
Xaveryn terus menerus menyaksikan hal yang sama, waktu yang berputar berulang kali hingga Roxilius yang selalu datang terlambat menyelamatkannya. Enam belas kali kehidupan, Roxilius terus menitikkan air mata, mendekap tubuh Xaveryn nan dingin, dan membawa jasad Xaveryn untuk dikuburkan.
Mereka telah melalui waktu yang sulit dan membawa masing-masing ingatan masa lalu nan menyakitkan. Sampai hari di mana mereka berdua bertemu di waktu sebelum dimulainya segala penderitaan Xaveryn.
Gadis itu terduduk lemas di tengah hamparan ruangan putih, hatinya terasa terkoyak, jantungnya tiada henti berdetak tak menentu. Xaveryn memukul-mukul dadanya, sesak ia membayangkan betapa besar pengorbanan Roxilius terhadap dirinya.
Dia selalu menganggap bahwa ia selalu sendirian selama enam belas kali kehidupannya. Namun, ia salah, Roxilius tetap bersamanya hingga akhir, bahkan di kehidupan terakhir Roxilius terjun masuk ke jurang untuk menangkap tubuh Xaveryn yang berlumuran darah akibat luka tembakan pistol.
“Kenapa ini semua bisa terjadi padaku? Apa sebenarnya salahku? Mengapa Roxilius harus ikut merasakan segala rasa sakit yang aku rasakan? Tidakkah cukup aku saja yang menanggung beban penderitaan ini?”
Diri Xaveryn yang lain mendekatinya, dia juga merasakan hal yang sama seperti Xaveryn.
“Apakah kau percaya dengan dewi cahaya?” Ia mengajukan pertanyaan secara mendadak dan mengagetkan.
Xaveryn mendongakkan kepalanya, tangisnya terhenti sesaat pertanyaan tersebut tertuju pada dirinya. Ekspresi dirinya yang lain terlihat serius, ia memandang dengan sorot tatapan yang berselimut kekecewaan yang tidak dimengerti oleh Xaveryn.
“Dewi cahaya? Apakah dia benar-benar ada? Sosok yang diagungkan umat manusia, sungguhkah dia ada di dunia ini? Entah atas alasan apa, aku tidak pernah merasakan kepercayaan terhadap dewi yang disanjung umat manusia di bumi ini. Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau percaya dengan dewi cahaya?”
Gadis itu menggeleng pelan. “Aku tidak percaya padanya, kalau begitu, bisakah kau datang ke perpustakaan sihir? Kau harus mengetahui alasan yang sebenarnya kenapa kita selalu berputar di waktu yang sama hingga akhirnya kita kembali ke usia lima tahun.”
“Maksudmu apa?” Xaveryn kian tampak kebingungan, tapi sebelum Xaveryn mengetahui maksudnya, tubuh dari diri Xaveryn yang lain perlahan menghilang di udara. “Hei, jangan pergi dulu! Beri tahu aku maksudmu apa berkata seperti itu?!”
Xaveryn berupaya menahannya, tapi percuma saja karena waktu pertemuan mereka sudah berakhir.
“Kau akan mengetahuinya nanti. Waktuku sudah habis, sekarang kau juga harus keluar dari tempat ini karena semua orang sedang menunggu kesadaranmu.”
***
__ADS_1
Sudah lebih dari dua jam proses pemulihannya masih belum juga menunjukkan kemajuan. Semua luka dan racun di tubuh Xaveryn berhasil disingkirkan. Namun, hanya saja kesadaran Xaveryn masih belum kembali sampai sekarang. Roxilius mulai terlihat lelah dan hampir tumbang berkali-kali karena kehabisan energi sihir.
“Master, tolong buka mata Anda. Di sini ada banyak orang yang menunggu Anda sadar, saya mohon … buka mata And—”
BRUK!
Pada akhirnya, sekuat apa pun Roxilius menahannya, dia tetap kalah karena energi sihirnya terkuras habis. Dia tidak mampu mempertahankan kesadarannya meski hanya sesaat, dia telah melakukan yang terbaik demi membantu Xaveryn.
“Rox!” Serentak seisi ruangan panik melihat Roxilius jatuh pingsan, langsung saja Reiner memberi perintah untuk membawa Rox ke kamarnya untuk segera diperiksa.
Untung saja tidak ada yang serius, hanya saja dia kehilangan banyak energi akibat terlalu memaksakan diri. Sekarang Roxilius diminta untuk beristirahat dan menyerahkan sisanya kepada Reiner.
