Tuan Putri Yang Tersembunyi

Tuan Putri Yang Tersembunyi
Kondisi yang Amat Buruk


__ADS_3

Reiner bergegas datang seusai menerima panggilan dari Jonathan. Menjelang membawa Xaveryn ke atas, mereka terlebih dahulu berteduh sejenak di gua terdekat. Reiner langsung memeriksa kondisi Xaveryn. Kondisinya jauh lebih buruk dari yang dia kira, bahkan Reiner tampak ragu membicarakan kondisi Xaveryn kepada Jonathan.


"Bagaimana, Reiner? Bagaimana kondisi Xaveryn?" Kecemasan Jonathan kian meningkat ketika ia melihat seberapa buruk kondisi tubuh Xaveryn.


"Terdapat beberapa cedera parah pada tulang tangan dan kakinya. Kemudian ada luka robekan yang dalam di kepalanya serta luka sayatan di bagian dada serta pahanya. Tetapi, yang lebih buruk ialah terdeteksinya racun yang menjalar melalui luka goresan di pergelangan tangan Xaveryn dan racunnya mulai menjalar ke sekujur badan."


Reiner memperlihatkan kepada Jonathan tangan kiri Xaveryn yang mulai berubah warna akibat racun tersebut.


"Apabila kita membiarkan racunnya lebih lama lagi, maka kemungkinan terburuknya adalah kita terpaksa amputasi tangan Xaveryn agar racunnya tidak menjalar lebih jauh lagi. Jika tidak, dia akan mengalami kelumpuhan seumur hidupnya," jelas Reiner.


Jonathan serta orang-orang yang mendengar kala itu syok bukan main. Ternyata kondisi Xaveryn jauh lebih parah dan buruk dari yang mereka kira.


"Reiner, tolong lakukan sesuatu. Aku mohon, aku hanya bisa bergantung padamu saja. Aku akan melakukan apa pun itu asalkan Xaveryn selamat. Aku mohon padamu, Reiner ...," lirih Jonatha memohon.


Kini Jonathan menggantung harapannya pada Reiner, dia takut sekali terjadi sesuatu yang buruk terhadap sang putri.


"Mari kita bawa Xaveryn ke istana terlebih dahulu, Kak. Aku tidak bisa menanganinya sekarang tanpa ada peralatan medis yang lain," ujar Reiner.


"Baiklah, mari kita kembali sekarang. Tolong sebagian dari kalian beri kabar kepada kelompok yang masih melakukan pencarian, katakan kepada mereka bahwa Tuan Putri telah ditemukan," titah Jonathan langsung dituruti mereka.


Mereka bergegas kembali ke istana, tidak peduli hujan badai dan petir sekali pun, mereka tetap menerobos cuaca nan buruk. Sesampainya di istana, Jonathan berlarian masuk menggendong Xaveryn menuju ke istana kediamannya.


Kala itu para pelayan pribadi Xaveryn terkejut melihat kondisi Tuan mereka. Lekas mereka mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk mengobati Xaveryn.


"Siapkan air hangat!"


"Ambilkan handuk!"

__ADS_1


"Ganti pakaian Tuan Putri dengan pakaian yang lebih hangat!"


"Cepat siapkan penghangat ruangan!"


Tidak hanya pelayan pribadi, bahkan pelayan biasa juga ikut sibuk membantu. Mereka khawatir bukan main menyaksikan kondisi Xaveryn yang jauh dari kata baik-baik saja.


"Tolong menyingkir! Harap yang tidak bersangkutan keluar dulu dari kamar Tuan Putri," seru seorang perawat datang bersama Reiner sembari membawa seluruh peralatan medis yang diperlukan.


Seluruh orang termasuk Jonathan terpaksa keluar dari kamar Xaveryn. Mereka membiarkan Reiner untuk menangani Xaveryn. Perasaannya berkecamuk, ia menunggu dengan sabar di depan pintu kamar Xaveryn.


"Ayah! Bagaimana keadaan Xaveryn?"


Dari arah lain, ketiga saudara Xaveryn datang dalam kondisi basah kuyub. Di belakang mereka diikuti oleh Chaerick, Felician, serta Trevor. Sedangkan Jancent sudah ada bersama Jonathan sedari tadi.


"Kondisi Adik kalian sangat buruk, itu jauh lebih buruk dari yang aku bayangkan. Dia seperti mayat hidup, tangannya juga terkena racun. Reiner mengatakan bahwa jika dibiarkan racunnya lebih lama lagi, maka kemungkinan Xaveryn bisa lumpuh dan tangannya terpaksa diamputasi demi mencegah penyebaran racunnya," terang Jonathan bernada suara gemetar.


