Tuan Putri Yang Tersembunyi

Tuan Putri Yang Tersembunyi
Putra dan Putri Duke Egenbert


__ADS_3

Pada keesokan harinya, Xaveryn mempunyai janji temu dengan Duke Egenbert lagi. Dia ingin membahas bisnis atas ide Xaveryn yang tengah dia kerjakan. Akan tetapi, hari ini Duke Egenbert datang bersama putra dan putrinya. Xaveryn terpaku sesaat dirinya bertemu dengan anak Duke Egenbert.


"Mohon maafkan saya, Yang Mulia, hari ini saya membawa putra dan putri saya karena mereka berdua merajuk ingin ikut dengan saya," tutur Duke Egenbert.


Xaveryn masih diam mengamati putri Duke Egenbert yang bernama Chyntia yang satu tahun lebih tua darinya. Kemudian di samping Chyntia berdiri anak pertama Duke Egenbert yang bernama Jansent. Umur Jansent satu tahun lebih muda dari Claes. Xaveryn sedikit terpana, wajah Jancent memang identik lebih cantik, rambut perak serta mata merah menjadi ciri khas dari keturunan Duke Egenbert.


"Tidak masalah, Duke, saya tidak keberatan jika Anda membawa putra dan putri Anda ke istana," balas Xaveryn seraya melempar senyuman manis.


Chyntia kala itu menatap intens Xaveryn, tatapan matanya memindai setiap inci bagian tubuh Xaveryn. Lalu tiba-tiba saja pandangan mata penuh kagum memercik dari bola mata Chyntia. Lekas gadis kecil itu mendekati Xaveryn dan menggenggam kedua tangannya.


"Jadi, Anda adalah Tuan Putri Xaveryn? Wah, Anda sangat cantik persis yang Ibu saya katakan. Yang Mulia, maukah Anda menjadi teman saya? Saya ingin sekali berteman dengan Anda. Saya paling suka sesuatu yang terlihat cantik dan imut seperti Anda. Tolong jangan tolak permintaan saya, saya mohon," ujar Chyntia terkesan memaksa Xaveryn.


Belum sempat Xaveryn menjawab perkataan Chyntia, Duke Egenbert sontak menarik mundur Chyntia ke belakang menjauhi Xaveryn. Dia merasa tidak enak hati sama sekali atas ketidaksopanan Chyntia. Padahal sudah diperingatkan berulang kali untuk menjadi etika ketika berhadapan dengan Xaveryn. Namun, karena Chyntia tipe wanita pembangkang, akhirnya dia malah melanggar peringatan sang Ayah.


"Chyntia, sudah berapa kali Ayah katakan padamu untuk menjaga sikap saat berhadapan dengan keluarga kekaisaran?! Apa kau masih sulit mengerti perkataanku? Dasar anak ini, seharusnya kau mengucap salam kepada Tuan Putri terlebih dahulu."


Duke Egenbert mengomeli Chyntia sampai telinga Chyntia terasa panas. Gadis itu memang terkenal karena suka bersikap seenaknya dan tidak mementingkan aturan yang tertera.


"Aku hanya refleks! Percuma Ayah memarahiku karena aku tidak akan pernah mendengarkan apa yang Ayah katakan."


Chyntia membuang muka, dia sama sekali tidak peduli terhadap kemarahan Duke Egenbert. Baginya, apa pun perkataan yang dilontarkan sang Ayah, itu akan menjadi angin lalu saja.


"Apa katamu?! Kau anak nakal!"


Sementara Duke Egenbert berseteru dengan putrinya, Jancent maju menyapa Xaveryn sambil memberi salam.

__ADS_1


"Salam Yang Mulia Putri, saya Jancent Egenbert menyapa Tuan Putri."


Sikap salam Jancent yang sempurna menjadi salah satu daya tarik. Jancent tidak sama seperti Chyntia yang susah diatur, Jancent anak yang sangat penurut dibanding Chyntia. Setidaknya dengan begini Duke Egenbert bisa sedikit lebih lega sebab masih ada satu anak lagi yang tidak membuatnya khawatir.


Keheningan kembali menghampiri Xaveryn, dia memandang cukup lama wajah Jancet. Tidak mungkin dia melupakan wajah dari salah satu penyelamatnya di masa lalu.


'Jancet Egenbert, dia juga salah satu teman yang cukup akrab dengan Kak Claes. Seusai Kakakku mati menyelamatkanku, Jancent adalah orang yang membantuku melarikan diri. Namun, sayangnya dia harus meregang nyawa di tangan pihak Saverio. Sedangkan Chyntia, dia mati seusai pesta kedewasaannya dan diduga ada seseorang yang meracuninya.'


