Tuan Putri Yang Tersembunyi

Tuan Putri Yang Tersembunyi
Bertemu Eliza


__ADS_3

Di sini Xaveryn seketika sadar bahwasanya Lilia sebenarnya tidaklah jahat maupun licik. Hanya saja otaknya sudah dipengaruhi oleh Eliza yang tiada henti mendorong Lilia untuk membenci Xaveryn. Lilia anak yang polos, hal itu dapat dilihat dari caranya bersikap, ia mudah terpengaruh oleh orang lain. Oleh sebab itu, apabila tidak ada yang membimbingnya dengan baik, maka Lilia akan mudah terjatuh ke perangkap kelicikan orang lain.


“Ini semua salah Eliza, dia mengatakan hal-hal buruk soal Tuan Putri. Maafkan saya, Yang Mulia … saya salah telah berniat buruk kepada Anda.”


Lilia terisak, sepertinya dia juga dimarahi oleh Marquess Francys karena sikapnya yang tidak sopan kepada Xaveryn.


“Harap maafkan ketidaksopanan putri saya, Yang Mulia. Saya berjanji akan mendidiknya lebih keras lagi,” tutur Marquess Francys.


Xaveryn tersenyum samar, lagi pula ia tidak punya rencana untuk memarahi atau pun menghukum Lilia. Sejak awal Xaveryn berupaya memanfaatkan situasi ini demi meningkatkan reputasinya di hadapan publik. Dengan adanya Lilia yang merupakan salah satu gadis bangsawan yang terkenal di pergaulan atas, maka Lilia mungkin nanti akan menyebarkan hal baik soal Xaveryn kepada semua orang.


“Nona, angkat kepala Anda dan hapus air mata Anda, saya tidak marah kepada Anda karena saya memaklumi hal itu. Eliza tidak menyukaiku sedari awal, dia menganggapku sebagai perampas posisinya sebagai Tuan Putri. Jadi, tidak heran ia menyebarkan rumor tidak mengenakkan soal diriku.”


Xaveryn berakting dengan baik, ia memasang tampang memelas dan tertindas, seolah-olah dia merasa sedih terhadap rumor yang tidak berdasar tersebut. Lilia percaya dengan akting Xaveryn, dia terkejut karena baru tahu kalau sebenarnya Eliza hanya iri terhadap Xaveryn. Sekarang Lilia sadar bahwasanya dia telah mengikuti orang yang salah selama ini.


“Yang Mulia! Anda jangan khawatir, saya pasti akan menyebarkan rumor baik tentang Anda setelah ini. Eliza tidak akan bisa mengambil alih tempat Anda karena sejak awal posisi itu lebih pantas untuk Anda daripada Eliza.”


Mendadak tangis Lilia terhenti, ia langsung mengubah haluan topik pembicaraan mereka. Lilia mulai menaruh rasa kagum kepada Xaveryn, ia kini memutuskan untuk berada di pihak Xaveryn dan meninggalkan Eliza.


“Terima kasih, Nona. Tetapi, saya khawatir apakah orang-orang akan percaya kepada saya? Selama ini Eliza telah menjadi bintang pergaulan atas, mereka pasti lebih mempercayai Eliza daripada saya,” tutur Xaveryn. Lagi-lagi dia menampakkan ekspresi sendu yang membuat Lilia merasa sedih.


“Anda tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Saya pasti akan membantu memulihkan reputasi Anda bagaimana pun itu caranya,” kukuh Lilia.

__ADS_1


Xaveryn menyeringai, dia berhasil membuat Lilia percaya dengan kebohongannya. Sejujurnya, Xaveryn tidak mempedulikan soal reputasinya yang terlanjur buruk. Namun, apabila dia terus membiarkan Eliza bersikap seenaknya, maka hal itu akan membuat para bangsawan berpaling menyerangnya.


“Baiklah, saya akan mempercayakannya kepada Anda.”


Xaveryn melebarkan senyum khasnya, dia membuat Lilia terpana sejenak menatap senyum manisnya. Marquess Francys menghela napas lega karena sang putri bisa berdamai dengan Xaveryn. Sebelumnya dia khawatir akan menyulut kemarahan Xaveryn, tapi kenyataannya Xaveryn malah sebaliknya. Xaveryn begitu baik hati mau menerima permintaan putrinya


“Mohon maaf saya menyela, Yang Mulia. Saya mendapatkan laporan dari salah seorang bawahan saya yang mengatakan bahwa teh daimary yang saya beli adalah teh palsu. Dengan kata lain, saya ditipu oleh orang yang menjual teh ini kepada saya. Oleh sebab itu, saya ingin berterima kasih kepada Anda yang telah menyadarkan saya bahwa itu teh daimary palsu,” ucap Marquess Francys.


