
Selepas menyelesaikan urusan bisnisnya bersama Duke Egenbert, Xaveryn melanjutkan aktivitasnya dengan latihan berpedang. Xaveryn pagi hari ini bersiap-siap lebih cepat, dia ingin segera pergi ke lapangan latihan dan menemui Dain — guru berpedang dari ketiga Pangeran yang sekarang juga akan menjadi guru berpedang Xaveryn.
Derap langkah kaki Xaveryn terdengar ceria, dia berada dalam kondisi hati yang baik. Dain rupanya telah berada di lapangan latihan menunggu Xaveryn. Di sana juga ada Riley dan Alvaro, mereka berjanji akan menemani Xaveryn latihan. Melihat Xaveryn datang, Riley dan Alvaro teramat gembira. Begitu pula dengan Dain, dia senang melihat Xaveryn datang bersama kedua putrinya yaitu Annita dan Eris.
"Dain, aku sudah datang!" seru Xaveryn antusias.
"Astaga, Yang Mulia, Anda harus berhati-hati, nanti Anda bisa terjatuh," tegur Dain.
Xaveryn tertawa kecil, dia berdiri di samping kedua Kakaknya. Pakaian khusus latihan Xaveryn terlihat imut ketika dia kenakan hingga membuat orang lain memandangnya gemas.
"Ayah, tolong jangan terlalu keras kepada Tuan Putri," ujar Eris secara tegas.
"Benar itu, kalau Ayah bersikap keras maka jangan harap kami akan menyapa Ayah lagi." Annita juga ikut menimpali sembari memberi ancaman kecil.
Dain diomeli oleh kedua putrinya, tentu saja dia tidak berani macam-macam dengan putrinya. Biasanya Dain akan selalu menuruti apa pun perkataan putrinya.
"Tidak masalah, Annita, Eris, aku akan mengikuti metode latihan Dain. Tidak peduli seberapa keras metode latihannya, aku pasti bisa melakukannya."
Xaveryn telah menunggu hari di mana dia akan latihan berpedang sebab selama beberapa waktu lalu Dain sangat sibuk sehingga dia tidak dapat mengajari Xaveryn. Baru hari ini dia bisa melatih Xaveryn, jadi gadis kecil itu sangat menantikannya.
"Nanti kalau kau tidak kuat, langsung berhenti saja," ujar Riley.
"Ya, itu benar, kau boleh berlatih sesukamu, lagi pula sebenarnya kau tidak perlu menguasai ilmu pedang. Kau cukup berdiam diri saja dan Kakakmu ini akan melindungimu," sambung Alvaro.
Xaveryn bersyukur kedua Kakaknya mengkhawatirkan dirinya, tapi Xaveryn tidak mau menyerah begitu saja dalam latihan berpedang ini. Bagi Xaveryn meski banyak orang yang melindunginya, tapi tetap saja dia harus pandai seni berpedang agar bisa melindungi dirinya sendiri di kala tidak ada orang lain di sisinya atau pun di kala dia tak bisa menggunakan sihir.
__ADS_1
"Jangan terlalu khawatir, aku ini lebih kuat dari Kakak." Xaveryn melempar senyum sumringah, dia membuat gemas seluruh orang yang memandangnya.
Alvaro dan Riley mendekap Xaveryn karena saking gemasnya dengan Adik kecil mereka. Xaveryn menciptakan suasana hangat di antara para pangeran.
'Keberadaan Tuan Putri sungguh mempengaruhi istana, biasanya suasana lapangan latihan cukup menegangkan dan hampa. Namun, sekarang para Pangeran lebih sering tersenyum dan tertawa jika bersama Tuan Putri,' batin Dain.
Kemudian mereka memulai latihannya, Xaveryn dimulai dari pelajaran dasar mengenai ilmu berpedang. Pertama, Dain mengajarkan Xaveryn sikap saat menggenggam gagang pedang. Kedua, Dain mengajarkan Xaveryn cara memegang pedang yang benar. Dan ketiga, Dain mengajarkan cara mengayunkan pedang yang benar. Pedang yang digunakan Xaveryn kala itu ialah pedang kayu kecil yang dibuat secara khusus untuk anak seumuran Xaveryn.
Pada awalnya, semuanya berjalan dengan lancar lalu secara mengejutkan Xaveryn menunjukkan sesuatu yang mengejutkan. Gadis kecil itu berhasil menguasai apa pun yang diajarkan Dain dalam satu kali peragaan saja.
"Apa? Tuan Putri bisa meniru apa yang aku contohkan dalam satu kali peragaan saja?"
