
Xaveryn berbicara dengan begitu lantang, para bangsawan tertegun mendengar nada suara Xaveryn yang terus menaik. Gadis itu tampak sangat emosi, Jonathan tidak menghentikannya karena dia berpikir bahwa putrinya dapat mengatasi masalah tersebut dengan baik.
"Apa yang Anda katakan, Yang Mulia?" Mereka mulai tidak enak hati, Xaveryn terlalu mengintimidasi mereka.
"Apa kalian tuli?! Aku bilang kalian saja yang mengadopsinya! Jangan suruh Ayahku mengurus anak dari seorang pemberontak! Ibu dan Kakakku nyaris mati karena ulah orang tuanya. Jangan kalian pikir aku tidak tahu perihal insiden pemberontakan yang dipimpin oleh Ayahnya."
"Meski begitu, Nona Eliza tidaklah salah, beliau tetaplah seorang anak kecil yang berusia tujuh tahun. Tidak bisakah Anda melihat warna matanya? Sama seperti Anda, mata beliau juga berwarna hazel. Mau tidak mau Anda harus menerima Nona Eliza tinggal di istana ini."
Para bangsawan itu sengaja mengajak Xaveryn berdebat. Mereka masih belum menyerah membawa Eliza masuk ke dalam istana. Meski begitu, Xaveryn tidak menyerah untuk memperjuangkan Eliza supaya tidak diadopsi menjadi Tuan Putri.
"Memangnya kenapa dengan mata hazel? Kenapa kalian selalu saja membahas mata hazel? Lagi pula ada banyak panti asuhan yang berada di bawah pengawasan Kaisar. Lalu mengapa dia harus dibawa kemari? Kalian ini sedang merencanakan sesuatu, ya?"
Mereka serentak terperanjat kaget karena Xaveryn memandang mereka penuh kecurigaan. Tiada sangka jika seorang anak kecil bisa membuat mereka kewalahan menghadapinya. Xaveryn tidak mau kalah dan mereka juga lebih tidak mau kalah.
"A-Apa? Anda menuduh kami merencanakan sesuatu? Bagaimana Anda bisa menuding kami melakukan sesuatu yang tidak pernah kami lakukan?!"
Tanpa sengaja suaranya meninggi, Xaveryn mulai muak melawan mereka yang tidak ada habisnya. Gadis itu telah mengetahui rencana mereka yang ingin menggunakan Eliza untuk menggulingkan kekuasaan sang Ayah. Akan tetapi, karena Xaveryn telah mengetahuinya dengan baik, maka mereka tidak punya kesempatan untuk melakukan rencana mereka.
"Meninggikan suara kepada keluarga kekaisaran merupakan tindakan penghinaan! Apa hak seorang bangsawan memaksa Kaisar untuk mengadopsi anak lain? Kaisar telah memiliki empat anak, di antaranya ada calon pewaris. Jadi, kenapa Kaisar harus mengadopsi anak lagi?! Kalian saja yang mengurusi dia, aku tidak sudi menambah saudara lagi!"
__ADS_1
Xaveryn sungguh mengerikan, dia membuat para bangsawan itu tidak berkutik. Eliza yang sedari tadi bersembunyi di balik badan bangsawan itu hanya bisa menggerutu dalam hati. Eliza sangat membenci Xaveryn, bahkan dia mengutuk Xaveryn supaya cepat mati. Tetapi, Xaveryn menyadari itu, ia tidak akan tertipu lagi oleh Eliza.
'Seharusnya tempat itu milikku, tapi dia malah sangat tidak tahu diri dan menolak keberadaanku di sini. Aku punya hak di istana ini, jika bukan karena Ayahnya mungkin sekarang aku tumbuh di istana,' gumam Eliza dalam hati.
Meski sudah diteriaki oleh Xaveryn, mereka tak kunjung pergi meninggalkan ruangan Jonathan. Mereka menanggapi Xaveryn dengan tidak serius, bagi mereka perintah Jonathan lah yang mutlak mereka turuti.
