
Xaveryn menerjang masuk ke tengah pertempuran di istana kediaman Claes. Kala itu Xaveryn menemukan Claes tengah terduduk lemas di antara pertarungan Jonathan yang dibantu Reiner beserta beberapa bawahan Jonathan yang mempunyai kemampuan terbaik. Kaki Claes masih terasa nyeri sehingga gerakannya menjadi terbatas. Dia tidak bisa bergerak leluasa seperti biasa membantu sang Ayah.
Xaveryn terus berlari, tidak peduli bagaimana para pembunuh mencoba menangkapnya, selalu ada cara baginya untuk membabat habis penghambat tersebut. Emosi Xaveryn terlihat tidak karuan, ia menghabisi semua orang yang mengarahkan senjata padanya. Gadis kecil itu berhasil menyapu habis dan membersihkan jalan menuju istana kediaman Claes.
Hingga dia akhirnya tiba di sana, situasinya sungguh tidak terduga. Sudah banyak kesatria yang tumbang, para pembunuh itu memiliki kemampuan di atas rata-rata hingga sulit untuk mereka hadapi.
"Pembunuh ini sangat merepotkan!"
Xaveryn bergabung ke dalam pertempuran, Jonathan dan Reiner terkejut dengan kedatangan Xaveryn. Mereka berdua tidak menyangka Xaveryn bisa bergerak bebas menghabisi para pembunuh tersebut. Kemampuannya dalam menembak pistol sekaligus kemampuannya dalam berpedang tidak perlu diragukan lagi.
"Xaveryn! Apa yang kau lakukan di sini?!" teriak Jonathan.
"Ayah, aku terpaksa kemari karena ada sesuatu yang perlu aku katakan. Untuk saat ini aku butuh kemampuan medis Paman Reiner sebab Kak Alvaro tengah berada di kondisi kritis karena terkena racun saat menghadapi para pembunuh barusan," jelas Xaveryn.
"Apa? Racun?!"
Jonathan dan Reiner sontak kaget mendengar penjelasan Xaveryn. Mereka tidak punya waktu untuk melawan para pembunuh itu lagi.
"Benar, racun. Dan racun itu sangat mematikan, sebaiknya Paman lekas pergi memeriksa kondisi Kakak. Serahkan masalah yang di sini padaku dan Ayah, bawa juga Kak Claes dari sini karena kaki Kak Claes masih sakit," seru Xaveryn dari jauh.
Reiner melirik ke arah Claes, memang benar yang dikatakan Xaveryn bahwa Claes sedang menahan sakit di kakinya. Kemudian Reiner menoleh ke arah Jonathan, dia bermaksud meminta izin Jonathan.
"Pergilah, Reiner! Kau harus memeriksa kondisi Claes dan Alvaro. Serahkan sisanya padaku," ujar Jonathan.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang." Reiner memacu langkahnya, dia memapah Claes meninggalkan istana kediamannya.
Xaveryn membantu sang Ayah menghadang lawan, gerakannya nan lincah membuat para pembunuh kewalahan. Lalu di tengah pertarungan tersebut, Xaveryn tanpa sengaja lengah dari pandangan lawan. Dari belakangnya menerjang seorang pembunuh yang hendak menghantam punggungnya.
__ADS_1
"AWAS, YANG MULIA!" teriak para kesatria memperingati Xaveryn untuk segera menjauh.
Akan tetapi, Xaveryn terlambat menyadarinya, pembunuh itu hampir berhasil mencapainya. Namun, serangan pembunuh tersebut dihentikan oleh Felician yang datang dari arah lain. Felician menangkis serangan pembunuh itu menggunakan pedangnya.
"Felician!" Senyum Xaveryn mengembang seketika melihat kedatangan Felician. "Kau datang menyelamatkanku. Terima kasih!" lanjut Xaveryn berucap.
Bibir Felician bergerak seolah dirinya hendak mengatakan sesuatu kepada Xaveryn. Gadis kecil itu menunggu sampai Felician bersuara.
"Pergilah dari sini ... pergilah dari sini, Yang Mulia! Saya akan melindungi Anda."
Itu merupakan kalimat pertama dan suara pertama Felician yang didengar Xaveryn pada kehidupan kali ini. Xaveryn cukup terkejut, tapi dia tidak punya waktu untuk terkejut. Tanpa berlama-lama, Xaveryn pun bergerak mundur meninggalkan Felician menghadang para pembunuh tersebut.
