
Sedikit kaget, Xaveryn sebenarnya juga ingin sang Ayah segera mengungkapkannya ke dunia luar. Semakin namanya dikenal masyarakat, semakin kecil resiko dilupakan. Tidak seperti kehidupan lalu, dia hanya berdiam diri di balik menara tanpa ada interaksi dengan masyarakat luas. Xaveryn tidak ingin mengulangi hal itu kembali sehingga dia memutuskan untuk dikenal oleh rakyat lebih awal.
"Kapan Ayah akan mengadakannya?" tanya Xaveryn.
"Sekitar dua minggu lagi, bagaimana? Apa kau keberatan diperkenalkan secara resmi sebagai anggota keluarga kekaisaran? Hal ini bertujuan demi menghindari rumor negatif yang terus beredar di masyarakat."
"Baiklah, Ayah, aku hanya menurut saja."
Begitulah akhir dari pembicaraan mereka, Xaveryn menyetujui apa yang dikatakan Jonathan. Gadis kecil itu sebentar lagi akan diperkenalkan secara resmi kepada seluruh orang. Maka dari itu, para pelayan mulai menyibukkan diri mempersiapkan sesempurna mungkin perjamuan tersebut.
Kemudian Jonathan memanggil perancang busana ternama membuatkan gaun untuk Xaveryn. Bahkan kabar pengenalan Xaveryn pun langsung beredar ke telinga semua orang terutama para bangsawan. Mereka sangat menantikan momen kemunculan Xaveryn nantinya.
"Semua warna cocok untuk Tuan Putri dan juga modelnya bagus semua. Jadi bingung harus pilih yang warna apa dan model yang seperti apa."
Annita, Serena, dan Eris bingung menentukan model gaun yang akan dikenakan Xaveryn nantinya.
"Apa yang membuat kalian bingung? Kalau begitu borong saja semuanya. Lagi pula Ayah tidak akan keberatan mengeluarkan uang demi Xaveryn," celetuk Alvaro datang dari luar.
Xaveryn tersenyum ceria ketika Alvaro dan Riley datang menemuinya. Langkah mungilnya berlarian mendekati kedua Kakaknya.
"Kakak! Apa yang Kakak lakukan di sini? Bukankah kalian berdua sedang sibuk?"
Riley menggendong Xaveryn, di sini Xaveryn merasa kalau tubuhnya tidak mengalami pertumbuhan. Berbeda dengan ketiga saudara laki-lakinya yang tumbuh tinggi begitu cepat.
"Aku tadi memang sibuk, tapi sekarang sedang senggang. Kami berdua kemari ingin melihatmu, kata Ayah istana akan mengadakan perjamuan untuk memperkenalkanmu secara resmi sebagai anggota keluarga kekaisaran," jawab Riley menjelaskan.
"Iya, itu benar, aku akan diperkenalkan secara resmi oleh Ayah. Bukankah itu menakjubkan? Aku bisa dikenal banyak orang," ucap Xaveryn antusias.
__ADS_1
"Itu memang sangat menakjubkan, makanya Adikku harus tampil sempurna. Sekarang borong saja semua jenis gaunnya, tidak ada yang perlu dibingungkan lagi," tutur Alvaro.
Annita, Serena, dan Eris mengiyakan apa yang dikatakan Alvaro. Mereka memborong seluruh jenis gaun dan jenis warnanya untuk Xaveryn. Kemudian mereka juga telah menentukan satu gaun yang akan dikenakan pada saat acara dilaksanakan.
Selepas memilih gaun, Xaveryn beranjak pergi ke luar kamar. Gadis kecil itu berkeliling sejenak menyegarkan otaknya. Dia juga melihat dari kejauhan ada Felician yang sedang berlatih pedang di lapangan bersama sejumlah kesatria. Hingga saat ini Felician belum menunjukkan tanda dirinya akan membuka suara.
Tatkala Xaveryn berencana berbalik ke kamarnya lagi, dia tidak sengaja bertubrukan dengan seorang pria dan membuatnya jatuh ke atas lantai.
"Aduh!" Xaveryn sontak terkejut, dia langsung berdiri kembali dari posisi jatuhnya. "Siapa yang menabrakku?"
Xaveryn menengadahkan kepalanya ke atas, dia melihat seorang pria yang mirip dengan Dain. Hanya saja pria itu terlihat jauh lebih muda daripada Dain.
