakin tidak tenang dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan ruangan tempat mereka berkumpul.


"Ayah, Kakak, aku akan pamit ke kamarku lebih dulu karena masih ada pekerjaan lain yang mesti aku kerjakan. Maafkan aku tidak bisa menemani Kakak dan Ayah lebih lama lagi," kata Xaveryn begitu sopannya.


"Baiklah, tidak masalah. Putriku boleh kembali ke kamarnya sekarang," jawab Jonathan.


Xaveryn melompat turun dari tempat duduk, sebelum ke luar dia mengecup pipi sang Ayah sekaligus ketiga Kakaknya. Annita secara khusus memandu jalan Xaveryn ke luar. Mereka akan melakukan pembicaraan serius setelah ini.


"Oke, Xaveryn sudah keluar."


Ekspresi hangat mereka berubah secara halus. Karena saat itu tidak ada Xaveryn di dekat mereka, maka mereka bisa lebih bebas berbicara dan berekspresi.


"Xaveryn terlihat sangat mengerikan ketika dia melihatku turun dari kereta dalam keadaan terluka. Anak itu seperti sedang marah besar, makanya aku tidak mau membicarakannya di hadapan Xaveryn."


Claes mengingat bayangan di saat dirinya menatap lurus mata Xaveryn. Kemarahan Adiknya begitu menggebu-gebu tak menentu.


"Mungkin memang seperti itu."


Tanpa mereka sadari, sebenarnya kala itu Xaveryn memasang sihir penyadap di ruangan mereka berbincang. Dia masih sangat penasaran dengan apa yang terjadi kepada Claes tanpa sepengetahuan dirinya. Xaveryn bertekad akan membunuh siapa saja yang berniat buruk kepada keluarganya.


"Jadi, apakah kakimu terluka karena ulah Duke Solfrid lagi?" tanya Alvaro.


Xaveryn mematung mendengar nama Duke Solfrid terlontar dari mulut Alvaro. Sekarang Xaveryn mulai mendapatkan titik terang soal siapa dalang yang melukai Claes.


"Sepertinya begitu, aku tanpa sengaja terjatuh dan berguling ke tepi jurang terjal di saat aku tengah melakukan ujian terakhir. Selama ini Duke Solfrid sudah membuat kita hampir mati berkali-kali," jelas Claes.

__ADS_1


"Dia semakin meresahkan saja, katanya dia juga sengaja mengadopsi anak dari Paman Wilton. Apakah dia menggunakan anak itu untuk mengacau di istana? Atau mungkin dia menyuruh anak itu mengusik hidup Xaveryn?"


Pikiran Alvaro sudah berkeliaran ke mana-mana, dia menduga banyak hal yang tidak terduga. Sesungguhnya mereka tengah mengkhawatirkan Xaveryn yang mungkin saja nyawanya akan diincar oleh Duke Solfrid.


"Xaveryn sepertinya sangat tidak menyukai anak itu. Dia amat membencinya meski baru pertama kali mereka saling bertatap muka," ujar Jonathan.


"Bisa saja Xaveryn punya firasat buruk soal anak itu. Bagaimana pun Duke Solfrid itu sangat licik, dia akan melakukan apa saja untuk menjatuhkan anggota keluarga kekaisaran. Mungkin kita harus memikirkan keamanan Xaveryn sekarang," sela Riley.


Mereka mengangguk serentak, apa yang dikatakan Riley sepenuhnya dinilai benar. Mereka harus memikirkan soal Xaveryn yang akhir-akhir ini sering sekali beraktifitas di luar istana.


"Hmm, ya, keamanan Xaveryn akan diatur lagi nanti. Tetapi, kalian bertiga harus berlatih lebih keras dari sebelumnya. Apa kalian tahu? Kaisar Saverio mengirimi Adik kalian surat lamaran pernikahan."


Mereka terkejut bukan main, sudah diduga Jonathan kalau satu pun putranya masih belum mengetahui persoalan lamaran tersebut. Mereka belum mendengarnya dari siapa pun, mereka baru mengetahuinya dari mulut Jonathan.


"Ini gila! Bukankah Kaisar Saverio itu jauh lebih tua dari Xaveryn?! Beraninya dia melamar Adikku."


Mereka terlihat begitu emosi, mereka tidak menyangka terjadi hal yang terkesan seolah pihak Kekaisaran Saverio sedang menantang Kekaisaran Graziella dalam perang.


"Tetapi, tenang saja, dia sudah ditolak oleh Xaveryn. Akan tetapi, dia masih tidak menyerah mengirimkan surat lamaran pernikahan setiap bulannya."


Jonathan memijit pelipis kepalanya, rasanya pusing sekali memikirkan masalah yang tidak ada habisnya.


"Kita bisa pikirkan itu nanti, sekarang kita pikirkan dulu soal Duke Solfrid," kata Riley.


"Ahh, iya, itu benar. Kita harus memikirkan cara menghadapi Duke Solfrid."


Di satu sisi lainnya, Xaveryn menyimak dengan tenang di meja belajarnya. Dia dipaksa berpikir keras mengenai apa yang harus dia lakukan berikutnya.

__ADS_1


"Duke Solfrid, ya? Aku baru tahu pria itu ternyata memang suka cari gara-gara. Namun, bukan perkara mudah untuk menjatuhkannya. Ditambah lagi dia mempunyai posisi yang sangat penting di Graziella sehingga sulit menyingkirkannya tanpa adanya bukti yang kuat soal kejahatannya.


Selama ini dia selalu berhasil menyingkirkan bukti kejahatannya. Oleh sebab itulah Ayah tidak pernah menemukan bukti kejahatannya."


__ADS_2