"Apa? Seburuk itu? Tidak, Ayah, Xaveryn harus selamat apa pun yang terjadi."


Mereka bertiga mendadak panik, sedih, dan gelisah. Perasaan mereka bercampur aduk menjadi satu. Rasanya tak karuan, pikiran mereka dipenuhi bayangan buruk soal Xaveryn. Namun, Jonathan berupaya menenangkan anak-anaknya agar tidak panik dan menyerahkan semuanya kepada Reiner.


Menunggu hampir satu jam, Reiner pun keluar dari kamar. Ekspresi wajahnya tertekuk, tergambar sebuah keputusasaan di mata dan raut muka Reiner.


"Apakah Xaveryn berhasil diselamatkan? Jawab, Reiner! Putriku baik-baik saja, bukan?"


Jonathan mengguncang-guncang badan Reiner, dia mengharapkan jawaban yang baik dari Adiknya itu. Akan tetapi, Reiner menggeleng pelan, bibirnya bergetar, ia ingin berbicara tapi tak sanggup melakukannya.


"Maafkan aku, keterbatasan bahan dari penawar racunnya membuatku kesulitan menyelamatkan Xaveryn. Bahan-bahan pembuatan penawar dari racun tersebut tidak ada di Graziella. Seluruh bahannya berada di puncak gunung Saraya. Kita tidak bisa ke sana karena butuh waktu dua malam untuk sampai di puncak gunungnya. Sampai saat itu kondisi Xaveryn akan semakin kritis."

__ADS_1


Penjelasan dari Reiner membuat mereka terpaku di tempat. Tidak disangka kondisi Xaveryn akan seburuk itu. Mereka sungguh tak bisa berkata-kata lagi.


"Lakukan apa pun itu untuk menyelamatkan Xaveryn! Aku tidak mau putriku berakhir seperti ini. Aku mohon padamu, Reiner! Di kekaisaran ini hanya kau dokter yang paling berbakat. Aku minta tolong padamu, aku mohon ...."


Tubuh Jonathan meluruh ke atas lantai, tak sanggup lagi dirinya berdiri menahan kepiluan di hati. Nyawa putrinya tengah berada di ujung tanduk, dia sedang bermain dengan kematian sekarang. Akan tetapi, sebagai seorang Ayah, tak ada sesuatu yang dia lakukan.


Keputuasaan menghampiri mereka dan mengoyak perasaan mereka dari dalam. Berharap ada sesuatu yang bisa mereka lakukan kepada Xaveryn untuk menyelamatkan gadis tersebut dari ambang kematian.


"Tolong izinkan saya menyelamatkan Tuan Putri!".


Tiba-tiba saja dari arah lainnya lagi, terlihat Roxilius berjalan tertatih-tatih dengan didampingi oleh Viano. Kondisi tubuhnya masih sangat lemah sampai sekarang. Akan tetapi, demi Xaveryn dia memaksa dirinya untuk bergerak.


Seluruh pandangan mata mendadak terpusat pada kedatangan Roxilius. Mereka terdiam sesaat Roxilius menyeru untuk menyelamatkan Xaveryn.


"Rox, apa maksud perkataanmu barusan? Kau akan menyelamatkan Xaveryn?" tanya Jonathan bangkit kembali dari posisinya.


"Benar, Yang Mulia, tolong izinkan saya melakukannya. Saya mohon kepada Anda, saya pastikan Tuan Putri bisa sehat seperti sedia kala."


Tatapan Roxilius amat meyakinkan, Jonathan kembali menemukan harapan baru di diri Roxilius.


"Baiklah, aku akan memberimu kesempatan."


Semua orang terkejut melihat Jonathan mempercayai Roxilius.


"Ayah, apakah Ayah yakin mempercayai Roxilius? Kalau Paman Reiner saja tidak bisa menyembuhkan Xaveryn, lalu bagaimana caranya dia bisa mengobati Xaveryn?" bisik Alvaro.


"Jangan khawatir, lihat saja apa yang akan dilakukannya nanti."

__ADS_1


Roxilius dipapah oleh Viano masuk ke dalam kamar Xaveryn. Dia ditempatkan tepat di samping ranjang Xaveryn. Kedua mata Roxilius dipenuhi kesedihan mendalam ketika dirinya menatap wajah Xaveryn yang pucat pasi. Terlintas rasa bersalah di hatinya karena tidak berada di sisi Xaveryn ketika penyerangan itu terjadi.


"Apa pun yang kalian lihat setelah ini, aku harap kalian bisa bungkam. Jangan sampai ada yang membocorkannya ke orang lain," peringat Jonathan.


__ADS_2