
Xaveryn mendengar jelas seluruh percakapan tersebut. Ekspresi Xaveryn tidak karuan, dia bingung harus mengekspresikan perasaannya bagaimana. Pasalnya, rencana Duke Solfrid juga terhubung dengan orang yang paling dia benci. Helber Saverio berkomplot ke dalam rencana penggulingan anggota keluarga kekaisaran. Ditambah lagi dia mendengar bahwa sebenarnya kembaran Trevor diberi sihir untuk mencuci otaknya.
Kini Xaveryn pun sadar, satu persatu mulai terkuak, dia menghubungkan seluruh kejadian pada kehidupan pertama dan menemukan satu titik pusat yang sama. Itu artinya sejak awal, Duke Solfrid mengendalikan segalanya dari balik bayangan hingga dia berhasil menjatuhkan kekuasaan anggota keluarga kekaisaran.
'Berarti targetku berikutnya ialah Duke Solfrid, dia harus mati sebelum dia beraksi lebih dari sebelumnya. Lalu untuk kembaran Trevor, aku akan memikirkan cara untuk membebaskannya. Ya, tidak peduli apa pun yang dia lakukan di kehidupan pertama, otak pria itu telah dicuci oleh Duke Solfrid. Jadi, aku harus menyingkirkan segala perasaanku sejenak,' pikir Xaveryn.
Kemudian Xaveryn menyuruh Roxilius untuk berhenti menguping pembicaraan Duke Solfrid. Setidaknya sekarang dia sudah tahu sumbu utama kekacauan di Kekaisaran Graziella.
Upacara pemakaman Grand Duchess Oskari berlangsung selama hampir satu minggu. Hingga di hari terakhir, hanya tinggal beberapa orang saja di kediaman Grand Duke Oskari.
"Hujan ...." Xaveryn mengamati rintin hujan yang turun membasahi daratan.
"Yang Mulia, cuaca sedang hujan. Lebih baik Anda sekarang masuk ke dalam," tutur Eris dan Serena nampak khawatir.
"Tunggu sebentar, aku akan masuk nanti."
Xaveryn memejamkan matanya, suara dan aroma hujan sungguh menenangkan. Ia teringat kembali pada masa di mana dia terkurung di dalam kastil di istana Saverio. Tidak ada yang menemaninya selain suara hujan yang terkadang datang menitik ke permukaan tanah.
"Apakah kalian tidak menemukan keberadaan Tuan Muda?"
"Tidak, beliau tidak ada di dalam mansion. Padahal cuaca sedang buruk begini, tapi beliau menghilang secara tiba-tiba."
Pembicaraan dua orang kesatria yang sedang kebingungan itu ditangkap oleh indera pendengaran Xaveryn. Dia baru sadar kalau dirinya juga tidak melihat tanda-tanda keberadaan Trevor sedari tadi. Kemudian Xaveryn pun berpindah tempat dari lokasi semula. Dia berencana untuk pergi ke luar dan menerobos hujan untuk menemukan keberadaan Trevor.
"Yang Mulia, ada mau ke mana?!" teriak Serena.
__ADS_1
"Aku akan pergi ke luar sebentar," sahut Xaveryn berlari cepat di bawah hujan.
Tidak sempat Serena melayangkan kata-kata melarang, gadis itu menghilang dengan cepat dari jangkauan pandangannya. Serena dan Eris terlihat cemas, mereka mengkhawatirkan diri Xaveryn yang tidak menggunakan payung atau pun pakaian yang lebih tebal.
Tujuan Xaveryn kali ini adalah pergi ke makam Grand Duchess Oskari sebab dia yakin Trevor sedang berada di tempat itu. Di masa lalu Trevor seringkali mengunjungi makam sang Ibu ketika pikirannya terasa penuh dan sempit.
"Itu dia! Kenapa dia membiarkan dirinya terkena hujan di depan makam Ibunya?"
Xaveryn bergegas mendekati Trevor yang sedang terduduk lemas di depan gundukan tanah dan nisan batu besar yang mengukir nama sang Ibu.
"Ibu, maafkan aku ... aku bukan anak yang baik, aku tidak bisa melindungi Ibu. Maafkan aku, Ibu, tolong maafkan diriku. Aku tidak berguna sekali, sungguh tidak berguna."
