
Lilia naik pitam akibat perkataan Xaveryn yang terkesan menghinanya secara langsung. Dia merasa tertohok dan tersinggung, nyaris saja dia meninggikan suaranya kepada Xaveryn.
"Yang Mulia, ada masalah apa sebenarnya Anda dengan saya?" Lilia masih berupaya untuk tersenyum sambil menekan kemarahannya.
"Tidak ada, tapi justru saya hanya meluruskan saja apa yang saya ketahui tentang teh daimary. Jangan tersinggung Nona Francys, saya ingin menambah sedikit wawasan Anda agar Anda tidak malu di depan banyak orang."
BRAK!
Lilia sontak berdiri dan menggebrak meja perjamuan. Dia setengah mati menahan emosinya tapi Xaveryn terus memancingnya untuk marah. Dia menganggap Xaveryn telah menghinanya dan secara tidak langsung mengatakan bahwa dirinya kurang pengetahuan.
"Anda benar-benar—"
"Nona Francys, sebaiknya kendalikan diri Anda. Sekarang Anda sedang berhadapan dengan putri Kaisar satu-satunya. Anda sendiri tahu bukan? seberapa gilanya Kaisar jika beliau tahu putri satu-satunya dihina oleh bangsawan seperti kita."
Tiba-tiba Eliza menegur Lilia, dia berlagak sok tenang sambil meneguk secangkir teh. Xaveryn berhasil memancing Eliza untuk ikut campur ke dalam permasalahan tersebut.
Lilia pun terdiam, ia kembali duduk seperti semula dan mengelus dada seraya mencoba meredamkan api kemarahannya. Kala itu sebenarnya Chyntia juga nyaris mengamuk, Xaveryn lagi-lagi menahan Chyntia supaya tetap diam dan tidak mengambil sikap kasar di tengah perjamuan.
"Saya ingin bertanya kepada Anda, Yang Mulia, jika benar teh daimary ini palsu, apakah Anda punya buktinya? Sepengetahuan saya, ini memang benar teh daimary asli," ujar Eliza.
Xaveryn menyunggingkan senyumnya, dia sudah menduga Eliza akan berkata demikian.
"Apakah di kediaman ini ada buku tentang macam-macam teh?" tanya Xaveryn ke salah seorang pelayan.
"Ada, Yang Mulia."
"Kalau begitu, tolong kau bawakan buku itu kemari sekarang juga. Aku akan tunjukkan bahwa aku tidak salah menilai teh."
Pelayan tersebut langsung membawakan buku itu kepada Xaveryn. Di sana Xaveryn menyerahkan bukunya kepada Eliza.
"Nona Solfrid, silakan buka halaman seratus empat puluh empat dan lihat baris ke dua puluh satu. Di sana dijelaskan mengenai ciri-ciri teh daimary yang asli."
Lekas Eliza dan Lilia membuka halaman buku sesuai apa yang dikatakan Xaveryn. Mereka membaca kata demi kata yang dijelaskan secara seksama.
'Bagaimana bisa? Apa yang dikatakan gadis itu benar. Teh daimary yang dimiliki Lilia adalah palsu,' batin Eliza panik.
__ADS_1
Tanpa dijelaskan pun Xaveryn langsung menyadari bahwa mereka sedang panik karena apa yang dikatakan Xaveryn merupakan sebuah kebenaran. Seluruh tamu undangan di sana juga menantikan jawaban dari mereka. Terlihat jelas bahwa mereka terlalu mempercayai Eliza sehingga mereka menaruh dugaan yang sama kepada Eliza.
"Kenapa kalian terpaku? Apa yang aku katakan itu benar, bukan? Teh daimary yang dimiliki Nona Francys adalah palsu."
Eliza dan Lilia serentak mengangkap pandangan mereka. Tidak bisa disangkal kebenaran yang tertulis di dalam buku.
"B-Benar, i-ini adalah palsu," kata Eliza gelagapan, ia menahan setengah mati rasa malu.
Alangkah kagetnya semua orang, seorang Eliza yang terkenal akan pengetahuannya ternyata salah dalam mengira teh daimary.
"Lain kali kalau ingin membeli teh, harap dibaca dulu dan dihafal seluruh isi buku itu. Kenapa kalian melupakan hal mendasar dari sebuah pesta minum teh?"
Pesta minum teh kali ini benar-benar kacau, ini karena ulah Lilia sendiri yang kurang teliti di saat membeli teh tersebut.