"Ya ampun, Yang Mulia, jangan berjalan terlalu cepat," seru Annita dan Eris.
Annita dan Eris membeku kaget melihat pria tersebut, mereka saling bertatapan satu sama lain.
Lian adalah Adik kandung Annita atau Kakak dari Eris. Lian ditugaskan selama satu tahun ini di wilayah perbatasan untuk membasmi binatang buas. Jadi, tidak heran kalau Xaveryn tidak begitu mengenal Lian. Ditambah lagi di kehidupan pertamanya Lian mati dalam usia muda sehingga tidak ada kesempatan baginya bertemu Lian.
"Maafkan aku, Kak, aku berencana untuk mengabarimu tapi aku tersesat sampai ke istana ini," jawab Lian.
Xaveryn masih mendongakkan kepalanya menatap Lian. Lalu pria itu menatapnya balik, mereka saling bertemu pandang.
"Siapa anak kecil ini? Kenapa di istana ada anak kec—"
"Jaga sopan santunmu di hadapan Tuan Putri!" sergah Annita memarahi Lian.
"Hah? Tuan Putri?" Lian mengamati Xaveryn, dia baru sadar warna mata hazel milik Xaveryn. Sontak dia langsung membungkuk memberi salam kepada Xaveryn. "Maafkan ketidaksopanan saya, Yang Mulia, saya tidak tahu sama sekali."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku tidak marah padamu. Sekarang angkat kepalamu," balas Xaveryn.
Lian mengangkat kembali kepalanya, baru pertama kali dirinya bertemu dengan Xaveryn sejak saat Ivanka meninggal.
"Hei, Lian! Kenapa kau malah berada di sini?! Ayo cepat, temui Kaisar sekarang juga!" teriak Dain memanggil Lian.
"Iya, Ayah, aku akan segera ke sana."
Lian membungkuk lagi lalu pergi bersama Dain menuju ruangan Jonathan. Sedangkan Xaveryn juga kembali ke dalam kamarnya bersama Annita dan Eris.
Pada saat malam hari, Xaveryn kesulitan memejamkan matanya. Semenjak kembali ke masa lalu, dia memang nyaris tidak pernah tidur lebih dari dua jam. Setiap kali tertidur, Xaveryn akan dihantui mimpi buruk mengenai masa lalunya. Akan tetapi, malam ini suasananya terasa sedikit berbeda. Si gadis yang tengah duduk di atas ranjang dikejutkan oleh terbukanya pintu balkon.
Angin kuat mendadak menghantam pintu sehingga Xaveryn refleks melompat turun dari tempat tidurnya. Firasatnya mengatakan akan ada sesuatu yang mengganggu Xaveryn pada malam ini. Tepat ketika Xaveryn menutup kembali pintu balkon, dia berbalik badan dan menemukan wujud seorang pria yang tampak begitu akrab baginya.
"Bagaimana kabar Anda, Tuan Putri?"
Suara pria itu masuk ke pendengaran Xaveryn, sekujur badan Xaveryn membeku dan tak bisa digerakan. Kedua manik hazelnya melotot terkejut, deruan napasnya mulai tak beraturan. Senyum pria itu sungguh menyeramkan hingga membuat Xaveryn nyaris tenggelam dalam gelombang ketakutan.
"K-kenapa kau di sini? Keluar! KELUAR DARI KAMARKU SEKARANG JUGA!" teriak Xaveryn.
"Mengapa Anda begitu ketakutan melihat saya, Tuan Putri? Apa yang Anda takutkan dari calon suami Anda?".
Xaveryn mengenal jelas pria itu, dia adalah Helbert Saverio — Kaisar dari Kekaisaran Saverio atau secara tidak langsung dia merupakan pria yang menjadi sumber penderitaan Xaveryn selama ini.
"Tidak! Kau bukan calon suamiku, aku masih berusia enam tahun. Tolong keluar dari kamarku sebelum aku berteriak. Kau sangat menakutkan, aku tidak sudi menikah denganmu."
Sekujur badan Xaveryn gemetar hebat, kepalanya kembali diselimuti bayangan kenangan buruk di masa lalu. Xaveryn tidak pernah melupakan Helbert yang selalu menyiksanya setiap waktu. Helbert seringkali melakukan kekerasan dan memaksa Xaveryn melayani hasrat bej*dnya setiap saat. Xaveryn tidak bisa melupakannya, satu detik pun dia tak kuasa melupakannya.
__ADS_1