
Gemuruh petir menggelegar di angkasa, hujan turun begitu derasnya sesaat Chyntia mengatakan bahwa Xaveryn terjatuh ke dalam jurang. Degup jantung Jonathan terasa tidak aman, putri satu-satunya yang ia sayangi sepenuh hati berangkat membawa senyuman tapi pulang membawa kabar buruk.
"Chyntia, coba katakan baik-baik. Bagaimana ceritanya Tuan Putri bisa terjatuh ke dalam jurang? Apa yang terjadi sebelumnya?"
Duke Egenbert mencoba untuk bertanya kepada Chyntia mengenai kronologi kejadian tepat sebelum Xaveryn terjatuh. Chyntia yang tengah terisak terpaksa menghentikan sejenak air matanya yang terus turun.
"Ketika di perjalanan pulang, kami dihadang oleh sekelompok pembunuh. Lalu Tuan Putri melawan mereka sendirian. Para pembunuh itu bisa terbang dan mereka mengeluarkan cahaya dari tangan serta senjata mereka. Pada awalnya Tuan Putri berhasil menangkis seluruh serangannya, tapi saat-saat terakhir, ada sesuatu yang aneh terjadi kepada Tuan Putri.
Beliau tiba-tiba terlihat linglung dan hampir kehilangan kesadarannya. Pada saat itulah para pembunuh itu beraksi, mereka menyerang Tuan Putri bersama-sama hingga membuat Tuan Putri terhempas dan jatuh ke dalam jurang. Setelah aku lihat, jurang itu sangat terjal, aku nyaris tidak bisa melihat permukaan jurang itu."
Bagai disambar petir di siang hari, Jonathan kehilangan akal sehatnya sesaat mendengar penjelasan dari Chyntia. Tubuhnya nyaris kehilangan keseimbangan. Penyesalan mendalam dia rasakan karena mengizinkan putrinya pergi ke perjamuan pesta minum teh.
"Itu sihir! Para pembunuh itu menggunakan sihir. Bisa-bisanya mereka mengeroyok putri kecilku menggunakan sihir. Siapa mereka sebenarnya?"
"Apa yang Anda katakan, Yang Mulia? Sihir? Bukankah di dunia ini tidak ada lagi sihir?"
"Aku akan menjelaskan itu nanti. Sekarang aku harus pergi mencari putriku, aku tidak bisa berlama-lama tinggal di sini sedangkan putriku sedang meregang nyawa di dalam jurang itu."
Jonathan bergegas keluar dari ruangannya, dia pergi menuju tempat para kesatria kini berada. Di saja kebetulan juga ada Claes, Alvaro, dan juga Riley. Melihat sang Ayah terlihat begitu gelisah membuat mereka bertanya-tanya.
"Ayah, apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Riley.
"Pas sekali kalian ada di sini. Bentuk tim pencarian detik ini juga! Adik kalian diserang oleh kelompok pembunuh dan dia terjatuh ke dalam jurang."
Deg!
__ADS_1
Mereka syok bukan main, Adik yang baru saja mereka temui pagi ini kini mengalami kesulitan. Terlintas keraguan, terjatuh dari ketinggian yang tidak terukur, apakah ada kemungkinan Xaveryn masih hidup? Namun, rasa ragu itu langsung mereka tampik, bagaimana pun Adik mereka adalah gadis yang kuat.
"Xaveryn terjatuh ke jurang? Ini bukan hal baik. Sebaiknya kita bergegas mengerahkan tim pencarian."
Di sela kepanikan sekaligus keresahan di relung hati, mereka berupaya tetap tenang agar tidak sembrono dalam mengambil keputusan. Mereka berempat membentuk tim pencarian. Ini benar-benar menegangkan, mengingat Xaveryn jatuh pada ketinggian yang tidak masuk akal membuat semua orang menaruh keraguan atas harapan hidup Xaveryn.
Berita mengenai jatuhnya Xaveryn ke dalam jurang langsung menyebar dengan cepat ke penjuru kekaisaran. Seisi kekaisaran gempar, tidak sedikit dari mereka yang menawarkan diri untuk bergabung dalam pencarian Xaveryn. Akan tetapi, Jonathan menolak niat baik mereka sebab ia tidak mau melibatkan rakyat di masalah tersebut.
"Kak, bagaimana ini? Apa yang akan terjadi pada Tuan Putri? Apakah Tuan Putri selamat? Aku tidak bisa berhenti berpikiran buruk."
Saat ini di istana kediaman Xaveryn, para pelayan pribadinya diselimuti kekhawatiran. Eris menangis tersedu-sedu di pelukan Annita, begitu pula dengan Annita yang tak kuasa menahan air matanya. Di sana juga ada Serena yang terpaku diam di tempat, perasaannya kacau tak menentu.
