
Keesokan paginya, kesatria penjaga penjara bawah tanah menemukan Countess Suhail dalam kondisi berlumuran darah. Mereka terkejut bukan main, padahal mereka sudah memperketat keamanan penjara tapi masih ada saja orang yang berhasil membobol masuk. Alhasil, pagi itu istana kembali disibukkan oleh penyusup yang tidak mereka ketahui. Sedangkan Xaveryn hanya berperan sebagai pendengar saja di balik dinding kamarnya.
“Apa? Penyusup itu memotong lidah Countess Suhail?” Jonathan syok mendengar laporan dari kesatria penjaga penjara bawah tanah. Siapa sangka hal ini akan terjadi di saat penjagaan istana tiga kali lebih ketat dari biasanya.
“Benar, Yang Mulia, selain itu si penyusup itu juga merusak wajah Countess Suhail. Tidak tahu apa motif tersembunyinya melukai Countess Suhail,” jawab seorang kesatria.
“Ya sudah, biarkan saja, penyusup itu melakukan sesuatu yang tepat karena aku juga berencana memotong lidah Countess Suhail yang sudah berani menghina putriku. Tidak perlu kalian cari tahu lagi soal penyusup ini dan biarkan saja Countess Suhail sampai hari eksekusi di tetapkan.”
Tidak mengejutkan lagi bagi para kesatria, penyusup itu sama kejamnya dengan Jonathan, jadi penyelidikan mengenai penyusup penjara dihentikan oleh Jonathan. Pria itu sangat senang menyaksikan Countess Suhail sengsara setelah berani merundung Xaveryn. Padahal Jonathan telah menyiapkan sederet rencana untuk menyiksa Countess Suhail, tapi sepertinya rencana itu tidak berlaku lagi.
“Apa? Ayah menghentikan penyelidikan pelaku penyusup?” Xaveryn cukup terkejut mendengar hal tersebut dari Alvaro.
“Benar, Ayah menghentikannya karena Ayah sejak awal berpikir untuk membawa Countess Suhail ke ruang penyiksaan lalu memotong lidahnya. Namun, penyusup itu lebih dulu melakukannya, jadi Ayah melepaskan penyusup yang sudah membantu meringankan pekerjaannya,” jelas Alvaro.
Xaveryn merinding mendengar soal ruang penyiksaan, itu adalah ruangan khusus yang digunakan Jonathan, Claes, Alvaro, dan Riley untuk menyiksa penjahat dengan kejahatan tingkat tinggi. Waktu kehidupan pertamanya, dia pernah tanpa sengaja tersesat di ruang penyiksaan, yang dia dengar di sana hanyalah rintihan kesakitan dari para penjahat.
“Adik, Ayah kita itu sangat kejam, tidak hanya kepada orang lain tapi kepada kami bertiga juga seperti itu. Ketika kau masih berada di menara, Ayah tidak pernah tersenyum sekali pun, Ayah juga sering menghukum kami dengan mengirim kami dalam penaklukkan wilayah. Ayah tidak segan-segan menghabisi orang yang membuatnya kesal, bahkan banyak pelayan dan kesatria yang mati di tangan Ayah,” lanjut Alvaron menjelaskan.
“Ya, itu benar, maka dari itu pekerja istana ini sangat takut berhadapan dengan Ayah, tapi situasinya berubah ketika kau tiba di istana. Ayah akan melakukan apa saja yang kau inginkan, jadi seluruh pekerja di istana bisa bekerja sedikit lebih santai sebab mereka menggantungkan hidupnya padamu. Berkat dirimu, ada banyak nyawa yang selamat, kini suasana istana jauh lebih hangat daripada yang dahulu,” imbuh Riley.
Xaveryn sangat tahu akan hal itu, Jonathan banyak berubah di kehidupannya yang ke tujuh belas ini. Tidak seperti kehidupan pertama di mana Jonathan selalu menatapnya dingin, kini dia memperoleh kehidupan yang sempurna.
“Oleh karena itulah, aku disebut sebagai takhta tertinggi di istana, benar kan, Kak?” Xaveryn tersenyum senang sumringah, itu merupakan sebuah kenyataan yang tidak bisa disangkal.
__ADS_1
“Hahaha, itu benar sekali, kau adalah takhta tertinggi di istana yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun itu.” Alvaro dan Riley tertawa, mereka berdua begitu memanjakan Xaveryn dan tidak membiarkan Adiknya terancam bahaya.
Kemudian secara tiba-tiba pintu kamar Xaveryn terbuka lebar, dari balik pintu muncul Claes dan Caerick. Claes berlari dan memeluk Xaveryn yang tengah duduk bersantai dengan Alvaro serta Riley.
