
Xaveryn berpikir sangat serius, dia sudah berdiam diri di meja belajar dan membuang puluhan kertas demi mencoba membuat blueprint yang dimaksud Duke Egenbert. Namun, berapa kali pun dia mencobanya tetap saja dia gagal sebab tangannya kecil dan pergerakan tangannya menjadi terbatas. Xaveryn berpikir lagi cara yang lebih mudah untuk menciptakan blueprint yang sempurna. Namun, dia tidak menemukan cara apa pun, dia hampir stres memikirkannya sedari tadi.
"Aku ingat bentuk blueprintnya tapi ketika aku menggambarnya malah jadi berantakan. Sepertinya aku harus mencari seseorang yang pandai menggambar, tapi siapa orangnya? Apakah di antara pelayanku ada yang bisa menggambar?" gumam Xaveryn.
Kemudian Xaveryn turun dari kursi meja belajar, rasanya sungguh sulit sekali menggambar blueprint yang rumit. Xaveryn berharap ada seseorang yang mungkin saja bisa membantunya menggambar.
"Yang Mulia, apa yang membuat Anda berpikir begitu keras? Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiran Anda?" tanya Eris tiba-tiba masuk.
"Eris, apa kau pandai menggambar?" tanya Xaveryn balik tanpa merespon pertanyaan Eris barusan.
Eris dengan muka sumringah langsung mendekati Xaveryn.
"Akhirnya Anda butuh saya juga, apakah saya perlu menggambar sesuatu untuk Anda?" Eris berpikir bahwa Xaveryn sedang menggambar sesuatu yang lucu.
"Coba sekarang kau gambar." Xaveryn langsung memerintahkan Eris untuk mencoba menggambar di sebuah kertas.
"Baiklah, saya akan menunjukkan kemampuan bergambar saya kepada Anda."
Dengan semangat yang membara, Eris menorehkan gambarnya di permukaan kertas. Setelah selesai, Eris langsung menunjukkan hasil gambarnya kepada Xaveryn. Raut muka Xaveryn terlihat tidak baik, dia pun menepuk kepalanya karena telah berharap banyak terhadap Eris.
"Eris, kau bilang kau bisa menggambar, tapi gambar apa ini? Apakah kau sedang menggambar jerapah?"
Eris tertawa kecil. "Ini bukan jerapah, tapi ini kuda, Yang Mulia," jawab Eris.
Sekali lagi Xaveryn menepuk kepalanya, dari sisi mana pun dia melihatnya, tetap saja itu bukan gambar kuda melainkan jerapah. Kemampuan menggambar Eris sangat buruk sekali. Padahal tadi Xaveryn berharap Eris dapat membantunya untuk menggambar.
"Aku butuh seseorang untuk menggambar, apa kau punya rekomendasi atau kau punya teman yang pandai menggambar? Aku sangat butuh."
__ADS_1
Eris berpikir sejenak, dia mengingat kembali apakah ada temannya yang pandai menggambar atau tidak, tapi dia tidak menemukan jawabannya.
"Saya tidak tahu, Yang Mulia, tapi saran saya coba Anda kumpulkan para pelayan. Baik itu pelayan yang berasal dari istana maupun dari suku bintang biru. Mungkin saja Anda menemukan seseorang yang lebih cocok," saran Eris.
"Kau benar juga, sekarang kau panggil mereka kemari."
Eris bergegas keluar dari kamar, dia memanggil seluruh pelayan menghadap pada Xaveryn. Mereka tampak kebingungan saat Xaveryn memanggil mereka secara mendadak.
"Apakah ada di antara kalian yang pandai menggambar? Aku butuh seseorang untuk membantuku menggambar blueprint."
Mereka saling bertukar pandang, tidak ada dari mereka yang pandai menggambar. Namun, rupanya salah, ada salah satu pelayan yang mengacungkan tangannya. Pelayan wanita itu merupakan wanita suku bintang biru yang pertama kali dilihat Xaveryn di pelelangan. Wanita itu juga yang berbicara menggunakan telepati dengannya.
"Saya bisa, Yang Mulia," ucapnya.
"Benarkah? Siapa namamu?"
Melihat dari ekspresinya, Serena terlihat tidak sedang berbohong. Xaveryn mengisyaratkan pada Eris untuk membawakan kertas dan pensil.
"Selain Serena, kalian boleh keluar dan melanjutkan kembali pekerjaan kalian."
