
Hari ini weekend Sahara pergi bersama dengan Sean dan anak perempuanya ke suatu tempat. Mereka pergi menggunakan mobil.
"Sean kita akan makan dimana?" tanya Sahara yang duduk di kursi mobil bagian belakang bersama dengan Sonia anaknya.
"Ga jauh ko sebentar lagi kita tiba."
Setelah perjalanan yang tak memakan waktu lama, mereka tiba di sebuah restoran yang sangat luas dengan pemanandangan indah.
Mereka memilih tempat duduknya di bagian outdoor dengan alas sebuah karpet yang cukup tebal.
"Biarkan Sonia jalan disini, disini aman banyak anak-anak juga yang sedang bermain." ucap Sean kepada Sahara. Namun Sahara masih merasa khawatir terhadap Sonia karena masih berusia satu tahun.
"Tenanglah Sahara Sonia akan baik-baik saja, lagi pula kita akan mengawasinya."
Karena kemauan Sean. Akhirnya Sahara membiarkan Sonia berjalan kesana kemari di tempat itu.
Namun ketika Sahara dan Sean tengah memperhatikan anak mereka yang sedang bermain. Tiba-tiba Sahara melihat sesuatu yang membuat dirinya terkejut tak percaya.
"Astaga... Wajah itu tak asing bagiku." Ucap Sahara dalam hatinya.
Sahara mencoba meyakinkan apa yang di lihatanya itu benar atau tidak dengan menatapnya lebih tajam lagi.
Lalu Sahara pun mulai tersadar dan yakin dengan apa yang di lihatnya.
"Itu Leon... " Gumamnya.
Terlihat Leon menggunakan sebuah stelan jas berwarna hitam dan tampak seperti seorang CEO.
Sahara mulai was-was hatinya mulai gundah.
Ketika hati Sahara mulai gundah, Sahara akhirnya menghampiri Sonia. Namun Sayang Sonia malah berjalan ke arah dimana Leon tengah berdiri.
"Astaga Sonia..."
"Sahara ada apa?"
"Emm, Sean bisakah kamu memesankan buah-buahan untuk Sonia. Dia harus makan buah-buahna sekarang."
"Baiklah akan aku pesankan, aku akan masuk ke dalam. Tapi sikapmu membuatku terkejut aku pikir ada apa."
Sean masuk ke dalam restoran lalu memesankan buah-buahan segar untuk Sonia. Ketika Sean berada di dalam restoran, Sahara dengan cepat menghampiri Sonia yang berjalan ke arah Leon.
Sahara terus berusaha menunduk dan menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya.
__ADS_1
Ketika Sahara sudah dekat dengan Sonia, Sahara sesegera mungkin mengaisnya, namun sayang ketika Sahara mengais Sonia. Anak itu bukan Sonia, Sahara melakukan kesalahan akibat terus menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya.
"Astaga ini bukan Sonia!"
Ketika Sahara melihat ke arah Leon. Ternyata Sonia ada dalam pangkuan Leon.
Sahara pun terkejut dan tak bisa berkata-kata lagi. Sahara terpaksa menghampiri Leon sebelum Sean melihatnya.
"Sonia... Kemari nak." ucap Sahara di hadapan Leon yang tengah mengais Sonia.
"Oh jadi nama kamu Sonia, lihat ibumu memanggil-mu..."
Leon terkejut melihat Sahara ada di hadapanya. Leon diam membeku melihat wajah Sahara. Begitupun sebaliknya, Sahara juga terdiam dengan tatapan marah pada Leon.
"Sahara..." gumam Leon.
"Kemari Sonia ayo kita pulang." Sahara mengambil Sonia dari Leon. Ketika Sahara mencoba berjalan pergi meninggalkan Leon. Leon malah menghadang jalannya.
"Sahara ini gue Leon... Lo ga lupa'kan sama gue?" tanya Leon dengan ucapannya yang masih sama seperti dulu.
"Ini siapa Sahara?"
"Leon aku mohon, sejak lama aku tak menyukaimu saat di Bar itu, semua itu hanya tangisan palsu. Kamu hanya pelangganku dulu dan jangan anggap aku lebih dari itu. Dan ini anakku Sonia, anak ku dengan Sean... Aku kembali padanya setelah satu tahun kepergianmu. Maaf aku tak bisa dekat-dekat dengan pembunuh sepertimu."
