
Secara mengejutkan, Xaveryn melemparkan gelas kaca ke dinding yang tepat berada di belakang Eliza. Alangkah tersentaknya Eliza kala itu, tatapan Xaveryn diliputi aura membunuh. Sontak Eliza melangkah mundur ke belakang karena tidak sanggup menatap balik kedua mata Xaveryn.
Seumur hidup, Xaveryn paling benci dianggap sebagai pembunuh sang Ibu, dia lahir bukan karena kehendaknya dan juga bukan karena keserakahannya terhadap hidup. Apabila dia disuruh memilih, maka dia akan memilih menyelamatkan nyawa sang Ibu. Namun, apa daya, segalanya berjalan tidak sesuai keinginannya.
Kemudian hari ini, lebih tepatnya menit ini, Eliza secara lancang dan lantang mengatakan dengan jelas bahwa Xaveryn merupakan pembunuh sang Permaisuri. Tidak sedikit orang yang menganggap demikian, hanya saja tidak ada orang yang berani berkata di hadapannya selain Eliza seorang.
“Pembunuh? Kau mengatakan aku sebagai pembunuh Ibuku? Apa kau cari mati?! Anak seorang pengkhianat kekaisaran tidak pantas menghinaku sebagai pembunuh Permaisuri!”
Para pelayan pribadi Xaveryn bergegas masuk ke dalam kamar setelah mendengar suara pecahan gelas. Mereka khawatir sesuatu yang buruk menimpa Xaveryn, tapi ketika mereka masuk, yang mereka temukan ialah Xaveryn yang sedang mengamuk di hadapan Eliza.
“Yang Mulia, harap jaga sikap Anda. Namun, yang saya katakan itu tidaklah sepenuhnya salah, jika Anda tidak lahir maka Permaisuri masih hidup sampai sekarang.”
Eliza berupaya bersikap tenang menanggapi amukan Xaveryn, dia menjaga wibawanya di hadapan para pelayan. Akan tetapi, Xaveryn tidak membiarkannya begitu saja, sekarang dia mencengkram pergelangan tangan Eliza lalu mendorongnya ke lantai.
“Eliza, aku rasa kau sudah melewati batas. Aku bukanlah Tuan Putri yang anggun dan lembut, bukan Tuan Putri yang gila popularitas. Oleh sebab itulah, aku tidak peduli terhadap rumor yang beredar soal diriku. Akan tetapi, jika rumor itu bersangkutan dengan Ibuku, aku tidak akan mengampuninya,” tekan Xaveryn.
Eliza beringsut mundur ke belakang, Xaveryn tidak sanggup menampung beban emosi yang dia rasakan. Para pelayan hanya diam menjadi penonton, bagi mereka menghina Xaveryn sama saja dengan menggali lubang kubur sendiri. Mereka juga mendukung Xaveryn jika ingin menghabisi Eliza.
“Apa yang akan kau lakukan kepadaku? Kau akan menyulut api kemarahan para bangsawan bila kau membunuhku,” ucap Eliza.
“Kau berisik!” Xaveryn menjambak rambut Eliza lalu menyeret gadis itu ke luar kamar. Dia menyentakkan tubuh Eliza ke permukaan lantai.
“Silakan keluar kau dari sini! Jangan pernah datang lagi karena aku sangat membencimu!”
__ADS_1
Xaveryn mengusir Eliza secara tidak hormat, gadis itu pun akhirnya pergi membawa rasa yang amat malu sekaligus ketakutan di hatinya. Sepanjang jalan, tiada henti Eliza menggerutu mengutuk Xaveryn. Dia menyalahkan Xaveryn atas apa yang telah dia alami.
Annita, Eris, dan Serena segera mendekati Xaveryn. Mereka terlihat geram dengan sikap Eliza. Untungnya Xaveryn mengusirnya cepat dari istana ini sebelum akhirnya nanti mereka yang turun tangan mengusir Eliza.
"Seharusnya tadi Anda tampar saja dia. Jangan biarkan dia kabur dari sini," geram Eris.
"Benar itu, Yang Mulia. Saya saja tidak tahan mendengar dia berceloteh menyalahkan Anda atas kematian Permaisuri," timpal Serena.
Xaveryn menghela napas panjang. "Biarkan saja dia, aku mau istirahat. Menghadapi si jal*ng itu menguras banyak emosiku."
Xaveryn beranjak kembali ke atas tempat tidur, sungguh menyebalkan berurusan dengan gadis seperti Eliza. Pada pelayan pun membiarkan Xaveryn sendirian di kamarnya melepas emosi yang dirasakan.
