Tuan Putri Yang Tersembunyi

Tuan Putri Yang Tersembunyi
Rencana Duke Solfrid


__ADS_3

Xaveryn syok bukan main, laporan tersebut membuatnya tersentak dan tidak bisa berkata-kata. Sejenak dia hanyut di dalam pikirannya sendiri, ia mengacak-acak ingatan kehidupan lampaunya. Namun, dia yakin satu hal bahwa tidak ada berita pembunuhan terhadap Ibu Trevor.


'Seingatku Grand Duchess Oskari meninggal karena sakit dan itu masih tiga tahun lagi. Tetapi, mengapa semuanya tiba-tiba berubah begini? Apakah ini mungkin efek dari aku kembali ke masa lalu dan mengubah masa depan? Hanya saja terlalu banyak kejanggalan di dalamnya,' pikir Xaveryn.


Kemudian Xaveryn lekas bangkit, tidak ada waktu baginya memikirkan masalah ini sendirian sekarang.


"Apakah Kaisar sudah tahu masalah ini?" tanya Xaveryn bernada cemas.


"Sudah, Yang Mulia. Kaisar sudah tahu dan sekarang beliau sedang bersiap-siap menuju kediaman Grand Duke."


"Ya sudah, kalau begitu aku juga akan pergi ke sana. Tolong siapkan gaun hitam untukku segera."


Xaveryn dan para pelayan pribadinya buru-buru mempersiapkan diri untuk datang melayat ke kediaman Grand Duke Oskari. Satu hal yang terlintas di kepala Xaveryn yaitu tentang bagaimana kondisi Trevor saat ini. Xaveryn tahu betul seberapa besar cinta Trevor untuk sang Ibu.


Butuh waktu satu setengah jam untuk mencapai kediaman Grand Duke Oskari. Di sana telah ramai orang berdatangan dan mengucapkan belasungkawa terhadap orang yang ditinggalkan. Grand Duke Oskari nampak frustrasi sekali ketika dirinya mendapati istrinya terbujur kaku dalam kondisi meregang nyawa akibat luka tusukan pisau. Masih belum ditemukan sampai sekarang siapa pelaku di balik pembunuhan Grand Duchess Oskari.


'Grand Duke tampak terpukul, tapi Trevor berupaya berdiri setegar mungkin untuk menyambut para tamu. Dia mengemban beban yang berat sebagai pewaris keluarga,' batin Xaveryn menatap iba Trevor dari kejauhan.


Xaveryn hanya mengamati sejenak sebelum akhirnya dia langsung berhadapan dengan Grand Duke Oskari dan Trevor untuk mengucapkan belasungkawanya. Di sana juga ada Jonathan, Riley, Alvaro, serta Claes.


Bagaimana pun juga, Ibu Trevor dulunya adalah seorang kesatria yang berada di kelompok kesatria yang sama dengan Ibunya Xaveryn. Hubungan mereka berdua terbilang dekat sehingga masalah pembunuhan kali ini juga menjadi masalah keluarga kekaisaran.


"Bagaimana? Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Claes pada Alvaro.


"Tidak, Kak. Tidak ada yang janggal, pembunuh itu tidak meninggalkan jejak sedikit pun," jawab Alvaro.

__ADS_1


"Aneh sekali, jika begitu kita tidak akan bisa menemukan siapa dalangnya."


Mereka tidak menemukan jejak si pembunuh, berapa kali pun mereka memeriksa ulang, tidak ada satu pun jejak yang tertinggal. Xaveryn langsung mengambil kesimpulan bahwasanya pembunuh tersebut menggunakan sihir sehingga tidak ada celah yang memperlihatkan tanda-tanda keberadaannya.


Sementara semua orang sedang sibuk, Xaveryn bersama Roxilius pergi ke lokasi terjadinya insiden pembunuhan. Di sana mereka mengamati dengan seksama jejak sihir yang tersisa.


"Bagaimana menurutmu, Rox? Ini sungguh mencurigakan," tanya Xaveryn.


"Master, kemungkinan pembunuhnya masih berada di Graziella. Ini hanya sebatas dugaan saya saja. Kemungkinan juga pembunuh itu juga bagian dari rencana Duke Solfrid," jelas Roxilius.


"Duke Solfrid? Astaga, lagi-lagi orang itu. Sepertinya aku harus segera bergerak sebelum terlambat."