"Lalu bagaimana sekarang? Nona Francys tertipu. Apa jangan-jangan teh ini berasal dari bahan berbahaya?"
"Aku tidak mau minum, takut nanti jadi sakit perut."
Begitulah anggapan dari para gadis bangsawan yang lain. Mereka menilai teh yang disajikan Lilia berasal dari bahan berbahaya.
Xaveryn memanggil kembali seorang pelayan, ia meminta beberapa lembar kelopak mawar dan juga sedikit susu. Para pelayan pun bergegas membawa seluruh bahan yang diminta Xaveryn.
Xaveryn mulai bergerak menyeduh tehnya, ia tampak profesional dalam menggerakkan tangan dan mencampurkan segala bahan. Setelah selesai, ia langsung menyajikan kepada mereka.
"Sekarang coba rasakan, ini adalah teh yang terkenal di Kekaisaran Saverio."
Xaveryn sengaja menyajikan teh tersebut, meski di dalamnya tersimpan kenangan buruk, tapi setidaknya dengan begini Xaveryn berhasil mengambil alih seluruh orang yang berada di sisi Eliza.
"Ini sangat enak, rasanya pas di lidah."
"Ketika saya menyeruput tehnya, ada sensasi yang menyegarkan."
"Anda sangat handal, Yang Mulia."
Lilia dan Eliza juga ikut terbuai di dalam rasa teh yang diseduh Xaveryn. Chyntia juga menikmatinya, sekarang pandangan mereka terhadap Xaveryn berubah secara perlahan.
__ADS_1
"Hei, kalian. Kemarilah dan coba tehnya." Xaveryn memanggil beberapa pelayan dan kesatria yang sedari tadi hanya berdiri menyaksikan mereka.
"Yang Mulia, kami tidak mungkin—"
"Sudah, tidak apa-apa. Benar kan, Nona Francys? Saya meminta izin agar para pelayan dan kesatria Anda bisa mencicipi tehnya."
"Ya, tidak apa-apa. Kalian cicipi saja," jawab Lilia.
Xaveryn membagikan satu cangkir teh per orang, reaksi mereka juga sama seperti yang lain. Rasanya sungguh enak, perpaduan yang pas, dan ini seperti rasa baru yang sangat cocok di lidah mereka.
'Lihatlah wajah Eliza, dia terlihat sangat kesal. Ya, memang inilah tujuanku, aku akan merebut kepercayaan orang lain kepadanya. Aku telah memberinya kesempatan menjadi bunga pergaulan sosial, tapi kali ini akan aku hancurkan semuanya,' batin Xaveryn.
Ekspresi Lilia terlihat sendu, entah mengapa ia merasa bersalah setelah berniat buruk terhadap Xaveryn. Dia termakan omongan Eliza yang selalu berkata buruk soal Xaveryn.
"Tenang saja, Nona Francys, teh yang dibelikan oleh Marquess adalah teh berkualitas tinggi. Anda tidak perlu bersedih soal itu," tutur Xaveryn.
Lilia tersentak, penilaiannya terhadap Xaveryn sepenuhnya salah.
"Baik, Yang Mulia."
Lima belas menit kemudian, pesta minum teh pun berakhir. Xaveryn dan Chyntia langsung kembali pulang.
"Kenapa Anda bersikap lunak, Yang Mulia? Seharusnya Anda hantam saja kepala mereka semua," gerutu Chyntia.
"Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah dengan baik. Jangan khawatir, mulai sekarang mereka akan mengubah pandangannya padaku."
Lagi-lagi Chyntia terkesima oleh Xaveryn, gadis itu memang adalah gadis yang paling cantik sepanjang masa.
Hingga di tengah perjalanan ke hutan saat mereka melewati tepian jurang, tiba-tiba saja sekelompok orang datang menyerang kereta kuda mereka. Chyntia terlihat panik dan gelisah, ditambah lagi di sekitar mereka sangat sepi dan tidak ada orang.
"Chyntia, kau tunggu di sini dan bungkam mulutmu. Jangan lakukan apa pun selama aku masih berada di luar."
"Yang Mulia, di luar sana berbahaya! Anda tidak—"
Xaveryn melompat turun dari kereta tanpa mendengarkan sampai selesai larangan dari Chyntia.
__ADS_1
"Siapa mereka? Entah mengapa firasatku memburuk. Semoga saja Tuan Putri baik-baik saja," gumam Chyntia.