Tuan Putri Yang Tersembunyi

Tuan Putri Yang Tersembunyi
Harapan


__ADS_3

Eris terus mundur ke belakang, dia berusaha menjauhkan dirinya dari Count Arnis. Sepintas rasa jijik menghadang hatinya, dia benar-benar membenci situasi yang kini dia hadapi. Eris mencoba menghindar dari tatapan penuh hasrat Count Arnis. Pria tua bangka itu tidak pernah berpikir bahwa Eris berumur jauh di bawahnya. Yang ada di benaknya hanyalah cara untuk memiliki Eris sepenuhnya.


Tidak peduli terhadap siapa yang akan dia lawan nanti. Count Arnis berpikir kalau Eris hanyalah seorang pelayan kecil dari rakyat biasa sehingga Kaisar takkan pernah mempermasalahkan apabila Eris jatuh ke tangannya. Namun, dia salah besar, saat ini Count Arnis tengah berada di ujung jurang kematian karena Xaveryn sedang di jalan menuju kediamannya.


"Tidak ada satu pun wanita yang boleh menolak lamaranku. Sekarang kau sudah berada di kediamanku, jadi mulai hari ini kau telah menjadi milikku seutuhnya."


"Tidak! Saya bukan milik Anda, Tuan. Apabila pihak istana tahu perbuatan Anda ini, saya yakin mereka takkan membiarkannya begitu saja."


"Hahaha." Count Arnis tertawa kencang, dia tidak percaya kalau Eris begitu mempercayai pihak istana. "Apa yang sedang kau harapkan? Apa mungkin kau berpikir Kaisar akan memihakmu dan membuang bangsawan sepertiku? Aku sudah banyak membantu pembangunan kekaisaran ini, jadi tidak mungkin Kaisar akan memihak pelayan rendahan sepertimu."


Eris tersentak sadar, tidak ada yang salah dari apa yang dikatakan Count Arnis. Membela seorang pelayan sepertinya tidak ada untungnya bagi pihak istana. Sebaliknya, justru Count Arnis berada di posisi aman karena kekayaan Count Arnis sangat membantu Kekaisaran Graziella memajukan ekonominya.


Harapan Eris pupus seketika, ia mengkhawatirkan keluarganya yang mungkin saja akan mengamuk melawan Count Arnis. Akan tetapi, mereka tidak punya kekuasaan besar untuk memberi pelajaran kepada Count Arnis.


"Tetapi, tetap saja Anda tidak bisa seenaknya pada saya. Meskipun saya hanyalah seorang pelayan rendahan, saya juga manusia sama seperti Anda. Jadi, jangan pernah—"


PLAK!


Count Arnis mendaratkan sebuah tamparan ke pipi Eris hingga menyebabkan gadis itu terhempas ke permukaan tempat tidur. Tubuh kecilnya tidak bisa menahan daya kekuatan dari tamparan Count Arnis. Pipinya langsung memerah sempurna, ia tak punya kuasa melawan Count Arnis yang kian bertindak sesuka hatinya.


"Beraninya kau menyamakan dirimu denganku! Aku memang manusia tapi derajatku jauh berada di atasmu. Jangan hanya karena kau pelayan pribadi Tuan Putri, kau jadi bisa bersikap kurang ajar padaku!" murka Count Arnis.


'Sakit sekali ... Apakah hidupku akan berakhir di sini? Aku tidak mau menjadi istri pria ini. Lebih baik aku mati saja daripada harus hidup dengan pria yang menjijikkan. Walau sebenarnya aku masih ingin hidup dan berada di sisi Tuan Putri Xaveryn selamanya,' batin Eris dengan mata mulai berkaca-kaca.


Eris masih menempatkan secercah harapan agar diselamatkan oleh Xaveryn atau pun pihak istana. Namun, harapannya sirna sesaat dirinya kembali sadar bahwa posisinya hanyalah seorang pelayan biasa yang tidak punya kekuatan dan kekuasaan lebih.


"Sekarang lebih baik kau pasrahkan saja dirimu padaku. Aku janji akan membuat hidupmu lebih bersinar. Kau aman bersamaku, seumur hidup kau takkan pernah kekurangan harta sedikit pun."

__ADS_1


Count Arnis mulai menaiki tempat tidur, ia mengelus lembut pipi Eris. Paras gadis itu sungguh membuatnya terbuai seketika dalam bayangan pikiran yang tidak ada habisnya.


