VIP 69

VIP 69
CHAPTER 11


__ADS_3

"Liontin..." gumam Sahara.


"Ya, Gue sengaja beli dengan huruf itu. Karena ruang VIP tempat pertama kali kita bertemu mempunyai nomer 69. Walau nomer itu terlihat erotis, tapi gue ga pernah membayangkan sejauh itu. Yang gue liat di nomer 69 ini cuman gue dan juga lo Sahara."


Setelah Leon memakaikan Liontin kepada Sahara, Leon memberikan ciuman lembut di bibir Sahara.


Tak lama setelah memberikan ciuman lembut di bibir Sahara, tiba-tiba Leon mengarahkan wajahnya ke leher Sahara.


"Kamu ingat, aku sangat suka ketika mencium bagian leher. Karena aku akan menyisahkan sebuah "Mark" disana."


Sahara tersenyum setelah Leon mengatakan itu, dan membiarkan Leon memberikan ciuman di leher Sahara sehingga meninggalkan sebuah tanda merah disana.


"Sekarang aku harus pergi Sahara, aku janji aku pasti akan bertemu denganmu kembali. Maaf aku tidak bisa memberitahumu nomer handphoneku, untuk beberapa hari aku harus bersembunyi tanpa handphone."


"Tapi Leon... Jika kamu tak salah, kenapa kamu harus bersembunyi?"


"Sahara suatu hari kamu akan tahu kenapa aku bersembunyi. Aku di fitnah oleh mereka, dan aku juga tidak bisa mengatakan pada polisi jika mereka yang membunuhnya karena aku tak memiliki bukti."


"Aku pergi sekarang. Jaga diri kamu baik-baik Sahara... "


Leon akhirnya pergi meninggalkan Sahara. Leon mencoba bersembunyi entah kemana perginya. Sahara pun mulai merasakan kesedihannya.


"Sean pergi, Leon juga pergi... Sungguh dunia memang kejam, dia mengambil segalanya dariku."


Setelah semua itu terjadi di Bar, ketika Sahara menuju arah jalan pulang. Sahara melihat di depan rumah Lia begitu banyak orang bahkan polisi dan ambulan ada disana, tepat di depan rumah Lia juga terdapat sebuah mobil yang menabrak tembok rumah Lia dengan nomer mobil yang berinisial LEON. Dari situ Sahara mulai teringat dengan apa yang terjadi pada Leon.


"Jadi... Orang yang dimaksud Leon adalah..."


Sahara berlari untuk melihat lebih dekat lagi. Dan terlihat Lia teman Sahara yang baru ia kenal sudah terbaring tak berdaya di dalam mobil ambulan, Mobil bagian depan Leon benar-benar hancur akibat menabrak tembok rumah Lia.


Karena Sahara penasaran Sahara bertanya pada orang-orang di sekitar sana.


"Maaf apa yang terjadi?" tanya Sahara pada seorang wanita muda.


"Lia di tabrak oleh sekumpulan lelaki dengan menggunkan mobil itu. Kalo tak salah Leon itu kekasih Lia sendiri."


"Sekarang bagaimana dengan Lia?"

__ADS_1


"Dia meninggal dunia. Dan semua orang yang menabaraknya melarikan diri."


Sahara benar-benar terkejut dengan apa yang telah terjadi malam itu. Sahara bingung siapa yang harus ia percaya. Tapi rasa marah pada Leon tersirat dalam hatinya.


3 tahun kemudian.


"Sonia! Kemari berjalanlah dengan pelan." Suara itu terdengar dari sebuah rumah yang cukup mewah dengan halaman yang luas di belakang rumah.


"Sonia! Sahara! Papa pulang!" Suara yang tak asing juga terdengar dari arah pintu belakang yang menuju halaman belakang rumah.


"Sean... Kenapa hari ini pulang cepat?"


"Besok weekend Sahara, jadi malam ini kita harus pergi keluar bersama. Sonia anak papa yang paling cantik, sekarang kamu sudah satu tahun dan ini saatnya merayakan ulang tahunmu."


Ya, itu adalah Keluarga Sahara. Kini Sahara sudah berkeluarga setelah 3 tahun lamanya ia melupakan Leon. Setelah satu tahun Leon meninggalkan Sahara, satu tahun selanjutnya Sahara kembali pada Sean, karena Sean sudah menjelaskan pada Sahara jika dirinya tak berselingkuh hari itu. Lalu mereka menikah hingga dikarunia anak perempuan bernama Sonia yang kini berusia satu tahun.


