Tuan Putri Yang Tersembunyi

Tuan Putri Yang Tersembunyi
Dalang Penculikan Eris


__ADS_3

Seketika Xaveryn syok, dia melupakan hal yang paling penting terjadi kepada Eris. Namun, gadis kecil itu juga diterpa kebingungan dalam waktu bersamaan. Lalu satu hal yang dia ingat pasti bahwa Eris pada kehidupan pertama menolak lamaran dari seorang pria bangsawan. Pria tersebut adalah Count Arnis. Seorang pria tua yang memiliki banyak harta, ia seringkali membeli wanita menggunakan hartanya tersebut.


"Apa yang kau katakan?! Adikku diculik?!"


Annita dan Lian serentak kaget, mereka tersentak dari peredaran waktu saat ini. Syok bukan main, sang Adik perempuan yang begitu mereka sayangi malah diculik seseorang yang tidak mereka kenali.


"Kau jangan bercanda!" teriak Lian memarahi kesatria tersebut.


Sementara itu, Annita mendadak lemas, tungkai kakinya lunglai dan tidak sanggup menopang beban tubuhnya.


"Tenanglah, Lian, Annita!" Xaveryn menengahi kepanikan mereka.


Situasinya menjadi begitu runyam, mereka tidak tahu kalau Eris diculik oleh seorang bangsawan yang beberapa waktu terakhir ini selalu mengganggu Eris.


"Yang Mulia, Eris ... Adik saya ...." Annita mulai menangis terisak sambil menatap penuh kesedihan pada Xaveryn yang berupaya bersikap tenang.


"Tenanglah, aku akan segera mencari tahu dalang di balik penculikan Eris."


Di waktu yang sama, Dain sebagai Ayah mereka juga ikut panik. Dia mendatangi istana kediaman Xaveryn dengan muka sedih tak karuan. Akan tetapi, Xaveryn mencoba untuk menenangkan Dain agar dapat mengendalikan perasaannya.


"Sekarang aku akan bertanya, apakah akhir-akhir ini Eris sering menerima surat dari seseorang?" Xaveryn memulai rencana untuk menemukan Eris. Pertama, Xaveryn bertanya hal mendasar yang mungkin menjadi api bagi permasalahan tersebut.


Mereka bertiga tenggelam di alam pikiran masing-masing. Mereka mencoba mengingat-ingat kembali apa saja yang terjadi beberapa waktu belakangan ini.


"Surat? Ah, benar juga. Eris seringkali menerima surat akhir-akhir ini, tapi dia tidak pernah memberi tahu surat dari siapa itu," ucap Annita.


"Sekarang bisakah kau mengambil suratnya? Aku yakin Eris masih menyimpan surat itu," pinta Xaveryn.

__ADS_1


"Baiklah, tunggu sebentar, Yang Mulia. Saya akan kembali membawa suratnya."


Annita bergegas menuju kamar Eris, ia mengobrak-abrik isi lemari dan laci Eris. Selepas mencari selama kurang lebih sepuluh menit, akhirnya dia berhasil mendapatkan setumpuk surat yang disimpan di dalam sebuah kotak kaleng.


Annita segera membawa surat-surat itu ke istana kediaman Xaveryn. Dia menyerahkan seluruh suratnya kepada Xaveryn.


"Ini suratnya, Yang Mulia."


Xaveryn membuka surat-surat tersebut, isinya dipenuhi oleh tulisan Count Arnis yang memaksa Eris menerima lamarannya. Diketahui, pertemuan pertama mereka ialah ketika acara perjamuan di istana. Sejak kala itu, Count Arnis selalu mengirimi Eris surat. Akan tetapi, sayangnya Eris selalu menolak ajakan menikah dari Count Arnis.


"Surat ini adalah surat lamaran," ujar Xaveryn.


Dain, Annita, dan Lian sesaat membatu, mereka tidak tahu sama sekali Eris menerima surat lamaran dari seseorang.


"Surat lamaran dari siapa? Tolong beri tahu kami, Yang Mulia."


Yang membuat mereka lebih jengkel ialah bangsawan tersebut adalah Count Arnis, mereka tahu betul siapa Count Arnis dan betapa buruknya reputasi Count Arnis di kalangan rakyat Kekaisaran Graziella.


