
Sahara berdiri di depan pintu sembari melihat Leon yang tiba-tiba pergi dalam keadaan raut wajah yang tampak masih merasakan kesedihan atas kepergian sang ibu.
"Kamu mau kemana Leon?" tanya Sahara khawatir.
"Sahara aku ingin menenangkan pikiranku. Aku akan pergi sebentar menenangkan pikiranku." Jawab Leon dengan santai lalu masuk ke dalam mobilnya. Namun sebelum Leon menutup pintu mobil, Sahara menghentikannya lagi.
"Aku ikut!"
"Engga Sahara, kamu tunggu saja dirumah."
Sahara mulai cemas setelah Leon berniat pergi tanpa memberitahu tujuannya kemana.
Sahara akhirnya menelepon Sean untuk meminta bantuannya.
"Hallo Sean, Sean aku membutuhkan bantuanmu. Sean, Leon pergi tanpa memberitahuku kemana dia akan pergi. Dia pergi dalam keadaan suasana hati yang buruk. Aku harap kamu bisa menolongku."
Setelah Sahara meminta tolong pada Sean di telepon. Rasa khawatir Sahara sedikit berkurang.
Sahara terlalu cemas karena Leon pergi begitu saja. Sahara tak bisa mencarinya karena jika dirinya pergi siapa yang akan menemani Delmar dan Sonia dirumah.
Sahara ketiduran setelah menidurkan anak-anaknya dikamar. Ketika Sahara tengah tertidur handphonenya berdering. Seketika Sahara terkejut karena waktu sudah menunjukan tepat pukul 9 malam dan Leon masih belum pulang.
Sahara mengangkat telepon dari Bella, teman semasa dirinya bekerja di sebuah Bar.
"Hallo Bel."
"Sahara Leon ada disini. Gue baru tau dia ada disini sejak sore. Dan lo tau dia ada diruang VIP tempat dulu lo sama dia ketemu."
Mendengar kabar itu. Sahara shok lalu dengan cepat Sahara bersiap-siap menuju Bar.
"Bel makasih udah kasih tau aku, sekarang aku akan kesana."
Sahara dengan cepat menuju Bar dengan menaiki taksi yang dipesan secara online.
Di dalam taksi Sahara terus memikirkan Leon.
"Apa yang ada di dalam pikirannya. Kenapa dia kembali kesana. Ya ampun Leon...."
Sahara cemas tak karuan ketika dalam perjalanan menuju Bar.
Setibanya Sahara diBar. Sahara dengan cepat masuk ke ruang VIP nomer 69 yang dimana Leon ada di dalam sana.
Namun ketika Sahara masuk ke dalam Bar, Sahara terus diganggu dan digoda oleh beberapa pria yang ada disana. Tapi dengan cepat Bella datang mendekati Sahara dan membantu Sahara menjauh dari pria-pria itu.
__ADS_1
"Sahara gue rindu banget sama lo." ucap Bella sembari memeluk Sahara.
"Aku juga Bella, aku sangat merindukan temanku yang satu ini. Sekarang dimana Leon?"
"Ruang VIP 69 disana juga ada Sean. Sean terus menemani Leon."
"Baiklah aku akan masuk."
Sahara akhirnya masuk ke ruang VIP 69. Ketika Sahara masuk, Sahara melihat Leon tengah menangis sambil mabuk di hadapan Sean. Yang duduk di depannya.
"Sahara..." Gumam Sean.
"Sean makasih udah jaga Leon. "
Sahara mendekati Leon yang mabuk berat dan terus minum alkohol dari beberapa botol yang disediakan dimeja.
"Sahara aku menunggu diluar, bicaralah bersama Leon."
Sean pergi meninggalkan Sahara dan Leon berduaan di ruang VIP 69 itu.
Sahara duduk di samping Leon yang tengah dalam keadan mabuk. Ketiia Leon mabuk dirinya terus meneteskan air mata.
"Leon ... Sayang ... Kenapa kamu seperti ini? Kenapa kamu seperti Leon yang dulu yang selalu menghabiskan waktumu dengan minum-minuman keras seperti ini?" Ucap Sahara dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sahara..."
"Sahara jangan menangis, aku sedikit sadar sekarang. Aku hanya merindukan ibuku." Ucap Leon dalam keadaan setengah sadar setengah mabuk.