Para pelayan pun bubar, mereka meninggalkan Serena di dalam bersama Xaveryn dan Eris. Xaveryn memberikan selembar kertas serta pensil kepada Serena.
"Serena, tolong gambarkan sesuatu yang seperti ini, aku akan tunjukkan padamu blueprint yang seperti apa maksudku."
Serena pun dipersilakan duduk oleh Xaveryn di meja belajarnya. Xaveryn memberi instruksi gambar kereta api yang tidak pernah dilihat Serena sebelumnya. Dalam sekejap Serena berhasil melakukannya, dia berhasil menggambar blueprint yang diinginkan Xaveryn.
"Luar biasa! Ini yang aku maksud sebelumnya! Wah, Serena gambarmu bagus sekali," kata Xaveryn menyelipkan sedikit sanjungan terhadap hasil gambar Serena.
__ADS_1
"Saya hanya kebetulan melakukannya, Yang Mulia, saya harap Anda menyukainya," tutur Serena.
Xaveryn menatap Serena penuh kagum, dia mendapatkan sesuatu yang berharga. Kemudian Xaveryn pun menaruh blueprintnya di atas meja, dia punya ide bagus untuk Serena.
"Serena, bagaimana kalau mulai sekarang kau bekerja sebagai asisten bisnisku? Gambarmu bagus dan aku butuh seseorang dengan kemampuan menggambar."
Xaveryn secara mendadak menawarkan Serena pekerjaan baru sebagai asisten bisnis Xaveryn. Sejujurnya, Serena sangat terkejut oleh penawaran dari Xaveryn.
"Tapi, bolehkah saya bertanya terlebih dahulu? Sebenarnya blueprint apa yang baru saja saya buat? Saya tidak pernah melihat ada blueprint yang seperti demikian."
"Ini adalah blueprint kereta api yaitu kendaraan baru yang didesain untuk mempermudah manusia pergi ke mana pun itu. Dengan kata lain, blueprint inilah yang akan membawa kita ke peradaban yang lebih maju. Oleh sebab itu, aku butuh seseorang yang memiliki kemampuan menggambar. Tidak cuma satu blueprint saja yang akan dibuat, tapi ada blueprint yang lainnya," jelas Xaveryn.
Serena melihat sebuah bayangan baru tentang masa depan di ekspresi Xaveryn. Entah kenapa firasat Serena mengatakan bahwa tidak ada ruginya bila dia mengikuti Xaveryn. Justru dengan mengikuti Xaveryn dia bisa menemukan ladang untuk menaburkan bakat menggambarnya supaya bisa lebih dikenal orang banyak.
"Baiklah, saya akan menjadi asisten bisnis Anda, Yang Mulia," jawab Serena memutuskan menjadi asisten bisnis Xaveryn.
Sesudah itu, Serena dan Xaveryn sibuk membuat blueprint kereta api dan kapal selam. Mereka sangat serius, mereka juga mengesampingkan hal lain sampai blueprintnya selesai dikerjakan. Hingga satu minggu kemudian, mereka berhasil menyelesaikannya, kini adalah hari di mana Xaveryn berjanji akan menemui Duke Egenbert kembali.
Pada hari itu, Duke Egenbert datang sendirian tanpa ditemani sang istri. Dia tampak antusias menunggu hasil dari blueprint yang dikerjakan Xaveryn.
"Silakan Anda lihat terlebih dahulu, Duke, ini adalah blueprint kereta api dan kapal selam yang saya maksudkan."
"Biar saya lihat sebentar."
Duke Egenbert mengamati baik-baik blueprint tersebut, dia terpukau sesaat membayangkan bentuk kereta api dan kapal selam yang menjadi ide Xaveryn. Duke Egenbert tidak berhenti berdecak kagum, dia tidak menyangka ada kendaraan yang bisa digunakan untuk menampung banyak orang sekaligus membawa banyak beban.
"Yang Mulia, apakah Anda yakin ini ide dari Anda sendiri?" Duke Egenbert masih sulit mempercayainya bahkan kedua tangannya gemetar hebat seusai melihat blueprint dari Xaveryn.
__ADS_1
"Itu benar, Duke, saya ingin bisnis kereta api dan kapal selam ini segera dimulai. Saya yakin dengan bisnis ini maka akan menjadikan Kekaisaran Graziella semakin dipandang dunia luar. Lalu bisnis lainnya yang saya sebutkan sebelumnya akan menjadi ladang mata pencaharian rakyat. Bagaimana? Apakah Anda menyukainya?"