
"Kakakku ketiganya akan mengalami kematian menyedihkan. Kak Claes mati dieksekusi pihak Kekaisaran Saverio, Kak Alvaro mati pada saat aku berusia sembilan belas tahun ketika dia sedang melakukan penaklukkan dungeon. Sedangkan Kak Riley, dulu aku bahkan tidak pernah melihat wajahnya sebab dia mati dua tahun lagi akibat penyakit bawaan. Aku harus mencatat semua kejadian di kehidupan lalu supaya aku bisa menghindari segala masalah yang terjadi."
Xaveryn bergumam sambil menulis di sebuah buku, dia mencatat secara detail penyebab kematian saudaranya hingga kejadian penting yang dapat mengguncang dunia. Walaupun saat ini dia masih berusia lima tahun, Xaveryn mempersiapkan diri demi mengubah secara keseluruhan peristiwa agar dia terhindar dari marabahaya yang sama di masa lalu.
"Yang Mulia, Kaisar memanggil Anda untuk sarapan bersama hari ini," ujar Annita.
"Baiklah, aku akan segera ke ruang makan."
Xaveryn berjalan didampingi oleh Annita dan Eris, sepanjang lorong istana semua mata memandang gemas pada Xaveryn. Mereka tidak menyangka akan kedatangan warna baru di istana yang biasanya dingin ini. Xaveryn menyebar senyum ramah kepada setiap orang yang dia temui sehingga mereka tak sanggup memalingkan diri dari pesona Xaveryn.
"Yang Mulia Putri Xaveryn memasuki ruangan."
Kedua kesatria penjaga pintu ruang makan membukakan jalan untuk Xaveryn masuk.
"Adikku yang imut sudah datang, kemarilah duduk dekat Kakak," ucap Alvaro menawarkan tempat duduk dekat dengannya.
"Tidak, Xaveryn akan duduk di dekatku," sela Jonathan diiringi ekspresi dingin ke anak laki-lakinya.
"Tidak bisa begitu, Ayah! Xaveryn akan duduk dekat dengan kami," bantah Claes diangguki Riley dan Alvaro.
"Beraninya kalian membantahku, dasar anak durhaka!"
Xaveryn heran menyaksikan perdebatan sepele di antara mereka, padahal dia tidak masalah sama sekali mau duduk di mana pun asalkan di atas kursi meja makan. Namun, mereka malah membuat segalanya terasa sulit bagi Xaveryn.
BRUK!
Xaveryn kurang memperhatikan jalan hingga dia tanpa sengaja tersandung karena lantai yang sedikit rusak.
'Bagaimana bisa aku terjatuh karena lubang kecil? Tubuh ini sangat lemah.'
"Xaveryn!"
__ADS_1
Jonathan bersama ketiga Pangeran segera menghampiri Xaveryn dengan cepat. Lekas Jonathan mengangkat tubuh Xaveryn lalu menggendongnya.
"Apakah kau tidak apa-apa? Apa ada yang sakit?" tanya Jonathan dan ketiga Pangeran disertai muka khawatir.
"Aku tidak apa-apa, ini bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan, Ayah. Lihatlah, aku baik-baik saja," jawab Xaveryn sembari tersenyum dan memamerkan telapak tangannya.
Keempat lelaki itu melotot marah ketika Xaveryn memperlihatkan telapak tangannya yang ternyata sedikit terluka.
"Panggil Paman Reiner sekarang juga! Katakan padanya kalau Tuan Putri terluka!" titah Claes dengan suara lantang.
Seketika suasana menjadi heboh, padahal itu cuma luka goresan biasa, tapi mereka membuatnya seolah-olah itu adalah luka parah.
"Aku baik-baik saja, tidak perlu sampai membuat keributan," kata Xaveryn meyakinkan Ayah dan saudaranya.
"Tidak, ini luka parah dan kau harus diperiksa segera sebelum hal buruk terjadi," balas Riley serius.
Mereka sangat mencemaskan Xaveryn meski luka kecil seperti ini. Tidak lama setelahnya, Reiner datang bergegas ke istana utama, dia langsung menuju ke lokasi Xaveryn berada.
"Reiner, cepat periksa putriku! Tadi dia terjatuh di ruang makan," desak Jonathan menarik Reiner ke dekat Xaveryn.
"Cepat saja kau periksa, jangan membuatku mengulanginya lagi," tekan Jonathan.