“Xaveryn, bagaimana kondisimu? Aku dengar kau disiksa oleh Countess Suhail? Di bagian mana yang terluka? Katakan padaku.” Suara Claes bergetar, dia sangat takut kehilangan Xaveryn sehingga hal itu menyebabkan rasa cemas berlebihan muncul di dirinya.
“Kakak, kenapa Kakak bisa ada di sini? Bukankah Kakak sedang berada di akademi?” tanya Xaveryn.
“Itu bukan hal penting, aku mendengar kabar soalmu dan meminta izin untuk pulang ke istana demi memastikan keadaanmu,” ucap Claes.
Xaveryn tersentuh terhadap apa yang dilakukan Claes, perasaan khawatir yang begitu tulus mencemaskan dirinya. Claes tampaknya mempunyai trauma sekaligus ketakutan besar seusai kehilangan sang Ibu.
“Aku baik-baik saja, Kak, Countess Suhail menyiram punggung tanganku dengan air panas lalu memukuli betisku dengan tongkat rotan. Tetapi, rasa sakitnya sudah hilang, jadi Kakak tidak perlu khawatir lagi.”
“Maafkan aku tidak bisa melindungimu dengan baik, aku merasa gagal sebagai Kakak,” lirih Claes.
“Kakak tidak salah, jadi kenapa harus minta maaf? Melindungiku bukan tanggung jawab utama, di sini masih banyak orang yang bisa melindungiku. Tugas Kakak hanyalah belajar dengan baik di akademi dan pulang membawa kemampuan berpedang terbaik. Itu sudah cukup bagiku sebab melihat Kakak bisa melindungi orang lain selain diriku menggunakan kemampuan berpedang Kakak justru lebih keren.”
Xaveryn tersenyum begitu indahnya hingga membuat Claes melupakan segala beban berat yang dipikul hatinya.
“Kalau begitu bisakah kau berjanji pada Kakak untuk tidak membiarkan orang lain melukaimu lagi? Apabila ada seseorang seperti Countess Suhail yang mencari masalah denganmu, maka kau harus melaporkannya kepada Ayah atau suruh saja Alvaro dan Riley menghabisinya. Kau paham itu?”
“Baiklah, aku janji.”
__ADS_1
Xaveryn dan Claes saling menautkan jari kelingking sebagai tanda janji di antara mereka. Kemudian Xaveryn melirik ke arah Caerick yang tengah tersenyum lebar, dia melambaikan tangan tangan pada gadis kecil itu.
“Kenapa Caerick juga ikut dengan Kakak? Bukankah lebih baik Caerick berada di akademi saja?” tanya Xaveryn.
“Yang Mulia, saya kemari ingin melihat Anda, mana mungkin saya melewatkan kesempatan untuk bertemu calon istri saya di masa depan.” Lagi-lagi Caerick mencoba merayu Xaveryn di hadapan ketiga Kakaknya.
“Calon istri kau bilang? TIDAK AKAN AKU BIARKAN!” teriak Claes, Alvaro, dan Riley bersamaan.
Claes menepuk kepala Caerick, dia pun menarik Caerick keluar dari kamar Xaveryn karena jika membiarkan Caerick di sana maka akan lebih banyak masalah lain yang terjadi.
“Sudahlah, ayo kita keluar, aku menyesal mengajakmu pergi bersamaku.”
“Sampai jumpa, Tuan Putri, saya berharap kitab isa bertemu lagi,” tutur Caerick seraya melayangkan senyum khasnya.
Xaveryn membalas senyum Caerick, sejenak dia berpikir mengenai akhir dari hidup Caerick.
‘Menikah, ya? Bahkan Caerick sampai akhir hayatnya tidak pernah menikah atau pun dekat dengan wanita lain. Aku harap pada kehidupan kali ini Caerick memiliki akhir hidup yang bahagia,’ batin Xaveryn.
***
Dua minggu berlalu, akhirnya hari ini adalah hari di mana Countess Suhail dieksekusi mati. Jonathan memutuskannya dengan cepat selepas kejahatan Countess Suhail terungkap secara keseluruhannya. Mulai dari kasus pembunuhan suami dan anaknya, pembunuhan beberapa pelayan yang bekerja di kediamannya, serta kasus pencemaran nama baik. Semua itu disertai bukti kuat sehingga kejahatan Countess Suhail digolongkan pada kejahatan tingkat tertinggi.
Xaveryn melihat dengan jelas di bawah panggung eksekusi, dia yang menyamar menyaksikan bagaimana kepala Countess Suhail terpisah dari badannya. Senyum penuh kemenangan terbit di bibir Xaveryn, kini dia berhasil menghabisi orang yang pernah menyakitinya di kehidupan pertama.
__ADS_1