
"Bagaimana caranya? Aku tidak tahu bagaimana cara menggoda laki-laki." Ucap Sahara sembari menatap Leon.
"Ingin aku tunjukan caranya? Aku akan memberi tahu caranya dengan cuma-cuma."
"Ya, tunjukan caranya."
Tiba-tiba Leon mendekati Sahara, mereka duduk begitu dekat. Perlahan tangan Leon memegang leher Sahara dari belakang dan terus memberikan sentuhan lembut hingga bagian leher depan Sahara. Hal itu membuat Sahara menelan ludah.
Leon tiba-tiba memberikan ciuman di leher Sahara begitu kuat, Sahara merasa lehernya tengah ditarik oleh bibir Leon. Sahara mencoba menjerit namun Leon menutup mulutnya dengan tanganya.
Tak lama Leon akhirnya melepas ciumannya dari Leher Sahara, hingga Sahara berdiri dari tempat duduknya dan marah pada Leon.
"Apa ini, kenapa kamu melakukan itu!" Bentak Sahara di depan Leon yang masih duduk di tempat duduknya.
"Apa? lo kan yang tadi mau gue tunjukin cara menggoda laki-laki? Nah itu yang gue suka, secara lo kan lagi nemenin gue, dan itu yang gue mau. Lagi pula kenapa lo harus marah itu kan pekerjaan lo." Jelas Leon dengan santainya.
Sahara terdiam sembari memegang lehernya, ketika Sahara melihat cermin di depannya. Terdapat tanda merah di lehernya.
"Sahara! Lo harus patuh sama pelanggan lo itu kalo engga lo ga bisa dapet uang makan malam ini!" teriak Nori.
"Uang makan, ya benar aku harus dapat uang makan, sudah hampir dua hari aku tak makan." Ucap Sahara dalam batinya.
Akhirnya Sahara duduk kembali di samping Leon.
"Hiro, cepat beli pizza. Gue laper nih!" teriak Leon menyuruh Hiro temannya.
Tak lama Hiro pun melakukan apa yang Leon perintahkan. Setelah dua puluh menit lamanya akhirnya Hiro kembali dengan pizza. Lalu memberikan pizza itu pada Leon.
Saat Leon mengambil satu potong pizza pertama, Leon langsung memberikannya pada Sahara sehingga membuat Sahara sedikit terkejut.
"Ini ambil, lo suka pizzakan, makanlah yang baru jangan sampai saat gue pergi dari sini lo malah makan sisa pizza ini." ucap Leon sembari memberikan potongan pizza pertama pada Sahara.
Sahara mengambilnya lalu memakan pizza itu, sembari menatap Leon yang duduk di sampingnya.
"Dia mulai bersikap baik padaku tapi tetap saja kata-katanya masih menyakitiku setiap kali dia berbicara." ucap Sahara dalam hatinya.
Waktu berlalu begitu cepat, tepat pukul 12 malam Leon bersama temannya pergi meninggalkan Bar.
Sedangkan Sahara pergi ke sebuah toko baju untuk membeli pakaian karena ia hanya punya beberapa pakaian. Sahara membeli pakaian itu menggunakan uang makan pertamanya yang lumayan besar dan cukup untuk membeli dua pasang pakaian.
Ketika Sahara pergi ke toko pakaian dengan berjalan kaki sembari menggunakan pakaian terbuka. Tiba-tiba Sahara di hadang oleh beberapa pereman jalanan. Padahal Sahara masih dekat dengan area Bar dan banyak orang disana. Tapi tetap saja preman-preman itu mencoba mengganggu Sahara.
"Mau kemana nih kupu-kupu malam?" tanya salah satu preman itu. Namun Sahara mengabaikannya dan tetap berjalan ke depan.
__ADS_1
"Hei berapa harga semalam?" tanya preman itu lagi.
Namun Sahara masih terdiam dan tak menanggapinya. Hingga di tengah jalan Sahara di kejutkan oleh Sean mantan kekasihnya yang baru keluar dari toko pakaian.
Sahara membeku setelah melihat Sean. Sahara mencoba putar balik, namun Sahara tahu dirinya sedang membutuhkan pakaian. Akhirnya Sahara mengabaikan Sean.
"Sahara... "
"Sahara tunggu!"
Sean menghentikan langkah Sahara dan mencoba berbicara dengan Sahara.
"Sahara tunggu, Sahara kenapa kamu berpakaian terbuka seperti ini saat diluar?"
"Bukan urusanmu Sean, Permisi aku ada keperluan jangan menghalangi langkahku."
