
Xaveryn tanpa sengaja terlelap di meja belajar, kepalanya menelungkup di atas meja. Raut kelelahan tergurat jelas dari garis wajahnya. Gadis itu selama beberapa hari ini kesulitan untuk tidur dan dia baru saja mengonsumsi obat tidur yang diberikan Reiner sehingga kini dia berhasil tidur sejenak.
Namun, bukannya tertidur lelap, Xaveryn malah dihadapkan dengan mimpi buruk. Sekali lagi dirinya masuk ke alam bawah memori yang sangat ingin dia lupakan. Gadis tersebut menemukan dirinya sedang berada di tengah kekacauan istana akibat para pemberontak.
Api besar menyambar ke mana-mana, jeritan dan teriakan penghuni istana sekaligus suara pedang merajam tubuh mereka bisa didengar jelas oleh pendengaran. Xaveryn terduduk di atas lantai dan di depannya ada sepasang pria serta wanita yang menatapnya tajam. Xaveryn mengenal keduanya dengan amat baik, dia telah bersama-sama mereka berdua selama beberapa waktu belakangan ini.
"Xaveryn, kau tidak bisa lari ke mana pun lagi, kau sebentar lagi akan dijual ke Kekaisaran Saverio." Wanita berambut putih disertai bola mata hazel menarik kuat rambut Xaveryn.
"Eliza, lepaskan aku! Aku tidak akan pergi ke Saverio! Memangnya apa salahku sampai kau harus mengkhianatiku dan mengkhianati Graziella?! Padahal Ayah dan Kakakku sangat baik padamu, mereka memperlakukanmu layaknya Tuan Putri Graziella. Tetapi, mengapa? Kenapa kau melakukan pemberontakan?!"
Wanita itu bernama Eliza, gadis yang diangkat menjadi Tuan Putri Graziella atau bisa disebut Eliza ialah saudari angkat Xaveryn. Gadis itu mengkhianatinya, dia merebut suaminya — Trevor, lalu merencanakan pemberontakan bersama sang suami.
"Trevor, aku mohon padamu, selama ini kau selalu berbuat baik padaku. Kau bilang kau mencintaiku! Namun, apa yang aku dapatkan hari ini? Kau malah berselingkuh dengan Eliza. Aku sangat mempercayai kalian berdua, tapi yang aku dapatkan hanyalah pengkhianatan semata. Apa salahku? Apa dosa yang telah aku perbuat pada kalian?!"
Xaveryn mencoba mencari tahu lebih jauh lagi perihal pengkhianatan yang dilakukan kedua orang itu. Mereka merupakan penyebab utama dari hancurnya kekaisaran ini. Mereka telah merencanakan pemberontakan sejak lama tanpa disadari oleh siapa pun itu. Mereka berhasil memanipulasi situasi istana dan memanipulasi penilaian orang lain terhadap diri mereka. Xaveryn membenci situasi ini, dia benci kepercayaannya dikhianati begitu mudahnya tanpa jelas apa alasan mereka melakukannya.
"Diam! Kau memang tidak punya salah apa pun kepadaku, tapi keluargamu yang bersalah karena telah membuat Ayah dan Ibuku menderita. Aku tidak pernah melupakan sedikit pun bagaimana orang lain memandangiku sebagai anak dari seorang pemberontak. Padahal takhta Kaisar sejak awal sebenarnya ialah milik Ayahku, tapi mengapa malah Ayahmu yang mendapatkannya?! Aku membencimu, Xaveryn, aku sangat membencimu!"
__ADS_1
Perasaan Eliza meluap keluar, perasaan yang selama ini dia pendam akhirnya berhasil dia utarakan. Selama berinteraksi dengan Xaveryn, dia selalu merasa tidak nyaman. Akan tetapi, dia bertahan demi melancarkan aksi balas dendamnya.
"Jadi, itulah alasan mengapa kau bersedia membantu pihak Saverio? Jika begitu ceritanya, itu adalah salah orang tuamu! Ayahmu menjadi pemberontak, sudah seharusnya Ayahmu mendapatkan hukuman sosial sampai akhir hayatnya. Kau ini sangat bodoh!"
Xaveryn terus menerus mencoba memberontak, dia menekan air matanya agar tidak mengguyur pipinya. Saat ini bukan waktu yang tepat baginya menangisi situasi kacau terkini.