Dain tercengung seketika, begitu pula dengan Riley dan Alvaro. Mereka terpaku saat Xaveryn berhasil memeragakan ulang gerakan mengayunkan pedang dengan sangat sempurna.
"Dain, aku sudah selesai! Bisakah beri aku pelajaran yang selanjutnya?" tanya Xaveryn dengan wajah lugunya.
"Begitukah? Ya sudah, tidak apa-apa, aku bisa latihan sendiri dulu," sahut Xaveryn.
Dain bergegas menuju ruang kerja Jonathan, dia ingin memastikan satu hal mengenai Xaveryn. Melihat Dain yang pergi begitu terburu-buru, akhirnya Alvaro dan Riley yang penasaran juga mengekori Dain tanpa sepengetahuannya. Setibanya di ruang kerja Jonathan, kedatangan Dain disambut baik oleh Jonathan.
"Salam kepada Yang Mulia Kaisar." Dain membungkuk memberi salam kepada Jonathan.
"Dain, apa yang membawamu kemari?" tanya Jonathan.
Di luar pintu ada Riley dan Alvaro yang menguping tanpa sepengetahuan Jonathan. Mereka penasaran karena yakin kalau Dain akan membicarakan soal Xaveryn.
__ADS_1
"Mohon maaf atas kunjungan saya yang mendadak, di sini saya ingin membicarakan soal Tuan Putri. Saya pikir Anda sudah tahu mengenai kemampuan Tuan Putri. Beliau bisa mengingat segala sesuatu dengan detail ketika satu kali peragaan saja. Apakah mungkin Tuan Putri Xaveryn mewarisi kemampuan ingatan super Kaisar pertama?"
Jonathan menjeda sejenak segala aktivitas yang dia lakukan saat ini. Dia berencana untuk menjelaskan secara rinci kepada Dain.
"Kau benar, Xaveryn punya kemampuan ingatan super, aku sudah tahu sejak Xaveryn berusia lima tahun," jawab Jonathan.
"Sudah saya duga, jika Tuan Putri memiliki kemampuan semenakjubkan ini maka para bangsawan akan menimbulkan kegaduhan. Sebaiknya kita membentuk keamanan yang ketat untuk Tuan Putri. Bisakah Anda mengizinkan putra saya untuk mengawal Tuan Putri?"
Ya, Dain memiliki satu orang anak laki-laki, dia adalah Adik dari Annita dan Kakak dari Eris. Kemampuan putra Dain dalam berpedang diwarisi dari sang Ayah. Jadi, Jonathan tampaknya tidak keberatan bila putra Dain mengawal Xaveryn.
"Aku rasa itu bukan ide yang buruk. Apakah putramu akan segera kembali ke istana?"
"Benar, Yang Mulia, putra saya sebentar lagi akan tiba di istana. Apabila menempatkannya ke sisi Tuan Putri, mungkin keamanan Tuan Putri akan lebih terjaga."
Jonathan mengangguk. "Baiklah, setelah dia pulang tolong langsung suruh dia menemuiku. Tugas menjaga putriku bukanlah sesuatu yang mudah diputuskan begitu saja."
Sementara itu, di sisi lain Alvaro dan Riley masih menguping di daun pintu masuk. Mereka cukup kaget mengetahui kalau Xaveryn mewarisi kemampuan ingatan super Kaisar pertama. Mereka begitu mengagumi keagungan Kaisar pertama, bahkan mereka tahu dengan baik kemampuannya.
"Kau dengar itu, Riley? Adik kita mempunyai kemampuan ingatan super. Kita harus memperketat penjagaan terhadap Xaveryn selama Kak Claes berada di akademi," bisik Alvaro.
Riley menganggukkan kepala. "Iya, Kak, Xaveryn keberadaannya sedang terancam. Lebih baik kita jaga Adik kita dari jangkauan bangsawan serakah."
"Apa pun yang terjadi kita harus menjaganya karena kita adalah Kakaknya."
Selesai latihan, Xaveryn kembali lagi ke kamarnya dan dia sekarang sudah bersih kembali mengenakan gaun cantik. Xaveryn duduk di balkon sambil memandang kotak musik tempat keluarnya Roxilius sebelumnya.
__ADS_1
'Berapa lama lagi Roxilius beristirahat di dalam kotak musik ini? Padahal aku mau bertemu dengannya,' batin Xaveryn.
Semenjak Xaveryn pulang dari gedung pelelangan, Roxilius meminta izin kepada Xaveryn untuk beristirahat di dalam kotak musik selama beberapa waktu. Dia mengatakan kepada Xaveryn alasannya ingin beristirahat ialah karena dia terlalu lama berada di dunia luar sehingga energinya cepat terkuras.