
Xaveryn nyaris setiap malam mengalami kesulitan tidur sehingga terkadang dia menghabiskan waktu melewati malam dengan membaca buku yang dia suka. Terkadang juga ada Roxilius yang menemaninya setiap kali dia kesulitan memejamkan mata. Akan tetapi, malam ini dia sendirian di tengah ruang perpustakaan yang super duper luas.
Di depan pintu masuk perpustakaan juga dijaga oleh sejumlah kesatria. Mereka menjaga Xaveryn dan mengamati dengan baik kondisi sekitar. Mereka hanya khawatir akan muncul penyusup seperti sebelumnya.
"Entah kenapa malam ini perasaanku tidak enak. Mungkinkah akan terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan?"
Xaveryn bergumam seraya membalikkan lembar demi lembar buku yang dia baca. Firasat buruk tiba-tiba saja menyerang dirinya. Xaveryn mencoba untuk menata ulang perasaan yang dia rasakan kala itu.
"Mungkin saja itu hanya perasaanku, aku tidak boleh berlarut di dalam perasaan yang tidak menentu seperti ini," gumamnya lagi menghalau seluruh pikiran buruk yang perlahan menguasai isi kepala Xaveryn. Gadis itu melanjutkan kembali kesibukan membaca bukunya.
Di tengah kesibukannya, mendadak seisi istana gempar. Suara derap kaki para kesatria ramai terdengar bersahutan di lorong istana. Xaveryn sontak menutup bukunya, dia berencana pergi memeriksa apa yang tengah terjadi di luar sana.
"Apa yang sedang terjadi?" Xaveryn beranjak turun dari tempatnya duduk dan berniat pergi mencari tahu langsung ke luar perpustakaan.
Namun, sesaat dirinya hendak menyingkapkan pintu masuk. Seorang kesatria dalam keadaan panik membuka pintu.
"Amankan Tuan Putri!" seru seluruh kesatria.
Xaveryn tampak kebingungan, hal seperti ini tidak pernah ada di dalam ingatan kehidupan pertamanya.
"Ada apa? Apa yang terjadi di luar?" tanya Xaveryn.
"Tolong maafkan saya, Yang Mulia." Kesatria itu pun langsung menggendong Xaveryn.
"Jawab dulu, ada apa di luar sana?!" Xaveryn bertanya sekali lagi.
"Ada penyusup yang menyerang Pangeran pertama dan Pangeran kedua. Saat ini Kaisar sedang menghadang para penyusup itu. Jadi, kami diperintahkan untuk membawa Tuan Putri ke tempat yang lebih aman," jelas si kesatria berlari membawa pergi Xaveryn melewati jalur rahasia istana.
Xaveryn secara tiba-tiba meronta dan melepaskan diri dari kesatria tersebut. Dia tidak bisa berdiam diri saja membiarkan masalah ini berlalu. Xaveryn berlari dengan sangat kencang menuju istana kediaman Kakaknya yang tidak jauh dari istana kediamannya.
__ADS_1
"Yang Mulia, Anda tidak boleh ke sana!"
Para kesatria mengejar Xaveryn, gadis itu semakin melaju langkahnya menuju istana kediaman sang Kakak. Setibanya di sana, Xaveryn langsung dihadapkan dengan situasi tidak terduga.
"Ini bukan penyusupan lagi namanya, tapi penyerangan secara terang-terangan," gunam Xaveryn.
Gadis itu mencoba lebih dekat ke kediaman Alvaro yang kebetulan bersebelahan dengan Claes. Betapa terkejut dirinya menemukan Alvaro berdiri terhuyung-huyung dalam keadaan terluka parah. Di sana juga ada Riley yang turut membantu menghabisi para penyusup tersebut.
"KAKAK!" teriak Xaveryn berlari mendekati Alvaro yang terjatuh tidak sadarkan diri karena dia kehilangan banyak darah.
Seluruh mata memusatkan atensinya kepada Xaveryn. Riley sangat terkejut melihat kedatangan sang Adik. Padahal Jonathan telah memberi perintah untuk mengamankan Xaveryn. Tetapi, gadis itu malah bersikeras ingin membantu Kakaknya yang tengah susah payah melawan penyusup.
"Xaveryn, kenapa kau di sini? Cepat pergi bersembunyi!" ujar Riley.