"Kau sangat manis, aku pastikan kau puas malam in—"


Eris tidak menyerah begitu saja, ia memberontak dan mendorong jauh tubuh Count Arnis.


"Jangan sentuh aku! Kau menjijikkan!" hardik Eris berlari turun dari ranjang.


"Kurang ajar kau, jal*ng!"


Count Arnis mengejar Eris, tepat menjelang Eris berhasil mencapai pintu ke luar, Count Arnis sudah lebih dulu menangkap pergelangan tangannya dan menyebabkan Eris kehilangan kontrol gerak tubuhnya sendiri.


"Lepaskan! Lepaskan aku! Aku tidak sudi menjadi istrimu!" teriak Eris meronta terus menerus.


Pada akhirnya karena Eris sulit diatur, Count Arnis pun melayangkan tamparan sekali lagi ke pipi kiri Eris. Dia naik pitam akibat sikap Eris yang dianggap terlalu angkuh padanya.


Count Arnis melempar tubuh Eris secara kasar ke atas kasur. Eris tampak kesakitan luar biasa, pergelangan tangannya serasa remuk akibat cengkraman tangan Count Arnis. Kala itu Eris menemukan jalan buntu. Tidak ada jalan lain selain memasrahkan diri pada Count Arnis.


'Maafkan aku, Ayah, Kakak. Sepertinya aku akan mati hari ini.'


Eris mulai menitikkan air mata, saat Count Arnis hendak menyergap tubuh Eris. Tiba-tiba saja dari arah luar kamar, terdengar suara gaduh para kesatria. Selain itu, terdengar suara benturan pedang yang saling berbentrokan satu sama lain.


BRAK!


Pintu kamar Count Arnis yang terkunci rapat mendadak terbuka lebar dan gagang pintunya rusak. Count Arnis sontak menoleh ke arah pintu, betapa terkejutnya ia menemukan Dain dan Lian berada di ambang pintu.


"Count Arnis! Kau sudah menculik putriku, sekarang nyawamu berada di ambang kematian."

__ADS_1


Eris seolah melihat cahaya baru untuk melanjutkan hidupnya. Sang Ayah dan Kakak datang menyelamatkannya dari terkaman hasrat Count Arnis yang menggebu-gebu.


"Ayah! Kakak!" seru Eris.


"Eris, tenang saja, Kakak dan Ayah akan segera menyelamatkanmu," ucap Lian menenangkan Eris.


"Kenapa kalian bisa masuk ke kediamanku?! Apa kalian sudah bosan hidup sampai mengusik seorang bangsawan sepertiku?!" bentak Count Arnis tidak merasa bersalah.


"Persetan dengan status kebangsawananmu. Sekarang kembalikan putriku!" Dain menodongkan ujung pedangnya pada Count Arnis. Tetapi, bukannya takut, Count Arnis justru malah semakin berani.


"Aku tidak akan mengembalikan putri kalian. Silakan coba bunuh aku, bila kalian melakukannya maka Kaisar akan membunuh kalian."


Begitulah yang dikatakan Count Arnis, ia merasa posisinya sebagai bangsawan dapat menyelamatkan hidupnya.


"Kau yang akan dibunuh oleh Kaisar."


Xaveryn muncul dari balik punggung Lian, betapa kagetnya Count Arnis mendapati Xaveryn berasa di depan sorot matanya kini. Sontak pria tua bangka itu langsung menunduk mengucap salam pada Xaveryn.


"Apa yang membawa Anda kemari, Yang Mulia? Mungkinkah Anda ingin menghukum para bajing*n yang telah mengacau di kediaman saya? Mereka memang sangat lancang, padahal saya hanya membawa satu pelayan rendahan saja."


Count Arnis terlihat percaya diri sekali, ia tidak mendengar kata-kata Xaveryn sebelumnya.


"Count Arnis, kau sepertinya sangat yakin aku akan berpihak padamu," ujar Xaveryn bernada dingin.


"Apa maksud Anda, Yang Mulia? Memang sudah seharusnya begit—"


"Aku kemari ingin membawa pulang pelayan pribadiku dan bahkan aku adalah orang yang memimpin penyerangan ke kediamanmu."

__ADS_1


__ADS_2