"Jika kamu merindukannya seharusnya kamu mendoakannya. Bukan melakukan hal seperti ini. Jika kamu melakukan hal seperti ini lagi Leon! Aku akan marah padamu."
Sahara mencoba keluar dari ruang VIP 69 itu. Namun dengan cepat Leon berlari ke arah pintu dan menguncinya dari dalam.
"Tetaplah disini ... Aku butuh pelukanmu Sahara ... sekarang." Gumam Leon. Lalu dengan cepat Leon memeluk Sahara dan mereka berdua berpelukan di dalam ruang VIP 69 itu untuk waktu yang cukup lama.
Leon mengeluarkan semua kesedihannya pada Sahara. Dalam keadaan mabuk Leon dengan mudahnya memberitahu Sahara semua rasa sakit yang ia alami. Sahara hanya bisa diam mendengarkan dan mengelus punggung Leon dengan lembut.
Leon meletakan kepalanya dibahu Sahara yang duduk di sampinya. Lalu Sahara memegang kedua tangan Leon yang dingin.
"Ayo kita pulang ...." Ajak Sahara dengan suara lembutnya pada Leon.
"Baiklah, aku akan pulang tapi tunggu."
Leon malah memberikan ciuman pada Sahara dengan lembut di bibirnya. Leon memeluk pinggang Sahara dengan kedua tangannya. Lalu Sahara mengalungkan tanganya di leher Leon.
__ADS_1
Mereka berciuman dengan mesaranya di ruang VIP 69 lagi setelah sekian lama.
1 minggu setelahnya. Leon berpamitan pada Sahara untuk bekerja diluar kota untuk waktu yang tidak sebentar. Sahara tidak bisa ikut dengan Leon karena ada anak-anak mereka yang harus Sahara urus dirumah.
Kini Sahara hanya bersama anak-anaknya di rumah. Dan terkadang Sean datang bersama istrinya ke rumah Sahara untuk bermain bersama.
Tapi suatu hari saat anak-anak Sahara sudah tertidur di tengah malam. Semua lampu dikota tiba-tiba padam, semuanya gelap.
"Astaga, dimana lilin dan senter? Aku lupa menaruh mereka. Bahkan handphoneku mati karena aku lupa tak mencharge nya."
Tok! Tok! Tok!
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah Sahara. Sahara terkejut karena dalam suasana gelap seperti ini seseorang bertamu.
"Siapa itu? Kenapa bertamu tengah malam seperti ini."
Walau merasa ketakutan, Sahara dengan cepat berjalan ke arah pintu depan dengan hati-hati menyusuri tembok rumah.
Saat dirinya sudah ada didepan pintu, Sahara tak langsung membukannya.
"Siapa itu? Leon tak ada dirumah, bertamu besok siang saja." Teriak Sahara di depan pintu dengan nada suara yang tak terlalu tinggi. Karena takut membangunkan Sonia dan Delmar.
"Ini aku Sahara, teman semasa kecilmu. Ali, apa kamu lupa denganku?"
"Ali... "
Seketika Sahara tersenyum dan dengan cepat membuka pintu rumahnya. Ketika Sahara membukanya, betapa bahagianya Sahara, Sahara tersenyum lebar dalam kegelapan.
"Ini beneran kamu Ali....?"
"Aku beneran Ali Sahara, aku sangat merindukanmu."
Dengan cepat Sahara langsung memeluk Ali karena sudah sangat lama Sahara tak bertemu dengannya.
Ali adalah seorang pria yang bertubuh jangkung dan berisi, Bahkan tinggi Sahara hanya sepundaknya. Ali teman Sahara sejak kecil. Dulu mereka bertetangga namun ketika mereka mulai berusia 16tahun, mereka mulai berpisah. Sahara yang meninggalkan Ali dan tinggal bersama orang tuanya di kota yang berbeda dengan Ali.
"Ali ... Bagaimana kabarmu? Aku sangat merindukanmu." tanya Sahara.
"Aku lebih merindukanmu, aku mencoba menghubungimu tapi kamu tak mempunyai sosial media. Jadi aku tak bisa menemukanmu, tapi untungnya hari itu aku bertemu dengan ibumu di Mall dan aku bertanya dimana kamu."
"Baiklah, ayo masuk. Walau gelap tak masalah. Akan ku carikan lilin dan kubuatkan makanan enak untukmu."
Sahara membawa Ali masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1