"Sahara tunggu! Aku tahu semuanya, jika apartmentmu sudah tidak ada, dimana sekarang kamu tinggal?"
"Bagaimana kamu tahu tentang itu?"
"Kemarin ibumu memberitahuku, Sahara jika kamu belum mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal, dengan senang hati pintu rumahku terbuka untukmu, kamu bisa datang."
Tiba-tiba Sahara menundukan pandangannya dan meneteskan air matanya di hadapan Sean.
"Yang paling menyakitkan bagiku adalah, Kamu Sean. Kamu benar-benar jahat!"
"Sahara soal itu... Dia bukan ke-"
"Sahara!"
Belum selesai Sean berbicara, tiba-tiba Leon datang memanggil nama Sahara.
Seketika Sahara membalikan tubuhnya dan melihat ada Leon di belakangnya dengan motor sportnya.
Leon berjalan mendekati Sahara yang masih berbicara bersama dengan Sean.
"Sahara lo lagi ngapain?" tanya Leon sembari merangkul pundak Sahara layaknya teman dekat.
"Aku rasa aku kenal dengan pria ini. Dia pria yang waktu itu di dalam bar bersama kamukan Sahara?" tanya Sean dengan alis yang dikerutkan.
"Ya... Dia memang pria itu." Jawab Sahara sembari menatap Leon.
Sahara terlihat begitu tertekan ketika berhadapan dengan Sean, Leon yang melihat Sahara seperti itu tiba-tiba dirinya memegang tangan Sahara lalu membawanya masuk ke toko pakaian.
__ADS_1
"L-leon..." ucap Sahara terkejut melihat Leon bertingkah seperti kekasih Sahara lagi di hadapan Sean seperti kejadian sepuluh bulan yang lalu.
Sean tak menghentikan Sahara, dirinya hanya terdiam lalu pergi begitu saja.
Padahal Sahara yang tersakiti, namun tetap saja diam-diam Sahara melirik ke arah Sean, saat Leon memegang tangannya dan membawanya masuk ke dalam toko pakaian.
"Sepertinya memang Sean sudah melupakanku. Bahkan dia tak cemburu melihatku dengan pria lain, dia sangat cuek dan tak peduli padaku lagi." ucap Sahara dalam batinnya.
"Hei! Sahara! Lo kenapa dari tadi bengong mulu!" Ucap Leon di hadapan Sahara.
"Lo juga ngapaian tiba-tiba datang terus narik gue?"
"Loh, kok lo marah, seharusnya lo berterima kasih sama gue. Karena gue udah nolongin lo lagi dari cowo yang keliatan kaya good boy itu!"
Seketika Sahara terdiam. Diamnya Sahara membuat Leon merasa marah dan akhirnya Leon pergi begitu saja meninggalkan Sahara dengan wajah dinginnya.
Sahara juga tak menghentikan itu, Sahara membiarkan Leon pergi. Dan akhirnya Sahara pergi membeli beberapa pakaian di toko itu dan sisa uangnya ia belikan beberapa roti dan air untuk esok harinya.
"Kenapa hidupku terasa berat, Ah engga, kamu jangan pernah ngeluh kaya gitu, masih ada orang dibawah kamu yang lebih berat hidupnya." Ucap Sahara saat berjalan menuju bar.
Sudah hampir dini hari para pengunjung Bar mulai meninggalkan Bar sedikit demi sedikit. Sahara membantu membersihkan Bar juga bersama Bella yang kini tampaknya mereka mulai dekat.
"Jadi lo mau tidur disini lagi gurun?" tanya Bella dengan nada wanita, padahal dia seorang pria dengan suara berat.
"Kenapa kamu memanggilku gurun?"
"Ya karena Sahara itu nama Gurun kan, Gurun Sahara!"
"Entahlah, aku lupa. Dan yang pasti aku akan bermalam lagi disini sampai aku punya uang untuk menyewa rumah di kota ini."
"Yaudah lo jangan pikirin hal horor nanti lo ga betah lagi."
"Ga akan, kayaknya.... Oh iya Bella apa boleh aku meminta satu kunci bar agar besok pagi aku tak terkurung lagi disini."
"Udah kalo mau keluar besok-besok, lo tinggal lewat lift itu aja. Terus lo bakalan turun tepat di pintu belakang Bar ini."
"Baiklah terima kasih Bella..."
...Aku bakalan update setiap hari. Please support me dengan cara bantu like, komen dan share Novel VIP 69 ini. Dan jangan lupa kasih gift hehe gomawo ♥...
...Follow me on Instagram @lyricbighit...
...copyright©️Triahanda...
__ADS_1