VIP 69

VIP 69
CHAPTER 51


__ADS_3

5 hari kemudian, setelah kejadian Leon memotong rambut Sahara.


Selama lima hari itu Leon selalu diam dan mengabaikan Sahara dan selalu bersikap romantis pada Key di hadapan Sahara.


Sahara merasa tak nyaman bekerja disana. Namun demi Delmar Sahara bertahan disana.


Pagi itu Sahara bangun pagi-pagi sekali, Sahara keluar dari kamarnya lalu duduk di halaman depan rumah Leon. Tapi tiba-tiba Sahara di kejutkan dengan kedatangan Ibu Leon.


"Astaga itukan ibu Leon... " Sahara terkejut dan berusaha berlari menjauh namun sayang ibu Leon sudah melihatnya.


"Sahara!" panggil ibu Leon dari kejauhan yang berjalan mendekati Sahara.


"Sahara! Kamu ada disini?"


Ibu Leon memeluk Sahara dengan begitu eratnya setelah lama tak bertemu.


"Ibu aku merindukan ibu..." ucap Sahara dalam pelukan Ibu Leon.


"Kenapa kamu ada disini? Apa kamu sudah tahu Leon sudah memiliki istri baru? Tapi ibu tak menyetujuinya."


"Aku tahu, dan aku minta maaf telah pergi meninggalkan Delmar dan kalian. Tapi ibu sudah tahukan kenapa aku pergi. Ibu tahukan alasanku menceraikan Leon karena aku selalu mendapat ancaman dari sean."


"Ya ibu tahu, tapi sekarang apa yang kamu lakukan disini?"


"Aku mengasuh Delmar, aku baby sitter Delamr bu."


"Astaga Leon!! Ibu harus menemui Leon. Kenapa dia melakukan ini."


"Bu jangan, aku mohon ini kemauanku agar aku tetap bersama Delmar."


Ibu Leon sama keras kepalanya dengan Leon. Ibu Leon berjalan dengan cepat menemui Leon yang masih tertidur dengan Key karena hari ini adalah minggu.


Sahara mengikuti ibu Leon dari belakang yang mencoba menemui Leon. Detak jantung Sahara berdetak begitu kerasnya karena Sahara takut peperangan akan terjadi antara ibu Leon dan Leon.


Ibu Leon membangunkan Leon di kamarnya, bahkan Sahara bisa melihat Leon sedang tertidur dengan posisi tangan yang memeluk Key.


"LEON! BANGUN LEON!" Ibu Leon membangunkan Leon dengan begitu kerasnya sehingga membuat Leon dan Key terkejut.


"Astaga ibu, ibu kapan datang? Ini masih pagi." ucap Leon terkejut.


Ketika Sahara melihat mereka yang baru bangun, tiba-tiba Leon melirik ke arah Sahara dan emosi Leon mulai timbul.

__ADS_1


"Sahara kenapa kamu disini? Cepat keluar dari kamar ini, ini bukan urusanmu." kata Leon dengan tatapan tajamnya.


Sahara pun menuruti perkataan Leon. Namun ibu Leon menahan Sahara agar Sahara tak pergi.


"Tunggu Sahara kamu tetaplah disini. Key apa kamu tahu Sahara ini mantan istri Leon, dia adalah ibu Delmar."


"A-aku tidak tahu bu, Leon tak memberitahuku."


"Leon jika kamu mengizinkan Sahara merawat Delmar dirumah ini. Berikan saja Delmar pada Sahara biar ibu dan Sahara yang mengurusnya, ibu masih sanggup. Dari pada Delmar tumbuh besar dan Delmar tahu jika baby sitter nya adalah ibunya sendiri itu akan menyakiti Delmar, lebih baik Delmar bersama tahu sejak kecil jika ibunya adalah Sahara bukan Key!"


"Cukup bu. Sahara bukan ibu kandung Delmar,  Key kamu harus percaya padaku ibu Delmar sudah meninggal aku sudah memberitahumu Key. Jadi kamu harus percaya padaku."


Leon tiba-tiba berbohong di hadapan ibunya sendiri dan juga Sahara.


Sahara tak bisa diam saja setelah tahu jika Leon memberitahu Key jika ibunya Delmar sudah meninggal.


Sahara tiba-tiba berlari meninggalkan rumah Leon dan meninggalkan semua pakaiannya.