Pada sore harinya, para tamu berdatangan semakin banyak. Hingga orang yang dicurigai pun datang bersama gadis yang bernama Eliza. Orang tersebut ialah Duke Solfrid, bahkan dia datang dengan tampang tak berdosa seolah dia tidak melakukan apa pun terhadap keluarga ini. Tak ada guratan rasa bersalah, melainkan hanya ada guratan rasa puas seusai sukses menghancurkan keluarga Grand Duke Oskari.


"Saya turut berduca cita, Grand Duke dan juga Tuan Muda," ujar Duke Solfrid seraya menundukkan kepalanya sedikit kepada Grand Duke Oskari dan Trevor.


"Yang Mulia Putri, rupanya Anda juga ada di sini," ujar Eliza tanpa mengucap salam terlebih dahulu terhadap Xaveryn.


"Nona Eliza, nampaknya Anda tidak diajarkan etiket dan sopan santun oleh Duke Solfrid, ya. Seharusnya Anda membungkuk memberi salam kepada saya. Apa saya harus mengajarkan Anda cara tundukkan kepala kepada orang yang lebih tinggi dari Anda?"


Respon Xaveryn membuat Eliza malu setengah mati, ia tidak sanggup menyangkal apa yang dikatakan Xaveryn. Semua orang melihat dirinya, jadi mau tidak mau ia harus memberi salam kepada Xaveryn.


"Maafkan ketidaksopanan saya, Yang Mulia." Eliza langsung membungkuk di hadapan Xaveryn. "Saya Eliza Solfrid memberi salam kepada Yang Mulia Putri Xaveryn," lanjutnya berucap.


"Tidak apa-apa, sekarang Anda boleh menyudahi salamnya," kata Xaveryn.

__ADS_1


Eliza menggeram dalam hati, tapi apa daya dia harus menjaga ekspresinya di hadapan banyak orang. Posisi Tuan Putri yang seharusnya dia juga punya itu. Namun, Xaveryn datang mengacaukan segalanya.


"Salam kepada Yang Mulia Putri Xaveryn." Duke Solfrid juga turut memberi salam.


"Halo, Duke, ini pertama kalinya kita bertatap muka langsung seperti ini. Sepertinya Anda orang yang sangat sibuk ya, Duke."


"Hahaha. Saya ada pekerjaan di luar Graziella, jadi saya sibuk menyelesaikannya. Lain kali saya akan sering mampir ke istana."


"Saya menantikan kehadiran Anda, Duke."


Xaveryn benar-benar ahli dalam berbasa basi dan menyembunyikan segala bentuk rasa curiga yang dia taruh kepada Duke Solfrid. Sedangkan Roxilius tidak meluputkan pandangannya kepada Eliza dan Duke Solfrid. Mereka berdua memang pantas untuk dicurigai atas segala kekacauan yang terjadi.


"Kalau begitu saya sekarang pamit undur diri."


Kemudian Duke Solfrid dan Eliza pun bergegas pergi, mereka tidak langsung pulang dan melangkah menuju halaman kosong di mansion Grand Duke Oskari. Diam-diam Roxilius mengirimkan boneka sihir untuk mengamati pergerakan mereka nan dipenuhi aura jahat.


"Bagaimana? Apa kau sudah membereskan semuanya?" tanya Duke Solfrid kepada seorang pria berjubah hitam.


"Saya telah membereskan semuanya, sekarang tidak akan ada orang yang tahu kalau Anda lah dalang dari terbunuhnya Grand Duchess Oskari."


"Hahaha." Duke Solfrid tertawa renyah. "Ya, baguslah kalau begitu. Lalu bagaimana kondisi anak itu? Apakah dia baik-baik saja seusai membunuh Ibunya sendiri menggunakan tangannya?"


"Tadi dia sempat mengamuk, tapi kami telah memberinya obat penenang. Tampaknya dia mulai memberontak dan berkali-kali mengatakan akan membunuh Anda yang telah membuatnya membunuh Grand Duchess," papar pria itu.


"Dia memberontak, ya? Biarkan saja. Lagi pula dia tidak akan bisa keluar dari penjara itu. Mungkin Grand Duke Oskari tidak akan memaafkanku bila dia tahu bahwa aku adalah orang yang menculik putra kembarnya. Memanfaatkan putranya untuk menghancurkan keluarga Grand Duke Oskari merupakan sebuah rencana yang telah aku susun sejak lama," gumam Duke Solfrid.

__ADS_1


"Saya akan memasang sihir pencuci otak untuknya. Sekarang Anda harus bergerak dengan sangat hati-hati, Duke."


"Tenang saja, di belakangku ada Kaisar Saverio. Beliau telah berjanji akan membantuku menguasai Graziella dan menumbangkan seluruh anggota keluarga kekaisaran."


__ADS_2