Di sela suara hujan, Xaveryn samar-samar mendengar lirihan minta maaf Trevor terhadap Grand Duchess Oskari. Detik itu pula Xaveryn langsung menyadari bahwa selama ini Trevor selalu berpura-pura bersikap tenang dan dewasa demi menutupi segala luka yang dia terima.
Air mata Trevor menetes bersamaan dengan air hujan yang membasahi sekujur badannya. Dia menyesali banyak hal di dalam hidupnya, tidak ada kata yang lebih pantas ia ucapkan selain kata maaf kepada Ibunya yang kini terbujur di dalam makam nan dingin.
Xaveryn menatap prihatin Trevor, pemuda itu mendekap erat batu nisan Ibunya. Rasanya sungguh menyakitkan melihat orang yang ia sayangi harus meregang nyawa di tangan orang lain.
"Trevor, apa yang kau lakukan di sini?"
Sontak Trevor terkejut mendapati Xaveryn berada di hadapannya. Lekas ia mengganti ekspresi sedihnya demi membuat dirinya terlihat lebih tegar di mata Xaveryn.
"Saya hanya mengunjungi makam Ibu saya, Yang Mulia. Lalu Anda sendiri sedang apa? Tidak seharusnya Anda datang tanpa mengenakan payung. Bagaimana kalau Anda sakit nanti?"
Trevor masih sempat mencemaskan diri Xaveryn di kala tubuhnya juga diguyur oleh hujan. Badannya bergetar karena dingin, suaranya juga berubah serak.
__ADS_1
"Semua orang sedang mencarimu, jadi aku kemari untuk melihatmu dan ternyata kau memang sedang ada di sini," kata Xaveryn.
"Saya akan segera kembali ke kediaman, sekarang saya di sini dulu sebentar."
Xaveryn tidak bergerak dari tempatnya, semakin ia lihat, semakin ia rasakan kesedihan mendalam dari diri Trevor. Dia benar-benar muak menyaksikan hal tersebut.
"Trevor, menangis itu bukan tanda diri kamu lemah. Kau boleh menangis sepuas hatimu kalau kau mau." Tiba-tiba saja Xaveryn berkata seperti demikian.
Trevor terpaku cukup lama, ia pun melirik ke arah Xaveryn.
"Apa yang Anda katakan, Yang Mulia? Saya tidak bermaksud untuk menangis atau pun bersedih," sangkal Trevor masih berupaya tetap kuat.
"Kau manusia biasa, jangan buat dirimu terjebak di dalam rasa yang kau pendam sendiri. Kau butuh melepaskannya sesekali. Tidak apa-apa, Trevor, tidak akan ada orang yang menertawakan dirimu. Kau hanya perlu jujur terhadap perasaanmu. Paham?"
Bola mata Trevor berkaca-kaca, ada ribuan hal yang mengganjal di pikirannya. Ada ribuan hal yang menjadi alasannya untuk menangis.
"Saya lelah, Yang Mulia. Kenapa harus saya yang menanggung semuanya? Kenapa seluruh masalah harus dilimpahkan kepada saya? Memangnya saya salah apa? Apakah saya tidak berhak menikmati hidup ini? Apakah saya dilahirkan hanya untuk menjadi pekerja yang mengemban beban tugas dari Ayah saya? Saya—"
Xaveryn secara mengagetkan memeluk badan Trevor dan bermaksud untuk menenangkannya. Setidaknya dengan sedikit pelukan perasaan Trevor bisa lebih lega dari sebelumnya.
"Kau sudah berjuang dengan baik selama ini. Beristirahatlah sejenak, kau telah melalui kehidupan beserta segala jenis masalahmu dengan begitu baik. Tidak apa-apa, Trevor, mulai sekarang aku akan membantu mendorongmu dari belakang. Aku akan senantiasa menguatkanmu, tidak apa-apa, kau boleh menangis sepuasnya kala bersamaku."
Trevor akhirnya tak kuasa menahan isak tangisnya. Dia menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Xaveryn. Ini pertama kalinya ada seseorang yang mengulurkan tangan sekaligus memeluk dirinya kala lelah.
Xaveryn menggigit bibirnya, kemarahannya kembali membara di dalam dada. Kedua mata hazel itu bersinar memancarkan emosi yang tidak tertahankan.
__ADS_1
'Helbert! Ini semua karenamu, aku akan membuatmu membayar segala penderitaanku dan orang-orang sekitarku karena dirimu. Aku pastikan kau terbunuh di tanganku.'