Tuan Putri Yang Tersembunyi

Tuan Putri Yang Tersembunyi
Ancaman Pembunuhan Lagi


__ADS_3

Beberapa hari setelahnya, Xaveryn membuat para koki di dapur berhamburan panik karena gadis kecil itu bersikeras ingin memasakkan sesuatu untuk Kakaknya yang sedang sakit. Beberapa orang di sana telah melarang Xaveryn, tapi sayangnya Xaveryn jauh lebih keras kepala dari dugaan mereka.


Xaveryn datang mengacaukan isi dapur, dirinya yang baru pertama kali memasak tentu saja akan mengalami kesulitan. Namun, seusai percobaan yang ke sekian kali, akhirnya Xaveryn berhasil membuat bubur untuk kedua Kakaknya yang sedang terbaring sakit.


"Yang Mulia, apakah ini bisa dimakan? Apa Anda tidak menaruh racun di dalamnya?" tanya Lian — kesatria pribadi Xaveryn.


Memang bentuk bubur yang dimasak Xaveryn sangat meragukan karena bentuk serta warnanya yang aneh sehingga mereka jadi meragukan rasa dari bubur tersebut. Mereka sampai berpikir Xaveryn mencampur buburnya dengan racun berwarna pekat.


"Tidak mungkin aku menaruh racun di bubur buatanku! Aku tahu kau tidak akan percaya, tapi meski bentuknya begini, rasa buburku tidak terlalu buruk. Ingat! Jangan menilai sesuatu dari luarnya saja!" tekan Xaveryn.


Xaveryn langsung membawa buburnya menuju kamar rawat Claes dan Alvaro. Di sana mereka berdua telah menunggu Xaveryn. Mereka mendapatkan kabar bahwa Xaveryn secara khusus memasakkan bubur untuk mereka. Walaupun mereka sedikit ragu, tapi mereka tetap menanti Adik kesayangan mereka sampai selesai memasak.


"Terima kasih sudah menunggu." Xaveryn tampak sumringah sekali, ia menyingkapkan penutup makanannya dan menyajikan bubur yang dia buat kepada Claes dan Alvaro.


Muka mereka nampak diselimuti keraguan, bagaimana tidak? Penampakan bubur Xaveryn lebih menyerupai bubur busuk yang mungkin akan mematikan siapa pun yang memakannya. Akan tetapi, melihat raut penuh harap dari Xaveryn, mereka berdua menahan diri untuk tidak berkomentar buruk.


"Ini kau yang membuatnya?" tanya Claes.


Xaveryn mengangguk. "Benar, aku membuatnya untuk pertama kalinya."


"Adikku, kenapa warna buburnya seperti ini? Apa kau mencampurkan sesuatu yang berbahaya?" Alvaro tanpa sadar bertanya seperti demikian, ia langsung sigap menutup mulutnya.


"Apa maksud Kakak? Apa Kakak tidak mau memakan bubur buatanku?" Ekspresi Xaveryn tampak mengerikan sekali.


"Tidak, maksudku bukan begitu. Aku akan segera menyantapnya."


Alvaro langsung menyantap bubur tersebut, setelah dia cicipi satu sendok rupanya rasanya tidak seburuk yang dia kira. Claes juga ikut menyantap buburnya, ia tampak kaget dengan rasanya.


"Ternyata bubur buatanmu lumayan enak," puji Claes.


"Benarkah?"

__ADS_1


"Benar, ini lumayan enak."


Kerja keras Xaveryn terbayarkan sudah, dapur yang hancur karena ulahnya tidaklah hancur sia-sia. Kedua Kakaknya memuji masakannya meski belum terlalu sempurna. Mereka mengapresiasi usaha Xaveryn untuk membuat mereka senang. Hanya ini yang bisa mereka lakukan untuk saat ini, padahal sebelumnya Xaveryn sudah cukup kewalahan menghadapi kelompok pembunuh yang menerobos keamanan istana.


Tidak lama selepasnya, Chaerick muncul dari pintu masuk. Dia sangat heboh mendapati Claes dan Alvaro berada di atas tempat tidur.


"Claes, apa yang terjadi padamu? Maafkan aku baru bisa menjengukmu dan Alvaro," tuturnya mengguncang-guncang pundak Claes.


"Kau ini! Tidak bisakah kau tenang saat bertemu denganku. Hentikanlah! Kepalaku pusing karena kau terus mengguncangnya," ujar Claes memukul kepala Chaerick.


Pemuda itu tidak akan pernah berhenti mengguncang Claes sebelum dipukul. Hal tersebut sudah lumrah terjadi antara mereka berdua.