Xaveryn lantas menggeleng, meski kala itu suasana sekitar dipenuhi suara bentrokan pedang, Xaveryn bersikukuh menyelamatkan Alvaro. Dia sangat takut kala itu, dia takut kalau Alvaro meninggalkannya seperti kehidupan sebelumnya.
Xaveryn merobek bagian bawah piyama tidurnya lalu menjadikan kain sobekan tersebut sebagai penutup luka di perut Alvaro. Setidaknya dia berusaha menghentikan pendarahan Alvaro.
"Kau pikirkan itu nanti! Biar kesatria yang mengurus Kak Alvaro. Keselamatanmu adalah yang utama, cepat pergi dari sini!"
Riley di tengah pertarungannya mencoba terus menerus menyuruh Xaveryn untuk pergi dari sana. Namun, Xaveryn menolaknya, tak mungkin dia menutup mata kala ada masalah besar di istana.
'Mereka mencoba membunuh Kakakku, target mereka bukan aku. Itu artinya saat ini para pembunuh berupaya menyingkirkan calon pemangku takhta. Sepertinya Duke Solfrid semakin memperlihatkan tujuannya yang sebenarnya.'
Xaveryn meraih sebuah pistol yang tergeletak tidak jauh darinya. Jumlah pembunuh yang tengah berada di sekitarnya lebih dari sepuluh orang. Mereka terdiri dari pembunuh profesional sehingga pergerakan mereka minim celah.
'Aku akan menyerang mereka dari jarak jauh.'
Xaveryn menarik pelatuk pistolnya, dia memusatkan fokus dan mengarahkan pistolnya ke salah satu pembunuh. Gadis itu membidik dengan sempurna, ia bergerak sesuai apa yang telah dia pelajari selama berada di istana. Xaveryn telah belajar cara menjadi sniper dari guru yang hebat.
__ADS_1
DOR!
Bahana tembakan pistol bergaung di istana, peluru yang ditembakkan Xaveryn melesat cepat di udara hingga menembus jantung salah satu pembunuh. Tidak hanya satu pembunuh, Xaveryn membunuh para pembunuh yang lain hanya menggunakan pistol saja. Mereka tidak dapat kabur dari bidikan Xaveryn yang selalu tepat sasaran.
"Tuan Putri mengenai mereka! Beliau berhasil membunuh mereka dalam satu tembakan saja."
"Apakah ini artinya Tuan Putri mewarisi kemampuan sniper mendiang Permaisuri?"
"Jika memang begitu maka akan sangat bagus karena itu berarti Tuan Putri kita bertalenta."
Riley mematung menyaksikan kemampuan sang Adik. Riley merasa seakan berada di dunia mimpi, anak sekecil Xaveryn tampak mahir menggunakan pistol.
"Xaveryn? Bagaimana bisa dia menggunakan pistol padahal dia baru belajar hanya beberapa kali saja?" gumam Riley.
Xaveryn memang baru belajar menembak beberapa kali pertemuan saja, tapi tingkat kemampuan Xaveryb bahkan setara dengan seorang sniper profesional. Riley berdecak kagum, dia menganggap hal tersebut sebagai bagian dari kejeniusan sang Adik.
'Orang yang menyakiti keluargaku harus mati!'
Meski Xaveryn telah menghabisi sebagian besar pembunuh itu. Akan tetapi, rupanya masih ada sekitar dua orang lagi yang tersisa. Raut muka mereka terlihat kebingungan, mereka bingung harus melakukan apa lagi. Pasalnya, tubuh mereka gemetar sesaat menyaksikan kemampuan luar biasa di diri Xaveryn.
"Hei, cepat kau serang dia! Gadis kecil itu berhaya. Kita harus melanyapkannya sebelum menjadi masalah besar bagi kita."
"Tidak, kita tidak mungkin bisa menghabisi nyawanya. Gadis itu jauh lebih berbahaya dari yang kau bayangkan. Mustahil bagi kita menang melawannya."
Nyali kedua pembunuh itu menciut, kaki mereka seakan melekat ke permukaan tanah sehingga pergerakan mereka menjadi terbatas.
Xaveryn yang melihat hal itu, dia pun langsung menghampiri kedua pembunuh tersebut. Dia berencana menggunakan mereka sebagai sumber informasi yang valid mengenai pergerakan yang tengah dilakukan Duke Solfrid.
"Kalian berdua, ada sesuatu yang hendak aku tanyakan kepada kalian. Siapa orang yang berada di belakang kalian? Dan apa rencana orang itu yang sesungguhnya?"
__ADS_1