
Entah atas alasan apa, kedua pembunuh yang tersisa itu merasa tertekan dan teramat takut berhadapan dengan Xaveryn. Sekilas mereka rasakan ancaman kematian dari diri Xaveryn. Mereka mencoba untuk tetap tenang dan membebaskan diri dari kekangan yang kuat hingga membuat pergerakan mereka terkunci erat.
Xaveryn terus menatap mereka dengan tatapan tajam penuh selidik. Gadis itu tidak membiarkan sedetik pun melepaskan pandangan dari mereka. Kedua pembunuh itu tampak enggan menjawab pertanyaan Xaveryn. Mereka telah bersumpah akan menjaga rahasianya dengan baik.
"Tidak, kami tidak akan mengatakannya." Mereka menjawab dengan suara gemetar dan gelagapan.
Xaveryn tersenyum miring, tanpa mereka jawab sekali pun sebenarnya dia sudah mengetahui siapa dalang di balik masalah tersebut. Dia hanya mencoba menguji kejujuran dari kedua pembunuh itu. Ternyata kesetiaan mereka tidak bisa diragukan sama sekali.
"Kalian tidak mau menjawabnya dengan jujur? Baiklah, berarti kalian juga harus ikut menyusul teman kalian ke neraka."
Xaveryn menjangkau sebilah pedang yang tergeletak di bawah kakinya. Xaveryn mengayunkan pedang itu mengarah pada leher si pembunuh. Dalam sekejap Xaveryn berhasil menebas kepala mereka hingga tewas.
Semua orang yang menyaksikannya mematung tak percaya. Tidak disangka Xaveryn memiliki keberanian melakukan sesuatu yang mustahil dilakukan anak kecil. Terlebih lagi Riley sebagai Kakak Xaveryn melihat sesuatu yang berbeda dari diri Xaveryn.
"Kalian memang pantas berakhir seperti ini! Aku tidak akan memaafkan siapa pun orang yang menyakiti keluargaku. Tidak peduli siapa yang berada di belakang kalian, selama aku masih hidup maka hidup orang itu tidak akan tenang," gerutu Xaveryn menancapkan ujung pedangnya ke permukaan tubuh pembunuh yang tidak bernyawa lagi.
Xaveryn menyeka darah yang memercik ke wajahnya. Perlahan dia memutar pandangan menoleh ke arah Riley. Xaveryn tersenyum tanpa rasa bersalah telah membunuh orang lain secara brutal.
Riley menghela napas, ia menggeleng-geleng tidak percaya dengan apa yang dia saksikan barusan.
"Tampaknya dia mewarisi keganasan Ayah dalam menghadapi musuhnya," gumam Riley tersenyum tipis.
Riley segera menghampiri Xaveryn, langsung saja dia menyelimuti tubuh sang Adik menggunakan jubah miliknya. Riley menggulung tubuh Xaveryn dan membawanya ke tepi teras istana kediaman Alvaro.
__ADS_1
"Bagaimana Kak Alvaro?" tanya Xaveryn khawatir.
"Tenang saja, Kak Alvaro pasti baik-baik saja meski telah menerima luka tusukan," jawab Riley meyakinkan Xaveryn. Meski sebenarnya hati Riley kacau tidak menentu akibat situasi tak terduga seperti demikian.
Xaveryn lekas memeriksa kondisi Alvaro, dengan situasi istana yang kacau, mustahil ada dokter yang akan datang kecuali Reiner. Akan tetapi, kala itu Reiner juga disibukkan mengurus para pembunuh di istana kediaman Claes. Xaveryn dapat mendengar suara hantaman serta gesekan pedang Reiner.
"Biar aku periksa sekali lagi." Xaveryn memeriksa luka yang diterima Alvaro, gadis itu berharap agar lukanya tidak terlalu dalam sehingga tidak terlambat baginya nanti menangani Alvaro.
"Biar aku saja, kau tahu kan Kakakmu ini nanti akan menjadi seorang dokter?" Riley mengambil alih posisi Xaveryn, dia yang ingin mencoba mengecek kondisi luka di tubuh Alvaro.
"Baiklah, Kak."
Xaveryn menjauh sedikit dari Riley, dia memperhatikan pergerakan tangan Riley yang nyaris seperti seorang dokter handal. Riley telah belajar banyak dari Reiner sehingga sekarang dia bisa mempraktekkan ilmu yang dia dapatkan.
