
Leon dengan cepat masuk ke dalam rumah Sahara, Sahara mengejarnya dan menghentikanya namun Sahara tak bisa. Karena takut akan ada yang melihat Leon masuk ke dalam rumahnya, Sahara akhirnya menutup pintunya dan menguncinya dari dalam.
"Leon! Kenapa kamu masuk. Bagaimana jika pemilik rumah ini melihatnya dan mengusirku. Aku akan tinggal dimana nanti, aku mohon jangan menyusahkanku."
Leon malah berjalan mendekati kamar mandi Sahara.
"Wah apa ini? Kenapa rumah biasa seperti ini memiliki kamar mandi yang cukup mewah dan sedikit erotis. Hanya di tutupi kaca yang tebal. Mau mandi bersama?"
"Cukup! Hentikan Leon, kamu sudah keterlaluan, kamu kasar dan tidak sopan!"
Baru saja Sahara mencoba menghentikannya namun Leon malah bersikap lebih liar lagi.
Leon tiba-tiba membuka jaketnya lalu masuk ke dalam kamar mandi Sahara. Leon menyalakan shower lalu membashi dirinya di sana. Sahara terkejut lalu menutup matanya.
"Leon! Apa yang kamu lakukan?"
Namun Leon tetap diam dan terus membasahi dirinya dengan pakaian yang masih dipakainya.
Ketika Sahara banyak bicara. Tiba-tiba Leon menarik tangan Sahara dan akhirnya seluruh tubuh dan pakaian Sahara basah akibat shower itu.
Leon memeluk Sahara dibawah air deras dari arah shower, Sahara masih terdiam matanya terpejam karena kedinginan.
"Ini dingin tapi lo bakalan suka..." Gumam Leon.
"Leon! Minggir! Ini bukan diruang VIP!"
Sahara terus berteriak mencoba menjauhkan dirinya dari Leon yang terus memeluknya dibawah derasnya air shower.
"Kayanya gue suka sama lo Sahara," Ucap Leon dengan tawanya.
"Lo pasti ga percaya, tapi serius gue kayanya suka sama lo."
Sahara terdiam setelah mendengar ucapan Leon. Pada satu sisi Sahara merasa Leon benar-benar mengatakan hal yang benar, namun sisi lainnya Sahara tahu jika Leon adalah kekasih Lia. Wanita yang baru saja Sahara temui di Bus.
"Berhenti berkhayal dan menggodaku! Aku mohon pulanglah Leon... Ini bukan rumahku ini rumah yang aku sewa, aku takut pemiliknya mengusirku karena melakukan hal aneh disini."
"Apa gue ngelakuian hal aneh disini?"
__ADS_1
"Ya! Kamu melakukannya, lihat ini apa maksudnya ini?" Teriak Sahara sembari menunjukan apa yang tengah Leon lakukan padanya.
"Kamu memelukku, menarikku tepat dibawah shower dan membuat tubuhku basah kedinginan!"
"Gue lakuin ini cuman karena gerah, rumah lo ini kecil dan panas. Gue ga sanggup!"
Sahara benar-benar tak percaya dengan ucapan Leon. Leon terus saja menghinanya dan mengganggunya.
"Seharusnya kamu tak melakukan ini... Jika kamu merasa gerah di dalam rumahku keluar saja, tak perlu membuat kekacauan seperti ini. Kamu tahu aku tak punya pakaian lagi untuk bekerja besok... Bajuku basah semua karena kamu Leon. Kenapa kamu tak punya hati..."
"Udah jangan nipu gue kaya gitu, gue tau baju lo banyak. Mana mungkin cewe cuman punya baju satu pasang..."
"Tiga! Aku hanya punya tiga pasang. Semua uang dari gaji pertamaku habis untuk menyewa rumah ini dan makanan, tak cukup untuk membeli pakaian," Sahara menjelaskan lagi dengan detail pada Leon namun Leon masih saja terlihat seperti tak percaya.
"Aku mohon Leon, Jangan lakukan hal seperti ini lagi. Sekarang pergilah tinggalkan rumah ini. Aku harus mengeringkan baju ini lalu beristirahat, besok aku harus pergi bekerja."
"Dasar kupu-kupu malam, apa kamu menemani pria lain di ruang VIP nomer 69 itu ketika aku tak ada disana?"
"Bukan urusanmu, kamu tak akan pernah tahu kenapa aku bekerja sekeras itu di Bar yang sering kamu kunjungi. Kamu tak tahu seberapa keras aku menjalani hidup. Hidupku sengat menyedihkan Leon!"