Reiner terlihat pasrah, dia tidak mau kena amuk oleh Jonathan sehingga dia terpaksa mengecek kondisi luka Xaveryn. Punggungnya terasa terbakar karena tatapan dari keempat pria yang sedang menatapnya tajam.
"Baiklah, ini sudah selesai, tidak ada masalah dengan luka Tuan Putri. Besok lukanya juga akan sembuh, jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Anda sebaiknya berhati-hatilah ketika berjalan karena lantai istana utama memang banyak yang tidak rata," jelas Reiner.
"Hei, Reiner." Jonathan menyentuh pundak Reiner, sekilas terasa udara dingin yang menusuk. "Apa kau baru saja menyalahkan putriku karena tidak hati-hati saat berjalan? Putriku tidak salah, yang salah itu lantainya tidak rata."
Reiner bergidik ngeri, Jonathan sungguh memperhatikan dengan cermat setiap perkataan yang terlontar mengenai Xaveryn. Ekspresi Xaveryn terlihat iba menyaksikan Pamannya terus menerus ditekan Jonathan.
"Oke, ini salah lantainya dan bukan salah Tuan Putri. Maafkan saya tidak memperhatikan perkataan yang saya lontarkan."
__ADS_1
"Ayah, jangan terlalu sering menekan Paman Reiner, yang Paman katakan itu tidak ada salahnya karena aku memang harus berhati-hati saat berjalan," celetuk Xaveryn meredakan amarah Jonathan.
"Adik, ini bukan salahmu, ini salah lantainya tidak rata," ucap Alvaro.
Jonathan baru menyadari kalau lantai di istana utama memang banyak yang tidak rata. Hal ini disebabkan karena Jonathan sering menggunakan senjata hingga merusak pola lantai.
"Bongkar seluruh lantai istana utama dan bangun baru lagi. Aku tidak boleh membiarkan putriku terjatuh lagi akibat lantai ini. Untuk sementara waktu aku akan tinggal di istana sakura bersama putriku," perintah Jonathan.
Semua orang tercengang mendengar perintah dari Jonathan. Biasanya Jonathan bukan orang yang memperhatikan detail sepele seperti demikian. Namun, setelah kehadiran Xaveryn segalanya harus terlihat sempurna demi sang putri supaya terus nyaman tinggal di istana.
"Tunggu dulu! Kenapa Ayah tinggal di istana Xaveryn? Bukankah masih ada istana yang kosong bisa Ayah tempati?!" protes Alvaro tidak terima.
"Kenapa? Kau tidak terima?" Jonathan mengarahkan sorot mata tajam pada Alvaro.
"Iya, aku tidak terima! Kalau begitu aku juga akan tinggal dengan Xaveryn," balas Alvaro.
"Tidak boleh, kau tinggal di istanamu sendiri, kalau kau masih membantah maka jangan salahkan aku mengirimmu penaklukkan wilayah selama dua bulan," gertak Jonathan.
Alvaro terdiam, dia tidak diberi celah untuk menyangkal gertakan sang Ayah. Sedangkan Xaveryn hanya mengamati mereka dengan senyum penuh heran. Siapa sangka kalau mereka akan berlaku demikian terhadap dirinya.
Pada hari itu, istana utama pun dirobohkan, mereka membangun ulang kembali istana sesuai perintah dari Jonathan. Pria berambut merah itu tampak senang pindah ke istana sakura. Di malam harinya, Xaveryn dikejutkan lagi oleh Ayahnya yang tiba-tiba masuk ke kamar.
"Kenapa Ayah di sini?" tanya Xaveryn.
"Ehem." Jonathan berdehem. "Ayah hanya khawatir kamu takut tidur sendiri, jadi Ayah akan menemanimu malam ini."
'Sebenarnya Ayahlah yang ingin tidur denganku, aku tidak takut tidur sendiri,' batin Xaveryn.
Akhirnya, Xaveryn mengizinkan Jonathan tidur dengannya, pria itu terlihat senang ketika Xaveryn memberinya izin tidur bersama. Walau sebenarnya Xaveryn tak bisa memejamkan matanya sedikit pun.
"Xaveryn, apa kau tidak tidur?" tanya Jonathan yang masih sibuk membaca buku ditemani remang-remang cahaya lilin.
__ADS_1
"Ayah, aku bisa menggunakan sihir."
Kedua mata Jonathan membulat sempurna. "Huh? Apa yang kau katakan?"