“Bagaimana sekarang kondisi Xaveryn?” tanya Jonathan kepada Reiner.
“Ini luar biasa! Tubuhnya sekarang bebas dari luka lalu racun yang ada di tubuhnya juga menghilang sepenuhnya. Ternyata sihir pemulihan benar-benar menakjubkan,” ucap Reiner tiada henti menunjukkan kekagumannya terhadap sihir pemulihan milik Roxilius.
“Mari kita tunggu sebentar lagi, sepertinya sihir pemulihan Roxilius masih bereaksi di tubuh Xaveryn.”
Sepuluh menit sesudah itu, Xaveryn menunjukkan tanda-tanda akan sadar, kelopak matanya berupaya untuk terbuka dan jemarinya menunjukkan pergerakan. Xaveryn mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menarik seluruh kesadaran penuhnya.
‘Aku sudah kembali,’ batinnya melihat langit-langit kamarnya.
“Xaveryn sudah sadar!” seru Claes mendapati sang Adik telah membuka mata.
Dalam sekejap semua orang mendekati ranjang Xaveryn, mereka sangat lega melihat Xaveryn kini sadar seperti sedia kala.
“Ayah, Kakak … aku sudah pulang, ya? Aku sekarang ada di kamarku,” ujar Xaveryn seraya mencoba bangkit dari tempat tidur.
__ADS_1
“Kau istirahat saja dulu, jangan banyak bergerak,” kata Jonathan masih mengkhawatirkan kondisi putrinya.
“Kau membuat semua orang khawatir, sekarang kau ada di kamarmu. Lihatlah ke sekelilingmu, kau pandai sekarang menciptakan keributan,” tutur Riley dengan mata berkaca-kaca.
Xaveryn mengedarkan pandangannya, tidak dia temukan Roxilius di ruangan yang sama. Padahal dia berharap orang pertama yang dia lihat kala tersadar ialah Roxilius. Ada banyak hal yang ingin dia bicarakan dengan Roxilius terkait kehidupan lampaunya.
“Di mana Roxilius? Kenapa aku tidak melihatnya di sini?” tanya Xaveryn.
“Roxilius sedang beristirahat, dia menggunakan sihir pemulihan untuk membantu menyelamatkan nyawamu. Kau terluka sangat parah, sebenarnya apa yang terjadi sampai kau mendapatkan luka itu?”
Xaveryn tertunduk diam, ia memutar kembali ingatannya ke belakang dan beberapa cuplikan gambaran memori penyergapan muncul. Xaveryn tidak melupakan sedetik pun insiden percobaan pembunuhan tiga hari yang lalu.
“Bisakah kalian tinggalkan aku bersama Ayah, Paman, dan Kakak di sini? Ada sesuatu yang perlu aku bicarakan,” ujar Xaveryn kepada orang-orang yang berada di kamarnya.
Jonathan langsung memberi isyarat terhadap semua orang untuk meninggalkan mereka berbicara. Dalam sekejap kamar Xaveryn berubah sepi, kini hanya ada dirinya, Jonathan, Reiner, dan ketiga Pangeran.
“Sebenarnya waktu aku terjatuh ke dalam jurang aku berhasil mendarat dengan sempurna tanpa terluka. Akan tetapi, aku tidak menyangka rupanya ada kelompok pembunuh lain yang menunggu di bawah dan mereka semua pandai menggunakan sihir.”
“Sihir?” Lagi-lagi ketiga Pangeran menunjukkan reaksi yang tidak biasa. “Apakah di dunia sungguh masih ada sihir?”
“Ada, sihir masih ada sampai sekarang dan aku juga bisa menggunakan sihir,” ungkap Xaveryn.
Ketiga Pangeran tercengang, mereka menganggap pengakuan Xaveryn barusan terdengar seperti sebuah lelucon bagi mereka.
“Tunggu dulu! Sihir? Kau punya sihir? Lalu apakah Ayah dan Paman tahu Xaveryn punya kemampuan sihir?” tanya Alvaro masih belum bisa mencerna segala situasi kala itu.
Jonathan menghela napas panjang, karena situasinya sudah seperti ini maka mau tidak mau dia harus menceritakannya pada mereka bertiga.
__ADS_1
“Adik kalian punya sihir, dia terlahir dengan sihir yang amat besar di dirinya. Aku dan Reiner sudah tahu sejak Xaveryn berusia lima tahun, bukan berarti kami sengaja menyembunyikannya. Namun, hanya saja ini berbahaya jika ada orang lain yang mengetahuinya,” jelas Jonathan.