Setelah menikah dengan Sean, Sahara kini meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang wanita pendamping di Bar.


Sahara mulai menjali hidup bahagia bersama Sean dan anak perempuannya yang bernama Sonia itu.


"Sean... Kamu makan apa malam ini?" tanya Sahara sembari menyisir rambutnya yang kini sudah berubah. Rambut Sahara kini panjang nan lebat, Sahara sengaja memanjangkan rambutnya karena tak ingin mengingat kembali kenangan tentang dirinya yang bekerja di Bar bersama Leon.


"Tidak, aku sudah bilang aku tak akan memotongnya. Aku akan memotongnya nanti Sean, tolong bersabarlah."


"Baiklah. Bagaimana jika malam ini kita makan diluar, bersama Sonia juga?"


"Sean, Sonia masih kecil dia baru berusia satu tahun jangan terlalu sering membawanya keluar malam-malam, cuaca sangat dingin. Lebih baik besok saja sebelum matahari tenggelam oke?"


"Baiklah..."


Sahara menolak ajakan makan malam Sean sehingga membuat Sean terlihat masam.


Saat Sahara sudah berada di tempat tidur, Sahara melihat Sean terus merajuk karena tak menerima ajakan makan malamnya. Sahara mulai resah lalu menghibur Sean.


"Sean... Apa kamu marah? Benar-benar marah padaku, aku mau makan malam bersama tapi aku khawatir dengan Sonia kita tak memiliki babysitters. Jadi aku mohon mengertilah."


Sean akhirnya tersenyum dan menganggukan kepalanya menandakan jika tak masalah tak bisa pergi malam itu.

__ADS_1


Saat Sahara akan tidur bersama dengan Sean. Tiba-tiba Sonia menangis, mau tak mau Sahara harus mengaisnya dan menyusuinya.


Sahara akhirnya menidurkan Sonia disampingnya sembari menyusuinya. Sedangkan Sean memeluk Sahara dari belakang sembari memberikan elusan dan pijatan kecil di pinggang Sahara.


"Kamu pasti lelah mengurus Sonia, aku minta maaf selalu menyusahkanmu juga." Ucap Sean pelan pada Sahara.


"Tak apa Sean, sekarang aku bahagia memiliki kalian berdua. Aku merasa sempurna, walau..."


"Walau... Walau apa Sahara?"


"Walau satu hal yang besar masih mengganjal dalam hatiku."


"Apa itu, apa yang mengganjal di hatimu?"


"Entahlah, hanya perasaanku saja."


Malam berlalu begitu saja, cahaya bulan mulai menghilang dan mentari mulai datang dengan warna orange yang indah di pagi hari.


Sahara sudah terbangun dari tidurnya lebih dulu dari Sean. Ketika Sahara pergi ke kamar mandi, Sahara membuka sebuah box yang berisi kalung Liontin pemberian dari Leon.


"Kenapa aku masih menyimpannya, seharusnya aku tidak melakukan ini. Ini sama saja seperti aku berkhianat pada Sean. Aku harus segera membuang dan melupakanya. Lagi pula dia seorang pembunuh kenapa aku harus menyukainya."


Tepat pukul 7 pagi Sahara keluar membawa kresek berisikan sampah. Sahara membawanya keluar dari dalam rumahnya yang cukup besar itu.


Ketika Sahara tiba di tempat pembuangan sampah, tepatnya di mobil angkutan Sampah. Sahara tak sengaja berpapasan dengan sebuah mobil berwarna hitam.


Karena saking terkejutnya Sahara, box berisi liontin itu terjatuh di atas aspal tepat di depan mobil yang tak sengaja berpapasan dengan Sahara di tepi jalan.


Sahara tak sadar dengan itu, Sahara mengacuhkan mobil hitam yang ada di dekatnya dan membuang sampah itu ke mobil angkutan sampah.


Setelah itu Sahara pulang begitu saja, dengan raut wajah yang tak sadar jika dirinya telah membuang liontin pemberian Leon atau mungkin Sahara memang sengaja berniat membuangnya.


Ketika Sahara sudah berjalan jauh, box berisi Liontin itu tiba-tiba menghilang sepertinya seseorang telah mengambilnya.


...Aku bakalan update setiap hari. Please support me dengan cara bantu like, komen dan share (Novel VIP 69) ini. Dan jangan lupa kasih gift hehe gomawo ♥...


...Follow me on Instagram @lyricbighit...

__ADS_1


...copyright©️Triahanda...


__ADS_2