Sementara itu, Viano sebagai asisten pribadi Xaveryn tak sanggup melakukan pekerjaan apa pun kala itu.
"Bagaimana cara Tuan Putri kembali? Jurang itu sangat dalam dan nyaris tak berdasar. Tidak mungkin manusia biasa bisa selamat jika terjatuh dari ketinggian seperti itu," ujar Viano membantah perkataan Annita.
"Tapi, tidak ada salahnya kita sedikit berharap. Banyak orang yang mencintai Tuan Putri, kita hanya perlu mengirimkan cinta yang banyak demi membuat sebuah harapan baru agar Tuan Putri selamat," ucap Annita.
Mereka hanya bisa memasrahkan diri, tak ada yang bisa mereka lakukan saat ini.
"Ada apa? Apa yang terjadi di sini?"
Tiba-tiba Roxilius datang dalam kondisi tubuh yang sangat lemah dan wajah yang pucat pasi. Dia menyentuh bagian dadanya, napasnya terputus-putus akibat sesak. Dia baru tertidur selama seharian penuh untuk memulihkan tubuhnya. Namun, suara bising di istana membangunkannya. Bising yang diselimuti rasa cemas, ia langsung bangun karena mungkin kebisingan ini berkaitan dengan Xaveryn.
"Rox, kau harus istirahat! Bukankah kau masih sakit? Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa pun sekarang," ucap Viano.
__ADS_1
"Aku sudah lebih baik sekarang. Katakan padaku, apa yang terjadi? Apakah mungkin ada sesuatu yang terjadi kepada Tuan Putri?"
Pada awalnya mereka terdiam, siapa pun di istana ini tahu bahwa Roxilius adalah orang paling dekat dengan Xaveryn. Dia selalu pergi ke mana pun Xaveryn pergi. Selain itu, ia juga orang yang paling pertama bereaksi apabila ada sesuatu yang terjadi pada Xaveryn.
"Rox, tolong tenanglah. Sebenarnya, ketika Tuan Putri pulang dari pesta minum teh, beliau diserang oleh sekelompok pembunuh lalu Tuan Putri terjatuh ke dalam jurang. Saat ini Kaisar sedang mencari keberadaan Tuan Putri. Jadi, kau tidak perlu khawatir," jelas Viano.
"Apa?" Roxilius nampak begitu terkejut, pikiran buruknya mulai menguasai isi pikirannya. "Tuan Putri jatuh ke jurang? Aku akan segera menyelamatkan Tuan Putri."
Di kondisi tubuh yang sangat lemah dan tidak bertenaga, Roxilius memaksa dirinya untuk pergi menyelamatkan Xaveryn. Tetapi, tiga langkah dia berjalan, badannya kehilangan kestabilan dan membuatnya tumbang ke permukaan lantai.
"Rox! Aku sudah bilang, kau harus perhatikan dirimu sendiri. Kau tidak boleh pergi ke luar sekarang, tubuhmu sedang lemah, jangan paksakan dirimu."
Viano cepat membantu Roxilius untuk berdiri, ia memapah Roxilius ke kamarnya. Dia benar-benar tidak ada kekuatan untuk bergerak lebih.
'Master, maafkan saya.'
BRUK!
Roxilius pada akhirnya jatuh pingsan, suhu tubuhnya tinggi, sekujur badannya didera rasa panas. Dia pun dibawa Viano dan beberapa pelayan lainnya untuk beristirahat di dalam kamar.
Saat ini cuaca tidak menentu, langit ditutupi awan gelap, suara halilintar tiada henti menyambar di hamparan luasnya angkasa, serta rintik air hujan yang deras dan angin yang datang bertiup kencang. Kesatria terlihat kewalahan harus turun ke dasar jurang sebab situasi yang kala itu tidak mendukung sama sekali.
Tim pencarian dibagi menjadi beberapa kelompok, mulai dari kelompok yang dipimpin Felician, Chaerick, Trevor, dan Jancent. Kemudian kelompok Jonathan, Claes, Alvaro, Riley, dan Reiner. Lalu ada kelompok Lian dan Dain yang menunggu dari atas.
Mereka membagi banyak kelompok pencarian karena jurang yang akan mereka terlusuri itu amat luas sehingga butuh banyak orang untuk turun ke bawah. Ditambah lagi adanya banyak binatang buas berkeliaran di dasar jurang. Meski hujan badai sekali pun, mereka tetap memaksa diri untuk terus menerobos cuaca ekstrim demi mencari keberadaan Xaveryn.
__ADS_1