"Kami tidak bermaksud meninggikan suara apalagi menghina Anda. Pendapatan istana itu sangat tinggi, tidak ada salahnya menambah satu orang anggota lagi. Istana tidak akan bangkrut menghidupi Nona Eli—"
"Nilai apa yang dia miliki sampai harus masuk ke istana menjadi bagian dari anggota kekaisaran?" tanya Xaveryn memotong cepat perkataan bangsawan yang melawan ucapannya.
"Apa?"
Para bangsawan itu merasa tertohok oleh perkataan Xaveryn. Jonathan hanya berperan sebagai penonton di sana. Tidak peduli apa yang akan dilakukan putrinya, dia senantiasa akan membela Xaveryn nantinya. Senyuman Xaveryn terkesan merendahkan Eliza dan meremehkan pola pikir para bangsawan yang sangat bodoh menurutnya.
"Jangan kalian pikir istana akan menampungnya secara gratis! Apabila tidak ada kemampuannya sebagai seorang Tuan Putri, maka percuma saja. Istana tidak mendapatkan untung dan malah mendapatkan rugi membesarkan seseorang tidak berguna," lanjut Xaveryn berucap.
Jonathan tersenyum bangga, Xaveryn berada jauh di atas ekspektasinya. Kemampuan berbicara Xaveryn dinilai sempurna, gadis itu berhasil membuat para bangsawan merasa tidak berguna karena kalah dari anak kecil.
"Kalian dengar itu? Apa yang dikatakan putriku memang benar. Tinggal di istana tidaklah gratis, para pelayan dan kesatria menggunakan tenaga mereka untuk bekerja demi bisa menetap di istana. Para Pangeran punya kemampuan masing-masing, begitu pula dengan Xaveryn. Intinya, tidak ada yang gratis di istana ini, seharusnya kalian bisa memikirkan itu sebelum membawa anak ini ke istana," sela Jonathan.
__ADS_1
Xaveryn melipat kedua tangannya di dada, dia melayangkan senyum penuh kemenangan pada Eliza. Sekarang para bangsawan sungguh tidak punya alasan lagi agar Eliza bisa tinggal di istana.
"Tunggu apa lagi kalian? Cepat angkat kaki sekarang juga dari ruangan ini! Jangan pernah meminta Ayahku untuk mengadopsi anak dari seorang pemberontak! Apabila kalian datang lagi ke istana membawa alasan yang sama, maka aku sendiri yang akan membunuh kalian," gertak Xaveryn sekaligus mengusir mereka.
Mereka tersentak, ancaman Xaveryn bukan sekedar gertakan biasa. Mereka pun tergagap dan langsung berlalu pergi dari ruangan Jonathan. Mereka tidak mau berurusan lagi dengan Xaveryn sebab menurut mereka Xaveryn lebih jauh menyusahkan dibanding Jonathan.
"Akhirnya pergi juga mereka, dasar bangsawan tak beradab! Lain kali jika mereka bersikap tidak sopan lagi, aku akan potong lidah mereka," gerutu Xaveryn.
Tanpa dia sadari, rupanya Jonathan mendengar gerutuannya. Jonathan langsung menggendongnya, dia merasakan kebanggaan luar biasa kepada Xaveryn.
"Putriku akan memotong lidah mereka? Itu hukuman yang sangat ringan. Kau harus menebas kepalanya dan melempar mayatnya ke tengah hutan untuk dijadikan sebagai makanan burung gagak," ujar Jonathan.
"Apakah aku sungguh boleh melakukannya? Apa Ayah tidak akan melarangku bersikap kejam?"
Jonathan lantas menggeleng. "Untuk apa Ayah harus melarangmu? Kau bebas melakukan apa saja asalkan tidak merugikan orang yang tidak bersalah. Apabila suatu saat nanti ada seseorang yang bersikap kurang ajar, kau boleh langsung menghukum mereka di tempat. Tidak perlu kau bawa ke istana untuk diadili."
Seketika Xaveryn tersenyum lebar, inilah yang dia inginkan. Kebebasan membunuh serta bersikap kejam seperti yang dilakukan Ayah dan saudaranya selama ini. Xaveryn jadi semakin percaya diri menghadapi kehidupan ke tujuh belas ini ke depannya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menjadi anak dengan citra yang sama seperti Ayah dan Kakak karena di dunia ini terlalu banyak manusia jahat yang harus dimusnahkan."
__ADS_1