"Baiklah, perhatikan pergerakan mereka baik-baik. Jangan sampai kau terluka karena ulah para pembunuh itu," pesan Xaveryn.
Xaveryn bergerak ke sisi lain istana, ia memutuskan untuk membantu Jonathan yang tengah kewalahan menghadapi para pembunuh yang terus berdatangan.
"Tidak, Ayah, aku akan membantu Ayah membantai mereka. Situasi istana benar-benar genting, Ayah takkan bisa menghadapi mereka sendirian."
Xaveryn mulai berpikir sembari memainkan pedang dan pistolnya sekaligus. Masalah ini sengaja diciptakan pihak luar untuk merusak tatanan di istana. Mereka mengacaukan seisi istana agar para pengkhianat dapat masuk sesuka hati mereka.
'Tujuan mereka adalah membunuh Kak Claes dan Kak Alvaro. Aku tahu ini ulah Duke Solfrid, dia ingin menyingkirkan anak-anak Kaisar yang dianggap sebagai penghambat baginya melancarkan serangan langsung untuk menggulingkan kekuasaan Ayah,' pikir Xaveryn.
Di penghujung pertarungan, Roxilius datang bermaksud membantu Xaveryn. Dia telah menyelesaikan masalah yang ada di luar dinding istana.
"Master!" panggil Roxilius.
"Rox, dari mana saja kau? Apa kau tidak tahu kalau di sini sedang direpotkan oleh serangan dari kelompok pembunuh ini?!" omel Xaveryn.
__ADS_1
"Tolong maafkan keterlambatan saya, tapi saya baru saja balik dari luar dinding istana. Di sana ada puluhan pembunuh yang sedang menunggu untuk menyerang ke dalam. Tetapi, untungnya ada saya, jadi saya bisa membantai mereka sebelum mereka berhasil menembus dinding istana," jelas Roxilius.
"Jadi, mereka juga ada di luar? Astaga, pantas saja aku merasakan aura keberadaan dari pembunuh lain di luar sana."
"Iya, tidak perlu khawatir lagi, Master. Saya telah mengurus semuanya, sekarang biar saya membantu untuk mengakhiri ini."
Roxilius secepat kilat membantai para pembunuh yang masih tersisa. Hanya butuh waktu sepersekian detik sampai dia berhasil menyapu bersih para pembunuh yang berkeliaran di sekitar Xaveryn.
"Apakah sudah berakhir?"
"Sepertinya begitu, tidak ada pembunuh lagi yang menyerang."
"Akhirnya aku bisa bernapas lega sekarang."
Para kesatria tampak kelelahan, mereka langsung mendudukkan diri mereka di permukaan tanah. Rasa lelah menjalar di sekujur tubuh mereka setelah hampir dua jam bersitegang.
Malam itu benar-benar menjadi malam yang menggemparkan kekaisaran. Berita mengenai penyerangan tersebut menyebar begitu cepat ke telinga rakyat. Jumlah pembunuh yang kala itu menyusup ke istana diperkirakan lebih dari lima puluh orang. Namun, anehnya mayat pembunuh yang bergelimpangan di halaman istana dan di luar dinding istana tidak lebih dari tiga puluh orang sehingga timbullah beberapa asumsi dari Xaveryn dan Roxilius.
"Di antara mereka ada yang manusia dan ada yang sekedar bayangan saja. Bayangan sihir yang dibuat sedemikian rupa seperti manusia."
Begitulah asumsi mereka berdua, pikiran Xaveryn langsung tertuju pada Kaisar Saverio yang paling mungkin menciptakan bayangan sihir. Xaveryn tidak akan tertipu lagi, gadis itu mulai memperketat keamanan istana menggunakan sihir pendeteksi, ia dibantu oleh Roxilius.
"Bagaimana kondisi Kakak?" tanya Xaveryn kepada Reiner yang sedang memeriksa tubuh Alvaro dan Claes.
"Claes baik-baik saja, dia hanya butuh istirahat saja. Sedangkan Alvaro mungkin dia tidak akan bangun selama beberapa hari karena racun itu menguras energinya. Tetapi, tenang saja, aku telah memberikan penawarnya," jelas Reiner.
"Syukurlah kalau begitu."
__ADS_1
Xaveryn akhirnya bisa bernapas lega, dia amat tegang menunggu hasil dari pemeriksaan Reiner. Riley juga berada di ruangan yang sama, dia ikut membantu Reiner mengurus penyembuhan kedua Kakaknya.