"Bodoh?! Aku tidak bodoh! Keputusanku sudah tepat! Aku masuk ke istana lalu merebut seluruh perhatian darimu. Aku membuat mereka percaya dengan akting sok polosku, akhirnya mereka memujiku kemudian aku patahkan seluruh kepercayaan itu," ujar Eliza tertawa puas.
"Sekarang kau serahkan saja dirimu kepada pihak Saverio. Tidak ada gunanya kau meronta lagi, sayang. Inilah alasan mengapa aku tidak menyentuhmu sedikit pun seusai kita menikah. Kaisar Saverio memintaku untuk mengirimmu dalam keadaan masih perawan. Aku hanya bertugas membantu Eliza sebab aku jatuh cinta kepada Eliza, bukan kepada dirimu," ucap Trevor.
Hati Xaveryn sakit dan hancur tatkala mendengar dua orang yang begitu dia percayai berkata demikian. Bagaimana pun juga tidak ada salah dirinya di sini, yang salah ialah mereka yang terlalu buat mata hatinya untuk menilai baik buruknya perbuatan mereka.
"Kalian membohongiku, beraninya kalian bohong padaku! Aku tidak akan membiarkan kalian menang, aku tidak akan memberi kalian kesempatan merebut Graziella dariku. Aku takkan memaafkan kalian, aku bersumpah akan membalas segala perbuatan kalian terhadap diriku," teriak Xaveryn berupaya melerai badan dari Eliza dan Trevor.
"Membalas? Kau ingin membalas perbuatan kami? Itu tidak akan terjadi karena kau akan mati sebelum sempat melakukannya. Kau akan menjadi budak Kaisar Saverio, selamanya kau terjebak di tempat itu."
"Tidak! Itu takkan pernah terjadi! Aku tidak akan pergi ke sana."
__ADS_1
Mau seberapa kuat pun Xaveryn memberontak, itu tak ada gunanya sama sekali. Gadis itu tidak berdaya menghadapi kekuatan dari dua orang yang lebih kuat darinya.
'Tolong aku, aku tidak mau menjadi tawanan dan budak Kaisar Saverio. Aku tidak mau pergi ke sana, aku ingin bebas, aku ingin membalas perbuatan mereka. Aku harus bebas dari ikatan mereka bagaimana pun itu caranya.'
Mimpinya usai begitu Xaveryn terjaga di tengah malam. Mimpi tersebut membuat tidurnya tidak nyenyak. Xaveryn berulang kali menghela napas sambil memijit pelipis kepalanya yang terasa agak pusing.
"Eliza. Aku belum bertemu Eliza sampai saat ini, kapan kemunculannya?"
Xaveryn meraih kalender yang terpajang di atas meja belajar. Xaveryn memperhatikan detail kalender tersebut. Bola matanya mendadak membulat sempurna, fokusnya memusat pada hari esok.
"Dia akan muncul besok di istana, aku harus menggagalkan rencananya yang ingin masuk ke istana. Aku harus menggagalkan Eliza yang bertujuan menjadi seorang Tuan Putri. Takkan aku biarkan dia menyaingiku, wanita itu di kehidupan kali ini harus aku buat menderita," gumam Xaveryn.
***
Sesuai apa yang dikatakan Xaveryn sebelumnya, Eliza benar-benar datang ke istana bersama sejumlah bangsawan. Gadis yang berusia satu tahun lebih tua darinya itu dibawa para bangsawan seusai kematian kedua orang tuanya beberapa hari yang lalu.
Eliza tidak punya siapa pun lagi sehingga dia terpaksa dibawa ke istana untuk diurus oleh Jonathan. Akan tetapi, muncul pro dan kontra antara Jonathan serta bangsawan yang membela Eliza.
__ADS_1
"Jadi, Wilton dan istrinya meninggal karena kecelakaan kereta kuda? Tetapi, putri mereka berhasil selamat dari kecelakaan tersebut, begitu?" tanya Jonathan.
Jonathan menatap lekat Eliza, entah mengapa timbul perasaan tidak suka di hatinya seketika melihat Eliza. Jonathan menduga bahwa itu adalah bagian dari dampak kebenciannya terhadap kedua orang tua Eliza yang dahulunya pernah berupaya melakukan pemberontakan.