"Gawat! Para pembunuh tadi membaluri racun di pedang mereka. Pantas saja Kak Alvaro kesulitan melawan mereka. Padahal dulu dia tidak pernah terganggu melawan musuhnya meski dalam kondisi terluka parah."
Mereka berdua seketika cemas bukan main, Xaveryn tidak memiliki keahlian medis sehingga dia tidak bisa melakukan apa pun untuk menolong Alvaro. Rasa resah dan gelisah bercampur aduk menjadi satu. Sekali lagi bayangan kematian Alvaro di kehidupan pertamanya kembali menerjang kepalanya. Napasnya mulai sesak, Xaveryn benar-benar takut terjadi sesuatu yang buruk kepada Alvaro.
'Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tidak! Aku tidak boleh panik. Aku harus melakukan sesuatu untuk mencegah kemungkinan terburuk terjadi. Aku bukan lagi Xaveryn yang lemah, aku harus mulai terbiasa dengan situasi seperti ini.'
Xaveryn menyadarkan dirinya, kini gadis kecil itu tidak lagi merasakan ketakutan mendalam dari hatinya. Walaupun rasa trauma akan kehilangan itu masih membekas jelas, tapi itu bukanlah sebuah hambatan baginya melangkah maju lebih jauh lagi.
"Kak, aku akan memanggil Paman. Jadi, tolong jaga Kak Alvaro di sini. Apabila kita tidak bergegas menyelamatkan Kak Alvaro, maka mungkin saja kita akan kehilangannya nanti."
__ADS_1
Xaveryn buru-buru bangkit dari posisinya, ia serius akan pergi ke istana kediaman Claes yang bahkan situasinya jauh lebih buruk daripada di tempat ini.
"Tapi, Xaveryn! Di sana masih banyak pembunuh yang berkeliaran. Bagaimana kalau mereka mengincarmu nanti? Lebih baik kau saja yang di sini, biar Kakak yang pergi memanggilkan Paman," cegat Riley.
"Tidak, Kak, aku yang harus pergi ke sana. Tolong percayalah padaku, aku pasti bisa memanggil Paman dan tidak akan ada pembunuh yang bisa melukaiku."
Xaveryn meyakini Riley, sebagai seorang Kakak sekaligus telah menyaksikan langsung kemampuan Xaveryn, terpaksa dirinya mengizinkan Xaveryn untuk pergi menghampiri Reiner. Mereka tidak punya pilihan lain sekarang karena kondisi Alvaro semakin kritis.
***
Di luar istana utama, Roxilius sedang mengamati dari angkasa situasi terkini dari istana. Dia melihat Xaveryn berhasil mengatasi satu masalah di istana kediaman Alvaro. Sekarang Roxilius berada di udara untuk melihat pergerakan dari para pembunuh yang telah mengepung istana sejak tadi.
"Mereka berencana untuk mengacaukan situasi istana dan membunuh kedua Pangeran yang dirasa ancaman bagi orang yang berada di belakang mereka. Tetapi, mereka tidak sadar bahwa cara mereka menyerbu istana terdapat banyak celah yang ceroboh. Kalau begini, aku bisa mengalahkannya."
Begitulah yang dikatakan Roxilius, dia menemukan sejumlah celah yang dinampakkan para pembunuh tersebut. Saat ini ialah waktu yang tepat baginya membantai mereka semua.
"Kalian telah mencari masalah dengan orang yang salah."
Roxilius memainkan jemari telunjuknya, ia mengarahkan telunjuknya ke arah kelompok pembunuh. Sebuah cahaya seperti laser merah keluar dari ujung jemarinya lalu melesat cepat membunuh para pembunuh yang hendak beraksi.
Hanya butuh waktu sekitar dua menit bagi Roxilius membabat habis seluruh pembunuh tersebut. Sekarang situasi istana sedikit lebih stabil dari sebelumnya. Setidaknya Roxilius berhasil menghentikan kekacauan yang hampir terjadi.
"Menyakiti keluarga Master, itu berarti kalian sedang mencari gara-gara denganku. Pada kehidupan kali ini, aku tidak akan membiarkan Master menderita karena ulah manusia rendahan seperti kalian!"
__ADS_1