Xaveryn lagi-lagi salah fokus ke tangan Chaerick yang dibalut perban putih. Dari tahun kemarin sampai sekarang Chaerick selalu didapati menggunakan perban di tangannya sehingga terkadang membuat Xaveryn bertanya-tanya.


Kemudian berselang beberapa menit, Jancent — putra Duke Egenbert juga datang. Dia datang bersama Trevor. Raut muka Xaveryn terlihat kurang senang karena adanya Trevor. Namun, dia masih berusaha menahan diri di tengah mereka semua.


"Yang Mulia Putri, bagaimana keadaan Anda? Saya dengar Anda berkontribusi cukup besar dalam menangani para pembunuh itu," tanya Jancent.


"Ahh, Tuan Muda Egenbert. Saya baik-baik saja sekarang," jawab Xaveryn.


"Baiklah, Jancent."


Senyuman Jancent membuat Xaveryn tertegun, pria yang terkenal jarang senyum itu kini memamerkan senyum pada dirinya.


"Trevor Oskari menyapa Tuan Putri Xaveryn," sela Trevor turut mengucap salam.


Xaveryn berupaya menanggapi Trevor senatural mungkin supaya dia bisa menyembunyikan ekspresi ketusnya.


"Halo, Tuan Muda Oskari. Senang bertemu dengan Anda lagi," ucap Xaveryn.


"Bisakah Anda memanggil nama saya saja, Yang Mulia? Saya rasa akan lebih nyaman bila Anda menyebut nama saya," pinta Trevor.

__ADS_1


Dengan berberat hati, akhirnya Xaveryn mengiyakan saja agar dia tidak perlu berlama-lama lagi mengobrol dengan Trevor.


"Baiklah, Trevor," jawab Xaveryn.


Mendadak suasana kamar menjadi heboh, mereka tidak berhenti berbicara satu sama lain mengenai beberapa hal yang terkadang kurang dimengerti oleh Xaveryn. Mereka saling berteman, jadi mudah bagi mereka menyatukan topik pembicaraan.


Xaveryn mengamati ruangan sekitar, ia mengedarkan pandangannya untuk meningkatkan kewaspadaan. Firasatnya mengatakan bahwa mungkin akan ada lagi ancaman pembunuhan yang datang menerkam kedua Kakaknya.


Tepat seperti apa yang dipikirkan Xaveryn barusan, dari arah luar balkon nampak anak panah sedang menuju ke arah mereka. Anak panah tersebut disertai bola api di ujungnya.


"BERLINDUNG SEMUANYA!" teriak Xaveryn.


Xaveryn menjangkau nampan kosong di sebelah ranjang Alvaro. Gadis kecil itu pun berlari ke arah balkon. Xaveryn menggunakan nampannya sebagai tameng memantulkan anak panah tersebut.


Alangkah terkejutnya seisi ruangan, tiada disangka akan muncul ancaman pembunuhan yang mengarah pada Claes dan Alvaro yang masih berada pada tahap penyembuhan.


"Apa itu barusan? Anak panah yang terbakar?"


Trevor bergegas keluar dari kamar, dia memanggil kesatria yang sedang berjaga di depan pintu.


"Segera laporkan kepada Kaisar bahwasanya ada ancaman pembunuhan yang kembali datang! Kerahkan seluruh kesatria untuk melindungi kedua Pangeran dan Tuan Putri!" titah Trevor.


Mendengar adanya ancaman pembunuhan salah satu kesatria melaju pergi ke istana utama untuk. melapor kepada Jonathan. Sedangkan tiga orang kesatria lagi masuk ke dalam kamar dan berencana untuk mengamankan seluruh orang yang ada di sana.


"Yang Mulia Putri, ayo segera pergi dari sini. Anda harus menyelamatkan diri," tutur salah satu kesatria mencoba membawa Xaveryn pergi.


"Tidak! Bawa saja mereka bersamamu, bawa Kakakku ke tempat yang paling aman. Aku akan terus di sini menangkis serangan yang melesat kemari," tolak Xaveryn.


"Xaveryn, ini terlalu berbahaya! Cepat keluar dari kamar ini," ujar Alvaro.


"Benar, kau harus menyelamatkan dirimu," timpal Claes.

__ADS_1


Mereka berdua mencemaskan Xaveryn, mereka khawatir Adik mereka tidak bisa menangkal segala jenis serangan yang mengarah padanya.


"Tidak, Kak. Aku tidak apa-apa, seharusnya Kakak pikirkan saja diri Kakak sendiri. Aku ini sangat handal dan bisa menggagalkan seluruh serangan itu tanpa terluka," kata Xaveryn meyakinkan Claes serta Alvaro.


__ADS_2