"Yang Mulia, mungkinkah dalang penculikan Eris adalah Count Arnis?" tanya Lian.


Xaveryn lantas menganggu pelan. "Ini hanya dugaan, tapi tidak ada salahnya kita mengecek langsung ke kediaman Count Arnis. Tetapi, aku percaya, bahwa dia memang dalangnya."


"Kalau begitu, saya akan ke sana sekarang juga."


Dain dan Lian naik pitam, mereka tak kuasa menahan emosi lagi. Terlintas di kepala mereka rencana untuk menghancurkan kediaman Count Arnis. Mereka tidak mau bersikap lembut di hadapan bangsawan seperti Count Arnis sebab pria tua bangka itu takkan menanggapi kemarahan dari orang biasa.


"Tunggu! Jangan bertindak gegabah! Apabila kalian salah langkah, maka kalian yang akan mati dijebak Count Arnis. Lebih baik masalah ini dilaporkan terlebih dahulu kepada Ayah. Jadi, apabila ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, Ayah bisa membantu kalian untuk keluar dari permasalahan itu," cegat Xaveryn memberi saran.

__ADS_1


Saran dari Xaveryn dapat diterima oleh mereka, akhirnya mereka pun bersama pergi melaporkan masalah ini kepada Jonathan. Kemudian Jonathan memberi izin mereka untuk pergi langsung ke kediaman Count Arnis. Xaveryn pun juga ikut bersama mereka karena bila ada Xaveryn di sana akan lebih mudah untuk membereskan pria tua bangka tersebut.


Mereka pun pergi berbarengan menuju kediaman utama Count Arnis. Mereka sudah tidak sabar menghajar si tua bangka itu supaya dia jera telah membuat para wanita sebagai budak pemuas hasratnya.


***


Sedangkan pada waktu bersamaan kala itu di kediaman Count Arnis, Eris terkejut menemukan dirinya tengah terbaring di atas tempat tidur yang tidak perna dia lihat sebelumnya. Seragam pelayan yang sebelumnya ia kenakan kini berubah menjadi gaun berwarna serba putih.


Sontak Eris langsung bangkit dari posisinya, ia mencoba mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Tempatnya tertidur saat itu dihiasi kelopak mawar serta kamar yang dipenuhi aroma lilin yang sangat menenangkan. Berdasarkan apa yang dilihat Eris, lokasinya berada kini ialah di sebuah kamar pengantin.


"Di mana aku? Mengapa aku bisa ada di sini?" Lalu Eris refleks menyentuh kepalanya, sekelebat bayangan mengenai penculikannya tiba-tiba muncul. Di sinilah Eris sadar bahwa dia tengah diculik oleh seseorang yang tidak ia kenali.


"Aku harus kabur!"


Eris mencari-cari ke sekeliling kamar tempat yang bisa ia jadikan sebagai tempatnya ke luar. Entah mengapa perasaan Eris kian lama kian memburuk seakan-akan nanti terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan.


Eris berupaya tetap tenang, tidak ia temukan jalan keluar dari kamar yang super luas itu. Eris pun mendadak kehilangan akal, dia takut terhadap ancaman firasat buruk yang semakin gencar menerornya.


"Kau sudah bangun, calon istriku?"


Eris kaget bukan main, seorang pria gemuk dan keriput masuk ke dalam kamar. Tanpa diberi tahu pun, Eris telah mengetahui siapa pria itu. Dia adalah Count Arnis, pria yang berkali-kali meminta untuk menikah dengannya.


"Count, kenapa saya bisa ada di sini?" tanya Eris bernada suara gemetar.


"Apa kau tidak tahu? Akulah yang memerintahkan orang lain untuk menculikmu."


Count Arnis menatap Eris penuh hasrat ingin memiliki seutuhnya. Pria itu tergila-gila dengan Eris sejak pandangan pertama ia melihat Eris mendampingi Xaveryn di ruang aula istana.

__ADS_1


"Apa? Kenapa Anda melakukan itu?! Cepat bebaskan saya dari sini! Lalu apa yang Anda maksud calon istri? Saya telah menolak Anda berulang kali."


__ADS_2