Ibu Leon mengejar Sahara namun sayang Sahara berlari dengan kerasnya meninggalkan rumah baru Leon dengan penuh kesedihan.


Pagi itu tiba-tiba cuacanya mendung, lalu beberapa menit kemudian, hujan turun dan membasahi seluruh tubuh Sahara. Sahara menangis dalam hujan dengan kerasnya mengeluarkan semua kesedihan dan kesengsaraan yang selalu ia alami.


Ketika Sahara menangis di tengah hujan, tiba-tiba seseorang berdiri di hadapannya dan menutupi Sahara dengan payung.


Ketika Sahara melihat wajahnya. Dia adalah seorang pria dengan pakaian yang tampak sederhana sembari membawa sebuha kantung kresek di tangannya.


"Hei bangunlah, kamu kenapa hujan-hujanan seperti ini?" ucap pria itu lalu membantu Sahara berdiri.


Pria itu tingginya hampir sama dengan Leon namun memiliki tatapan yang lembut dan senyuman yang ramah. Benar-benar berbeda dengan Leon yang selalu memiliki tatapan tajam.


"Aku baru melihatmu dikomplek ini. Apa kamu baru tinggal dikomplek ini?"


"Tidak, aku tak tinggal disini, aku sedang bekerja tapi aku tak akan bekerja lagi disana."


"Kamu sedang bekerja? Oh aku mengerti. Oh iya kebetulan ini rumahku, ayo masuk dulu kedalam cuacanya buruk hari ini."


"Tidak terima kasih, aku akan berteduh diluar sini saja."


"Aku tak akan melakukan apapun padamu. Lihat aku membeli 2 bungkus bubur ayam, mari makan bersama."


Karena cuaca semakin buruk pagi itu. Sahara akhirnya mau mampir ke rumah pria yang baru pertama kali bertemu dengannya.

__ADS_1


Sahara masuk ke dalam rumah pria itu, dengan tubuh dan pakaian yang basah.


Pria itu dengan baiknya langsung memberikan Sahara pakaian dan menyuruh Sahara mengganti pakaiannya yang basah.


Setelah Sahara mengganti pakaiannya dan mengeringkan rambutnya. Sahara sarapan bersama pria itu.


"Terima kasih kamu mau menijamkan pakaian ini."


"Tak masalah, itu pakaian mendiang istriku. Dia meninggal karena sakit. Meninggal setelah satu bulan kita menikah."


"Oh maafkan aku... Aku tidak bermaksud."


"Tak apa, cepat makan buburnya nanti dingin."


Sahara sarapan bersama Pria itu dengan nyaman.


"Oh aku lupa menanyakan namamu, siapa namamu?"


"A-aku Sahara..."


"Sahara. Kamu tak bertanya namaku, jadi aku akan memberitahu namaku. Namaku Galang."


Sahara hanya tersenyum setelah pria yang bernama Galang memberitahu namanya.


Sahara tiba-tiba menangis di hadapan Galang. Padahal dia baru bertemu dengannya.


"Sahara kamu menangis? Katakan padaku apa yang terjadi? Katakan saja semuanya, lagi pula aku tak mengenalmu jadi berceritalah."


"Galang aku minta maaf, karena aku tiba-tiba menangis. Sejujurnya aku menjadi baby sitter dirumah mantan suamiku dan aku mengurus anakku sendiri. Aku ingin bertahan disana tapi ucapan mantan suamiku sangat menyakiti hatiku."


"Mungkin ini cerita biasa dan sepertinya ringan jika aku menceritakannya. Tapi sejujurnya bagiku sangat berat."


Galang tiba-tiba mendekati Sahara.


"Sahara kamu dalam suasana hati yang buruk, dan kamu terlihat memiliki trauma. Apa dulu kamu punya kecemasaan? Karena itu terlihat, saat mendiang istriku mempunyai kecemasaan dia selalu meminta pelukan dariku. Kemari peluklah aku, aku tak akan melukaimu."


Sahara dengan cepat memeluk Galang dengan erat dan menangis sejadi-jadinya di pelukan Galang.


Galang mengelus punggung Sahara dengan pelan dan itu membuat perasaan Sahara terasa lebih baik.


...Please support me dengan cara bantu like, komen dan share (Novel VIP 69) ini. Dan jangan lupa kasih gift hehe gomawo ♥...

__ADS_1


__ADS_2