Isi kepala Xaveryn dipenuhi oleh rentetan kejadian di masa lalu pada kehidupan pertama. Dengan kata lain, Xaveryn punya utang nyawa kepada Jancent.


"Halo, Tuan Muda Egenbert, saya juga menyapa Anda dan selamat datang di istana saya," ucap Xaveryn membalas kalimat sapaan Jancent.


Jancent terpaku sesaat, dia sangat terkesan pada gadis kecil yang berada di depan matanya kini. Jancent tertarik pada Xaveryn seusai Ayahnya bercerita tentang betapa luar biasanya kecerdasan Xaveryn sehingga rasa penasaran menguasai dirinya. Lalu hari ini mereka bertemu, Jancet pikir tidak salah jika Ayahnya terlalu memuji dan menyanjung Xaveryn.


"Tolong panggil saya Jancent saja, Yang Mulia," kata Jancent.


Chyntia melompat bergegas mendekati Xaveryn lagi, dia masih takjub atas kecantikan Xaveryn.


"Yang Mulia, perkenalkan saya Chyntia, Anda pasti sudah tahu nama saya. Bolehkan saya bertanya satu hal kepada Anda?"


Xaveryn memiringkan kepalanya dan menjawab, "Ya? Ingin bertanya masalah apa?"


"Maukah Anda menikah dengan Kakak saya? Dengan begitu kita bisa lebih dekat. Nanti—"


"Chyntia! Kemari kau!" Duke Egenbert langsung membungkam mulut Chyntia. Dia menghalangi Chyntia untuk berbicara aneh lebih jauh lagi.

__ADS_1


"Tolong maafkan ketidaksopanan putri saya, Yang Mulia, gadis ini perlu saya beri pelajaran supaya mengerti."


Xaveryn hanya tertawa kecil. "Tidak usah dipikirkan, Duke, sekarang silakan masuk ke dalam. Mari kita lanjutkan pembicaraan kita mengenai bisnis ini."


Xaveryn membawa Duke Egenbert untuk masuk, para pelayan menyuguhkan minuman dan cemilan untuk mereka. Duke Egenbert tampak kewalahan menghadapi Chyntia.


"Yang Mulia, saya telah menyelesaikan mengenai siapa saja orang yang terlibat dalam pengerjaan pembuatan kereta api dan kapal selam. Hanya saja saya kesulitan menemukan seorang ahli jahit yang dapat mengolah bulu binatang buas untuk menjadi pakaian dan sebagainya. Pada ahli jahit yang saya temui mengaku kesulitan mengolah bulu dan kulit binatang buas mejadi sesuatu yang lebih dari sekedar selimut," terang Duke Egenbert.


Xaveryn membaca hasil laporan dari Duke Egenbert, keseriusan Xaveryn yang terlihat mengerti dengan laporan tersebut menjadi fokus utama bagi Duke Egenbert.


'Tuan Putri paham dengan laporan yang aku berikan? Beliau bahkan bersikap dengan tenang saat membacanya. Sebenarnya, terbuat dari apa otak beliau? Mengapa rasanya beliau bersikap selayaknya seseorang yang terbiasa berurusan dengan dokumen seperti ini?' pikir Duke Egenbert bertanya-tanya.


Xaveryn mengangguk paham, laporan tersebut ditulis secara rinci. Hal ini menunjukkan betapa profesionalnya Duke Egenbert melakukan pekerjaannya.


"Serahkan sisanya kepada saya, Duke, saya tahu siapa ahli jahit yang sanggup mengolah bulu dan kulit binatang buas ini. Apakah Anda mau menyerahkannya kepada saya?"


"Baiklah, saya akan menyerahkannya kepada Anda, Yang Mulia."


Di hari itu pula, seusai kepulangan Duke Egenbert, Xaveryn langsung bergerak ke luar istana ditemani oleh sejumlah kesatria istana. Xaveryn sengaja tidak menggunakan sihir penyamaran karena dia mau datang sebagai perwakilan keluarga kekaisaran. Xaveryn diarahkan menuju distrik hunian rakyat yang kumuh dan tertinggal. Tempat ini merupakan tempat di mana para ahli jahit tinggal dan tidak diketahui banyak orang.


"Apakah Anda yakin datang ke tempat yang seperti ini, Yang Mulia?" tanya salah seorang kesatria.


"Ya, tempat ini memang kumuh tapi menyimpan suatu nilai besar yang tidak diketahui banyak orang."


Xaveryn melangkah menghampiri salah satu rumah yang berdiri di tengah-tengah pemukiman tersebut. Seorang pria paruh baya membuka pintu rumahnya untuk melihat siapa yang datang berkunjung ke rumahnya.

__ADS_1


"Kesatria istana? Apa yang membawa kalian kemari?"


__ADS_2