Hingga tengah malam menjelang, Xaveryn diam-diam menyelinap ke luar kamar dan pergi menuju perpustakaan sihir. Xaveryn bermaksud mencari tahu mengenai alasan kenapa dia selalu kembali ke masa lalu.
"Aku harus mencari petunjuk di tempat ini sampai dapat."
Tiba-tiba dari dalam laci meja, muncul cahaya menyilaukan. Bergegas Xaveryn menghampiri meja tersebut untuk memeriksa apa yang tersimpan di sana.
Setelah membuka laci meja itu, Xaveryn menemukan ada sebuah buku tua bersampur coklat. Buku itu juga diselimuti oleh sihir pelindung sehingga membuat Xaveryn kian penasaran.
"Huh? Buku apa ini?"
Rasa penasaran mendorong Xaveryn untuk segera membuka dan mengintip isi buku tersebut. Dia membukanya pelan-pelan sebab ia merasa bahwa buku itu telah telah berusia lebih dari puluhan tahun.
__ADS_1
Xaveryn membalik isi halamannya, dia menemukan rangkaian kata tulisan yang berisi sebuah pernyataan yang mengejutkan.
"Rosaria dan Malverick? Bukankah ini nama dari Kaisar dan Permaisuri pertama? Mereka juga pendiri Graziella. Mungkinkah buku ini ditulis oleh mereka?"
Xaveryn membaca tulisan yang tertoreh di kertas buku itu. Sepersekian detik berselang, mimik muka Xaveryn berubah drastis. Kedua matanya tak mengerjap, bibirnya kaku, dan irama jantungnya perlahan berdetak tak beraturan.
"Jauh di masa depan nanti, akan lahir keturunan kami berambut keemasan dan mata hazel nan bersinar. Dia lahir atas hukuman dewi cahaya, hukuman akibat keegoisan kami sendiri. Dunianya akan berputar dan terus berputar pada penderitaan."
"Apabila engkau menemukan tulisan ini, bisakah kau memaafkan leluhurmu yang telah mengorbankanmu atas kesalahan kami yang saling mencintai? Jika kau membaca tulisan ini, maka itu artinya kau sedang menjalani hukumannya."
Kedua tangan Xaveryn gemetar, kedua matanya memanas membaca satu persatu tulisan yang membekas di kertas putih.
"Dewi cahaya menghukum kami karena Rosaria telah melanggar sumpah. Dahulunya Rosaria merupakan pelayan dewi yang paling disayangi. Rosaria bersumpah untuk tidak jatuh cinta selama menjadi pelayan dewi cahaya. Namun, dia melanggar sumpah itu dan menyebabkan kemarahan sang dewi."
"Dewi cahaya menghukum salah satu keturunan kami. Dia mendatangkan penderitaan dan tidak memberi kesempatan keturunan kami untuk bahagia. Dewi cahaya maha pengatur waktu, dia bisa memutar waktu semaunya. Jika kau menderita di kehidupan pertamamu lalu menemukan dirimu di kehidupan keduamu, maka mungkin itu perbuatan dewi cahaya. Hukuman yang harusnya diarahkan kepada kami tapi malah engkau yang menerimanya."
"Tolong maafkan kami, maafkan keegoisan kami, maaf karena telah membuat hidup yang kau jalani berubah suram. Tetapi, kami telah mengirim Roxilius padamu, kami mengirim sedikit kekuatan kami untukmu. Semoga hukuman ini lekas berakhir. Semoga kau lekas menemukan kebahagiaanmu, wahai keturunanku."
Tubuh Xaveryn meluruh lemas ke atas lantai, rasanya sungguh hancur begitu membaca tulisan-tulisan yang ditorehkan leluhurnya pada satu buku berselimut sihir. Xaveryn didera rasa pedih yang luar biasa hingga membuatnya tak sanggup mengekspresikan perasaannya.
Perasaan Xaveryn berkecamuk, ia takut dan semakin tenggelam ke dasar perasaan yang tak berujung.
"Apakah kalian bercanda?!" Xaveryn berteriak seraya menghempaskan buku di tangannya.
__ADS_1
Xaveryn menyandarkan tubuhnya, ia mengacak-acak rambutnya. Rasa frustrasi menghampirinya sesaat. Dia sekarang tidak sanggup mencerna hal yang kini tengah ia dapati. Sebuah fakta mengejutkan yang mungkin mendatangkan perasaan tertekan dalam jangka panjang.
"Kenapa harus aku yang menjalani hukuman? Kenapa aku harus menuai dari apa yang tidak pernah aku lakukan? Apa salahku?! Kenapa kau menghukumku, dewi?! Aku tidak pernah ingin dilahirkan, tapi mengapa? Mengapa aku harus menanggung beban ini? Mengapa, dewi?"