"Oh jadi lo ngeluh sama takdir yang udah Tuhan kasih buat lo! Inget Sahara di dunia ini bukan cuman lo yang merasa hidup lo itu susah dan berat."
"Dasar aneh! Dia yang menggangguku, dia juga yang marah padaku! Seharusnya aku yang marah!" Bentak Sahara setelah Leon bertingkah seperti itu.
Sahara langsung mengunci pintu rumahnya dan membersihkan badannya yang basah. Sahara bahkan harus mencuci pakaian yang basah itu untuk esok harinya.
"Aku lelah... Aku lelah menjalani hidup seperti ini. Tapi aku lebih lelah ketika aku tak bekerja sama sekali, lelah pikiranku jika aku tak bekerja."
Sahara terus mengeluh sembari mencuci pakaiannya. Sahara selalu saja menyalahkan dirinya sendiri.
"Ya kamu benar Leon, aku memang sering menemani pria lain di ruang VIP itu, dan semuanya terasa aneh bagiku. Aku selalu takut saat mereka tiba-tiba ingin menyentuhku."
"Tapi ketika kamu yang menyentuhku, aku merasa aku... "
"Astaga! Apa yang kamu pikirkan Sahara, dia pria nakal, Leon itu sangat nakal tak perlu mengingatnya!"
Malam pun berlalu, Sahara tertidur lelap dalam kamarnya dengan kipas angin yang menyala, karena udara begitu panas. Hingga membuat Sahara terus-terusan merasa panas.
__ADS_1
"Jika Leon yang tinggal di tempat ini. Pasti dia akan mati kepanasan dan meleleh seperti ice cream yang terkena sinar matahari." Gumam Sahara sembari berbaring di atas ranjangnya.
Malam pun berlalu begitu saja, hingga tak terasa suara alarm dari handphone Sahara bergetar begitu keras dengan suaranya yang nyaring membangunkan Sahara.
Tepat pukul enam pagi Sahara terbangun, Dengan celana pendek dan kaos pendek berwarna merah, Sahara berjalan menuju dapur untuk Sarapan.
"Astaga aku sangat lelah, sepertinya aku akan tidur kembali setelah sarapan."
Sahara memang bangun pagi lalu sarapan. Tapi karena kelelahan ia kembali ke tempat tidur.
Tepat pukul enam sore Sahara terbangun, Sahara terbangun karena alarm handphonenya lagi. Itu menandakan bahwa Sahara harus segera bersiap-siap bekerja.
Setelah Sahara mandi, Sahara langsung pergi ke arah lemari pakaiannya. Namun ketika Sahara membukanya, wajah Sahara tiba-tiba berubah.
"Tunggu... Aku lupa seharusnya pagi tadi aku menjemur pakaian yang semalam aku cuci! Astaga aku malah tidur..."
Sahara baru tersadar jika semua pakaiannya basah dan tak ada pakaian lain untuk Sahara gunakan.
"Miskin sekali aku, bahkan pakaian saja aku hanya memiliki dua sampai tiga pasang. Astaga! Terus aku harus pakai apa untuk bekerja?"
Sahara masih menggunakan handuk, karena semua pakaiannya basah. Karena semua pakaian basah Sahara hanya memakai handuk yang di tutupi oleh mantel mandi berwarna putih.
Karena Sahara tak bisa pergi bekerja, Sahara akhirnya memberitahu Bella jika ia tak bisa bekerja malam itu.
"Astaga Gurun! Yaudah lain kali kalo lo ga punya baju, nanti gue beliin selusin!" Bentak Bella dengan suara beratnya namun sedikit bernada seperti suara wanita.
"Iya, makasih ya Bel... Bahkan sekarang aku hanya menggunakan handuk dan mantel mandi."
Setelah Sahara berbicara dengan Bella di telepon Sahara akhirnya menjemur pakaiannya di depan rumah malam itu juga.
Tapi ketika Sahara tengah menjemur pakaian tiba-tiba Sahara mendengar suara motor sport, dengan sekilas Sahara teringat jika suara motor itu nampak sama dengan suara motor Leon.
"Astaga pasti itu Leon!"
Sahara pun berlari ke dalam rumah dengan terburu-buru.
...Aku bakalan update setiap hari. Please support me dengan cara bantu like, komen dan share Novel VIP 69 ini. Dan jangan lupa kasih gift hehe gomawo ♥...
__ADS_1
...Follow me on Instagram @lyricbighit...
...copyright©️Triahanda...