“Itu bukan apa-apa, tapi apakah Anda telah menemukan orang yang menipu Anda?” tanya Xaveryn.


“Saya sudah menangkap orang itu, sudah banyak orang yang menjadi korbannya. Namun, berkat Anda penipu itu berhasil saya hentikan sebelum memakan lebih banyak korban lagi.”


Marquess Francys terkesan mendengar setiap tutur kata yang dilontarkan Xaveryn, gadis kecil itu dianggap berbeda. Setiap katanya menyiratkan kebijaksanaan sekaligus menyiratkan keanggunan dari diri Xaveryn.


Seusai mereka membincangkan beberapa hal serius, Marquess Francys dan Lilia pamit pulang. Mereka sudah cukup puas bertemu Xaveryn, setidaknya dengan begini rasa bersalah Lilia telah lenyap seutuhnya.


‘Entah kenapa aku merasa Tuan Putri sosok yang dewasa, beliau dewasa sebelum memasuki usia dewasa. Setiap perkataan dan pemikirannya terkesan berhati-hati seakan ada rahasia yang sedang beliau simpan,’ batin Marquess Francys berpikir soal Xaveryn.


Sepulangnya Marquess Francys bersama putrinya, suasana kamar Xaveryn kembali sunyi sejenak. Akan tetapi, kesunyian itu terpecah ketika Xaveryn mendapatkan laporan bahwasanya Eliza datang untuk menjenguk dirinya. Xaveryn langsung menyuruh pelayan membawa masuk Eliza ke kamarnya.


“Salam kepada Yang Mulia Putri Xaveryn.” Eliza menunjukkan sikap sempurna menghaturkan salam terhadap Xaveryn.

__ADS_1


“Sudahi salam Anda, Nona,” ujar Xaveryn.


Eliza menegakkan kembali kepalanya, kedua matanya menyisir setiap sudut ruang. Terselip perasaan iri kepada Xaveryn, rasa irinya kian membesar setiap waktunya. Xaveryn sadar itu, perasaan serakah Eliza amat jelas terpancar dari sepasang matanya.


‘Dia mendapatkan segalanya dengan mudah, seharusnya kamar ini menjadi milikku. Ini semua karena Xaveryn, dia menghancurkan mimpiku yang ingin menjadi Tuan Putri Graziella,’ gerutu Eliza dalam hati.


Xaveryn menyunggingkan senyumnya, Eliza tidak pandai menyembunyikan dirinya yang sebenarnya dari Xaveryn.


“Nona, hentikan gerutuan Anda itu. Jangan menyalahkan saya terhadap apa yang sudah menimpa hidup Anda,” celetuk Xaveryn.


Mimik muka Eliza berubah drastis, dia tidak perlu menunjukkan kepalsuannya kepada Xaveryn. Sekarang kebetulan sekali mereka berdua saja di ruang yang sama, dengan begini Eliza tidak perlu khawatir orang lain akan melihatnya.


“Yang Mulia, Anda jangan merasa besar kepala karena Anda berhasil merampas posisi saya sebagai Tuan Putri. Saya harap Anda sedikit lebih sadar diri mengenai siapa Anda dan bagaimana Anda bisa sampai ke tempat ini,” tekan Eliza.


“Pffttt, hahaha.” Xaveryn tertawa lepas, sekali lagi Eliza berbicara omong kosong yang sangat lucu. “Merampas apanya? Sejak awal kau adalah putri dari seorang pengkhianat. Tolong jangan berlagak kalau aku merebut kebahagiaanmu.”


Xaveryn sengaja berbicara bahasa informal untuk memukul telak Eliza, dia sudah begitu geram dengan Eliza. Mengingat apa yang terjadi di masa lalu membuat rasa benci sekaligus dendam menggebu-gebu di dalam hati.


“Yang Mulia, sepertinya Anda tidak menyukai saya sedari awal. Jika bukan karena Anda, saya tidak akan hidup sebagai anak adopsi! Ini semua salah Anda! Beraninya anak yang telah membunuh Permaisuri mengendalikan semua orang di bawah perintahnya. Saya pikir di sini Anda yang harusnya sadar diri.”


PRANG!

__ADS_1


__ADS_2