Saat Sahara tengah duduk bersama keluargnya, Sahara tahu Leon masih memperhatikannya dari kejauhan. Dengan tatapan yang begitu kosong.
Dalam keadaan seperti itu, Sahara mulai takut dengan Leon. Sahara takut rumah tangganya akan hancur setelah Leon kembali.
****
Tiga hari berlalu begitu saja setelah Sahara bertemu kembali dengan Leon. Tiga hari itu adalah hari terberat bagi Sahara, karena pikirannya terus dihantui oleh Leon.
Sahara tak biaa menceritakan keluh kesah tentang Leon pada Sean, karena pasti Sean akan marah padanya.
"Ini kesalahanku juga, andai hari itu aku tak memeluknya dan mangatakan aku menyukainya juga. Mungkin ini semua tak akan terjadi. Aku takut ucapan Bella memang akan terjadi, Sekarang aku mulai takut pada Leon." ucap Sahara sembari berjalan kesana kemari di tengah malam yang gelap. Di balkon kamarnya.
Terlihat Sean sudah tertidur bersama dengan Sonia.
Ketika Sahara tengah cemas, tiba-tiba Sahara melihat dua buah mobil berhenti di gerbang rumahnya. Sahara yang melihat itu dari atas balkon langsung terkejut dan berlari menghampiri Sean yang tengah tertidur.
Sahara membangunkan Sean dengan menggerak-gerakan tubuh Sean.
"Sean! Sean bangun Sean!"
__ADS_1
"Sahara ada apa? Kenapa kamu belum tidur?"
"Sean kemari dan lihat kebawah ada yang datang Sean."
Ketika Sahara dan Sean mengintip ke arah bawah rumah mereka dari atas balkon, Terlihat 4 orang keluar dari mobil hitam yang terparkir di depan rumah Sahara itu. Mereka semua menggunakan topi hitam dan masker.
"Astaga mereka pasti perampok Sean! Cepat kita harus keluar dari sini Sean dan bawa Sonia keluar melalui pintu belakang!" Ucap Sahara sembari membawa Sonia yang tertidur.
"Sahara kamu pergi duluan ke pintu belakang dan tunggi aku disana!"
"Sean kita harus pergi bersama, ini bukan saatnya untuk saling menjadi pahlawan. Buruan Sean! Apa yang kamu tunggu!"
"Sahara aku harus menyelamatkan Harta kita, Aku harus membawa brankas uangku! Harta itu berharga bagiku!"
"Astaga Sean kamu masih memikirkan hal itu dibandingan dengan aku dan anakmu ini? Aku mohon jangan terlalu jatuh cinta dengan harta mu itu! Baiklah aku pergi dengan Sonia, silahkan urus hartamu itu Sean."
Sahara akhirnya meninggalkan Sean yang sibuk memasukan uang-uangnya dari laci ke dalam brankas.
Ketika Sahara sudah berada di pintu belakang bersama Sonia, Sahara malah berdiri disana dan menunggu Sean.
"Astaga kenapa Sean lama sekali? Perampok itu sudah masuk ke dalam rumah." Sahara mulai ketakutan, hatinya ingin sekali berlari ke arah gerbang kecil yang ada dibelakang rumahnya bersama Sonia. Namun Sahara tak mau pergi sebelum Sean datang padannya.
Ketika Sahara mulai cemas, Sahara mendengar Sean tengah berdebat dengan para perampok itu.
"Hah! Sean... "
Sahara mulai khawatir pada Sean namun dirinya tidak bisa masuk untuk menolong Sean karena ia membawa Sonia kecil yang malang.
Sahara terus menangis ketakutan namun tiba-tiba Sahara terkejut karena suara langkah kaki yang cukup banyak mendekatinya.
"Kenapa aku merasa suara langkah kaki dari sepatu-sepatu perampok itu mulai mendekat?"
Sahara mulai khawatir, cemas dan...
BRUK!!
Tiba-tiba pintu belakang terbuka dengan kerasnya akibat di tendang oleh salah satu perampok itu.
Sahara melihat Sean memeluk brankas'nya sembari berjalan mendekati Sahara di iringi dengan ke empat perampok itu.
...Aku bakalan update setiap hari. Please support me dengan cara bantu like, komen dan share (Novel VIP 69) ini. Dan jangan lupa kasih gift hehe gomawo ♥...
...Follow me on Instagram @lyricbighit...
__ADS_1
...copyright©️Triahanda...